Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )

Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )
Tentang Nadia


__ADS_3

Berawal dari keusilan Kak Rayan dan Sam yang memperkenalkanku pada seorang suster magang bernama Nadia.


Bagiku di kagumi wanita bukanlah hal yang istimewa, bahkan terkadang aku muak dengan sikap para wanita.


Perhatian mereka, cara mereka berbicara dengan ku, sikap mereka dan bahkan terkadang dandanan mereka yang seolah di buat-buat untuk mendapatkan sipati dariku.


Aku tak sama dengan Sam sahabat ku, yang ketika mendapatkan perhatian semacam itu ia tanggapi dengan santai, bahkan malah ikut sok beramah tamah yang membuatku geleng-geleng dengan responnya. " Santai aja, tinggal say hellow balik untuk beramah tamah, jangan kaku gitu Napa, " ucap Sam suatu hari ketika aku mengomentari sikapnya pada para wanita itu.


Karena aku malah terkesan cuek dan enggan menanggapi mereka. Sebenarnya bisa saja akupun ikut menanggapi mereka seperti Sam. Namun, bagaimana jika ada yang benar-benar baper dan bukankah itu artinya aku memainkan perasaan mereka.


Ketika kak Rayan dan Sam mengenalkan Nadia padaku awalnya aku menolak bahkan terkesan ogah-ogahan, tapi setelah beberapa lama mengenalnya ada rasa yang aneh, aku merasa tenang bila bersama atau sekedar bercengkrama dengan nya.


Ada yang bilang rindu itu seperti sabu, nyandu. Pernah sekali aku merindukannya dan ternyata rasa rindu itu semakin menjadi aku tak bisa mengontrol diri untuk tak merindukannya. Rindu itu berat, benar memang aku merindukannya hampir setiap saat.


Tak mau terlalu lama terjebak dalam perasaan tak menentu ku katakan pada kak Rayan untuk meminangnya, ia pun setuju, ia menyuruhku untuk mendatangi rumahnya terlebih dahulu, tanpa keluarga, katanya supaya aku kenal dulu dengan orang tuanya.


Takut orang tua Nadia terkejut jika aku langsung meminangnya. " Mending di terima kalau di tolak, bisa galau kau, " begitu lah yang di katakan Kak Rayan waktu itu.


Di saat hubungan kami masih baik-baik saja tidak seperti saat ini.


Aku mengikuti saran kak Rayan untuk datang kerumahnya terlebih dahulu ku minta alamat rumahnya pada Nadia bahkan aku tak mengajak Sam tuk ikut bersama.


Sebelum ku datangi rumah Nadia aku menelepon kak Rayan memberi tahukan nya terlebih dahulu. Namun, respon kak Rayan tak seantusias biasanya, malah seolah ku rasa ada yang ingin ia sampaikan tapi tertahan, saat itu ku fikir mungkin ia kelelahan atau ada masalah dengan perusahaan.


Aku tak banyak bertanya dan memilih mengahiri panggilan.


Rumah dengan gaya moderen minimalis terlihat begitu rapih cat abu-abu yang di padu dengan warna putih membuat rumah semakin terlihat elegan.


Ku parkir mobil di depan halamannya, keluar dari mobil kakiku gemetar untuk melangkah mondar mandir tak jelas di depan mobil.


Aku diam sesaat menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya, lalau ku mantapkan niat melangkah menuju rumah di hadapanku, di depan pintu rasa nerfes kembali merasuki diri.


Tangan ku bergetar kala hendak mengetuk pintu, sampai lagi-lagi ku menenangkan diri menarik nafas dalam lalau menghembuskannya, setelah mulai tenang ku ketuk pintu rumah Nadia.

__ADS_1


Pintu terbuka menampakkan wanita paruh baya yang masih terlihat cantik, ku taksir usianya tak berbeda jauh dengan Mama.


" Assalamualaikum, " ucapku seraya mencium punggung tangannya.


" waalaikumussalam, " ia menjawab. " Cari siapa, yah, Mas? " tanyanya dengan alis sedikit berkerut.


" Perkenalkan tanteh, nama saya Idris, saya temannya Nadia. "


" Oh, temannya Nadia, masuk dulu mas saya panghilakn Nadia nya. " Aku mengikuti langkah nya, wanita itu mempersilahkan ku duduk.


Tak lama Nadia datang, jika setiap hari ku lihat ia menggunakan baju perawat, berbeda dengan malam ini. Gamis maroon yang membalut tubuhnya terlihat sangat pas dengn kulitnya yang putih di tambah kerudung pashmina berwarna senada yang menjuntai menutupi hingga dadanya membuat ia nampak anggun.


" Sudah lama Mas? " Tanyanya seraya mendudukkan diri di sofa yang tak jauh dariku.


Aku masih menatapnya kagum, lalu segera ku tundukan pandangan. " Belum, kok, baru sampai, " Jawabku.


Tak lama seorang wanita yang tadi menyuruhku menunggu datang kembali, ia menghampiri kami seraya membawa minuman juga beberapa cemilan.


Aku mengangguk juga tersenyum. " Jangan repot-repot Tante. "


Wanita itu duduk di samping Nadia, Nadia memperkenalkannya sebagai Bunda nya.


Nadia juga memperkenalkanku kepada bundanya.


Kami mengobrol banyak hal, Bunda Nadia ternyata sangat ramah walau usianya sudah tidak muda lagi beliau terbyata nyambung di ajak berbincang dengan kami.


Malam semakin larut aku hendak berpamitan, Tapi mendengar suara deru mobil terparkir di halaman membuatku urung beranjak.


" Ayah sudah pulang, Mas ketemu ayah dulu yah, " cegah Nadia yang di anggukkan bundanya. Aku pun menurut dan kembali duduk.


" Assalamualaikum, " suara seseorang memasuki rumah.


Namun, suara itu terdengar tak asing bagiku, seperti suara seseorang yang dulu amat ku rindukan setelah kepergiannya.

__ADS_1


Ku lihat Nadia menghampiri lelaki yang baru saja mengucapkan salam itu, ia menghambur pada lelaki yang ia panggil ayah, di susul wanita yang baru ku tahu bernama Najma atau bunda Najma ia cium punggung tangan suaminya dan mengambil tas kerja yang di bawa suaminya.


Terlihat jika mereka seperti keluarga bahagia.


Setelah bercengkrama dengan anak dan istrinya, Nadia memperkenalkanku dengn Peria yang ia panggil ayah itu.


Aku menunduk tak berani menatapnya karena malu. Peria itu semakin mendekatiku ia berada di hadapanku.


" Temannya Nadia, yah? " sapanya sedang aku masih menunduk.


Deg,


suara itu benar-benar suara seseorang yang ku rindukan sosoknya, seseorang yang telah pergi sebelum mengajariku menjadi seorang pria, seseorang yang telah pergi meninggalkan keluarganya.


Mataku mengembun, perlahan ku angkat kepala menatap pada lelaki di hadapan, dan benar saja dia adalah lelaki yang telah pergi meninggalkan keluarganya lelaki entah kenapa sejujurnya masih kurindukan, dia ... Ayahku.


Mata lelaki di hadapanku membulat sempurna ia pun nampak terkejut. Aku menyalaminya tanpa berkata sepatahpun begitu pula dengan lelaki di hadapanku yang semula terlihat antusias kini ia bungkam.


Bunda Najma meminta suaminya untuk bergabung dengan kami, Papa pun duduk di samping bunda Najma, Papa diam sembari memandangiku lalau memandang putrinya.


Ah, putrinya, benarkah Nadia putrinya atau dia hanya putri sambung, entah lah.


Tak ingin berlama-lama berada dalam situasi ini aku memilih untuk pulang, aku berpamitan pada mereka juga Papa.


Sebelum ku Salami tangannya ku pandangi ia lekat sama sepertiku iapun memandangku lekat, entah masih terkejut atau rindu aku tak bisa menyelami pikiranya, sebab pikiranku pun sedang tak baik-baik saja.


Hendak masuk kedalam mobil rupanya Papa mengejarku ia mengajakku berbicara.


" Apa kabar Idris anak Papa, " sapanya setelah kami berhadapan. Anak katanya. Aku mendelik.


Apa yang akan mereka bicarakan yah?? yukk di kome dan like dulu nanti kita Next.......


Terima kasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2