Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )

Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )
Pergi tanpa bertemu


__ADS_3

POV Khanza


Selera makanku yang memuncak, tiba-tiba turun drastis takkala Dokter Sam menyarankan Mas Idris untuk mempertemukan ku dengan Mama nya saat ini juga.


Ku hentikan kegiata makan, walau sebenarnya hasrat ingin menyantap itu masih ada, Tentu aku ingin sekali bertemu dengan wanita yang telah melahirka suamiku itu.


Namun, mendengar pengakuan mas Idris jika mamanya masih membutuhkan waktu untuk menerimaku ... Aku merasa takut.


Takut jika akan di tolak, takut jika aku di abaikan, tapi, ada hal yang paling membuatku takut adalah ... Takut jika aku akan di pisahkan dengan suamiku.


Aku seorang wanita yang baru mengenal cinta di usiaku yang masih 18 tahun ini. sosok dokter dingin yang ternyata memiliki sifat penyayang membuatku lupa jika aku hanyalah seorang wanita yang dititipkan nenek padanya.


Ku pikir hanya untuk dia jaga. Namun, nyatanya ia juga cinta. Begitupun dengan ku yang juga terlena, dan akhirnya menjatuhkan hatiku sejauh-jauhnya pada sosok yang belum lama menyandang gelar sebagai suamiku itu.


Witing tresno jalaran Soko kulino ( cinta tumbuh karena terbiasa )


Pepatah Jawa yang sering ku dengar dari almarhum Mama saat aku kecil, ketika ku bertanya, apa Mama mencintai ayah?. lalu Mama bercerita, jika Mama yang juga di jodohkan denagn ayah oleh orang tua mereka, awalnya mereka tak saling cinta, mereka hanya menghargai orang tua masing-masing.


Namun, pada akhirnya bisa saling jatuh cinta, saling menyayangi, saling mengasihi, bahkan mautpun tak mamapu memisahkan mereka, karena mereka harus meregang nyawa secara bersamaan di waktu dan tempat yang sama.


Ah, aku jadi merindukan mereka, andai mereka masih ada, ingin rasanya menceritakan kerisauanku pada Mama dan ayah, seperti dulu aku yang sering menceritakan keseharian ku pada mereka, dan mereka yang tak pernah bosan mendengar celotehan ku.


Mungkin karena kami terbiasa bersama, hingga rasa itu tumbuh dengan sendirinya diantara kami. Yah, aku dan mas Idris.


Tak ku sangka Dokter dingin yang memiliki sejuta pesona, bahkan juga sejuta penggemar itu bisa menjatuhkan hatinya pada gadis biasa seperti ku.


Atau sebuah keberuntungan kami di persatukan, mengigat sebab kami menikah adalah karena permintaan Nenek.


Namun, jika hanya sebuah keberuntungan tak mungkin kami saling mencintai seperti saat ini. Bisa saja hanya salah satu di antara kita yang jatuh cinta. Apapun itu ....


Satu hal yang ku percaya, bahwa nama kami telah di tuliskan di lauhul Mahfuz sebagai sepasang suami istri. Di takdirkan hidup bersama menjalani rumah tangga ini.


Dan aku berdoa semoga keluarga kecil kami menjadi keluarga yang di penuhi dalam dekapan Sakinah, (menenangkan jiwa) seperti sakinahnya kanjeng nabi Adam dan ibunda Hawa.


Di hiasi mawadah (kelembutan cinta) semawadah cinta nabi Ibrahim dan ibunda Hajar.


Di penuhi Rahmah, (kasih sayang) serahmah nabi Sulaiman dan ratu Balqis.


Penuh kesetiaan sebagaimana cinta kanjeng nabi Muhammad dan ibunda Khadijah Al- kubro.

__ADS_1


Dan mudah-mudahan anak yang ku kandung ini menjadi anak yang salih dan shalihat, yang menjadi generasi Madani, berperadaban, berguna bagi Nusa, bangsa, dan agamanya. Aamiin, aamiin ya Allah.


Aku termenung di taman rumah sakit, sebelumnya Mas Idris memintaku untuk tetap berada di ruangannya, tapi, rasa-rasanya aku tak enak hati, sebab diri ini bukan bagian dari rumah sakit.


Ku kirim pesan pada mas Idris, memberi tahukan nya jika aku berada di taman.


Pesan yang ku kirim hanya centang dua belum berubah warna biru, mungkin ia masih sibuk. ku masukan kembali ponsel dalam tas, mataku menatap nanar ke depan, memikirkan apa yang harus ku katakan jika benar-benar bertemu dengan Mama nya mas Idris. Juga bagaimana respon nya jika kami bertemu.


Tentu ada rasa hawatir bila-bila Mama mas Idris langsung menunjukan ketidak sukaanya padaku. sanggupkah aku nanti.


Ku edarkan pandangan menatap sekeliling taman, dan tanpa ku sengaja mataku menangkap sosok wanita yang tengah hamil besar.


Terlihat ia sedang kesakitan, mungkin ia akan melahirkan. Namun, yang membuatku kini menatapnya adalah perlakuna wanita paruh baya yang berada di sampingnya.


Wanita paruh baya itu nampak menenangkan wanita hamil yang mungkin adalah anaknya, ia nampak hawatir, namun juga terlihat tenang takkala menenangkan anaknya.


Terlihat jika wanita paruh baya itu sangat menyayangi anaknya, begitupun suaminya yang terlihat hawatir melihat istri nya kesakitan.


Ah, andai ... Andai Mama masih ada, mungkin beliau juga akan sehawatir itu ketika aku akan melahirkan.


Andai Mama nya mas Idris juga menerimaku, akankah ia seperti itu juga padaku.


Kini mataku melihat pada orang-orang yang lalu-lalang di jalan. Namun, tubuhku terlonjat, manakala sebuah tangan besar menyentuh bahuku. Refleks aku menoleh, dan ternyata dia adalah mas Idris.


" Mas! Kamu datengnya ngagetin, aja! " omelku pada Peria yang kini duduk di samping.


" Apa? ngangenin, " ucapnya sembari cengengesan.


" Ish, apaan, sih. " cibirku.


Ternyata geli juga mendengar ia sok, ngebucin pasalnya dia adalah lelaki es yang tak banyak bicara.


Tapi, rupanya ingin belajar merayu seperti sahabatnya.


" Kita pulang! Tapi, sebelum pulang, kamu maukan kita ke rumah Mama dulu? "


Jujur aku takut, juga hawatir, tapi, mau gimana lagi, kalau tidak bertemu sekarang, bagaimana kami bisa dekat.


" Aku ikut kamu aja, Mas. " akhirnya kata itu yang keluar dari mulutku.

__ADS_1


Dalam mobil, mas Idris kembali menanyai ku, bahkan ia bilang jika aku tak siap, rencana bertemu dengan mamanya akan di undur.


Tapi ku yakinkan diri, juga mas Idris jika aku sudah siap bertemu dengan keluarganya. Ia juga menguatkanku, sedang aku berusaha tegar.


Aku ternganga kala mobil mas Idris memasuki kawasan rumah mewah, dan semakin ternganga ketika melihat rumah mas Idris bak istana.


Rasanya ingin mengurungkan niat bertemu dengan Mama mas Idris, tapi, sudah terlanjur ada di sini.


Mas Idris mengajakku masuk ke rumahnya, di dalam kami di sambut oleh seorang wanita paruh baya yang kata mas Idris bernama Bi Tini, dan beliau adalah seorang pembantu rumah tangga di rumah ini.


Bi Tini menyambutku dengan ramah, bahkan ia juga nampak mengagumiku. Ah, andai Mama nya mas Idris juga bisa bersikap sehangat Bi Tini.


Kami duduk di ruang tamu, Mas Idris berpamitan padaku, ia bilang akan menemui Mama nya terlebih dahulu, sedang aku ia suruh tunggu di sini bertemankan Bi Tini.


Setelah memberiku minuman dan beberapa cemilan Bi Tini duduk bersamaku, kami mengobrol, ia menceritakan masa kecil mas Idris yang ternyata bi Tini pun ikut mengasuh mas Idris saat kecil dulu.


Ketika kami masih asyik mengobrol. mas Idris datang, ia langsung mengajakku untuk pulang.


Pasti Mama nya tak mau bertemu denganku.


" Loh, ibunykan belum ketemu sama Mbak kanzanya mas? " ucap Bi Tini pada mas Idris.


" Katanya Mama lagi kurang enak badan, harus badrash, Bi, gak bisa di ganggu. Lain kali saja kita kesini lagi, " ucap suamiku, yang pasti bukan itu alasannya.


Aku menghela nafas, Aku juga harus sadar diri jika mustahil bisa di terima begitu saja oleh kelurga mas Idris.


Dalam mobil ku senderkan tubuh di kursi mobil, memalingkan wajah sedang mataku nanar menatap keluar jendela. Ku elus perut yang masih rata, sembari memikirkan nasibnya kelak.


" Kamu kenapa? " Mas Idris bertanya sembari melirikku.


" Gak, papa, cuma kecapean. "


" Maaf, yah, Mama harus badrash, jadi gak bisa ketemu orang dulu. "


Aku tahu kamu bohong mas, sebelum masuk ke dalam mobil tadi bahkan aku sempat melihat sosok wanita yang sedang menatap kita dari balik jendela di lantai dua. Ia berdiri dan nampak baik-baik saja.


Next....


Jangan lupa Like, Komen dan Vote. Terima kasih 🙏

__ADS_1


Follow juga akun Fb saya Mey Meyra.


__ADS_2