
BI Arum berdiri seraya menenteng kertas berharga itu, " cepat keluar dari rumah ini, " ucapnya seraya meninggalkanku dan keluar dari rumah ini.
" Bi!, Bi Arum, tunggu! " aku berusaha mengejarnya.
Langkah Bi Arum semakin cepat, ia bergegas menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah. Aku berusaha mengejarnya sembari meneriaki namanya berkali-kali.
Berada di hadapan mobilnya Bi Arum terdiam, ia membalikan badannya menatapku yang terengah mengejar dia.
" Bi, tolong jangan jual rumah ini, ini satu-satunya peninggalan Nenek. "
Bi Arum bersidekap di tatapnya aku. " Gak ada Za, kau sudah bersuami kau tidak akan terlantar walau bibi jual rumah ini Za!, dan ingat bibi lebih berhak atas rumah ini, bibi anaknya sedang kamu hanya cucu. "
" Apa karena perusahaan sedang ada masalah, Bi? sampai-sampai bibi mau menjual rumah ini? "
" Ada masalah atau tidak, toh kamu gak akan bisa bantu apa-apa, kamu mana paham soal perusahaan. "
" Tapi Bi .... "
" Stop!, Bibi harus pergi. Cepat bersin barang-barang mu Dan tinggalkan rumah ini segera! " sergah nya.
Setelah berkata itu bi Arum bergegas memasuki mobil, ia tak menghiraukan ucapanku. Bahkan aku sampai berteriak menggedor-gedor kaca mobil Bi Arum agar ia berubah fikiran untuk tak menjual rumah ini.
BI Arum mulai menyalakan mesin mobilnya, aku masih mengetuk jendela mobilnya, sedang mobilnya mulai bergerak. Aku masih mencoba mengetuk kaca mobil Bi Arum sembari setengah berlari karena mobil mulai melaju.
" Bi, tolong pertimbangkan lagi!, Za mohon jangan jual rumah ini! " teriakku sembari terisak dan masih mengikuti laju mobil.
Bi Arum tak menggubris teriakanku, ia seolah tak mendengarnya, Bi Arum pun semakin mengencangkan kecepatan mobilnya.
Aku tak lagi mampu menyentuh mobil Bi Arum. Namun ia masih ku kejar, baru beberapa langkah mengejar aku jatuh terlungkup.
Baru hendak bangkit, ku rasai nyeri di perut dan tak lama setelahnya darah segar mengalir dari area paha.
Rasa sakitkan kian bertambah, aku berteriak meminta tolong, tapi karena tempat yang sepi tak ada siapapun yang menghampiri. Hingga suaraku paruh, aku mulai kehilangan kesadaran.
Sebelum kesadaran ku benar-benar hilang, sayup-sayup ku dengar suara seorang memanggilku.
" Astaghfirullah, neng, Za! " Bi Syifa yang baru pulang dari pasar terkejut melihat Za tergeletak di jalan.
Bi Syifa segera meminta bantuan pada warga, berlari mencari orang tuk di mintai tolong. Warga yang mendengar teriakan Bi Syifa segera menghampiri sumber suara.
mereka bergegas membantu Bi syifa, melihat Za tak sadarkan diri dengan darah yang terus mengalir dari area pahanya, segera mereka membawa Za ke rumah sakit dengan mobil salah seorang warga.
Di rumah sakit, para perwat membaringkan Za di atas berankar, dan mendorongnya menuju UGD.
BI Syifa mengikuti perawat yang mendorong brankar Za sembari terisak, ia juga terus memanggil-manggil nama Za.
" Neng, Za. Neng Khanza, sadar dong neng! " Bi Syifa semakin panik.
Tak sengaja dokter Sam yang sedang melewati koridor mendengar suara Bi Syifa yang menyebut-nyebut nama Za.
" Za? Khanza? bukankah itu nama istri Idris? " ia mengernyitkan alis.
__ADS_1
Karena penasaran Dokter Sam mengikuti wanita parauh baya yang memanggil-manggil nama Za.
Setengah berlari hingga dokter Sam menysejajarkan langkahnya dengan para perawat. Ia pun terkejut ketika melihat seorang yang berada di atas berankar memanglah istri sahabatnya.
Za di masukan ke ruangan, Bi Syifa di mintai menunggu di luar oleh perawat.
BI Syifa meremas jemarinya ia mondar-mandir sembari tersedu.
Sam menghampiri wanita paruh baya yang menghantarkan Za. " Bu, maaf, wanita tadi kenapa, yah? " ia langsung bertanya pada Bi Syifa.
BI Syifa menatap dokter Sam. " Anda siapa? " bukan menyjawab Bi Syifa malah balik bertanya.
" Saya Sam, saya sahabat suami dari wanita tadi. " Dokter Sam memperkenalkan diri.
Tak lama kemudian seorang dokter wanita masuk ke ruangan. Dokter Sam dan Bi Syifa melirik pada dokter yang tengah masuk ke ruangan dengan tergesa.
" Bu, apa yang terjadi? " dokter Sam kembali bersuara.
" Apa Mas Dokter, eh, Mas Idris kerja di rumah sakit ini juga mas? "
dokter Sam mengangguk. " ya. "
BI syifa menggenggam tangan Dokter Sam sembari memohon. " Tolong, beri tahu Mas Idris, kalau neng Za, masuk rumah sakit, tolong saya mas. "
" Ya, ibu di sini jagain Za, saya akan temui Idris. "
segera dokter Sam berlari menuju ruangan Idris. Namun, tak ia temukan sosoknya.
" Kemana kamu, Dris, keadaan lagi kaya gini, kenapa malah susah di hubungi! " Dokter Sam mulai panik.
Ia bertanya pada seorang suster yang tengah melintas. " Sus, tunggu sebentar sus. " dokter Sam menghampiri suster.
" Kamu tahu, kemana dokter Idris? "
" Oh, beliau sedang ngontrol pasien, Dok. "
" Boleh saya tahu di ruangan mana? "
" Di ruangan mawar dok. "
" Hem, terima kasih, sus. "
" sama-sama, dok "
Segera Sam berlari menuju ruangan yang di katakan oleh suster tadi. Sesampainya di sana Dokter Sam menerobos masuk, membuat Idris dan beberapa anggota keluarga pasien menatapnya.
Dokter Sam tersenyum canggung, ia menundukkan kepalanya pada keluarga pasien dan berjalan menghampiri Idris.
" Ngapain kamu? " tanya Idris pada sahabatnya.
Sam berbisik. " Za masuk rumah sakit. "
__ADS_1
Idris menatap Sam tajam." Jangan bercanda. "
" Gue gak lagi bercanda, ada seorang wanita paruh baya yang mengantarnya ke sini, Za masuk UGD. " Bisiknya lagi. Lalau mengangguk ketika Idris menatapnya semakin tajam.
Bergegas Idris keluar dari ruangan bahkan tanpa meminta izin kepada keluarga pasien yang sedang di tanganinya.
Sam menyusul, tapi sebelum itu ia meminta maaf pada keluarga pasien yang tengah Idris tangani. " Maaf, pak, Bu, ada pasien gawat yang harus kami tangani. " kilahnya. Dan segera keluar dari ruangan.
Idris berlari menuju UGD di susul Sam yang mengekor di belakangnya.
Idris melihat Bi Syifa ia langsung bertanya pada Bi Syifa mengenai keadaan istrinya.
" Za gimana Bi? " Dengan nafaas yang masih terengah. Di susul Sam berdiri di samping nya.
" Mas Idris. " Bi Syifa berdiri mendekati Idris, lalu bersimpu memohon maaf pada Idris.
" maaf kan saya mas, saya gak bisa jagain neng Za! " sesalnya.
Idris terkejut, ia meminta bi Syifa untuk berdiri. " Bangun, Bi, saya mohon jangan seperti ini, katakan pada saya apa yang terjadi? "
" Saya juga gak tahu mas, Pas, saya pulang dari pasar saya sudah menemukan neng Za tergeletak di jalan dengn bersimpu darah. "
" Darah? " berkerut kening Idris.
" Ya, bibi menemukan neng Za tergeletak di jalan sudah bersimpu darah di area pahanya, mas, " jelas nya lagi.
Idris menggeleng-gelengkan kepala. Fikiran buruk tentang Za bertenggar di kepalanya.
Mulutnya tak mampu berucap, kakinya terasa lemas.
Seorang dokter wanita keluar dari ruangan Za. Ia menatap Idris, Idris segera menghampirinya merekapun berbincang sedikit menjauh dari Bi Syifa dan Sam.
" Gimana keadaan istri saya, dok? "
" Istri kamu insyaallah, baik-baik aja. " Idris menghela nafas.
" Tapi .... Maaf, Anak kalian tidak bisa di selamatkan, " lanjut dokter Ika.
Idris ternganga. " Maksud dokter, Za keguguran? " Dokter Ika mengangguk.
Idris ternganga matanya mulai memerah ia lemas kakinya bagai tak bertulang.
" Apa istri saya sudah tahu? "
" Belum dia belum sadar. "
" saya boleh masuk, Dok? " dokter Ika mengangguk.
Idris berjalan gontai memasuki ruangan Za. Nampak Za masih terbaring lemah di atas brankar, Idris mendekatinya dan mencium kening Za ... lama, Sampai air matanya menetes membasahi wajah Za yang masih tak sadarkan diri.
Next....
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen dan Vote. Terima kasih 🙏