Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )

Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )
Menemuinya


__ADS_3

Di dalam mobil, Rayan memperhatikan setiap gerak-gerik seorang wanita yang sedari tadi ia ikuti, sejak wanita bergaun merah dengan pashmina hitam itu keluar dari panti hingga ia berkeliling di pasar.


Rayan memperhatikannya dari jarak jauh agar sang wanita tak melihatnya.


sejak percakapannya dengan Idris, ia lebih sering mengunjungi panti melihat sang istri. yah, istri, sebab sampai saat ini pun Rayan tidak pernah lepas tanggung jawab atas Syifa, hanya raga mereka saja yang terpisah, ia pun juga tak pernah mengantarkan surat cerai pada Syifa.


Karena sejujurnya pun Rayan tak ingin berpisah dari Syifa.


" Bagai mana agar saya bisa mendapatkan maaf mu? bagai mana agar saya bisa membawamu kembali pulang ke rumah kita? bagai mana agar Mama mau menerimamu lagi? " gumam Rayan di dalam mobil sembari mengacak-acak rambutnya.


" Aarrghh, " gumamnya, kembali ia arahkan pandangannya keluar jendela. Namun, sosok yang sedari tadi ia perhatikan menghilang dari pandangan.


" Kemana Syifa? " Rayan celingukan, hingga ia pun keluar dari mobil dan mencari Syifa.


Nihil, tak ia temukan sosok wanita yang di carinya. Hampir putus asa karena sudah mengelilingi pasar mencari Syifa, namun, belum jua ia temui.


Rayan duduk di bahu jalan melihat lalu lalang para pejalan sembari memperhatikannya, berharap jika ia temui Syifa di antara mereka.


Hampir setengah jam ia duduk di sana, Rayan bangkit hendak kembali menuju mobilnya.


Namun, sosok wanita berdiri di hadapannya.


Rayan mengarahkan pandangan pada sosok itu, seorang wanita bergaun merah, sosok yang tak lain adalah wanita yang ia cari-cari sejak tadi.


" S-syi-fa, " terbata Rayan menyebut nama sang istri dengan wajah yang tak kala terkejut.


***


Syifa merasa ada seseorang yang sedang mengikutinya, ia pun menghentikan kegiatan nya berbelanja, menyapukan netra pada sesiapapun yang bisa ia curigai.


Hingga matanya menangkap sosok pemuda yang tak asing berada dalam sebuah mobil sembari mengacak rambutnya frustasi.


" Mas Rayan! " ucap Syifa pelan.


Ia bersembunyi dari Rayan, kini giliran Syifa yang mengikuti Rayan, ia tersenyum saat melihat wajah Rayan yang seakan menghawatirkan nya, dan bahkan saat wajah itu nampak frustasi sebab belum juga menemukannya.


Teringat juga seorang anak di panti melapor padanya jika akhir-akhir ini ia sering melihat mobil yang mencurigakan terparkir di sekitar panti.


Mobil yang ternyata ciri-ciri nya mirip dengan mobil yang di gunakan Rayan. "


Apakah itu kau mas?" batin Syifa.


Melihat suaminya semakin frustasi, dan kini terduduk di bahu jalan. Ia pun keluar dari persembunyiannya dan menghampiri sang suami.


***


" S-syi-fa! "

__ADS_1


" Kamu ngikutin aku mas, kamu juga menguntit di panti kan? " Tanpa basa-basi Syifa langsung memberondongnya pertanyaan.


Rayan kikuk, ia salah tingkah. " Eee-e gak," ucapnya masih terbata.


" Kamu nggak berubah yah, masih gengsian kayak dulu. "


" A-a-aku. "


" Yaudah kalu lagi gak ikutin aku, Sanah pulang aku masih harus belanja. " Syifa pergi begitu saja dari hadapan Rayan, kembali memasuki pasar.


Rayan terdiam kiku. " Syif, ee, syif. " dan ikut berjalan mensejajari langkah Syifa.


" Pulang Sanah aku masih lama belanjanya. "


" Nggak, pasar ini gak aman, banyak peremannya. " Syifa menatap Rayan. " iya kan." Rayan ikut menatap Syifa yang menatapnya.


" serah deh. "Syifa menggeleng kan kepalanya.


" Ini uangnya Bu, makasih, " ucap Syifa menyerahkan uang pada ibu penjual sayur.


" Loh masnya itu istrinya bawa barang banyak kenapa gak di bantuin, " ibu-ibu penjual sayur memarahi Rayan.


" Sudah saya tawarkan tapi dianya .... "


" Lelaki susah pekannya yah, Bu, " ucap Syifa lantas berlalu begitu saja.


" Loh padahal udah menawarkan diri mau bantuin, tapi dia gak mau, lah, sekarang kenapa aku juga yang di bilang gak peka, " Rayan berucap sendiri sembari menatap tubuh Syifa yang terlebih dahulu beranjak dari sana.


" Ohh, gitu yah, Bu. " si ibu mengangguk antusias.


" Istrinya pastinlagi ngambek yah, mas, makanya minta di pahami, " ucap si ibu sembari cekikikan.


Yang di balas senyum oleh Rayan.


" Perempuan emang ribet, " ucap Rayan pelan, namun telinga si ibu penjual sayur masih mampu mendengarnya.


" Perempuan gak ribet, emang lakinya aja pada gak pekaan, " ucap sang ibu, yang matanya mengarah pada lelaki di belakannya dan di balas lirikan malas oleh lelaki itu.


Sebagai antisipasi takut ada Serama rumah tangga di pasar akupun pergi dari hadapan pasutri kang sayur.


Segera ku hampiri Syifa mengambil paksa barang-barang nya untuk ku bawa, awalnya kami sedikit bersitegang namun, ahirnya Syifa menyerah dan membiarkan ku membawa barang-barang nya.


Ternyata ampuh trik si ibu tadi, walau tak di hadapanku namun, aku masih bisa melihat seulas senyum merekah di bibirnya kala ia memalingkan wajah dari ku.


Sepontan sudut bibirku pun ikut tertarik membentuk bulan sabit, senyum merekah di bibir ku.


Setelah beberapa puluh menit mengelilingi pasar dengan belanjaan yang tak sedikit, akhirnya Syifa meminta ku untuk beristirahat, ia juga memberiku air kemasan yang langsung ku terima dan ku teguk sampai tandas.

__ADS_1


" Hah," "kenapa? " Syifa terlihat menatapku intens.


" Tidak," ia menggeleng saat ku tatap kembali.


" aku pesan taksi online, kalau mau pulang barang-barang ku letakkan saja di situ. "


" Sudah pesan taksinya? "


" Ini mau pesan. "


Rayan berjalan melewati Syifa sembari membawa belanjaanya.


" Ehh, kamu mau kemana? " Teriak Syifa sembari mengikuti langkah Rayan.


Rayan tetap berjalan, ia berjalan menuju parkiran mobil nya dan di letakkanya barang-barang Syifa dalam bagasi mobil.


" Kok, di taro di situh? " Rayan menutup bagasi mobilnya.


" Gak usah pesan taksi online, biar aku saja yang antar kamu pulang. Ayo masuk! " Titah Rayan.


" Gak perlu aku bisa pulang sendiri, lagian aku udah pesan taksinya tinggal nunggu bentar. "


" Batalin! "


" Gak "


" Yasudah, " Rayan masuk kedalam mobil dan menyalakan mesinnya.


" Ehh, barang-barang aku mau di bawa kemana? "


" Kemana aja terserah aku. "


" Rayan, ini udah siang kami udah harus masak untuk anak-anak. "


Rayan membuka pintu mobil sebelahnya.


" Batalin taksinya ikut saya. "


" Ray .... "


" Mau atau tidak barang-barang kamu tidak akan saya keluarkan. "


" Is, " cibir Syifa. yang ahirnya menyerah dan masuk ke dalam mobil. " Pemaksaan, " cibirnya.


Rayan tersenyum, sedang Syifa masih trlihat merengut.


"Udah di batalin? "

__ADS_1


" Udah, nuhh. " sembari menunjukan ponsel pada Rayan.


Mobil pun bergerak melaju menembus jalan yang riyuh akan kendaraan. sedang mereka masih terdiam tak ada satu pun yang memulai percakapan.


__ADS_2