
Pagi buta Idris bangun dari lelap, tak ia temui wanita yang telah menjadi istrinya itu, Idris bergegas bangkit menyelusuri kamar mencari keberadaan istrinya, tak ia temui bahkan di dalam kamar mandi sekalipun.
Matanya menatap pada baju Koko dan kopyah serta sarung yang telah di sediakan istrinya di atas ranjang, juga sajadah yang sudah terbentang. Lagi, matanya menyusur pada mukena sang istri yang sudah terlipat rapih. Mungkinkah Za sudah solat, tapi kenapa? kenapa tak membangunkannya, padahal biasanya ia akan membangunkan Idris terlebih dahulu sebelum menuai fardhu. Katanya tak ingin terlewat untuk bisa berjamaah dengan ia.
Jam menunjukan pukul 5:15, Idris urung mencari Za kembali, ia bergegas kekamar mandi menggugurkan kewajibannya menghadap ilahi sebelum segudang aktifitas menjumpainya di hari ini.
Selesai dengan kewajibannya, masih dengan menggunakan baju Koko Idris bergegas ke dapur mencari istrinya.
Tak ia temui, hendak kembali mencari sang istri ia melewati meja makan, indranya mencium aroma sedap, tak salah lagi ini nasi goreng masakan istrinya. Sepagi ini Za sudah memasak, lantas kemana ia pergi? batin Idris bertanya-tanya.
Kembali melangkah meninggalkan meja makan, walau sejujurnya lidah ingin di manjakan dengan rasa nikmat masakan istrinya, juga perut yang sudah meminta di isi.
Namun, rasa hawatir pada sang istri yang belum jua ia temui pagi ini, membuat ia merasa tak nyaman untuk sekedar mencicipi, apa lagi melahapnya dengan nikmat.
" Bi Tini! " sapa Idris yang melihat Bi Tini masuk ke dapur.
" Ya, Mas, " dengn senyum ia menjawab sapaan ku.
" Bibi lihat Za tidak? " Aku bertanya padanya, karena siapa tahu ia dan Za habis memasak bersama.
" Baru saja bibi mengantarkan teh buat neng Za, " jawabnya.
" Za ada di mana? "
" Di taman belakang, lagi istirahat kayaknya, bibi kira bibi yang bangunya kesiangan Mas, sebab pagi-pagi sekali udah ada sarapan di meja makan, ternyata neng Za yang masak sepagi ini, udah bebers lagi, bibi jadi Ndak enak bingung mau ngerjain apa, jadi bibi bikinin teh aja buat neng Za sekalian kami ngobrol-ngobrol bentar tadi, " tutur Bi Tini panjang lebar.
" Oh, kalau gitu Idris temui Za dulu, yah " lalu melangkah menuju taman belakang rumah ini.
Taman yang cukup luas dengan beberapa pohon besar seperti pohon mangga, kelengkeng, delima, dan beberapa pohon hias lain yang tak ku tahu namanya tertanam di sana. Mama lebih suka menanam pohon buah-buahan, katanya agar buahnya bisa di ambil manfaat, atau jika buahnya banyak bisa di bagikan pada orang-orang.
Juga bunga-bunga yang tersusun rapih beragam jenis, ada yang tersusun di pot ada juga yang di tanam langsung tanpa pot, di area paling belakan taman terdapat air terjun mini buatan, dulu tempat itu menjadi tempat favorit kami, saat Papa dan Mama masih bersama, sekarang Mama jarang mengunjungi air terjun mini ini, entah, mungkin Mama tak mau mengenang Papa, mengingat di sinilah tempat bercengkerama kami dulu.
__ADS_1
Nampak wanita yang sedari tadi ku cari duduk di atas kursi di depannya sebuah meja bundar dengn beberapa kursi di sekelilingnya, teh hangat tersaji di sana terlihat uapnya yang masih mengepul, mungkin Za belum meminummnya. Mata Za menatap pada air terjun mini yang persis berada di hadapannya.
Entah firasatku atau apa mata itu terlihat menyiratkan kesedihan nampak juga ada sembab di sana, apa Za menangis? batinku lagi.
Ku dekati ia perlahan hingga diri ini sudah berada di sisinya. Namun, ia tak kunjung sadar dengan kehadiranku, ia masih duduk tenang sembari bersidekap sedang matanya menatap lurus ke depan.
" Indah, yah, air terjunnya? " bisikku di telinga Za. Ia terlonjat langsung menolehkan kepalanya.
" Mas, kamu bikin aku kaget aja! " ucapnya dengan wajah terkejut.
Ku dudukan diri di sebelahnya. " Kok, kamu tahu tempat ini Za? "
" Bi Tini yang bilang, katanya di rumah ini ada air terjun mini buatan yang indah, aku penasaran dan minta Bi Tini buat antar aku ke sini. " Aku mengangguk-anggukkan kepala.
Mataku ikut menatap pada air terjun mini di hadapan, lalu menerawang mengingat kembali kisah manis keluarga ini, di tempat ini.
" Kamu tahu Za, dulu tempat ini tempat favorit kami, Mama penyuka bunga, bukan hanya bunga sih, Mama juga penyuka tanaman. Taman ini di buat Papa sebagai hadiah untuk Mama di hari ulang tahun pernikahan mereka, Mama tidak tahu peroses pembuatan taman ini karena saat itu Mama sedang menemani Nenek yang sakit, Mama memang pernah minta di buatkan taman hanya taman kecil dengan beberapa Bungan dan pohon buah-buahan pintanya.
Aku juga masih ingat betapa Mama bahagianya melihat taman impiannya di wujudkan oleh papa, bahkan kata Mama ini lebih dari mimpinya, " Kembali ku mengenang betapa bahagianya kami dulu. Za menatapku dengan seksama aku menoleh ikut menatapnya dan tersenyum, ia pun tersenyum walau ku rasa sedikit tertahan senyumnya.
" Kau lihat bunga-bunga di sana. " ku tunjuk hamparan berbagai macam bunga, Za mengikuti arah pandangku.
" Awalnya Papa hanya menanamnya sedikit, tapi hampir setiap hari Mama membeli bunga dan menanamnya di sana, dan aku yang sering membantu Mama, bahkan Mama pernah mau menanam sayur-sayuran tapi Papa melarangnya kata papa ini taman bukan kebun.
Aku juga masih ingat ekspresi cemberut Mama kala itu. " Tak terasa tawa halus keluar dari mulutku yang sedang bercerita, dan setelah menyadari jika itu hanya masa lalau aku diam ... ada sesak di sini.
Nampaknya Za sadar dengan perubahan sikapku, ia berdiri lantas memelukku dari belakang, ia membenamkan wajahnya di pundak ku aku menoleh menatapnya mengusap rambutnya yang tertutup hijab.
" Kenapa kamu gak bangunin mas, heh? "
Za melepas pelukannya dan kembali duduk di sampingku. " Mas nampak lelah, Za hanya tak ingin mengganggu mas. "
__ADS_1
" kalau kamu gak bangunin Mas, mas bisa aja kesiangan. "
" Tapi, mas bisa bangunkan, " matanya menatapku dan ia tersenyum yang cukup hambar ku rasa.
" Ada sesuatu yang mau kamu ceritakan. " ku tatap Za dengan penuh selidik.
Ia menghindari tatapanku, lalau menggeleng. " Nggak ada, Mas, ayo masuk mandi dulu! " titah Za.
" Mas, udah mandi, " bohongku.
Ia memicingkan mata dan meneliksik ku dari kepala hingga kaki, pasalnya aku masih mengenakan baju Koko sarung dan kopyah yang tak sadar belum ku copot sedari tadi. " Dengan pakaian kayak gini kamu udah mandi, Mas! ... Aku gak percaya. " seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Aku tertawa sembari melihat diri sendiri, kami bangkit berjalan beriringan ku rangkul Za dari samping " Ih, mas, jangan rangkul-rangkul mas kan belum mandi! " ia menyingkirkan lenganku.
" Tadi siapa hayo yang peluk-peluk Mas? "
" Kalau itu hilaf Mas, " ucapnnya sembari nyengir.
Kembali ku dekati Za bersiap merangkulnya, tapi lagi-lagi Za menghindar, sampai kami berkejaran.
Tanpa mereka sadari sedari tadi dua pasang mata memperhatikan mereka dari atas balkon.
" Haruskah aku yang mengalah dan menerimanya, " batin Maryam, ia menggelengkan kepala berkali-kali dan kembali masuk ke dalam kamar.
Next.....
Maaf banget buat pembaca semuanya๐๐๐ saya baru kembali Up, sebab kemarin sakit ๐ค๐คง yang menyebabkan saya tidak dapat menulis.
Dan Alhamdulillah, saya sudah mulai membaik, mudah-mudahan bisa menyelesaikan cerita ini๐ Terima kasih buat kalian yang masih baca cerita saya๐
Jangan lupa Like, Komen dan Vote. Terima kasih ๐
__ADS_1