
Jam di dinding menunjukan pukul 10:30 malam, Idris masih di rumah sakit ia memanjangkan jam peraktiknya untuk mengganti jam peraktik yang ia habiskan bersama Za untuk menemaninya berbelanja.
Setelah selesai dengan beberapa pasien ia kembali ke ruangan, mendudukkan diri di kursi kebesarannya.
" Ahh, " gumamnya setelah terduduk dengan bahu ia senderkan di kursi sedang Kepa ia dongakkan menatap pada atap langit rumah sakit.
Fikirannya melayang pada perkataan Za siang tadi saat mereka hendak pulang dari berbelanja.
Benarkah jika aku masih memiliki perasan pada Nadia. Ah, tidak mungkin sejak ku tahu Nadia adalah adikku sejak saat itu aku mulai melupakannya menghapus kenangan-kenangan bersamanya.
Apalagi saat aku mengenal Za, sosok Khanza yang pemalu dan penurut sudah menyihir ku hingga aku bertekuk lutut, aku benar-benar mencintainya.
Namun, benar yang Za katakan jika hubunganku dan Nadia sudah berakhir kenapa aku dan kak Rayan masih saling diam bak orang asing. Aku memang membencinya karena ia sudah tahu tentang siapa Nadia, tapi tidak memberitahukan ku, apalagi saat ku tahu alasannya hanya karena ia iri pada perhatian Mama untukku. Bukankah itu alasan yang kekanak-kanakan.
Batin ini masih bergemuruh. ku tegakkan kepala duduk seperti biasa dengan kaki kanan bertumpu pada kaki kiri sedang jari-jari tangan ku mainkan di area bibir, hal yang sering ku lakukan saat berfikir.
Haruskah aku meminta maaf pada kak Rayan, haruskah aku dahulu yang meminta maaf.
Ku acak-acak rambut sembari mengerang." Argh. "
Jam tambahan karena menggantikan ketidak hadiran ku pagi tadi ahirnya selesai di jam 11:25 aku mulai bersiap untuk pulang.
Di parkiran ketika mau memasuki mobil aku terdiam beberapa saat di ambang pintu mobil sejenak berfikir dan kembali menutup mobil.
Ponsel ku utak-atik memesan taksi onlain, namun sebelum memesan taksi telah ku hubungi Za memberitahukannya jika aku akan pulang terlambat, lantas bertanya apakah kak Rayan sudah dirum, dan Za bilang ia belum pulang yang mungkin saja ia masih di kantornya.
Tak menunggu terlalu lama taksi online yang ku pesan telah tiba, ku tinggalkan mobilku di parkiran rumah sakit lalau melaju bersama taksi online membelah malam kota metropolitan.
Aku berhenti di sebuah gedung pencakar langit, sebuah perusahaan milik keluarga kami yang merupakan salah satu perusahaan yang tersohor di kota ini. Tentunya itu terjadi berkat kerja keras Papa sebelum bercerai dengan Mama dan kak Rayan, karena aku tak tahu menahu prihal prusahaan.
" Pak, pak Rayan udah pulang? " tanyaku pada seorang satpan yang bernama Beno, nampak dari nama yang tertera di bajunya.
Ia meneliksikku dari kepala hingga kaki. " Maaf Andah ini siapa, yah? ada apa malam-malam cari pak Rayan? "
Ah, iya aku sudah lama tak datang kemari, aku pun juga tak mengenal satpam ini mungkin ia karyawan baru.
" Eh, mas Idris! " Sapa seseorang yang mengenakan sergam yang sama dengan pak Beno. Ia menghampiriku.
" Lama gak ketemu yah, Mas. Dokter mah sibuk terus kayaknya! " ucap pak kasim, salah satu satpam di sini.
__ADS_1
" Ya, begitulah Pak. "
" Kak Rayan udah pulang pak? "
" Kayaknya belum, deh, belum liat beliau keluar juga, yakan, No? " iya menatap Beno, Beno mengangguk menanggapi nya.
" Kalau gitu saya masuk dulu, yah? " Aku melangkah meninggalkan dua satpam itu.
Kakiku langsung mengarah pada ruang kak Rayan di lantai 15. Di depan ruangannya tangan ku gerakan menyentuh gagang pintu, belum juga pintu terbuka suara seorang perempuan memenuhi Indra pendengaran.
" Maaf, cari siapa yah, Mas? " ucap wanita dengan pakaian has orang kantoran.
Sama seperti satpam tadi wanita ini juga meneliksikku, ia mengerutkan dahinya seolah sedang berfikir. " Mas Idris, yah!? " tebak nya. Aku mengangguk.
" Adeknya pak Rayan? " lagi ia bertanya. sedang aku masih setia mengangguk menanggapinya.
" Oalah nambah pangling masnya. " sembari tersenyum lebar, sementara aku sedikit risih dengn tatapannya.
" Mas dak inget sama aku, aku Sinta sekertaris nya pak Rayan! "
Aku mengerutkan dahi. Sinta, ah, ya, dia sekertaris kak Rayan menggantikan kak Syifa dahulu. Gadis Jawa yang suka bercanda, dulu ia kurus, tapi sekarang nampak lebih berbobot tubuhnya.
" Hehe, yawes lah Ra papa, " ucapnnya. " Cari pak Rayan, yah? " tanya Shinta.
" Yah, kak Rayan ada di dalam? "
" Masih meeting sih, ada Klayen dari luar negri jadi jam segini masih meeteng, saya aja udah cape padahal, nih. Mas Idris masuk aja, nunggu di dalem aja nanti aku minta orang bawain kopi, pak Rayan paling bentar lagi juga selesai, kok. "
Aku mengikuti perintah Sinta masuk ke dalam menungguinya. Mataku menyapu setiap sudut ruangan kak Rayan, ruangan yang dulu di pakai Papa, ruangan yang dulu kami pakai nongkrong sampai Mama mencari-cari kami.
Tempat favorit kami dahulu setelah kafe andalan kami. yah, kami, aku kak Rayan, Sam,dan Papa saat papa masih bersama Mama.
Bahkan dulu Mama sering memarahi papa karena jika papa yang menjemput ku dari sekolah papa akan membawaku ke kantornya katanya anak adalah obat saat semua pekerjaan menumpuk, dan Papa akan meluangkan waktunya walau hanya untuk sekedar bermain bola di atap gedung ini dan Mama akan berteriak histeris jika tahu hal itu.
Suara langkah seseorang memasuki ruangan, ternyata seorang office boy membawakan ku secangkir kopi, aku duduk di kursi tamu sembari menikmati secangkir kopi.
Jam menunjukan pukul 12:55 dini hari, hampir satu jaman aku menungguinya. Namun belum nampak ia akan datang, apa mungkin ia sudah pulang? fikirku.
Aku bangkit hendak keluar dari ruangan, baru saja hendak menyentuh gagang pintu, tapi pintu telah dibuka oleh seseorang, dan ialah kak Rayan.
__ADS_1
Nampak ia terkejut dengan kehadiranku, aku tersenyum canggung menanggapinya. Ia tutup pintu lalau menatapku intens.
" Ada perlu apa kamu datang kemari? " ucapnya sembari berlalu menuju kursi kebesarannya, ia mendudukkan diri di sana, melonggarkan dasi.
" Mobilku masuk bengkel, sedang taksi onlain yang ku tumpangi menurunkanku di sekitar sini, jadi aku kesini ingin meminta tumpangan untuk pulang, " bohongku.
" Kenapa tak cari taksi biasa aja? "
" Malam-malam seperti ini, bagaimana jika sopirnya orang jahat, aku kan bisa di apa-apain. "
Ia menatapku malas, lalau bangkit dari duduknya sembari menyambar kunci mobil, aku tersenyum dan mengekori langkah kak Rayan.
Ini adalah yang pertama kali kami kembali berada dalam satu mobil setelah sekian lama kami terdiam tanpa tegur sapa padahal kami saudara.
Diam membisu tanapa obrolan atau lantunan musik di antara kami.
Mobil terparkir di halaman rumah, segera kak Rayan mematikan mesin mobil, hendak turun dari mobil ia berucap. " Aku lakukan ini demi istrimu, aku takut dia menunggumu. " Aku mengangguk sembari menatapnya.
kembali ku tahan langkah kak Rayan untuk keluar dengan ucapanku. " Kak, ada yang ingin ku katakan. " ia urung keluar dari mobil.
" kamu masih cemburu pada ku dengan masalah kemarin? "
" Bukan, aku, aku ... Aku minta maaf, aku ingin kita seperti dulu lagi, seperti dulu saat kita belum mengenal Nadia. " ku tatap pria di hadapanku lekat, seolah memang memohon ampun padanya.
Ia bungkam beberapa saat. " Kenapa kamu berubah fikiran, bukankah kamu sendiri yang memutuskan hubungan persaudaraan kita! " ucapnya penuh penekanan.
" Yah, aku salah aku egois aku kalut, hingga luput dari kenyataan bahwa kita adalah Kakak beradik. "
" Siapa yang memintamu meminta maaf, hah? " sungtnya, ia masih tak percaya jika aku sungguh-sungguh ingin berbaikan.
" Tidak ada, aku hanya sadar jika aku salah membiarkan kebencian ini terlalu lama bersemayam di hati, apa lagi orang yang ku benci adalah kakakku sendiri, seseorang yang seharusnya ku hormati. "
" Buktikan kesungguhanmu, " singkat ia berucap lantas segera turun dari mobil meninggalkanku sendiri di dalam.
Baiklah, aku akan kembali menjadi adikmu yang baik, aku janji kak.
Next.....
Jangan lupa Like, Komen, dan Vote. Terima kasih 🙏
__ADS_1