
Ku tatap beberapa sayuran yang sudah di bersihkan mengambil pisau dan memotongnya. Dapaur yang luas melebihi kamarku ini terkadang membuatku lelah karena harus berjalan sedikit jauh untuk mengambil barang-barang.
Jika dulu aku hanya butuh menggeser tubuh untuk mengambil bahan-bahan masakan di kulkas, kini aku harus memutar tubuh dan berjalan beberapa langkah untuk mencapai lemari pendingin itu.
Mata ku fokus menatap sebuah wortel yang sedangku potong. Namun fikiranku berkelana entah kemana.
" Jangan melamun neng, nanti tangan kamu bisa ikut kepotong, " Bi Tini berucap dari samping, membuatku terlonjat kaget.
" Bibi ngagetin, ah. "
" Masak, kok sambil ngelamun nanti rasanya beda loh. " Dengan lihai tangannya meracik bumbu sedang mulutnya terus bersuara.
" Beda gimana, Bi? " mengernyit alisku.
" Ya, beda yang seharusnya rasa cinta tuk orang tersayang malah jadi rasa lamunan sebab merindukan sang mantan, " ucap Bi Tini sembari cekikikan. Aku pun ikut tertawa di buatnya.
" Bibi, bisa aja, lagian Za mana punya mantan bi. "
Ia menghentikan kegiatan meracik bumbu lalu menatapku intens. " Masa, gadis cantik plus manis kaya kamu dak punya mantan. "
" Za itu Ndak pernah kemana-mana Bi dak pernah Deket juga sama laki-laki, sekalinya Deket boro-boro jadi mantan bi, malah langsung jadi manten. " paparku yang di sambut gelak tawa kami.
" Wah, beruntung banget mas Idris dapatnya yang Ori. " kembali kami tertawa.
" Neng Za ini ternyata bisa ngelawak juga yah, kalau gini sih bibi gak akan kesepian lagi. " lanjutnya.
" Khanza, Tini! kali bisa kan, jangan berisik saya mau istirahat. " Bentak Mama yang datang menghampiri kami di dapur.
Aku menunduk tak berani menatap pada wanita yang telah melahirkan suamiku itu.
" Yah, maaf, " Ucap Bi Tini terlihat santai.
Apa karena Bi Tini terbiasa dengan perlakuan Mama hingga ia terlihat santai menanggapi ucapan Mama Maryam. Namun, Mama Maryam juga tak begitu mempermasalahkan respon Bi Tini yang seperti itu padanya.
" Lanjut masak aja, jangan terlalu di fikirkan, " ucap Bi Tini sembari mengusap lenganku.
Ku anggukkan kepala sebagai respon.
Sudah beberapa hari aku tinggal di rumah mas Idris, Setelah aku pulang dari rumah sakit Bi Arum benar-benar menjual rumah Nenek, terpaksa aku dan mas Idris harus keluar dari rumah.
Sebelum keluar dari ruamah sakit mas Idris sudah bercerita jika Mama nya ingin mas Idris untuk tinggal lagi di rumah bahkan Mama mas Idris membolehkan ku tinggal di rumah nya.
Mas Idris memberiku pilihan jika aku tak ingin maka kami akan tinggal di apartemen milik nya. Ku fikir jika ini adalah kesempatan ku untuk mengenal Mama Maryam.
__ADS_1
" Apapun resikonya walau Mama belum bisa menerima kamu sepenuhnya aku harap kamu bisa bersabar, dan ingat Za, ada Mas yang akan selallu mendampingi kamu, " Ucap Mas Idris sebelum kami datang ke rumah ini.
Sejak melangkah kan kaki memasuki kediaman Mas Idris memang aku tak di sambut baik oleh Mama nya. Mama Maryam menatapku sinis nampak sekali beliau tidak menyukai ku Bahkan uluran tanganku yang hendak mencium punggung tangan nya pun ia abaikan.
Sampai mas Idris menegur Mama nya baru ia mau mengulurkan tangan untuk ku cium.
Tapi, setelah hari itu Mama Maryam menghampiriku, ia menegurku.
" Karena kamu Idris berani menegur Mama nya sendiri, " Bisiknya ketika aku mencuci piring bekas makan kami yang kemudian kegiatanku di ambil alih oleh Bi Tini.
" Sebenarnya Bu Maryam orang baik, hanya saja ia butuh waktu untuk menerima orang baru dalam hidup nya, " kata Bi Tini seolah tahu jika Mama Maryam baru saja menegur ku.
Padahal ku pastikan suara Mama sangat pelan hanya terdengar oleh kami.
Mama, ... Aku teringat panggilan itu, kala itu aku di suruh bi Tini untuk mengantarkan obat Mama, ku ketuk pintu kamarnya meminta izin untuk masuk, Mama membolehkan ku masuk.
" Mah, ini obatnya, " ucapku, namun bukannya menjawab Mama malah menatapku dengan tatapan tak suka.
Lalu Mama berkata. " Jika bukan karena Idris aku tak mau kau panggil Mama. " Kata-kata sesingkat itu mampu menghujam dada.
" Keluarlah! " Titah Mama.
" Tapi Ma, obatnya .... "
" Saya bisa minum sendiri. " gumam Mama dengan ekspresi wajah yang tak bisa ku artikan.
Fikiranku melayang ke masa lalu saat aku masih duduk di bangku SMA.
Dulu temanku selallu mengeluh tentang ibunya yang sering memarahi dia, hampir setiap hari ia mengeluh, lantas ku katakan padanya.
" Marahnya ibu kamu itu karena ia sayang sama kamu. "
" Kalau sayang gak mungkin selallu di marahin kali, Za! " decitnya, seraya merebahkan kepala di atas meja.
" Terkadang, yah, orang tua itu tak mampu mengekpresikan rasa sayang dan khawatir mereka jadi lah mereka mengungkapkannya dengan cara lain. "
" Cara lain, maksud kamu dengan memarahi anaknya, begitu? " Dita menarik diri kini ia duduk tegak menghadap ku.
Aku mengangguk. " Nggak semua amarah yang orang tua lontarkan terhadap anaknya itu adalah sebagi bentuk kekesalannya terhadap si anak, itu juga bisa berarti bentuk ke peduliannya terhadap anaknya. "
" Tapi cape Za kalau di marahin terus. "
" Cape boleh, mengeluh boleh, cuma kamu harus inget jangan sampe kamu melawan perkataan orang tua. " ia mengangguk.
__ADS_1
" Siap, Bu guru, " ucapnya sembari meletakkan kelima jarinya di pelipis membentuk hormat.
" Apaan sih, " kami pun tertawa.
Mataku menerawang. " Terkadang aku iri sama kamu Dit. "
" Iri kenapa? "
" karena kamu sering di marahin orang tua kamu. "
Dita mengernyitkan alis. " Ihhh, Lo mau di marahin ibu Lo tiap hari. " aku mengangguk antusias.
" Mau, asal aku bisa ketemu Mama tiap hari, " Ucapku paru, dan Dita segera memelukku tak kala menyadari jika aku seorang anak yatim piatu.
Kini, seseorang yang bergelar ibu itu benar-benar memarahiku setiap hari walau ia hanya ibu dari suami ku, tapi tetap di juga ibu ku kini.
Tak terasa air mataku luruh, ku usap air mata yang terus menetes. " ko, cengeng, sih, Za, bukannya dulu kamu pingin, yah, di marahin Mama kamu asal ia ada, bukankah Mama dari suami kamu juga adalah Mama kamu, ayo dong Za, kamu kuat jangan cengeng. " ku katakan itu pada diri sendiri berusaha menguatkan.
Terdengar suara pintu di buka, segera ku hilangkan jejak air mata sebab ku tahu seseorang yang masuk adalah mas Idris.
Ia tak boleh melihatku menangis apa lagi jika aku menangis karena Mama nya.
Aku tak mau membuat ibu dan anak itu bersitegang sebab aku.
" Udah pulang Mas. " ku hampiri ia dan mencium punggung tangannya, lantas ia mencium pucuk kepala ku.
Aku tersenyum begitupun dengannya. " Mau aku buatin kopi? " Tawarku.
" Boleh, tapi mas mau mandi dulu. " ku sunggingakan senyum sebagi respon.
Sebelum ku beranjak dari hadapannya ia menahanku. " Mata kamu sembaba, kamu habis nangis? " ia menelisik wajahku.
Berusaha ku bersikap biasa. " Nggak, " bohongku.
" Jangan bohong Za, apa Mama marahin kamu? "
Segera ku gelengkan kepala. " Nggak, Mas, mungkin ini karena aku ngupas bawang tadi pas bantuin Bi Tini masak, kan ngupas bawang bikin pedes Mas, " Aku berkilah.
" Jangan bohong Za, " selidiknya.
" Nggak, beneran, deh. Ya, emang sih sikap Mama masih dingin tapi, ya, gak sampe bikin Za nangis juga mas. "
Akhir-akhir ini aku punya hobi baru, yaitu berbohong. Biarlah toh aku bohong demi kebaikan kami.
__ADS_1
Next.....
Jangan lupa Like, Komen dan Vote. Terima kasih 🙏