
" Maaf, " ucap Mas Idris saat kami tengah memasuki rumah.
" Maafkan Mama, karena masih belum bisa .... "
Aku tau setelahnya mas Idris akan mengatakan apa, dan dari pada aku terluka mendengar kebenarannya lebih baik aku yang lebih dulu berkata.
" Tak apa Mas, Za tahu ini pasti terlalau mendadak buat Mama mas Idris. "
Lelaki yang kini telah menjadi suamiku itu, ia mendekatiku menggenggam erat kedua tanganku, lalau tangan yang satunya menyentuh kepalaku seraya memberi kecupan di sana.
" Mas janji akan membuat Mama suka sama kamu, " ucapnya sembari memelukku.
Mas, kau begitu baik, sangat penyayang, aku selalu terlena dengan perlakuanmu. Sampai aku tak sadar dan melewati batasan ku, hidup di duniamu yang amat jauh berbeda dengan duniaku.
Sikap mu yang seperti ini membuatku bisa jatuh cinta dengan mudah, bahkan percaya begitu saja dengan orang sepertimu.
Entah ... terlena atau bodoh, sehingga dengan mudahnya aku menyalakan rasa yang bernama cinta.
" Istirahat, yuk! udah malam. "
" yah. "
***
Embun-embun yang membasahi dedaunan kini telah mengering, menandakan hari sudah hampir siang.
Jam di dinding menunjukan pukul 10:00, sedang pekerjaan rumahku belum juga usai.
Suara dering ponsel mengagetkanku dari aktifitas memasak, tak seperti dering ponselku, tapi, dering ponsel mas Idris.
Aku melangkah mencari sumber suara, dan benar saja ku temukan ponsel mas Idris di atas meja ruang tengah.
Kulihat siapa yang menghubunginya, ternyata Dokter Sam. Ku angkat telfon.
" Halo. "
" Yah, Khanza, syukurlah, " helaan nafas lega terdengar dari sebrang sana.
" Ini Mas, handphone mas tertinggal di rumah, kamu bisa pesenin ojek online, kan, biar dia suruh bawa ponsel mas ke rumah sakit. "
" Oh, ya, Mas. Eh, atau Za aja yang keruamah sakit mas, biar sekalian bawain makan siang, " Tawarku pada lelaki yang sedang menghubungiku.
" Kamu, gak papa? "
" Gak, papa, Mas, sekalian pengen keluar juga. "
" Yaudah, tapi hati-hati yah, jangan pake ojek pake taksi aja! "
Sebelum mengahiri panggilan beberapa siraman rohani ia keluarkan untuk istrinya ini.
Aku tersenyum sembari mendengarkan ocehannya dikala sikap posesifnya keluar. merasa menjadi wanita yang beruntung di pertemukan dengan nya.
__ADS_1
" Ok, ingetyah, jangan sampe kecapean jaga kandungannya juga. " ternyata belum usai juga ia berpatuah.
" Ya, Mas, Za, gak akan cape-cape, kok, lagian Za, juga lagi pengen keluar. " Akhirnya giliran aku yang berucap.
" Yasudah, hati-hati di jalan pilih sopirnya yang teliti, jangan terlalu muda biar gak ugal-ugalan, jangan juga terlalu tua biar bisa jagain kamu. " Ah, lagi.
" Dah, love you, " ucapnya sembari mengahiri panggilan.
Ku geleng-geleng kan kepala sembari menjawabnya " love you to. " panggilan pun benar-benar berakhir, dan aku bergegas merampungkan masak agar bisa makan siang bersamanya.
Di rumah sakit. dokter Sam yang sedang mengamati sahabatnya menelfon mencibir sang sahabat dikala ia mendengar ucapan terakhir Idris pada Za sebelum sambungan terputus.
" Apa? " Tanya Idris pada Sam yang sedang melototi nya sembari cengengesan.
" Lebay Luh. "
" Biarin, toh sama istri sendiri, dari pada kamu ... Cuma bisa ngehalu punya istri, " ucap Idris sembari meletakan ponsel Sam di atas meja lalu ia terbahak dan segera keluar dari ruangan Sam.
" Ish. " cibir Dokter Sam.
Selesai menyiapkan makanan untuk mas Idris, aku bergegas mengganti pakaian, ku jatuhkan pilihan pada gamis abu-abu bermotif bunga yang dipadukan dengan pashmina senada.
Taksi onlain yang telah ku pesanan pun tiba, berggegas ku memasuki mobil dan mobilpun melaju menembus jalanan.
Setengah perjalanan menuju rumah sakit, taksi onlain yang ditumpangi ku mendadak berhenti.
" Kenapa pak? " Tanyaku keluar dari mobil sembari menghampiri pak sopir.
" Pesen taksi lain aja neng, mobil saya kayaknya harus di bawa ke bengkel. "
" Yaudah, deh, pak. "
Setelah memberikan ongkos pada pak sopir aku berniat kembali memesan taksi onlain, tapi, urung sebab ku fikir mendapatkan taksi biasa di jalanan pasti lebih mudah.
Namun, hampir setiap taksi yang lewat tak ada satupun yang mau berhenti.
Sampai sebuah mobil hitam berhenti tepat di hadapanku. Seorang pria mengenakan jas hitam keluar dari dalam mobil, ia menghampiriku.
Aku yang memang hampir tak pernah keluar sendirian refleks memundurkan diri.
" Jangan takut Mbak, perkenalkan saya Rayan. " tak diminta ia memperkenalkan diri.
" Dari tadi saya lihat sepertinya Mbak kesusahan cari taksi, boleh saya antar Mbak. Mbak nya mau kemana? " ucapnya lagi.
" Maaf, Mas, gak perlu saya udah pesen taksi onlain. " Bohongku, padahal baru saja mau ku pesan taksi onlain.
" Lama, Mbak, biar saya antar saja, mbak mau kemana? siapa tahu kita searah. "
Tiba-tiba seorang pria asing menghampiriku, menawariku tumpangan, apa coba maksudnya kalau tidak ada motif terselubung di dalamnya.
Sulit bukan menemukan orang-orang yang tulus di jaman seperti sekarang ini.
__ADS_1
Karena pria yang katanya bernama Rayan itu masih memaksaku untuk ikut dengannya, akupun berinisiatif mengangkat tangan kananku, nampak ia mengernyitkan alis.
" Kenapa? tangannya luka. " tanya Peria di sampingku.
" Masnya gak lihat ada cincin di jari manis saya? " ia mengangguk-anggukkan kepalanya.
Aku meliriknya dan berucap. " Itu tandanya saya sudah bersuami, jadi gak bisa sembarangan pergi dengan pria lain tanpa seizin suami saya, apalagi saya baru kenal sama anda. "
Ia terkekeh, " Kalau gitu minta izin suami kamu dulu. "
" Udah, tapi, izinnya sama pak sopir taksi onlain bukan sama orang asing, " Jawabku ketus seraya pergi dari hadapannya.
Sedang ia tersenyum menatapku, lalu membalikan badan dan kembali memasuki mobilnya.
Ketika mobil pria itu melewatiku ia buka jendela mobil dan melambaikan tangannya padaku.
Aku tak menanggapinya.
**
Setelah memeriksa pasien Idris berniat kembali ke ruangan Sam, ia ingin menghubungi Za.
" Seharusnya dia sudah sampai, kenapa belum sampai juga, sih? " gerutuk nya.
Namun, ditengah perjalanan menuju ruangan Sam Idris terpaku takkala melihat sosok tak asing yang ia benci.
" Lama tak menyapa apa kabarmu Dris? " Rayan menyapa Idris.
Dengan wajah masam Idris tak berniat membalas sapaan kakaknya. Ia kembali melangkahkan kakinya, melewati Rayan, tapi, di tahan dengan ucapan Rayan.
" Mama kembali drop, dia tidak mau makan obat kalau kamu tidak pulang. "
Tanpa menoleh Idris berucap. " Sudah ada Andah, kenapa harus mencari saya. "
Sejujurnya Idris khawatir dengan keadaan Mama nya, tapi ia tak ingin menunjukan kehawatiranya di depan Rayan.
" Karena kau masih anak kebanggaannya bukan saya. Pulang dan temui Mama. " titahnya.
Idris terdiam, ingin sekali menemui Mama nya, tapi ia juga takut, jika ia tak di samping Za, mamanya akan berbuat sesuatu.
" Mama bilang kau sudah menikah, ****** yang mana yang mau kau masukan ke keluarga kita Dris, " Ia berucap sembari memasukan tangan ke saku celananya.
Mendengar perkataan Rayan Idris membalikan badan di dekatinya Rayan. " Jaga ucapan Andah. Istri saya wanita baik-baik, bukan ****** seperti mantan istri anda. " sembari mengepalkan tangan.
" Jika di wanita baik-baik, Mama tidak akan mungkin menolaknya. Sudahlah, lepaskan wanita seperti itu, Mama tidak akan mau menerimanya. "
Idris geram ia hantamkan bogem pada wajah kakanya. Rayan meringis karena darah segar keluar dari ujung bibirnya, Rayan membalas pukulan adiknya itu hingha perkelahian pun tak bisa di elakan, kedua kakak beradik itu saling menyakiti satu sama lain.
Next....
Jangan lupa, Like, Komen, dan Vote. Terima kasih 🙏
__ADS_1