Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )

Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )
Pagi yang cerah


__ADS_3

Sang Surya telah menampakkan diri, menyinari bumi dengan cahayanya yang cerah. Secerah perasaan dua insan yang tengah tuhan ikatkan dalam satu simpul takdir yang bernama pernikahan.


Siapa lagi jika bukan pasangan pengantin baru yang telah menikah sekitar sebulanan itu.


Tidak seperti biasanya, di pagi itu, pasangan pengantin baru itu, kini terlihat lebih akrab dari biasanya.


Bahkan kebekuan yang dulu mereka ciptakan, kini mulai mencair, bak bongkahan es yang di lelehkan.


Beberapa hari ini, Idris sudah mulai praktek. Jika biasanya Za mengantarkan Idris dengan rasa canggung masing-masing. Berbeda dengan kini.


Kini mereka seperti pasangan yang tengah di mabuk cinta, Idris berpamitan pada Za, mencium kening Za, tentu setelah Za mencium punggung tangan pria yang telah menjadi suaminya itu. Idris menggenggam tangan Za, mereka tersenyum, terdiam cukup lama, seolah saling menolak untuk berpisah.


"Assalamualaikum."


Pasangan pengantin baru yang tengah di mabuk cinta itu di kejutkan dengan suara salam pak Sapri. sontak mereka terkejut dan sama-sama salah tingkah.


"Waalaikumussalam." jawab keduanya.


Idris melepaskan tautan tangannya pada Za, menghampiri pak Sapri yang berdiri tak jauh dari mereka berada. Berbincang-bincang sebentar sebelum ahirnya Idris melangkahkan kakinya meninggalkan rumah Za.


Namun, sebelum sang Dokter melangkah lebih jauh, pak Sapri menahannya dengan melontarkan pertanyaan.


"Berhasil mas Dokter!," ucap pak Sapri pelan, seraya melengkungkan sudut bibirnya, dan binar harap bahagia di matanya.


Idris tersenyum, dan menepuk pundak pak Sapri lalau ia pergi tanpa berkata apa-apa lagi.


Pak Sapri ikut tersenyum bahagia, paham dengan maksud tepukan di pundaknya.


"Alhamdulillah." ucapnya seraya mengusap wajannya dengn kedua tangan.


Sementara Za sudah masuk terlebih dahulu ke dalam rumah, untuk membuatkan pak Sapri kopi sebelum pak Sapri memulai pekerjaan.


***


Memasuki rumah sakit Idris berjalan dengan senyum yang mengembang, bahkan tak seperti biasanya ia juga menanggapi sapaan orang-orang dengan senyum ramah, dan juga tak segan untuk membalas sapaan orang-orang yang menyapanya, entah pada siapapun itu.


Padahal sebelumnya ia tak seperti itu, walau ia memang terkenal sebagai Dokter yang ramah.


Dari jarak beberapa meter,Sam, sahabatnya memperhatikan gerak-gerik Idris yang tak biasa.


Diam-diam Ia mengikuti sahabatnya, dan ikut masuk di saat Idris memasuki ruangannya.


Jika biasanya Idris akan mengomel melihat Sam yang masuk tanpa permisi, berbeda dengan hari ini. Sam justru melihat sahabatnya itu tersenyum ramah, hingga berkerut alis Sam melihat tingkah Idris.

__ADS_1


"Lu sehatkan Dris?" Sam bertanya seraya mengecek suhu tubuh Idris dengan tangannya.


"Sangat sehat." Idris menjawabnya dengan wajah sumringah.


"Lu kenapasih? dari tadi gue perhatiin, senyum-senyum Mulu. Kesambet lu yah?. Kayanya lu harus di ruqiyah Dris." Sam berbicara sembari mendudukkan diri di atas kursi.


Idris tidak menggubris ucapan Sam, ia semakin melebarkan senyumannya, matanya menatap tak tentu arah, seolah mengingat kejadian yang membuatnya bahagia seperti ini.


"Gini yah, rasanya jatuh cinta." bukannya menjawab pertanyaan Sam, Idris malah berbicara sendiri.


"Jatuh cinta" Sam mengernyitkan alis, sejenak berfikir lalu ....


"Wah, jangan-jangan Lo, udah apa-apain Za? ya, kan, ya, kan, ngaku loh!." tebak Sam.


Idris terdiam sejenak, mulutnya tertutup rapat, matanya menatap pada sosok yang berada di hadapannya.


"Jomblo sabar yah bro!, awas tuh otak! jangan traveling!" sembari menepuk pundak Sam, lantas ia terkekeh.


"Ish, menyebalkan." Sam berdecik kesal.


"Dasar pedofil, Luh, Dris!"


"Hey, dia itu sudah dewasa! sudah cukup usia buat berumah tangga!"


Sejenak Idris terdiam, lalu ... "Iri bilang, bro! gak usah pengaruhi orang." Idris melipat kedua tangannya di depan dada.


"Nah, itu tau. Gue cuma mikir, kapan yah bisa kaya loh." seraya melirik Idris, lalu mereka tertawa bersama.


"Makanya gak usah tebar pesona, pilih satu, lalau halalkan!"


"Kalau pilih salah satu nanti fans gue berkurang dong. Wah, gak bisa, gak bisa!" Sam mengibas-gibaskan tangannya ke udara.


"Mau sampai kapan kaya gitu terus?, heh.!"


" Ya, lagian juga belum ada yang nyangkut ke hati."


"Makanya fokus sama satu tujuan, jangan tebar pesona kesana-sini."


Sam menatap malas pada Idris. "Sok nasihatin, Luh, lu aja nikah gak sengaja."


"Ya, ya, ya. Tapi, saya gak suka tebar pesona kaya kamu, yah. Cuma merekanya aja yang terpesona." Idris menaikan satu alis seraya menyugar rambutnya.


"Idih, gak pantes loh, kaya gitu." Sam menatap aneh, sedang Idris terbahak.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, lu udah kasih tau Tante Maryam." kali ini Sam berbicara serius.


Idris terdiam, matanya menatap kosong, sedang fikirannya melayang tak tentu arah.


"Dris!, jangan bilang Lo mau kucing-kucingan sama kelurga loh!"


Di tatapnya Sam. "Ya, gak lah, Aku cuma cari waktu yang tepat buat bilang ke mamah soal pernikahanku dengan Za"


"Jangan kelamaan, takutnya Tante Maryam tau dari orang lain duluan, kan bisa brabe. Juga ... soal trauma Tante Maryam Dris." sam mengingatkan.


"Sejak kak Rayan bercerai, mamah udah mulai membaik."


Sam tau semua hal tentang aku dan keluargaku, kami teman satu SMA bahkan hingga jadi teman satu kampus dan memilih jurusan yang sama, bukan karena kami ingin bersama, tapi, karena memang kami menyukai hal-hal yang berbau medis. Hanya saja aku memilih menjadi dokteran spesialis, sedang Sam memilih menjadi dokter umum.


Sam tau tentang kondisi mamah, juga tentang hubunganku dengan kak Rayan yang tidak baik sejak beberapa tahun yang lalau, hingga ahirnya aku memutuskan untuk tinggal di apartemen.


Sedang yang mama tau aku tinggal di apartemen karena jarak tempuh yang lebih dekat dengan rumah sakit, yah, mama tidak tau jika hubungan Kaka beradik ini sudah lama tidak baik-baik saja.


Kami sepakat merahasakan pertengkaran kami dari mamah, dan jika kami berkumpul dengan mamah, kami akan tampak baik-baik saja, menjadi kakak beradik yang akur.


Sam menyondongkan tubuhnya lalu mendekatkan wajahnya pada Idris yang tengah terdiam.


"Lu juga takut, bakal di suruh cerai kaya kak Rayan?" dengan hati-hati Sam mengutarakannya.


Idris menatap Sam. "Kak Rayan bercerai memang sepantasnya wanita seperti itu di ceraikan, sedang Za ... Dia wanita baik,"


"Yah, " Sam menarik tubuhnya kembali duduk dengan tegak.


"Ingat yah, Dris!, jangan kelamaan, kasian juga Za, dia udah lama jadi yatim piatu, keluarganya juga gak perduli sama dia, kalau kamu terus-terusan ngulur waktu buat mempertemukan mereka. Percaya sama gue, masalahnya akan makin runyam." Idris terdiam, jari jarinya ia mainkan di dagu, sedang otak nya berusaha mencari solusi.


Sam bangkit, melangkah pergi dari hadapan sahabatnya. dan sebelum ia benar-benar keluar,Sam berbalik, lalu berucap.


" Dris!, kalau Lo gak sanggup buat mempertahankan Za. Lepasin! gue siap jadi sandarannya."


Idris melototi Sam, di raihnya benda-benda yang berada di dekatnya, lalu ia layangkan pada Sam.


"Berani kamu!" nampak Idris yang meradang.


Sam segara meluncur kocar-kacir keluar ruangan meninggalkan Idris yang tengah kesal padanya, lalu ia terbahak.


"Sorry, bro, gua harus ngomporin Lo, biar Lo cepat bertindak" ucapnya pelan di luar ruangan Idris.


bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak, Like, Komen, dan Vote. terima kasih🙏


__ADS_2