
Idris membuka pintu kamar ia segera masuk dan mendapati Za tengah menyisir rambutnya didepan meja rias.
Idris mendekat tanpa basa-basi ia tanyai Za mengenai siapa yang membuat kopi tuk kakaknya.
" Za, kamu yang buat kopi buat Rayan? " Tanyanya penuh selidik.
Berasa jadi tersangka.
Za menghela nafas jujur ia tak ingin menjawab pertanyaan suaminya tapi sang suami malah terus-terusan bertanya.
" Za, jangan diam aja, jangan bikin Mas .... "
Ucapannya terpotong sebab Za bangkit dan membungkam mulut Idris dengan bibirnya. Singkat. Namun mampu membuat Idris terdiam bak patung.
Za melangkah menuju tempat tidur meninggalkan suaminya yang masih mematung.
Belum sampai Za ke peraduannya, ia rasai tangan kekar melingkari tubuhnya dari belakang.
" Sudah bisa seperti itu, yah, sekarang? " ucap Idris seraya berbisik mendekati telinga Za.
Za yang geli karena perlakuan Idris menggeliat dan berusaha melepaskan diri. " Lepas mas! "
" Oh, siapa yang sudah memulai genderang perang dan sekarang kamu minta di lepaskan! "
" Aku hanya berusaha menenangkanmu! "
" Tapi, cara kamu tidak menenangkan! "
" Sudah Mas, Za mau tidur! " Za berusaha melepaskan diri dari suaminya.
" Gak, bisa! " semakin erat Idris memeluk Za.
Kembali Za merengek agar Idris melepas pelukannya. Namun, Idris semakin usil pada Za.
Tok ... Tok ...
Seseorang mengetuk pintu kamar mereka, Idris dan Za adu tatap bertanya-tanya siapa yang mengetuk, ataukah suara gaduh mereka yang terdengar hingga keluar.
Za melepas paksa tangan Idris yang melingkar di perutnya Idris pun sedikit kesal membiarkan Za lepas dan berjalan mendekati pintu seraya membuka pintu.
" Bi Tini! "
Bi Tini tersenyum lantas matanya tertuju pada Idris dan meminta dokter muda itu menemui Mama nya, sebab Mama nya meminta Idris untuk menemuinya.
Idris teringat jika ia berjanji akan memeriksa kesehatan Mama nya malam ini.
Idris mendengkus agak berat namun tetap ia berjalan dan memenuhi panggilan sang Mama.
" Jangan tidur nanti di .... " Belum selesai Idris berucap Za sudah mendorong tubuh suaminya untuk keluar dari kamar.
__ADS_1
" Jangan banyak bicara Mama pasti udah nunggu. "
Sebelum kembali menutup pintu Za tersenyum pada suaminya sebuah senyum kemenangan karena bisa menjahili Idris.
***
Selesai memeriksa Mamanya Idris tak langsung beranjak ia mengajak Mama Maryam berbincang sejenak.
Di tatapnnya sang Mama sembari ia pegang tangannya. " Mah. "
" Yah, " Jawab Mama nya.
" Cobalah untuk lebih akrab dengan Za, " ucap Idris.
wajah Mama Maryam yang sumringah nampak kini ia tekuk, ia tatap sang putra sekilas dengan tatapan bosan, bosan karena lagi-lagi harus ia ingatkan untuk bersikap baik dengan menantunya yang belum bisa sepenuhnya ia terima.
" Harus sesering itu kamu ingetinnya? " tanya Mama nya sembari ia tatap sang putra.
" Idris hanya ingin melihat Mama dan Za seperti selayaknya seorang menantu dan mertua. "
" Setelah apa yang dia lakuin ke kita, ke kamu ke Mama, kamu masih mengharap Mama bisa bersikap baik sama dia. "
" Apa yang Za lakuin ke Mama? " berkerut kening Idris.
" Dia udah ambil kamu, perhatian kamu dari Mama. "
Idris menggelengkan kepalanya, " Idris suami Za, dan Za istri Idris apa salah seorang suami memperhatikan istrinya? "
" Mah! "
" Kamu juga harus ingat, dia udah bunuh cucu Mama. " sergah Mama Maryam.
" Mah, itu murni kecelakaan, bukaan kesengajaan! "
" Tapi, bagai mana jika sebenarnya ia sengaja ingin menggugurkan kandungannya karena ia lelah sama kamu, ia ingin pergi dari kamu, atau jangan-jangan dia punya laki-laki lain. "
Idris kembali menggelengkan kepalanya, ia tak habis pikir dengan praduga Mama nya.
" Idris tahu Mama masih belum bisa menerima penghianatan Papa, tapi jangan pernah samakan hubungan kami dengan masa lalu Mama. Za itu wanita baik dan Idris percaya itu.
Bahkan sampai saat ini pun Idris tidak benar-benar percaya jika Papa berhianat, Papa itu laki-laki yang baik, Mah. "
" kalau dia laki-laki yang baik tidak mungkin ada Nadia di dunia ini. Nadia mantan kamu yang ternyata juga saudara kamu, yakan? " ucap Mama sinis.
" Mah .... "
" Cukup! " Mama Maryam langsung memotong ucapan Idris.
" Mama mau istirahat. " ia merebahkan tubuhnya di atas kasur membelakangi putrnya yang masih termangu di samping.
__ADS_1
Helaan nafas berat terdengar dari mulut Idris, ia memejamkan matanya menarik nafas dan menghembuskan nya kasar.
Idris tarik selimut untuk menyelimuti tubuh sang Mama, di kecupnya kepala sang Mama sebelum ia keluar dari kamar.
Idris menutup pintu kamar sang Mama, matanya menangkap pada obat-obatan yang tergeletak diatas meja di samping pintu kamar Mamanya.
Ia kembali masuk sembari membawa obat. " Mah, minum obatnya dulu, yah? "
" Letakan saja, Mama bisa minum sendiri " Masih enggan menatap pada putranya Mama Maryam berucap ketus.
Kembali Idris menghela nafas, ia letakan obat di atas meja dan keluar dari kamar Mama nya.
Idris kembali ke kamarnya dengan perasaan yang tidak biasa, entah melihat mamanya yang belum bisa memaafkan masa lalau membuat ia resah.
Ia lihat Za terbaring di atas kasur dengan berbalut selimut yang hampir menutupi seluruh tubuhnya hanya nampak sedikit kepalanya menyembul dari selimut.
Ragu Idris untuk membangunkan Za, sebab Za terlihat sudah terlelap. Ia dekati Za dan mencium kening sang istri cukup lama hingga ia pun ikut merebahkan tubuhnya di samping sang istri.
Sedang di balik selimut nampak Za yang masih terjaga, matanya basah dadanya sesak menaha tangis.
Flashback.
Bi Tini kembali mengetuk pintu, kali ini ia meminta tolong pada Za untuk membawakan obat ke kamar Mama Maryam.
Za mengiyakan permintaan Bi Tini, ia segera mengambil baju gamisnya dan memakai hijab bergegas menuju kamar mertuanya.
Sampai di depan pintu tangannya tertahan tuk mengetuk pintu, sebab mendengar perdebatan antara ibu beranak itu.
Dan ialah alasan dari perdebatan mereka.
Terlebih saat ia mendengar jika Mama Maryam menyalahkannya atas keguguran yang ia alami.
Za terdiam cukup lama, bahkan tak terasa air matanya sudah menganak sungai.
Ia memegangi dadanya yang terasa sesak, tak tahukah jika peristiwa itu juga membawa kesedihan untuk Za, bahkan terkadang ia tiba-tiba menangis jika mengingat akan janin yang ia kandung harus pergi tanpa sempat ia lihat.
Tak mau semakin sesak Za memilih menaruh nampan berisi obat-obatan mertuanya diatas meja yang berada di samping pintu kamar Mama Maryam.
Hendak melangkahkan kakinya, Namun urung kembali sebab ia mendengar nama seseorang di sebut Mama Maryam, bahkan Mama Maryam mengatakan jika wanita itu adalah wanita yang pernah memiliki kisah dengan suaminya di masa lalu. Namun, Mama nya juga mengatakan jika ia saudara suaminya.
Entah ... Ternyata banyak hal yang ia tak tahu mengenai suaminya. Tak mau menambah sesak, Za pergi ia tinggalkan tempat itu, kembali ke kamarnya mendudukkan diri di pinggiran ranjang sembari mendekap bantal.
Luruh, kembali air mata nya luruh tak terbendung. Memikirkan mertuanya yang belum bisa menerima ia saja kadang membuat Za merasa tak pantas menjadi istri Idris, sekarang, ia juga harus di suguhi bahwa suaminya pernah mencintai orang lain yang bagai mana jika masih ia cinta sampai saat ini.
Terdengar deru langkah kaki mendekati kamarnya, segera ia buka hijab dan merebahkan diri diatas ranjang seraya menarik selimut hingga menutupi hampir seluruh tubuhnya.
Ia rasai Idris telah memasuki kamar, Za pura-pura tertidur sampai ia rasai sebuah kecupan mendarat di keningnya, setelah itu suaminya ikut terbaring di samping Za.
Za membuka matanya menatap kosong hingga tak terasa kembali bulir bening itu mengalir dari sudut matanya, ia menangis dalam diam.
__ADS_1
Next....
Jangan lupa Like, Komen dan Vote. Terima kasih 🙏