Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )

Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )
POV Maryam


__ADS_3

POV Mama Maryam.


Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Terlebih ini pada Idris, putraku yang masa remajanya tumbuh tanpa seorang Ayah.


Dulu, aku pikir Rayan juga menikahi wanita baik-baik.


Syifa wanita yang lembut, penyayang, juga menyenangkan. Tapi, ternyata setelah ku selidiki ia tak lain hanya seorang wanita malam.


Entah bagaimana Rayan menemukannya, mungkinkah ia juga di goda oleh wanita itu, dan ia tergoda. Sama seperti wanita yang menggoda suamiku dulu.


Mas Salim suamiku adalah seorang Peria yang dulu paling ku cinta, nyatanya ia tak mampu setia, ia mendua, aku sendiri saksinya.


Walau ia selallu mengela, tapi nyatanya lihat sekarang, ia telah memiliki anak dari wanita lain. Aku membencinya, aku sangat membencinya.


Bahkan karena ulahnya aku mengalami trauma, aku tidak lagi ingin memiliki pasangan, karenanya aku sakit, karenanya juga aku hampir memilih jalan bodoh untuk bunuh diri.


Beruntung kala itu Idris selallu menemaniku, disaat pernikahanku dan mas Salim kandas, ia pergi dari rumah, sedang Rayan sibuk dengan perusahaan.


Hanya Idris, kala itu hanya Idris yang selalu menemaniku, membersamaiku, menenangkan ku, dan karenanya pula aku bertahan.


Namun, sekarang, ia juga milik orang lain, ia bukan lagi Idris putraku yang dulu.


Dia bilang dia sudah mempunyai kewajiban lain, kewajiban pada istrinya.


Tak tahukah kau Dris, saat pertama kamu menceritakan bahwa kamu telah menikah dengan seorang Yang bahkan tak jelas asal usulnya, juga caramu menikah secara diam-diam dan tanpa persetujuan dari Mama.


Kau tahu Dris, untuk pertama kalinya kau mengecewakan Mama. Mama ingin sekali membencimu, tapi Mama sadar Mama tidak akan bisa, dan ahirnya Mama harus membenci istrimu.


Karena ia yang merebut mu dari Mama, ia yang membuat mu menentang Mama, Mama membencinya Dris.


Karena Mama takut ia wanita yang sama dengan wanita yang merebut ayahmu dulu, juga sama dengan Syifa mantan istri kakak mu.


Idris Mama juga tahu kamu pernah hampir melamar seseorang, Mama tahu itu dari orang kepercayaan Mama.


Dan betapa terkejutnya Mama ketika tahu jika wanita yang kau suka adalah saudara mu, anak dari ayah mu.


Mama masih ingat saat ia menjelaskan bahwa ia tak berselingkuh, Mama hampir percaya. Tapi kenyataanya, jelas-jelas setelah kami berpisah ia telah memiliki anak. Atau mungkin anak itu sudah ada sejak ayah kalian masih bersama kita.

__ADS_1


Entahlah, Mama tidak ingin lagi mengenal ayah kalian, Mama benci dia, bagi Mama dia sudah mati sejak melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah ini.


Dan saat kau datang brsama istrimu, Mama kembali teringat wanita ayahmu, juga ketika mengetahui siapa Syifa dahulu, Mama membenci siapapun wanita yang suka merebut kebahagiaan orang lain. Mama benci mereka Dris!.


Syifa, jelas-jelas ia pernah menjadi wanita malam, yang pasti sering menghabiskan waktu dengan suami orang, dan ia tak peduli dengan istri-istri mereka yang sedang menunggu kepulangan suaminya, juga dengan anak-anak mereka yang sedang menunggu ayahnya pulang.


Sedang istrinya Idris ia merebut Idris dariku, ia membuat Idris jauh dariku, ia juga yang membuat Idris tak lagi mau menuruti ku.


Salahkah jika Aku membenci kedua wanita itu.


Aku melihat mereka keluar dari rumah hendak memasuki mobil. Tatapanku tak sengaja bersirobek dengan seorang gadis yang terlihat masih muda mungkin itu istri Idris.


Ia menatapku yang sedang menatapnya dari kamarku di lantai dua. Aku tak beranjak, membiarkan dia melihat keberadaan ku agar dia sadar jika aku tidak mau menemuinya itu artinya aku belum bisa menerima kehadiran nya, atau bahkan tidak mau menerima kehadirannya di keluarga ini.


Mengingat informasi yang ku dapat jika perusahaan keluarganya sedang dalam masalah serius, yang mana mereka bisa saja memanfaatkan Idris untuk kepentingan mereka.


Apa lagi jika mereka tahu siapa Idris, dan siapa keluarganya, pasti mereka akan merepotkan kami.


***


" Semalam Mas Idris pulang sama istri nya, kenapa ibu gak turun? " BI Tini berkata sembari menyiapkan makanan untukku dan Rayan.


Sedang Rayan hanya menatapku sekilas lalau kembali menyantap makanannya tanpa banyak bicara.


" Tapi walau bagaimanapun dia tetap menanti ibu, " Lagi Bi Tini berkata.


Rayan bangkit ia menyudahi sarapannya dan berpamitan.


Ada yang aneh dengan Rayan dan Idris mereka seperti tidak baik-baik saja. Namun, aku belum tahu kenapa, yang jelas setiap ku tanyai hubungan mereka, mereka selallu menjawab baik-baik saja. Aku tak lagi ingin mencari tahu, karena ku fikir mereka akan bercerita padaku.


" Bu! " BI Tini membuyarkan lamunanku.


" Ya, Bi. "


" Istrinya Mas Idris baik, loh, Bu, ia juga cantik, manis, sopan, anaknya juga nyenengin, saya aja nyaman ngobrol sama dia. Oh, iya, kalau gak salah nama nya Khanza, Bu. " panjang lebar ia bercerita.


Sebaik apapun ia ia tetap telah merebut Idris dariku, dan aku tak suka itu.

__ADS_1


" Oh, " ku tanggapi singkat.


" Kalau mereka datang lagi, tolong temui dia Bu. " apa ia sedang menyuruhku.


Ku letakan gelas berisi teh yang baru ku minum di atas piring kecil, lalu Ku tatap Bi Tini lekat. " Memang nya siapa kamu sampai-sampai kau mau repot menyuruhku, heh? "


Ia menghentikan kegiatannya, lalu ikut menatapku lekat." Kini, mungkin aku hanya pembantu mu, Mar, tapi apa kau lupa dulu, kau pernah memintaku makan satu meja dengan kalian, bahkan kau pernah menawariku untuk menjadi adik madu mu, dan apa aku mau, tidak, Mar, karena aku hanya teman suamimu, bahkan aku dan suamimu yang lebih percaya jika kau bisa menjadi ibu ketimbang dirimu, yang selalu ragu. Mar, berdamailah dengan masa lalumu, jujur sampai saat inipun aku masih percaya jika Salim tidak berhianat. "


" Jika dia tidak berhianat, dia tidak mungkin punya anak lagi, Tin! "


" Sudah ku katakan Salim hanya menolong wanita itu. "


Aku tertawa hambar. " Iya, dia menolong orang lain, sedang aku istrinya ia buat terseok, seperti itukah hakikat menolong. " ku keraskan suara seraya menatapnya tajam.


" Kau sudah terhasut, kau sudah berubah, kau bukan Maryam yang dulu ku kenal. "


Aku tersenyum kecut seraya menggeleng-gelengkan kepala. " yah, aku memang bukan Maryam yang dulu kau kenal, karena aku bukan lagi istri temanmu, jadi, jika kau ingin KELUAR dari rumah ini. SILAHKAN! " sembari mengulurkan tangan memberi isyrat untuk dia pergi.


" Seberapapun kerasnya kau memintaku keluar, aku tidak akan pernah keluar dari ruamah ini, ini amanah dari Salim. Aku sangat berterima kasih pada Salim karena ia telah menolongku, membebaskan ku dari cengkraman suami yang pemabuk juga kasar. Dan sebagai balas budiku aku akan mengabdikan diri untuk Salim! "


" Kalau begitu, pergi! cari Salim mengabdikan pada keluarga barunya! "


Ia menatapku dengan tatapan teduhnya. " Sayangnya Salim memintaku untuk menjagamu, menjaga anak-anak mu, aku tidak akan pergi kemanapun dan jangan memintaku pergi, walau kau hanya akan menganggap ku pembantu di rumah ini, aku akan tetap mendampingi mu, " tukasnya dan pergi dari hadapanku.


Kami pernah sedekat itu dulu, aku dan Tini buka majikan dan pembantu, dulu, kami seperti kakak beradik, melakukan segala hal bersama, teman mantan suamiku itu memang orang yang mengasikkan.


Dulu ia tidak bekerja di rumah, ia bekerja di kantor mas Salim, dan ia tinggal di vila kecil yang terletak di belakang rumah ini. ia wanita yang baik tak pernah sekalipun mendekati suamiku, bahkan pernah aku meminta orang menyelidikinya, dan diam-diam juga aku pernah bertanya pada beberapa setaf di kantor suamiku tentang Tini.


Dan mereka selalu bilang jika ia wanita yang baik dan tidak pernah sekalipun berbuat yang macam-macam pada suamiku.


Ia sangat menghargai pertemanannya dengan mas Salim juga sangat menghargai pernikahan kami.


Walau butuh waktu lima tahun bagiku untuk memiliki seorang anak, ia tidak memanfaatkan keadaan itu, ia lah yang justru menyemangatiku dan mas Salim agar selalu optimis dan percaya bahwa Allah akan karuniakan kami keturunan.


Namun, semua berubah sejak mas Salim berkhianat, aku tak lagi memperdulikannya, walau ia masih tetap peduli padaku bahkan ia rela keluar dari kantor demi untuk mengurusku yang kacau pada saat itu, sedang perlakuanku padanya tak lagi sama, tapi ia tetap setia.


Next....

__ADS_1


***Jangan lupa Like, Komen dan Vote. Terima kasih 🙏🙏


Follow juga aku FB ku. Mey Meyra***.


__ADS_2