
Keadaan Idris kini semakin membaik, begitupun dengan hatinya, yang juga mulai membaik berkat perhatian Za.
Malam hari kota mereka di guyur hujan lebat, menghantarkan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang, Idris menutup tubuhnya dengan selimut mencari kehangatan di dalamnya. Namun bukan hangat yang ia dapan malah hawa dingin itu nyata menyentuh kulitnya, Idris terganggu dan ahirnya terbangun.
Di lihatnya selimut yang ternyata basah, karena tetesan air hujan dari atas genting yang bocor.
"Bocor" Idris mendongakkan kepala.
"heh" ia menghela nafas.
Di lihatnya sekeliling kamar ternyata hampir semua sudut kamar mengalami kebocoran.
Ia keluar dari kamar mencari-cari wadah untuk menampung air dari atas genting yang bocor.
Menampung air dengan wadah yang ia bawa, berkali-kali Idris mengambil wadah sampai ia tersadar jika sudah tidak ada ruang untuknya tertidur, hampir semua ruang di dalam kamar di penuhi baskom untuk menampung kebocoran.
"Huh." Idris menghembuskan nafas, seraya menggelengkan kepalanya.
di raihnya jaket dari dalam lemari, lantas ia keluar dari kamar, berniat tidur di sofa ruang tamu.
Tapi hujan yang semakin lebat membawa hawa dingin yang semakin menusuk. Tapi tetap Idris merebahkan diri di atas sofa, mencoba memejamkan mata, meski hawa dingin membuat tubuhnya semakin menggigil.
****
Za keluar dari kamar nya ia berniat ke kamar mandi, tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat sosok pria yang terbaring di atas sofa, ia dekati pria itu, wajahnya setengah tertutup sweater yang ia pakai.
Karena hujan yang lebat membuat tubuh sang pria menggigil bahkan terdengar jelas gemrutuk giginya.
Za perhatikan lamat-lamat pria yang terbaring di atas sofa.
"Mas Idris!" Za terkejut menyadari sosok yang terbaring di atas sofa.
Dengan ragu Ia sentuh pundak Idris, mencoba membangunkan nya."Mas!, Mas!"
Idris terbangun " Za!, " sedikit terkejut.
"Mas, kenapa tidur di sini?, di sini dingin mas."
__ADS_1
Idris bangkit berusaha duduk tegak. "Di kamar gak ada ruang untuk tidur"
Za menautkan alis "kenapa?"
"Kamu liat aja" sambil mengarahkan matanya pada kamar Idris.
Za berjalan menuju kamar Idris, ia buka pintu kamar dan nampak jelas barang-barang yang seharusnya ada di dapur berpindah tempat ke kamar Idris. Ada baskom, ember, sampai mangkuk kecil, berbondong-bondong pindah ke kamar Idris.
Za mendongakkan kepala, menatap langit-langit kamar yang banyak rembessan air di sana.
Ia menghampiri Idris dan tersenyum canggung.
"Banyak banget bocornya, yah, mas?." Idris hanya tersenyum.
"Yaudah, mas kan baru sembuh, tidur di kamar Za aja! biar Za yang tidur di sini"
"Gak papa, kok,Za, kamu tidur di kama aja!"
"Tapikan mas baru sembuh"
"Kalau kamu tidur di sini, nanti kamu juga bisa sakit, Za!. Dan kalau kita semua sakit, nanti siapa yang ngurusin siapa coba" Idris melirik Za.
"Di sini dingin banget Za!"
"Tuh kan mas kedinginan, sana mas, biar Za yang ...." ucapan Za terpotong.
"Kita ambil jalan tengahnya aja, deh."
Nampak alis Za yang saling bertautan. "Jalan tengah?"
"kita kan suami istri" Idris mengatakannya dengan berhati-hati.
"Ya, jadi gak ada salahnya kan kita tidur sekamar."
mendengar ucapan Idris, Za menelan ludah, nampak wajahnya pucat seketika, ia berfikir dan menimang-nimang pendapat Idris.
"Saya gak akan ngapa-ngapain, saya hanya takut kalau kamu juga ikut sakit gara-gara tidur di luar." ia tatap Za yang masih terdiam.
__ADS_1
"Kecuali kalau kamu nya mengizinkan" sangat pelan Idris mengucapkannya.
"Kenapa mas?" Za tak dapat mendengar jelas perkataan Idris yang terakhir.
Idris gelagapan. "Oh, gak papa, ayo kita tidur! ini udah malem banget"
" mas duluan, saya ke kamar mandi dulu"
Idris berjalan menuju kamar Za, membuka pintu dan langsung merebahkan diri ke atas ranjang, menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya dan berusaha memejamkan mata.
Sedang di luar Za sedikit ragu untuk masuk ke kamarnya, karena mungkin Idris di dalam telah berbaring di ranjang.
Dengan perlahan Za membuka pintu, menyembulkan wajahnya melirik ke arah ranjang. Dan benar saja sosok pria yang telah menjadi suaminya itu berada di atas ranjang nya berbalut selimut dengan mata terpejam.
Antara masuk dan tidak, Za semakin gugup, namun ahirnya ia tetap masuk ke kamarnya dengan mengendap-endap mendekati ranjang melirik sekilas sang suami yang nampak telah terlelap.
Za mendudukkan diri di pinggir ranjang, ragu antara ikut masuk ke dalam selimut atau tidak, sedang udara malam ini semakin dingin karena guyuran hujan yang semakin lebat.
Dengan ragu-ragu Za mencoba berbaring di samping Idris, membelakanginya berusaha menutup mata agar bisa terlelap, namun guyuran hujan yang semakin deras menghantarkan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang juga gemuruh di dada nya yang membuatnya tak mampu terpejam.
Bagai mana tidak ini kali pertamanya ia tidur dengan seorang laki-laki, tentu canggung di Sertai detak jantung yang tak beraturan menjadi sensasi lain yang belum pernah ia alami, walau laki-laki yang berada di samping nya kini telah menjadi suaminya.
Entah di jam berapa Za belum juga bisa menutup matanya, ia serasa ingin keluar dari kamarnya, karena gemuruh di dada tak kunjung mereda sama halnya seperti hujan yang entah kapan juga kan mereda.
Za menggigil, ia hendak bangkit dari tempat tidur nya untuk mengambil jaket atau apapun untuk mengurangi rasa dingin yang serasa menusuk hingga ke tulang.
Namun belum sempat ia bangkit, terasa seseorang menyelimutinya dari belakang hingga tubuh yang terasa dingin kini mulai menghangat, sama halnya dengan hati Za yang kian ikut menghangat. buru-buru Za memejamkan mata berpura-pura tertidur. sebab ada pergerakan dari sang Peria.
Idris melirik Za mendekatinya dan hendak menyentuh wajahnya, tapi ia takut membangunkan Za yang nampak tertidur pulas hingga tangan nya menggantung di udara, di tarik nya kembali tangan Idris lalu ia kembali ke posisi tidur nya semula dengan kedua tangan ia letakkan di belakang kepalanya sedang matanya menerawang menatap langit-langit kamar.
Merasakan tidak ada lagi pergerakan dari Idris Za membuka mata ia mengerjap-ngerjap kan matanya, hawa dingin yang tadi menusuk kulit pun kini tak terasa lagi, terganti dengan hawa panas yang menyembur dari wajahnya yang memerah.
hingga ahirnya mereka tertidur entah di jam berapa.
'*Tak sadarkah mereka, jika hujan yang turun di malam itu, adalah cara Tuhan untuk menyirami perasaan mereka, agar tumbuh menjadi CINTA'
bersambung*....
__ADS_1
Padahal kemaren-kemaren udah niat up cepet tapi kesibukan di dunia nyata membuat Author gak bisa. Maafyah buat yang udah nungguin🙏