
Nadia
POV Rayan
Sudah berakhir kisahku dan Syifa, kini aku kembali ke kehidupanku yang dulu.
Kembali menjadi robot.
Sempat aku berfikir, ingin kembali ke kehidupan gelapku, meneguk air haram yang melenakan.
Melepas beban dengan beriang di bawah lampu warna-warni, menikmati indahnya dunia kebabasan hingga penghujung malam.
Namun wajah Syifa selalu melintas di hadapan, Seolah mengingatkanku tuk tak terjebak lagi pada kesalahan yang sama.
Juga Mama yang akhir-akhir ini sering sakit, beliau pernah bilang jika ia sakit karena memikirkan ku dan Syifa.
Entah apa jadinya jika Mama juga tau kalau aku pernah merasakan nikmatnya hidup para penikmat dunia malam.
Aku menyerah, memilih kembali di kontrol oleh Mama.
Sedang Idris masih saja di beri kebebasan.
Tapi sebelum hubunganku dengan Idris renggang, kami sering sekali saling mengunjungi.
Entah Idris yang sering ke kantor, atau aku yang entah mengapa jadi sering mengunjunginya di rumah sakit.
Jujur kedekatanku dengan Idris hanya karena aku tak mau lagi terlena pada dunia yang salah.
Jadi ku gunakan waktu senggangku mengunjungi Idris mengobrol dengannya dan sahabatnya Sam.
Dulu kami sempat dekat, sangat dekat. aku tak seperti kakaknya, tapi kami seperti seorang kawan.
Terkadang akupun merindukan masa-masa itu.
Sampai suatu hari.
Aku tak sengaja melihat seorang wanita, nampaknya ia menyukai Idris, ia selalu memandanginya dikala jauh dan selalu tersipu dikala dekat dengan Idris.
Ia seorang suster magang di rumah sakit tempat Idris praktik.
Nadia namanya, cantik parasnya, teduh matanya, sederhana perangainya.
Sangat cocok jika bersanding dengan Idris.
Ku katakan pada adikku itu jika ada seorang wanita yang sepertinya mengagumi dia.
Awalnya respon dia biasa saja, bahkan seolah tak ingin tahu tentang Nadia.
Yah, ku tahu sebab Idris adalah salah satu Dokter yang di gemari banyak orang di sini terlebih para kaum hawa.
Dan baginya di sukai wanita bukanlah hal yang luar biasa.
Iseng, ku ajak ia berkenalan dengan Nadia, walau awalnya Idris menolak sebab ku paksa mau tak mau ia pun ku kenalkan dengan Nadia.
Nadia tampak gugup ketika ku katakan jika Idris ingin berkenalan dengan nya.
Sedang Idris nampak geram karena keisenganku. Bukan hanya aku Sam pun mendukung ku.
Kami bersekongkol mendekatkan Idris dengan Nadia.
__ADS_1
Dan semakin hari malah Idris yang semakin penasaran dengan Nadia.
Ia mulai tertarik dengan Nadia. Merekapun semakin hari semakin dekat.
Idris juga berkata jika ia ingin memperistri Nadia. Nadia juga sudah menerima lmaran Idris.
Usia mereka yang terpaut 10 tahun tak menjadi masalah bagi Nadia. Idris yang kala itu berusia 31 tahun sedang Nadia 21 tahun.
Nadia termasuk mahasiswa yang lulus di usia muda.
Aku penasaran dengannya, ku cari tahu asal usul Nadia, tentang siapa keluarganya.
Dan tercengang mana kala mengetahui siapa ayahnya. Ayahnya dan ayah kami sama.
Ku fikir hanya nama, nyatanya juga orang yang sama.
Menurut orang suruhanku.
Aku tak percaya, menyuruh mereka mencari tahu lebih dalam lagi tentang Nadia dan keluarganya.
Sempat berfikir jika Nadia adalah anak tiri ayah.
Namun, aku kembali salah, Nadia ternyata anak kandung ayah. yang mana artinya kami bersaudara.
Aku tak langsung memberi tahukan ini pada Idris, mencari waktu yang tepat untukku mengatakannya.
Namun, Idris semakin gencar ingin memperistri Nadia. Bahkan ia berniat melamarnya langsung kepada orangtuanya.
Idris memintaku menemaninya menemui orang tua Nadia. Aku menolak, tapi tak ku beri tahu alasannya.
Entah ini akan menjadi bencana atau apa. Tapi ini adalah kesempatanku. Kesempatan agar aku bisa pergi.
Sebelum Idris kemari orang suruhanku menelfon memberitahu suatu hal.
Idris bilang jika ia telah dapat restu dari orang tua Nadia barulah ia akan memberitahu Mama soal Nadia.
Idris juga yang menyuruhku merahasiakan ini dari Mama.
Entah bagaimana reaksinya jika ia melihat ayah Nadia yang juga ternyata ayah kami.
Jam di pergelangan tangan menunjukan pukul 11:30 malam, aku yang masih berkutat dengan berkas masih enggan tuk beranjak.
Sedang para karyawan telah kembali ke kediamannya masing-masing. Hanya tersisa aku asistenku juga seorang office boy yang ku suruh lembur malam ini.
Selesai dengan pekerjaankupun aku masih enggan tuk pulang. Ada sesuatu yang menggangu fikiranku, bukan soal Idris. Namun tentang dia ....
Ku langkahkan kaki menuju balkon, mengambil rokok dari saku celana lalu menyalakannya.
menghisap nikotin yang membunuh secara perlahan. Namun para pecandu seolah menantang malaikat maut, mereka akan tetap menghisapnya walau banyak yang bilang. Merokok membunuhmu.
Entahlah, disaat itu mereka lebih percaya jika mati hanya di tangan Tuhan atau hanya ingin menuntaskan candunnya.
Tok... Tok....
Suara ketukan pintu membuatku menoleh. Bukankah asistenku sudah ku suruh pulang sejak 30 menit yang lalau.
Saat ini jam menunjukan pukul 12:00 malam. Jujur ini pertama kalinya aku selarut ini dalam keadaan sendiri di perusahaan. Ngeri juga ternyata.
Jikapun aku harus berlarut di perusahaan itupun dengan beberapa kolega ku dan hanya untuk membahas seputar bisnis.
__ADS_1
" Masuk! " Titahku pada seseorang di balik pintu.
Ia membukanya, nampak sosok Peria yang tak asing lagi berdiri di sana dengan raut wajah yang ... kurang bersahabat.
" Idris, " sapaku. Aku melangkah memintanya duduk di sofa yang berada di ruanganku.
Ia duduk masih dengan raut yang tak mengenakan. Pasti dia sudah tau siapa orang tua Nadia.
" Kenapa? Di tolakkah, " tanyaku berbasa basi seolah tak tau apa-apa.
" Kau tahu kak, ayah Nadia siapa? " Idris mulai bersuara.
" Siapa. " Aku tetap pura-pura tak tahu.
" Salim Al Kaf. Ayah kita. " Ia menatapku. aku pura-pura terkejut.
" Apa Nadia anak tiri ayah? " sedang aku masih berpura-pura tak tahu.
Idris menggeleng. " Ia anak kandung ayah, setelah ayah cerai dari Mama ternyata ayah menikah lagi dan Nadia anak ayah dari istrinya yang sekarang, " papar Idris.
" Sudahlah, lebih baik kau tahu sekarangkan. Toh perempuan di dunia ini masih banyak bukan cuma Nadia. "
" Tapi rasa ini terlanjur ada, kak. "
" Yah, memang seperti itu. Ketika kita terlalu berharap pada manusia seringnya malah berahir kecewa. " Idris mengangguk-angguk kan kepalannya.
" Sudah jangan sampai larut dalam kesedihan. " ku ucapkan itu sembari berdiri menepuk pundaknya dan melangkah duduk di meja kerjaku.
" Ya, kak, tapi aku juga kefikiran Nadia, bagai mana dia setelah tahu jika kami bersaudara, " ucapnnya sembari mengikuti langkahku dan duduk di kursi yang berada di hadapan hanya tersekat meja.
" Awalnya pasti terluka, kecewa. Namun bagaimana lagi ia harus menerima kenyataan. "
" Kamu dari rumah Nadia langsung ke sini? " tanyaku pada Idris.
" Aku pulang sebentar, kekamar kakak tak ada kakak, jadi ku fikir kakak masih di kantor. "
" Mama tahu? "
" Tahu. "
" Yasudah kita pulang saja, " ucapku seraya bangkit.
Begitupun Idris, ia bangkit dari dudukny. Namun ia menyenggol beberapa berkasku hingga berhamburan di lantai.
" Ah, sorry, kak, " ucapnnya.
" It's ok, kita beresin dulu. " Aku membantu Idris membereskan beberapa berkas yang berserakan dan tak sadar jika data tentang Nadia ada di sana.
Dan naasnya Idris yang menemukan.
" Biodata Nadia? " ia menatapku, tangannya masih memegangi berkas tentang Nadia.
Ia mulai membuka nya, membacanya.
" Jadi Kaka sudah tahu? Sejak kapan? " tanyanya dengan raut yang sudah tak bersahabat.
" Kakak bisa jelaskan. "
" Jelaskan!!! " Bentaknya.
__ADS_1
Bersambung......
Jangan lupa Like, Komen dan Vote.