
" Astaghfirullah! ... Mbak! " segera ku mendekatinya.
Wanita itu menoleh dan melarang ku untuk mendekat. " Pergi!! " titahnya.
" Mbak, Mbak tahukan bunuh diri itu dosa, lagi pula apa untungnya buat mbak. "
" Gak usah nasihatin saya, pergi! " Ia masih sesegukkan, matannya memerah namun tatapannya kosong.
" Mundur! atau saya loncat sekarang. " ancamnya.
' Padahal kalau emang ingin loncat ya, loncat aja, ngapain ngancem-ngancem, gak niat bunuh diri nih orang, takut mati juga kayak nya. ' suara batinkku mengomentari ucapannya.
Tapi, yang namannya laki-laki harus tetep ngalah sama wanita. " Ok, Mbak, aku mundur nih. " aku mundur beberapa langkah.
" Mbak, jika sebab Mbak mau bunuh diri ini karena di sakiti orang, atau di putusin pacar, ini sih yang rugi Mbak, pacar Mbak atau orang-orang yang nyakitin Mbak nya sih enak-enakan hidup di dunia, lah Mbak di siksa malaikat di akhirat, ih ... serem Mbak, rugi lagi. " Ia melamun, sepertinya meresapi ucapankku tadi.
" Ayolah Mbak, emang cuma Mbak Yang punya masalah, saya juga Mbak. " sedikit demi sedikit aku mendekatinya sembari bercerita atau lebih tepatnya curhatlah.
" Saya juga sedang ada masalah Mbak, berat lagi, coba aja mbak pikir saat rumah tangga kita baik-baik saja tiba-tiba ada seseorang yang memfitnah kita dan keluarga kita percaya dengan fitnah itu, sakit Mbak, saya sangat mencintai istri saya Mbak, anak-anak saya, tapi harus berpisah karena fitnah, dan tau sendiri kan Mbak, yang namannya fitnah susah banget buat orang percaya lagi sama kita. " dengan wajah tertunduk ku curahkan isi hatiku pada wanita itu.
" Tapi, ya, mau gimana lagi resiko menjadi seorang pembisnis, harus berhadapan dengan berbagai macam manusia licik, rakus, juga dengki. Ah, sudahlah aku disini ingin menyembuhkan lukaku, bukan mengorek luka yang masih basah. " tuturku lagi sembari memasang wajah masam.
Ku angkat kepalaku sedikit menatap wanita di hadapanku yang diam terpaku. Entah apa yang sedang ia fikirkan.
" Ehem, " Aku berdehem. " Jadi, bagaimana denganmu, kamu kenapa? "
Ia melirikku tajam, lalu menunduk dengan raut yang sedih, sudah tak ada lagi suara Isak dari bibirnya.
" A-aku .... " ia mulai membuka suara, sebelum ahirnya aku memegangi lengan dia. " Apa-apaan kamu! " Namun, responnya sangat mengejutkan ia panik dan kembali terisak.
" Lepaskan! " sungutnya, yang tak ku gubris. ku tarik ia dan ...
Bruk ....
kami terjatuh secara bersamaan. " Pergi kamu, kalian para pria sama saja! " matanya memerah wajahnya penuh amarah, sedang tangannya tak henti-hentinya memukuliku.
Hanya berlindungkan lengan ku biarkan wanita itu memukuliku, ku pikir ia butuh pelampiasan. Aku tetap pada posisi tadi tak menghindar juga tak melawan, ia tetap memukul sembari memaki.
Hingga ia pun berhenti dengan sendirinya. Wanita itu luruh sembari terisak, terlungkup membenamkan wajahnya dalam tunduk sembari menutup mata.
__ADS_1
Aku bangkit, sepertinya beberapa tubuhku kena memar, keras juga pukulannya. Ku dekati ia perlahan. " Sudah marah-marah nya? "
Ia mendongak dan menatapku, " Masih mau bunuh diri? " Tanyaku sembari mengernyitkan alis.
Ia menggeleng, " Kalau kamu masih di sini aku tidak bisa mati, pergilah! "
" huh, " ku Hela nafas, " kalau kamu masih ingin mati, aku tidak akan pergi, " ku ucapkan itu dengan wajah tersenyum.
" Kamu tinggal di sini juga? " ia mengangguk.
" Ini sudah mau magrib, di malam hari anginnya sangat kencang dan lebih dingin, kita turun yu! "
" Aku tidak mau, nanti mereka mencari ku lagi, aku tidak mau, " ia menggeleng hebat seolah ketakutan akan Seseorang.
" Aku akan temanin kamu, " ucapku yang membuatnya menoleh. "
" Aku tidak mau tinggal di kamarku, aku tidak mau lagi di paksa-paksa mereka. "
" Apa yang mereka perbuat? "
" Mereka .... "
Wanita itu menatap pintu yang di gedor, ia beringsut ketakutan. " itu pasti mereka, pasti mereka tolong saya? " dia bersembunyi di balik tubuhku.
" Kamu tenangyah, aku akan temui mereka, kamu sembunyi saja di sana. Aku akan hadapi mereka, ok! " berusaha ku tenangkan ia. ia mengangguk dan segera berlari ke tempat yang ku perintahkan.
Ku buka pintu, nampak beberapa pria berotot besar mencari-cari sesuatu.
" Cari apa yah, mas? "
" Di mana wanita itu? "
" Wanita siapa? dari tadi saya di sini sendirian. " mereka menatapku tak percaya, seraya meneliksik tempat ini.
Hampir saja mereka menemukan wanita itu jika saja ia tak memahami kodeku untuk pindah persembunyian.
Setelah mereka percaya bahwa tidak ada sesiapa di atap selain aku. Aku mengajak wanita yang bernamakan Salma ini ke apartemenku, ku berikan ia beberapa baju ganti juga makanan yang ku beli di supermarket dekat apartemen.
" Tidurlah di sini dulu biar aku mencari hotel dekat sini. "
__ADS_1
" Tapi, jika mereka kesini lagi bagaimana? "
" Mereka kan tidak tahu kamu di sini, jangan takut, ada alarem keamanan juga, jadi jika mereka menemukan kamu kamu bisa tekan alremnnya dan petugas keamanan akan datang. Ini juga ada nomerku, kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi aku bisa pake telfon apartemennya. "
Aku keluar membiarkan ia seorang diri di apartemenku, sejujurnya aku hawatir karena sepertinya orang-orang itu masih mencari-cari Salma.
Aku tidak jadi pergi mencari hotel, aku ke musolah kecil di apartemen ini, karena kebanyakan penghuni apartemen ini orang Islam.
dan kadang sesekali menengok kamarku takut jika ada orang yang mencurigakan itu lagi.
Beberapa hari Salma tinggal di apartemenku ia bercerita jika ia di paksa menjadi wanita malam hingga kehormatannya telah terenggut paksa, Salma di jual oleh pamannya yang hobi berjudi atau ia sebagai penebus hutang pamannya.
Aku tak tega jika harus membiarkan ia hidup sendiri, di kota ini ia tidak memiliki sesiapa sedang di kampung halamannya pun ia sudah tidak lagi di terima karena mereka mendengar kabar jika Salma menjadi pedayang di kota, padahal semua itunulah pamannya.
Aku membeli sebuah rumah minimalis di tempat yang tak ramai orang, di sana kini aku tinggal bersama Salma ia bilang ia mau mengabdi padaku karena aku sudah menyelamatkannya, ia menjadi asisten rumah tangga di rumahku.
Salma sebenarnya masih muda, namun karena tubuhnya yang tinggi semapai dan sedikit berisi membuat ia terlihat seusiakku. Bahkan banyak warga yang mengira jika Salma adalah istriku.
Hingga suatu hari rumah kami di gerebeg warga, warga mengira kami melakukan hal-hal tak senonoh, walau kami sudah menjelaskan bahwa kami hanya majikan dan pembantu mereka tetap tak percaya dan meminta kami menikah.
Atas desakan warga kamipun ahirnya menikah.
" Maaf, ini di luar dugaan, aku tidak mau kita terlebih kau di permalukan atas tuduan ini. " saat kami hanya berdua aku meminta maaf pada nya.
Salma menatapku. " Aku yang seharusnya mint maaf mas, bukankah mas bilang mas masih mencintai istri mas, sedang dengan adanya aku, bagaimana hubunga mas dan istri mas? "
" Mereka sudah tidak mau menemuiku. "
" Tapi mas masih cinta kan? " aku menatapnya.
" Ceraikan aku mas, biarkan aku yang pergi aku yakin Allah pasti melindungi ku kan, ya kan mas. "
Ku tatap Salma lekat, sembari menggenggam tangannya erat. " Salma, mungkin ini sudah menjadi jalan takdir kita, aku tidak yakin bisa kembali dengan istriku, walau aku sangat ingin, jadi ... bolehkah aku belajar untuk mencintaimu, belajar untuk menjadi suamimu juga ayah untuk anak-anak kita. " Salma meneteskan air mata.
" Tapi, mas kan tau aku sudah .... "
" Cukup Salma, semua orang punya masa lalu semua orang punya keburukan tapi semua ora juga punya masa depan. " Salma menangis, ku rengkuh tubuhnya dalam dekapan.
Next.....
__ADS_1