
" Mah, Za bawa obat Mama, boleh Za masuk? " Khanza berdiri di depan pintu kamar mama Maryam sembari membawa nampan berisi obat-obatan untuk mertuanya.
" Gak di kunci, " jawab seorang dari dalam, dengan nada yang sedikit ketus.
Za membuka pintu dan masuk kedalam kamar Mama nya.
" Aku bawa obat-obatan Mama, Mama minum yah! " dan tak biasanya wanita yang belum lama ini ia panggil Mama itu mau menuruti perintahnya.
Namun, tak lama setelah itu sikap dingin Mama Maryam pada Za kembali ia tampakkan.
" Udah selesaikan, Mama ingin istirahat. " ia membaringkan tubuhnya membelakangi Za. Za menghela nafas ternyata ia harus menambah kesabaran untuk meluluhkan hati Mama Maryam.
' Sabar, sabar, ' batin Za.
Sebelum beranjak Za berkata. " Jika ingin sesuatu Mama bisa panggil Za, Za siap bantu Mama. "
" Heeh, " hanya itu jawaban dari nya.
Za melangkah meninggalkan kamar mertuanya, ia menuruni tangga tapi belum sempurna anak-anak tangga itu ia tapaki terdengar teriakan Mama Maryam.
Za segera kembali berlari menuju kamar sang Mama.
" Mah, " Dengan tergesa Za membuka pintu kamar namun tak ia temukan sosok yang di carinya, " Mama! " ia meninggikan suaranya.
" Tolong! " terdengar suara paru dari arah kamar mandi. Za langsung menghampiri kamar mandi dan terkejut ketika melihat mertuanya yang sedang berusaha berdiri.
" Mamah!, astaghfirullah, mah, " Za membantu Mama Maryam untuk berdiri, namun ia tak kuasa sebab berat tubuhnya tak sebanding dengan mertuanya.
" Mamah, jangan banyak gerak Za cari bantuan dulu. " dengan wajah yang masih terlihat khawatir Za menuruni anak tangga ia mencari Bi Tini, untuk di mintai bantuan.
" Bi!, Bi Tini! " teriak Za. Bi Tini keluar dari dapur.
" Ada apa Za? kenapa tergesa-gesa seperti itu? " melihat Za yang panik Bi Tini ikut khawatir.
" Mama Bi, tolongin Mama Bi. "
" Mama Maryam, ke-na-pa dengan Maryam. " sedikit gagap Bi Tini bertanya.
__ADS_1
" sepertinya Mama terjatuh di kamar mandi, Za gak kuat angkat Mama sendirian, tolong bantu Za Bi. "
merekapun segera berlari menuju kamar Mama Maryam, " Astaghfirullah ... Maryam. " Mama Maryam menatap Bi Tini dengan tatapan ... entah.
" Ayo kita angkat, kamu papah dari kanan bibi papah dari kiri yah. Satu dua tiga. " setelah berhasil mengangkat tubuh Mama Maryam,
merekapun membaringkan tubuh Mama Maryam di atas kasur.
" Kakiku, " wanita paruh baya itu meraba kakinya yang tak mampu bergerak seolah mati rasa.
" Kakiku gak bisa di gerakkin, " mukanya pucat dan tegang.
" Apa? coba aku tekan, gimana ada rasa? "Bi Tini menekan-nekan kaki Mama Maryam.
" Gak ada rasa, atau jangan-jangan aku lumpuh. " wajah mertua Za semakin panik.
" Kita kerumah sakit, " cepat Bi Tini berucap, lalu melesat keluar kamar meminta supir menyiapkan mobil untuk membawa Mama Maryam ke rumah sakit.
Kami sudah dalam perjalanan kerumah sakit, tentu tujuan kami rumah sakit tempat Idris bekerja.
" Za kamu nggak telfon Idris? " ucap Bi Tini.
" Astaghfirullah, Za lupa Bi, sebentar Za telfon mas Idris dulu. "
Handphone berdering tapi belum ada tanda-tanda jawaban hingga harus menunggu dalam beberapa puluh detik, dan tersambung di panggilan yang kedua.
" Halo mas, "
" Iya, Za. " Za melirik Bi Tini sekilas, Bi Tini mengedipkan mata.
" Mama terjatuh dan masuk rumah sakit. "
" A- apa jatuh, trus kamu ada di rumah sakit mana? "
" Kami ada di UGD di rumah sakit tempat mas praktik. "
" Tetap di situ, mas segera ke sana, yah. " sambungan telfon terputus.
__ADS_1
***
Denting sendok telah berhenti beradu, menandakan aktifatasnya menyodok makanan telah usai. Za menaruh piring bekas makan Mama Maryam di atas nakas, lantas memberinya segelas air.
" Mama mau keluar, biar Za temanin, " tawar Za pada mertuanya yang Ter duduk di atas ranjangnya.
Setelah kecelakaan itu Mama Maryam mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya, walau dokter bilang kelumpuhan ini hanya sementara dan masih bisa di sembuhkan dengan terapi, tapi Mama Maryam menolak untuk tetapi, entah apa alasannya.
" Za, siapkan kursi rodanya. " Za mengambil kursi roda mendekatkannya pada sang Mama dan membimbingnya menaiki kursi roda itu.
Entah kecelakaan itu membawa pertanda baik, entah sebaliknya, tapi memang sejak keluar dari rumah sakit Mama Maryam lebih diam bahkan ia tidak perotes dengan Za, menerima setiap bantuan dari Za.
Seperti saat ini, Mereka berjalan di taman belakang rumah menghirup udara pagi di temani bunga-bunga yang sedang bermekaran.
" Rasa-rasanya saya sudah tidak pernah mengurus tempat ini lagi, " ucap Mama Maryam dengan mata yang fokus menatap bunga-bunga di taman yang kini terawat dan tertata rapih.
" Maaf mah jika Za lancang, " ucapku melemah, karena takut jika Mama akan memarahiku.
" Kamu memang lancang, " jawab Mama membuat Za pucat, takut jika Mama akan murka dengan ulahnya yang mengotak-Atik tamannya. " Tapi ... Taman ini jadi indah, " sambungnya lalau matanya meneliksiki taman ini.
Entah apa yang harus Za rasakan, haruskah ia senang sebab itu artinya Mama memuji perbuatannya, atau takut jika sebenarnya Mama tidak suka jika ada orang yang menyentuh tamannya.
" Sekali lagi Za minta maaf yah, mah, merawat taman Mama tanpa minta izin dulu dari Mama, " Ucap Za setelah mereka ada di meja taman ini.
" He'eh, " jawab Mama masih dingin. Namun, tak nampak raut kesal atau marah dari wajahnya, mungkinkah artinya Mama menyukai apa yang ku lakukan pada tamannya ini.
Aku duduk di samping Mama sembari memandangi wajahnya.
Rindu ... Aku merindukan sosok wanita sepertinya, Mama aku rindu Mama juga ayah.
Andai Mama Maryam bisa sayang kepadaku sebagai mana Mama ku dan Nenek menyayangiku, pastilah aku akan menjadi wanita beruntung.
Mama Maryam menatapku yang masih fokus memandanginya. " Kenapa? ada yang aneh sama saya? " ucapnnya mengagetkanku.
segera aku tersadar.
" Nggak Mah, Za, cuman seneng aja bisa kesini bareng Mama, Za fikir gak akan pernah kesini apa lagi bareng Mama, " ucapku yang membuat Mama terdiam cukup lama, entah apa yang di fikirkannya.
__ADS_1