Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )

Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )
Masa lalu 4


__ADS_3

Kecewa


POV Rayan


Hingga suatu hari ....


" Syifa, kamu mau jadi istri saya? " Ucapku saat kami tengah makan siang di sebuah restoran.


Syifa terdiam, ia urung memasukan makanan ke mulutnya.


Lalu menatapku dengan raut yang tidak bisa ku artikan.


Ia tersenyum kecut seraya memejamkan matanya disertai gelengan kepala berkali-kali.


" Syifa. " ku sentuh bahunya. Ia beringsut.


" Kamu kenapa? " Tanyaku lagi.


Ia angkat kepalanya lalau menatapku.


" Aku gak pantas buat kamu, " ia berucap.


" Aku gak peduli sama masa lalu kamu! " ku berusaha meyakinkannya.


" Bukan hanya itu. "


" Aku gak peduli, aku CINTA sama kamu! "


" Apa karena kamu gak cinta sama aku? " tanyaku lagi.


" Aku gak pantas buat kamu, " lagi ia berkata seperti itu sembari menggeleng kan kepalanya.


" Syifa aku tidak peduli dengan masa lalaumu. " Rayan takkalah meyakinkan.


" Syifa .... " Rayan hendak berucap. Namun Syifa memotongnya.


" Aku sudah kotor, tak pantas untuk lelaki seperti kamu, juga bagaimana jika orang tuamu tau tentang masa laluku. Aku gak pantas Rayan! "


Rayan menggenggam tangan Syifa di tatapnnya ia yang tengah menunduk.


" Apapun, baik buruknya kamu, masa lalu kamu, apapun itu asal itu kamu aku tetap cinta, " seraya tersenyum Rayan mengatakannya.


Syifa mengangkat kepalanya, menatap pada Rayan.


" Ada satu hal lagi yang belum kamu ketahui Rayan!" ucapnya tanpa ekspresi.


" Katakan! " Rayan meyakinkannya.


" Aku trauma, " ucapnya dengan mata sayu.


" Kamu takkan bisa menyentuhku. Mereka mengoyak-oyak harga diriku, aku gak bisa jadi istri aku masih takut Ray. " ia nampak sedih.


Aku tertegun, di balik sikap cerianya selama ini ternyata ia menyimpan luka seorang diri.


" kita lewati ini sama-sama. Aku tidak akan memaksamu, aku juga ingin melindungi kamu, dan trauma itu pasti akan sembuh. kita berusaha sama-sama. " ucapku berusaha meyakinkannya.


Ia menggeleng. " Setiap malam aku hampir tidak bisa tertidur nyenyak, Ray. "

__ADS_1


" Karna itu kau butuh seseorang agar kamu merasa aman. Menikahlah denganku Syifa! "


Air matanya luruh, ia mengangguk sembari tersenyum.


Dua bulan setelah kejadian itu kami menikah, Aku tak menceritakan asal usul Syifa yang sebenarnya pada keluarga, aku hanya katakan jika kami bertemu di perusahaan ia yang mempunyai kecerdasan diatas rata-rata membuat ku tertarik untuk menjadikannya asistenku.


Aku juga mengatakan pada Mama jika Syifa anak yatim piatu tak memiliki sanak keluarga.


Toh bukankah ia memang yatim piatu. Ayah tirinya yang menjual dia bukankah tak pantas di sebut ayah.


Hampir setahun kami menjalin rumah tangga, walau traumanya belum bisa di runtuhkan, tapi kamibahagia menjalani kebersamaan ini.


Hingga suatu hari, seseorang memberikan sebuah amplop pada Mama.


Setelah melihat isi amplop itu Mama murka, ia memintaku menceraikan Syifa.


" Apa ini Syifa? " Tiba-Tiba Mama masuk kekamar kami. Mama melempar amplop ke hadapan Syifa.


Kami yang kala itu baru selesai melaksanakan sholat berjamaah terkejut melihat sikap Mama.


" Jangan sok suci kamu, " ucapnya lagi pada Syifa.


Syifa menatapku begitupun denganku, kami saling pandang tak mengerti akan ucapan Mama.


" Ada apa, Mah? " ucapku berusaha menenangkan Mama yang mulai emosi.


" Kamu tertipu Rayan, istrimu ini wanita j*l*ng, " ucapnya lagi menggebu-gebu.


Aku dan Syifa kembali saling menatap. Mungkinkah ada seseorang yang mengatakan siapa Syifa di masa lalau.


" Mama tenang dulu, Mama jangan asal bicara. " Aku berdiri menghampiri Mama, menggenggam tangannya. sedang Syifa hanya tertunduk.


Mama mengeluarkan beberapa lembar foto, Ia lemparkan foto itu ke bawah persis di hadapan Syifa.


Aku tercengang kala melihat siapa yang ada didalam foto itu.


Foto Syifa dengan seorang lelaki paruh baya tidur di ranjang yang sama dengan hanya berbalut selimut.


Aku melirik pada Syifa iapun nampak terkejut hingga menutup mulutnya. Ia melirikku sembari menggelengkan kepalanya.


Aku geram, tak menyangka jika Syifa kembali ke kehidupan lamanya. Dan semakin geram kala menemukan flashdisk yang berisikan Vidio Syifa dengan pria itu.


Mama murka ia menyuruhku menceraikan Syifa saat itu juga.


" Ini bukan aku, Mas, " bela Syifa sembari beruraian air mata.


" Jelas-jelas itu kamu Syifa! " bentak mama.


" Ngga mah, ini bukan Syifa, pasti ada orang yang merekayasa ini semua, aku saja tidak kenal dengan lelaki itu. "


" Yah, kamu gak kenal karena terlalu banyak menghabiskan malam dengan pria, iya kan! " lagi Mama membentak Syifa.


Syifa beringsut tubuhnya terguncang, sedang air matanya tak surut-surut.


" Demi Allah, Mah!! itu bukan Syifa. " ia menunjuk foto.


Lalau ia menghampiriku menyentuhku dan kulihat matanya seperti mengharap aku membelanya.

__ADS_1


" Mas, kamu percayaka! " Ia berkata penuh harap.


Entah aku harus percaya atau tidak, Tapi tak ku temukan kejanggalan dari Vidio itu, tak seperti editan. Sedang memang ku temukan Syifa dari dunia malam. Mungkinkah ia bosan dengn pernikahan ini dan mencari bahagia di luar sana.


Dan soal trauma nya, mungkinkah itu hanya sandiwara sedang ia bermain gila di luar sana.


Aku menatapnya penuh amarah.


"A- Akan ku kirim surat perceraian kita. " ku katakan itu padanya.


Ia menatapku tak percaya. " Ini fitnah, Mas, kamu lebih percaya fitnah ini ketimbang istrimu. "


" Lantas, jika ini fitnah, kamu kemana pada tanggal itu, tanggal yang ada di Vidio itu. "


" waktu itu aku kejebak hujan, susah mendapatkan taksi. Dan setelah mendapatkan taksi jalanan macet, Mas. "


" Macet di hotel maksud kamu! " Mama menimpali, yang membuatku semakin berfikir yang tidak-tidak pada Syifa.


" Astaghfirullah, Mah, nggak, Mah. " Belanya.


" Pergi dari rumah ini Mama gak mau lihat wanita j*l*ng di rumah ini, " Tegas mamah lalu ia keluar dari kamar.


Syifa mendekatiku, ia meraih tanganku. Aku beringsut tak ingin di sentuh olehnya.


" Mas, " suaranya paru.


" Jadi ini alasan kamu tidak mau ku sentuh, " ku ucapkan itu seraya mendekatkan wajah padanya.


Ia menatapku tak percaya wajahnya tampak marah, lalu tangannya melayang menampar pipiku.


Plak...


" Kamu memang menemukanku dari tempat laknat itu, tapi aku bukan perempuan serendah itu! " ucapnya lalau pergi dari hadapanku.


Ia benar-benar mengemasi pakaianya. Meski masih berada pada satu ruangan aku tak mau melihatnya, rasa kecewaku sudah di puncak.


Sebelum pergi ia menatapku penuh benci lantas menyeret kopernya keluar dari kamar bahkan juga dari rumah ini.


Ku amati ia dari jendela kamar. Ku ambil ponsel dari nakas menghubungi seseorang di sebrang sana.


" Kak, kak, Syifa mau kemana, kenapa ia bawa koper? " Tanya Idris yang baru pulang dari praktiknya.


" Kalian bertengkar! " Tanya Idris.


" Kakak mengusirnya, " jawabku.


" kenapa? bukankah kak Syifa wanita baik. "


" Tapi, pergi dari sini adalah yang terbaik untuk nya. "


" Jangan tertipu dengan kebaikan nya Idris, dia hanya wanita j*l*Ng. " Mama datang dan mengatakan itu.


Pada akhirnya Rayan Al Kaf akan kembali tunduk pada keluarga ini, kembali melepaskan semua ingin demi ....


Rayan menghela nafas berat. Matanya masih melihat pada jalanan dari balik jendela kamarnya di lantai dua.


bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen dan Vote.


__ADS_2