
Tok ... tok ... tok.
Terdengar suara pintu di ketuk, " Siapa pagi-pagi bertamu? " Segera aku menghampiri sumber suara.
" Assalamualaikum, " Ucap Bu Syifa setelah pintu dibuka.
Kujawab salam beliau. " waalaikumussalam. "
" Ada yang bisa saya bantu Bu? " Kutanyakan itu pada Bu syifa istri pak Sapri ini. karena tak biasanya beliau pagi-pagi sekali sudah berada di rumah ku.
" Saya ke sini di minta sama mas Dokter, Za, " Paparnya menjelaskan sebab beliau datang ke rumah.
Mas Idris, ada apa? ada urusan apa mas Idris dengan Bu syifa.
" Siapa Za? " Suara barington terdengar menggema. Nampak sosoknya sedang mendekat ke arah kami.
" Bu Syifa, Mas! istrinya pak Sapri,"jawabku.
" Udah datang. silahkan masuk Bi! " Sesampainya ia di dekat kami, mas Idris meminta Bu syifa masuk.
" Silahkan duduk, Bu! " Titahnya pada Bu syifa.
" Terimakasih mas Idris. "
" Sini, Za, mas mau ngomong sesuatu! " Ucapnya lalau menarik tanganku untuk duduk di sampingnya.
" Jadi gini, Mas, minta Bu syifa kesini buat temenin kamu, buat bantuin kamu ngurus rumah, masak, beres-beres, juga buat nemenin kamu selama mas kerja. "
" Kok, kamu gak ngomong dulu ke aku? "
" Semalam Mas mau ngomong, eh, malah ketiduran, " ia berkata sambil menggaruk tengkuk yang tak gatal.
" Bu syifa kesini di bolehin sama Pak Sapri? " ku tanyai itu karena yang ku tahu pasangan suami istri ini selalu berpamitan jika mau kemana-mana, atau mau mengerjakan apapun.
" Sudah, neng, malah bapak seneng kalau saya bisa bantu neng Za sama mas Dokter. "
" Oh, ya, Bu, seperti yang saya bicarakan kemarin yah, Bu, Bu syifa bisa pulang kalau saya sudah pulang, tapi, saya mohon kalau saya belum pulang, jangan pulang dulu, yah, Bu? "
" Ya, mas dokter, saya udah ngomong seperti itu juga sama suami saya. "
" Yasudah, saya sudah harus pergi, titip Za yah Bu? "
" Nggeh, Mas Dokter. "
" Saya permisi nganter mas Idris ke depan dulu, yah, Bu? "
" Ya, neng. "
Aku dan mas Idris berjalan menuju teras. " Jangan cape-cape, yah, kalau ada apa-apa langsung hubungi Mas. " Paparnya.
" Ya, Mas. " Ia menyodor kan tangannya yang ku sambut dengan tanganku dan mencium punggung tangannya.
" Oh, ya, Mas, " sebelum mas Idris benar-benar pergi ku tahan ia sejenak.
" Yah. "
" Kapan mas mau kerumah Mama, kemarin maskan gak jadi kerumah Mama? "
" Insyaallah hari ini, setelah pulang praktek. Bu syifa jangan di suruh pulang dulu kalau mas belum pulang. "
" Ya. "
__ADS_1
Dalam perjalanan Idris termangu, di satu sisi ia memikirkan Mama nya, juga memikirkan istrinya, bagaimana jika mamanya masih menginginkan ia berpisah dengan Za.
Drrt ... Drrt ....
Ponselku bergetar tertera nama Bi Arum disana. Beberapa hari lalau aku menghubungi Bi Arum, aku merindukan keluargaku, juga ingin sebenarnya menceritakan kehamilanku pada Bi Arum.
Tapi, kesibukan Bi Arum membuatku urung menceritakan kehamilanku. Dan sekarang Bi Arum menghubungiku.
" Halo, Assalamualaikum, " ucapku setelah mengangkat telfon.
" Waalaikumussalam, " jawab seseorang di sebrang sana.
" Ada apa Bi? " Aku bertanya karena Bi Arum tak kunjung bicara.
" Kamu ada di rumah? " tanyanya setelah beberapa saat terdiam.
" Ada. Apa bibi mau berkunjung? "
" Ya, " jawabnya, yang membuatku bahagia. Karena mungkin saja setelah ini hubungan kami akan lebih baik lagi.
Hunbungan yang layak selayaknya keluarga.
" Kapan bibi mau berkunjung? "
" Kalau tidak sibuk hari ini. kalau gitu bibi tutup bibi masih ada urusan. "
Dan setelahnya percakapan kami berakhir. Namun, aku sangat senang, ku elus perutku yang masih rata, memikirka aku yang akan bercerita jika aku tengah hamil.
Ah, rasanya tak sabar menunggu kedatangan Bi Arum.
Sampai malam menjelang tak ada pertanda jika Bi Arum akan datang, ingin ku hubungi, tapi takut mengganggu nya, bagaiman jika ia memang sibuk.
" Bukan, Bu, tapi nunggu bi Arum, katanya mau datang, tapi sampai sekarang belum datang juga, " ucapku dengan nada lemah.
" Bibi neng setelah meninggal Nek Sumi masih sering kesinih, neng? "
" Gak, sih, Bi, dan ini pertama kalinya setelah nenek meninggal. Seharusnya, sih, tapi kok, ya, gak dateng-dateng, " kembali ku berkata dengan nada kecewa.
Bu syifa mengelus pundak ku. " Yasudah jangan di pikirin mungkin bibi-bibinya neng Za lagi pada sibuk. "
" Ya, sih, Bu, aku juga mikir gitu. "
" Sekarang masuk, yuk! udah malam, udara malam kan kurang baik, apa lagi buat ibu hamil, " ajak Bu syifa sembari tersenyum.
Terkadang melihat perhatian Bu syifa aku jadi teringat Nenek, jika saja Nenek masih hidup mungkin beliau juga akan bersikap seperti ini, apa lagi jika Nenek tau kalau aku sedang mengandung, mengandung benih dari lelaki pilihannya. Nenek pasti bahagia.
Akupun ikut tersenyum dan mengikuti ucapannya, masuk ke dalam rumah.
***
" Assalamualaikum, Mah, " Ucapku sembari mengetuk pintu kamar Mama.
Untuk beberapa detik tak terdengar jawaban, apa Mama sedang tidur? pikirku. Namun, kembali ku ketuk pintu. Terdengar suara Mama memberi titah padaku untuk masuk.
" Mama sudah makan? " Tanyaku pada wanita yang kini berada di hadapan.
" Apa pedulimu? "
" Tentu aku peduli pada Mama. "
" Jika kau peduli seharusnya kau .... "
__ADS_1
Ku bawa tubuh wanita yang telah melahirkan ku itu dalam dekapan. Mama terdiam.
" Kita makan dulu yah, setelah itu minum obat, " ku katakan itu setelah melepas pelukan. Mama mengangguk. Aku keluar dan meminta bi Tini untuk membawakan makanan Mama.
Ketika sampai tadi dan Sebelum masuk ke kamar Mama aku bertanya terlebih dahulu kondisi Mama pada Bi Tini, dan memang benar apa yang di katakan Kak Rayan jika Mama tidak mau makan juga tidak mau meminum obat.
Bi Tini membawa makanan untuk Mama juga beberapa obatnya. Aku mulai menyuapi Mama.
Jika denganku Mama memang seperti ini, semarah-marahnya Mama padaku Mama akan tetap mendengarkan ku, juga mau menurutiku. yah, begini Mama pada ku. pantas saja jika kak Rayan meras tak di perhatikan Mama, padahal kami bisa hidup layak sampai saat inipun itu karena kerja kerasnya.
Tapi kesalahnya kepada ku di masa lalau masih belum bisa ku maafkan, ia yang pernah membohongiku tentang siapa Nadia.
" Jangan tinggalkan Mama! " ucapnya setelah meminum obat.
" Aku tidak meninggalkan Mama, " ku katakan sembari menggenggam jemarinya.
" Kalau gitu lepaskan di Dris! " Refleks ku lepas kan genggaman tanganku.
" Kamu tidak mau? " tanyanya lagi.
" Mah, kami sudah menikah, dan Za sekarang dia tengah mengandung anak Idris, cucu Mama, Za itu gadis baik Mama harus ketemu dengan dia. "
" Mama bisa Carikan wanita yang lebih baik darinya Dris. "
" Cukup, mah, Idris datang kesini untuk memastikan kondisi Mama baik, bukan untuk berdebat, dan sampai kapanpun Idris tidak akan melepaskan Za. "
" Dan sampai kapanpun mama tidak akan menerima wanita pilihan kalian, kalian selalu salah memilih orang. "
" Mah. "
" Kau pikir Mama tidak tau soal Nadia dulu? "
Deg, Nadia Mama tahu tentang Nadia.
" Anak dari ayahmu itu. Laki-laki penghianat, padahal ia yang bilang jika ia tidak berhianat, tapi nyatanya apa? dia punya anak dari wanita lain. " tuturnya, sedang matanya menerawang entah kemana.
" Mama benci dia Dris! benci! " emosinya mulai tak setabil, segera ku rengkuh Mama dalam pelukanku.
" Sudah mah, sudah, ada Idris disini yang akan jagain Mama. " Mama menatapku.
" Janji! "
" Ya. " sembari mengangguk.
Mama melonggarkan pelukannya. " Kalau begitu pulanglah, dan tinggalah di sini! " Aku diam beberapa saat.
" Jika Mama mau menerima Za, Idris akan tinggal disini, " ucapku kemudian.
Mama terdiam lama. " Akan Mama pikirkan, tapi ingat jika Mama membolehkan ia tinggal disini, itu bukan berarti mama mau menerimanya menjadi menantu Mama. "
Entahlah, ini kabar baik atau bukan, tapi setidaknya Mama mau memberikan kesempatan pada Za.
Next.....
Bu Syifa \= istrinya pak Sapri
Kak Syifa \= istrinya kak Rayan
Hehe, saya lupa kalau udah nulis nama Syifa sebelumnya 😁
Jangan lupa untuk Like, Komen dan Vote. Terima kasih 🙏
__ADS_1