
" Apa kabar Idris, anak Papa, " Sapanya, setelah kami berhadapan.
Anak katanya, bukankah setelah berpisah dari Mama ia tak pernah datang mengunjungi kami, dia pergi begitu saja tanpa pernah menemui kami sejak saat itu bahkan hingga kami dewasa.
Sedang kak Rayan lah yang menjadi tulang punggung keluarga kami, ia yang mengurus perusahaan setelah Papa dan Mama berpisah.
Lelaki paruh baya itu mendekat semakin dekat dan begitu saja memelukku, aku diam tak bergeming.
Jujur aku pun merindukannya, tapi aku juga membencinya.
Ia lepas pelukannya, ku lihat mata itu berembun menangiskah ia.
" Papa sangat merindukan kalian. " ia tatap diri ini sembari tersenyum.
" Jika rindu kenapa tak pernah berkunjung! " tanyaku penuh penekanan.
Ia diam senyumnya seketika memudar.
Sudahlah pah, aku tahu Papa sudah bahagia dengan keluarga Papa jadi melupakan kami, ya, kan?
" Maaf. "
Hanya empat huruf itu yang ia keluarkan dari mulutnya, padahal aku butuh penjelasan.
Malas meladeni nya akupun membalikan badan membuka pintu mobil, tapi urung memasukinya karena papa kembali bersuara.
" Kamu mencintai Nadia? Nadia cerita banyak tentang lelaki yang ia suka papa fikir itu hanya kebetulan nama saja yang sama ternyata memang orang nya juga sama. Apa niatmu mendekati Nadia? "
Kenapa? kenapa ia berkata seperti itu apa ia fikir aku akan menyakiti Nadia. Ku tutup kembali pintu mobil berbalik menghadap pada lelaki di depanku.
" Kenapa bertanya seperti itu? apa Papah takut aku akan menyia-nyiakan Nadia sebagai mana Papa menyia-nyiakan Mama dan kami! " ucapku berapi-api.
" Bukan seperti itu Dris, Papa hanya hawatir perasaan kalian terlalu dalam sedang kalian ... Tidak bisa bersama. Kalian ... bersaudara, kalian anak-anak Papa. "
" Baik, aku akan menjauh dari Nadia. " segera ku potong ucapannya.
" Maafkan Papa Dris, tapi kalian memang tidak bisa bersama, Nadia anak kandung Papa, " ucapnya lagi.
Aku terdiam, tanganku mengepal dada mulai bergemuruh. Anak kandung, apa itu artinya sebelum Papa berpisah dengn Mama papa memang sudah punya wanita lain.
Ku tatap mata lelaki yang sudah tak muda lagi itu dengan lekat. " Apa benar kata orang-orang jika Papa mendua, makanya Mama meminta pisah, hah? " ucapku geram.
Ia menggeleng. " Itu tidak benar, Papa bertemu dengan tante Najma setelah beberapa bulan berpisah dari Mama kamu, Papa menikahinya pun karena awalnya hanya ingin menolong Tante Najma yang sedang kalaut. "
" Tolong maafkan Papa Dris. "Mohonnya sembari menangkupkan kedua tangan.
__ADS_1
" Menolong orang lain, tapi menelantarkan keluarga sendiri. " sungutku.
" Papa tidak pernah meninggalkan kalian. "
Aku tertawa miris, mengunjungi saja ia tidak pernah tidak pernah meninggalkan katanya.
" Bohong. "
" Papa memang tidak pernah mengunjungi kalian, tapi Papa selalu mengawasi kalian walau dari jarak yang tak dekat, terlebih kamu Dris, karena saat itu kamu masih kecil, Papa selalu mengawasimu. "
" Hanya mengawasi kenapa tidak pernah menghampiri, tak tahukan pah, jika masa-masa itu aku sangat merindukan sosokmu! "
" Ada yang mengancam Papa. "
Aku berdecik, bukankah ia orang hebat orang yang banyak pengaruhnya di ancam kenapa ia bisa takut, alasan macam apa itu.
" Papa bersumpah saat itu ada yang mengancam Papa sedang ancaman itu menyangkut nyawa kalian, " ucapnya lagi.
Entahlah, aku harus percaya atau tidak aku tak mampu berfikir jernih, menerima kenyataan Nadia anak kandung Papa saja rasanya sudah membuat ku kacau, apa lagi harus mendengar alasan papa meninggalkan kami.
Aku memilih masuk ke dalam mobil meninggalkan pria di hadapanku tanpa sepatah kata.
Ku nyalakan mesin mobil dan bergegas meninggalkan rumah Papa, nampak Papa masih berdiri mematung sembari menatap kepergian ku.
Sesampainya di rumah, aku mencari kak Rayan hendak memberitahukannya tentang Nadia yang sebenarnya anak Papa.
Apa mungkin ia masih di kantor, fikirku.
Kembali ku tutup pintu kamarnya, menghela nafas kasar. " Kakakmu belum pulang. " Suara Mama mengagetkanku, ku cium punggung tangan Mama.
" Masih di kantor Mah? "
" Kayaknya. "
Mama berlalau dari hadapanku mungkin kembali ke kamarnya. Kembali ku memasuki mobil menyalakan mesinnya dan bergegas pergi ke kantor Kak Rayan.
Tak butuh waktu lama menuju kantornya, karena jam sudah larut tak banyak kendaraan berlalu-lalang hingga ku tempuh jarak dari rumah menuju kantor Kak Rayan dengan lebih cepat.
Sampainya di sana segera ku menuju ruangan kak Rayan, benar saja ia masih di sana, sendirian.
Ku ceritakan tentang Nadia juga Papa pada kak Rayan ia menasihatiku aku merasa lebih tenang sekarang.
Benar juga apa yang di katakan kak Rayan lebih baik tahu sekarang dari pada nanti, apa lagi saat rasa itu sudah terpatri sempurna makan akan semakin sulit aku melupakan dia.
Biarlah kali ini aku belajar ikhlas.
__ADS_1
Karena malam yang semakin larut kami memutuskan untuk pulang, tak sengaja aku menyenggol berkas-berkas yang ada di meja Kak Rayan hingga berhamburan ke lantai.
" Ah, Sorry, kak, " ucapku.
" It ok, kita beresin dulu. " aku dan kak Rayan memumuti berkas yang berserakan, tak tahunya aku mengambil kertas yang berisikan biodata seseorang.
"Biodata Nadia? " mengernyit alisku, nama seseorang di biodata itu, aku mulai membacanya dan tercengang saat melihat nama ayah Nadia tertulis jelas di sanah. ku tatap Kak Rayan meminta penjelasan.
" Jadi kak sudah tahu? sejak kapan? " Tanyaku geram.
" Kak bisa jelaskan, " ucapnnya.
" Jelaskan!! " bentakku.
Kak Rayan menjelaskan jika ia meminta orang suruhannya untuk mencari tahu tentang Nadia, dan lebih mengecewakannya kak Rayan menyembunyikan kebenaran ini dari ku.
Ia sengaja tak membiarkan ku tahu katanya agar aku merasa kecewa, ah, yang benar saja alasan yang kekanak-kanakan bukan.
Sejak saat itu aku kecewa dengan nya, aku memutuskan untuk keluar dari rumah dengan beralasan jarak rumah dan rumah sakit yang terlalu jauh, Mama mengizinkanku pergi tanpa curiga jika hubunganku dan kak Rayan sedang tidak baik-baik saja.
***
" Karena itu kamu dan Kak Rayan terlihat tak akur Mas? " aku mengangguk menanggapi pertanyaan Za.
" Lalu, bagai mana dengan Nadia? " tanyanya kembali.
" Beberapa hari sejak mas datang kerumahnya mas tidak pernah melihat Nadia lagi di rumah sakit, ada yang bilang ia minta di pindahkan ke rumah sakit lain. Papa juga menghampiriku ia bilang jika dia sudah menceritakan tentang siapa aku pada Nadia dan ibunya, Nadia kecewa tapi tidak bisa berbuat apa-apa atau mengubah apapun jadi ia memutuskan untuk pindah dari rumah sakit tempat mas peraktek. " paparku pada Za, ia masih menatapku lekat.
" Sudahlah kamu jangan berfikir yang tidak-tidak apa lagi jika harus cemburu pada Nadia dia adik mas dan selamanya akan menjadi adik Mas. " sembari ku usap kepalanya yang terbungkus hijab.
" Kalau dia bukan adik Mas? "
" Za!! " ku tatap ia lekat, Za menganggukkan kepala dan kembali duduk tegak.
Mobil ku nyalakn dan bersiap kembali melaju.
" Kalau kamu dan Nadia sudah berakhir kenapa hubunganmu dan kak Rayan masih renggang? " Tanyanya lagi.
Urung ku tuk melajukan mobil. " Aku masih kecewa padanya. "
" Sampai kapan kamu akan kecewa, sebenarnya kamu kecewa karena kakak mu atau karena Nadia. "
Tak mau menanggapi pertanyaan Za takut jika akan salah bicara, aku memilih mendaratkan kecupan di keningnya, ia merajuk. " Ih, mas!! "
" Udah gak usah cemburuan gitu, jelek tahu. " Ia cemberut sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
Next....
Jangan lupa Like, Komen dan Vote. Terima kasih 🙏