
Tok ... Tok ... Tok.
Seorang bocah mengetuk kaca mobil Rayan. Rayan menurunkan kaca mobilnya dan segera bocah itu memberikan sebuah kertas pada Rayan, lantas ia berlari kencang masuk kedalam panti.
Rayan membuka kertas pemberian bocah tadi.
' Pulanglah, kau bisa menemui anak-anak di lain hari ' kalimatn yang tertulis dalam kertas itu.
" Ini pasti darimukan Syifa, aku masih hafal betul tulisan tanganmu. "
"Tapi, Apa maksudmu aku masih bisa menemuimu, atau hanya anak-anak asuhmu, " batin Rayan.
" Mungkin memang sebaiknya aku mengistirahatkan tubuh ku ini. "
Rayan mejalankan mobilnya, ia pun pergi meninggalkan tempat tadi.
Dari balik tirai Syifa menatap kepergian Rayan.
" Sepertinya ibu benar, orang itu tidak jahat, buktinya dia tidak mengejar ku tadi, " suara bocah yang tadi ia suruh menghantarkan surat pada Rayan, mengagetkannya, Syifa terlonjat dan tersenyum sembari menyentuh kepala sang bocah.
" Iya, dia orang baik, terima kasih sudah bantu ibu ya! "
" Sama-sama, Bu. "
" Yaudah, sekarang kita tidur yu! ibu antar kamu ke kamar. "
" Ayo!! "
Rayan sampai di rumah tepat saat Idris pulang dari lembur, karena hari ini ada beberapa orang yang harus ia operasi.
" Kakak baru pulang? selarut ini? " Rayan tak menjawab wajahnya lesu, dan hanya melirik pada Idris, lantas berjalan mendahuluinya.
" Kak, kerja keras itu sah-sah saja, tapi nggak sekeras ini juga sampai .... " Idris menatap Rayan dari atas hingga bawah. " tak terurus seperti ini. "
Lagi-lagi Rayan hanya meliriknya sekilas dengan malas dan melanjutkan berjalan menuju kamarnya.
Idris mengernyitkan alis. " Selelah itukah ia bekerja. "
" Mama mau lauk apa? " tanya Khanza pada mertuanya. setelah kejadian itu Za lebih sering menghabiskan waktu dengan mertuanya, bahkan Mama Maryam pun kini tak menolak bantuan Za, sedikit demi sedikit hatinya melunak dan mulai menerima kehadiran Khanza sebagai menantunya.
" Itu saja Za, cukup. " Khanza menyerahkan piring yang telah ia isi lauk ke hadapan mertuanya.
Idris yang melihat mereka semakin akrab pun ikut tersenyum.
" Di mana Rayan? " Mama Maryam menanyakan keberadaan Rayan.
" Sepertinya belum keluar dari kamar, " sahut Bi Tini.
" inikan sudah siang, apa ia tidak ke kantor, biasanya ia bangu paling pagi. "
" Biar aku panggilkan, " ucap Idris dan segera menuju kamar Rayan.
Tok ... Tok ...
" Kak Rayan. " tak ada jawaban dari dalam. Idris kembali mengetuk pintu dan masih tetap sama ia raih gagang pintu dan membukanya, ternyata kamar Rayan tak terkunci.
__ADS_1
Idris melihat kakanya berbaring asal, masih dengan pakaian yang semalam.
" Kak, kak, " ia guncang tubuh Rayan.
" Heh, "
" Ini udah siang, kok, Kakak, belum siap-siap. "
" siap kemana? " dengan suara serak has orang bangun tidur Rayan bertanya.
" Ke kantor. "
" Oh, besok saja. " Idris mengernyitkan alis, pasalnya kakanya tak biasanya seperti ini.
ia hampiri Rayan mendekatkan wajahnya ke wajah Rayan, mengendus bau nafas Rayan.
" Ueee, "
" Apaan sih Dris! " Rayan bergerak.
" Lu kenapa sih, Kak, aku gak cium bau alkohol, tapi Kakak seperti orang mabuk. Ah ,,, jangan-jangan kakak habis pesta narkoba yah? astaga kak! "
Rayan bangkit dan langsung menghadiahi jitakan kepada adiknya.
" AW, sakit kak. " rengek Idris.
" Kakak gak mabuk, gak habis pesta narkoba juga, tapi kenapa kacau seperti ini kak? "
" Aku mabuk. "
" Aku mabuk cinta, " ucap Rayan yang di sambut tawa lepas dari Idris yang suaranya terdengar samapi bawah.
" Astaga, apa Rayan susah di bangunin sampai harus dengan tawa keras seperti itu, dasar mereka itu ... " kesal Mama.
" Sudah mah, kita habiskan dulu makanannya nanti setelah itu kita temui mereka. " Za sentuh lengan mertuanya menenangkan. Terdengar helaan nafas dari Mama.
" Sejak kapan lu alay kaya gini? "
" Gue serius Dris, gue mabuk cinta. " lantas Rayan terisak.
" Hik, hik. "
" kak, Lo seriusan nangis nih. "
" Gue bingung Dris, Syifa minta di ceraikan, gue harus apa Dris, hik ... hik ... " kembali Rayan terisak.
" Ya, ceraikan saja! " dengan santai Idris mengatakan itu yang langsung mendapat tatapan tajam dari kakanya.
" Apa? benarkan, toh emang kalian sejak lama tak bersama. " Rayan mengalihkan pandangannya ke jendela kamar.
" Kak, jika kakak tak mampu membahagiakannya biarkan kak, Syifa bahagia dengan hidupnya, entah dengan atau tanpa pendamping, tapi setidaknya ia tak lagi berharap padamu. " Rayan menatap Idris dengan tatapan sayu.
" Tapi, jika kakak masih ingin berjuang, perjuangkan, kak Syifa berkata seperti itu mungkin ia ingin melihat kesungguhan Kakak dalam memperjuangkannya kembali. Tapi, itu pun jika kak Syifa masih mencintai Kakak. " ia pelankan suaranya di kalimat terahir.
Rayan nampak berfikir, ia mencoba kembali mencerna maksud perkataan Syifa. " Masih!! " ucap Rayan mengagetkan.
__ADS_1
" Iyah, Syifa masih mencintai ku. " ia tatap sang adik menyentuh bahu Idris dan menggoyang-goyangkannya.
" Yang artinya aku harus memperjuangkannya, " dengan wajah berbinar Rayan mengucapkannya.
" Kalau begitu perjuangkan. " sembarie mengepalkan tangan.
Rayan bangkit, dan mencari kunci mobilnya. " kakak mau kemana? "
" Ke tempat Syifa. "
" Dengan pakaian seperti ini dan bau yang ... Ehemmm, tidak mengenakkan. " Rayan mengendus bau tubuhnya, ternyata ia baunya sudah tak karuan.
" Mandi, aku harus mandi. " ia bolak-balik mencari handuk.
" Kak, kakak, kak Rayan!!! " Idris memanggilnya.
" Apa!? "
" Tubuh kakak sepertinya butuh istirahat, dan perut kakak juga butuh di isi. Aku akan dukung kakak berjuang kembali untuk mendapatka kak Syifa, tapi jangan sampai membiarkan tubuh kakak tumbang. Itu percuma kak. "
Rayan bergegas turun ke bawah menuju meja makan lantas melahap makanan yang ada dengan rakus.
" Astaga, Rayan makannya pelan-pelan Rayan. Ini juga kenapa kamu berantakan gini sih. "
" Lapar mah. " jawab Rayan dengan mulut penuh nasi.
" Pelan-pelan, nanti kamu kesedak. "
Dari belakang Idris menatap keluarganya, melihat interaksi mereka yang kini seperti dahulu saat keluarga ini belum terpecah, saat ayahnya masih bersama dengan mereka.
Idris kembali ke meja makan dan kembali memakan makanannya.
" Aku mau tambah Za, " Za melayani Idris. " Terima kasih sayang, " ucap Idris sembari tersenyum yang di balas senyuman pula oleh Za.
Rayan melemparka sesuatu pada Idris, " Apa sih kak! "
" Lebay. "
" Dihhh, situ iri, " cetus Idris yang di hadiahi lemparan lauk oleh Rayan dan di balas Idris.
" Rayan, Idris, kalian! inituh meja makan tempat makan bukan tempat perang. " tegur Mama.
" Ayo Za, antar Mama istirahat di kamar. "
Za mendorong kursi roda Mama dan meninggalkan mereka di meja makan.
Idris menatap Za sembari tersenyum.
" Liatin aja terus, so romantis Luh. " gerutuk Rayan.
" Kakak lihat, dulu Mama sama sekali tidake menyukai Khanza, tapi sekarang mereka sedekat itu, malah sepertinya Khanza lebih dekat dengan Mama dari pada kita. "
" Berjuanglah kak, aku siap bantu. " ia tatap sang kakak, Rayan pun ikut memperhatikan Khanza dan mamahnya.
' Berjuang, yah, aku harus berjuang, ' batin Rayan.
__ADS_1