
POV Rayan
Setelah Idris pergi ku hampiri Mama yang masih terisak, ku peluk ia seraya menepuk-nepuk punggung Mama, ia mulai tenang bahkan isaknyapun mulai mereda.
ku kepalkan tangan dengan rahang yang mengeras menahan amarah pada bungsu Mamaku.
Anak yang selama ini di bangga-banggakan Mama ternyata orang yang bisa juga mengecewakan Mamanya.
Bukankah ia anak yang sedari dulu di elu-elukan orang tuanya.
Bahkan ketika rumahtangga orangtuanya retak, hanya kata-kata Idrislah yang mau di dengar oleh Mama.
Aku kesal, Mah, aku marah kala mengingat itu, tapi, rasa sayangku padamu jauh lebih besar.
Mama Maryam menangis hingga ia lelah dan tertidur. Rayan membaringkan Mama nya, di selimuti nya Mama Maryam hingga ke leher.
melihat sang Mama seperti ini Rayan kembali mengepalkan tangannya, hidungnya kembang kempis menahan kekesalan pada Idris.
Rayan berdiri mengayunkan kakinya keluar dari kamar Mama. ia tutup pintu dengan perlahan, sebelum menutup pintu ia lirik Mamahnya yang terlelap.
Berjalan menuju kamar, sebelum ke kamar ia sempat menitipkan Mama nya pada asisten rumah tangga di rumah.
Rayan berjalan menghampiri balkon, di ambilnya rokok dari dalam saku, ia nyalakan dan mulai menghisapnya.
Sembari menikmati rokok dengan tangan menopang di pagar balkon, mata Rayan menatap lurus ke langit.
Flashback.
kesal dengan Papa dan Mama nya yang slalu membangga-banggakan Idris, juga Idris yang di bebaskan orang tuanya menentukan hidup,
sedang Rayan merasa ia selalu di kekang, di atur dan inginnya tak didengar.
Duhai orang tua bukankah setiap anak memiliki kecerdasannya masing-masing, sedang cerdas itu tak melulu soal IQ, namun juga banyak hal.
Idris memang berbeda dengannya. Meski paras mereka sama, sama-sama memiliki garis wajah yang rupawan.
Namun, Idris terlahir dengan kecerdasan di atas rata-rata. Yang membuat ia selalu di spesialkan kedua orang tuanya.
Hingga beranjak dewasa Rayan merasa jika hidupnya terlalu di kekang kedua orang tuanya.
Rayan di haruskan mengikuti keinginan orang tuanya, sedang mereka tak pernah mau tahu apa yang di inginkan Rayan.
__ADS_1
Sejak sekolahpun ia bersekolah di tempat pilihan orang tuanya, walau sebenarnya Rayan tak mau bersekolah di sana.
Dan berlanjut hingga ia masuk ke perguruan tinggi. Bahkan jurusan yang di ambil Rayan pun bukan jurusan yang ia mau, melainkan pilihan orang tuanya.
Menajemen, bisnis, semua hal tentang menjadi seorang pengusaha mereka jejalkan pada ku.
Sedang di sini, di dalam hati aku sanga mengagumi para seniman, terlebih dalam dunia melukis.
Pernah sekali Rayan berbicara pada Mama dan papa jika aku tidak berminat mengambil jurusan itu, dan pernah sekali aku minta pindah perguruan tinggi.
Mengutarakan inginku menjadi seorang pelukis. Namun, mereka berkata jika menjadi seorang pelukis tak bisa menjamin masa depan ku.
Aku kalah, aku menyerah, dan berahir dengan menjalankan semuanya di penuhi rasa terpaksa.
Bahkan Mama dan Papa nya pernah mengatakan jika di masa depan aku ingin sukses. Maka sejak sekarang aku harus di arahkan.
Pasrah dengan apa yang di pilihkan Mama dan papa, aku pun menjalani apa yang mereka mau.
Hari demi hari ku lewati nyatanya tak membuat ku nyaman, malah jurusan yang di pilihkan kedua orang tuanku membuat ku hampir setres.
Rayan sempat ingin memberontak. Namun, perpisahan kedua orang tuanya membuat ia tidak bisa berkutik dan dengan terpaksa juga bersusah paya ia jalani apa yang di pilihkan orang tuanya.
Kala itu usia Rayan masih 19 tahun, sedang Idris baru berusia 8 tahun.
Bahkan Idris di bebaskan memilih sekolah di mana, juga bebas menentukan kehidupanya. Tanpa di atur bak robot sepertiku.
yang pada akhirnya harus meneruskan perusahaan Mama hasil dari harta gono-gini mereka.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kala aku yang baru lulus dari universitas harus menjadi tulang punggung keluarga.
Ya, setelah sebelumnya perusahaan di pimpin oleh orang kepercayaan Mama. setelah lulus aku menggantikannya, memimpin perusahaan yang sudah mulai berkembang, bahkan memiliki beberapa cabang, di usiaku yang masih muda.
Sedang Idris adikku ia bebas bersekolah di mana saja, juga berteman dengan siapa saja.
Berbeda denganku yang bahkan pertemanan pun harus di atur oleh Mama. katanya jika sembarangan berteman dengan orang, kemungkinan besar aku akan memasukkan rival untuk perusahaan.
Hingga tak jarang aku di jauhi beberapa teman kampusku, karena aku jarang datang kala mereka mengundang.
Yah, sehawatir itu Mama, tapi entah padaku atau pada perusahaanya.
Dan kenyataanya rasa sayangku pada Mama dan Idris membuatku berusaha senyaman mungkin menjalankan peranku sebagai seorang pebisnis.
__ADS_1
Sampai namaku di kenal sebagai pebisnis muda yang handal. mengembangkan perusahaan Mama sampai memiliki cabang hingga ke manca negara.
Tapi, nyatanya setelah Idris beranjak dewasa ia malah orang yang masih tetap paling di elu-elukan kan Mama.
Terlebih ketika Idris berhasil meraih gelar Dokter.
Ia tetap teristimewa. Peresatsiku, pencapaianku, dan pengorbananku untuk mengembangkan perusahaan Mama seolah raib, tak memiliki arti apapun untuk Mama.
Idris, Idris, dan Idris, tetap ia anak kebanggaan Mama.
Aku jadi lelah, bahkan sampai ingin menyerah. Lari dan pergi meninggalkan semua ini. Lalu hidup dengan apa yang ku mau.
Dan lagi-lagi, melihat wajah Mama aku tak tega.
Dan satu-satunya cara agar aku bisa tenang kala itu ... adalah hiburan malam.
Aku habiskan malam-malam ku di sana, menenggak air haram yang membuatku terlena, merasakan ketenangan dan seolah bebanku berlalu, membuat air haram itu menjadi canduku.
Lantas bergembira ria dengan para pramuria yang tak segan menggodaku.
Mama tidak tahu aku di sini, aku selalu beralasan jika ketidak pualanganku di karnaka urusan perusahaan di luar kota bahkan di luar negri.
Sampai suatu hari aku bertemu dengan seorang wanita, seorang pramuria yang mati-matian menjaga kesuciannya dari para predator cinta satu malam.
Nampak ia sampai harus babak belur karna tak mau melayani para tamunya.
Sampai beberapa orang berotot kekar bertubuh tinggi dengan tampang garang, memaksa hendak melucuti pakaian wanita itu.
Wanita itu menjerit, melempari mereka dengan benda apa saja yang ada di dekatnya. sedang seorang wanita bertubuh gemuk terbahak melihat nya.
Aku tak lagi bisa diam kala wanita itu sudah tak memiliki benda apapun untuk di lemparinya pada para pria berbadan kekar itu.
Aku masuk dan memeluk wanita itu, awalnya wanita itu memberontak, tapi, aku berbisik jika akan menolongnya keluar dari tempat ini.
" Berapa harganya? " ucapku menatap pada wanita berbadan gemuk.
" Cih, kau tidak akan mampu membelinya, hajar dia! " titahnya pada para pengawal.
bersambung.....
Hai ... hai .... hai...., balik lagi nih, siapa tau masih ada yang nungguin kelanjutan kisah ini.
__ADS_1
Jangan lupa, Like, Komen dan Votenya.
Love you all.....