
Aku kenapa?
POV Rayan
Tanapa aba-aba lagi orang-orang berbadan besar itu menghajar Rayan.
perkelahian pun tak bisa di hindari, Rayan melawan mereka, karena mereka lebih banyak sedang raya hanya seorang diri.
membuat ia mendapatkan beberapa luka di wajah dan merasa sakit di perutnya. Rayan meringis, menahan perih.
Rayan berfikir, ia tidak bisa melawan mereka kalau di paksakan bisa-bisa malah ia yang akan meregang nyawa.
Rayan mendapat ide, ketika para pria berbadan besar itu menghajarnya hingga Rayan terlempar di dekat jendela ia ambil handphone dari saku jasnya menyalakan alarem sirine polisi lalau membuang handphone nya ke semak-semak.
Suara sirine polisi terdengar membuat mereka kocar-kacir.
Rayan memanfaatkan kekacauan untuk lari bersama wanita itu.
" Masuk mobil, " titahku pada wanita yang mengenakan dres merah ketat.
wanita itu hanya bergeming.
" Kamu mau tetap di sini? kalau mereka sadar jika itu hanya tipuan. kamu mau kembali kedalam, heh, " Rayan berucap sedikit membentak.
" Ti-tipuan, jadi tidak ada polisi, " wanita itu terkejut.
" Heeh, " sembari mengangguk.
wanita itu nampak berfikir.
" Lama ... aku tinggal. " buru-buru aku masuk kedalam mobil.
wanita itu terkesiap dan ikut masuk ke mobil.
Dalam mobil kami hanya terdiam. melihat penampilannya yang seperti ini membuatku gusar.
Ku berhentikan mobil dibahu jalan. Ia menatapku.
" kenapa berhenti? " ucapnya sedikit was-was.
Ku hiraukan ucapanya, seraya melepas jas yang kukenakan.
Wanita di sampingku menoleh.
" Tuan jangan, aku mohon! " ucapnya memelas.
Aish, dia pikir aku mau apa.
" Kenakan ini! " Ku berikan jas yang baru ku lepaskan pada wanita di sampingku.
Ia menerima dengan sedikit canggung, lalu memakaikannya di tubuh dengan tergesa-gesa.
Mobil pun kembali ku lajukan, sasampainya kami di hotel ku pesan dua kamar yang bersebelahan.
" Ini kamar mu, istirahatlah aku keluar sebentar. "
" Tuan ... juga tidur di sini, " ucapnya sedikit ragu.
" Jangan ngarep kamu. Aku memang suka main di klub, tapi aku takkan Sudi mengotori diriku dengan wanita seperti kalian, " ucapku yang membuat dia tertunduk.
Ku tutup pintu kamar dan segera meninggalkannya.
__ADS_1
Melihat ekspresi nya seperti tadi, mungkinkah ia terluka karena kata-kataku. Atau ia terluka karena aku tak berminat dengan nya. Terserah, aku tak peduli, toh, aku juga tak menginginkan nya. Aku menolong pun mungkin hanya sekedar iba.
Tok ... tok ...
Ku ketuk pintu kamar wanita yang belum ku tahu namanya.
" Ada apa? " Tanya wanita itu setelah membukakan pintu.
" Ganti pakaianmu. " ku serahkan paper bag berisi baju yang ku beli barusan.
" Untuk saya, " ucapnya.
" Mau atau tidak, atau mau pakai pakaian itu terus sampai besok. "
ia mengambil paper bag dari tanganku dan berucap.
" Terima kasih, maaf sudah merepotkan. "
" Aku ada di kamar sebelah, kalau ada apa-apa panggil saja. " Ia mengangguk, setelah nya aku masuk ke kamar.
Dalam kamar ku rebahkan tubuh di atas ranjang, mataku menatap langit-langit kamar.
Terkadang berada di tempat laknat itu, aku merasa bersalah, bersalah pada Mama, juga pada Tuhan.
Ya, Tuhan, padahal aku jarang sekali mendekat padanya.
Dulu Mama dan Papa sangat mewanti-wanti kami agar tidak meninggalkan solat sesibuk apapun itu.
Namun, sejak aku bergelut dengan dunia kerja seringnya malah aku lupa akan solat.
setelah ingat malah merasa lelah dan lebih memilih berlayar ke alam mimpi ketimbang memuja sang Rabb.
Tapi tetap ada sebongkah daging yang memberontak dikala aku meninggalkannya, walau akhirnya aku tetap abay.
Suara pintu di ketuk membuatku harus terbangun dari tempat tidur, berjalan mendekat tuk membukanya dengn malas.
" Kamu! ada apa? " Wanita yang belum ku tahu namanya. Ternyata ia yang mengetuk.
Kini ia mengenakan piyama lengan panjang dengn celana yang menutup sampai ke mata kaki.
" Katakan ada apa!? " Kuhentak ia yang tak kunjung bicara.
" Saya ingin solat, tapi tak ada mukena di kamar, bisakah tuan pintakan pada pelayan hotel. "
Cih! dia sedang berakting atau apa. wanita seperti dia ingat solat! yang benar saja.
Ku tatap ia dari atas hingga bawa. Namun ia malah memalingkan wajah dan menyilangkan tangan di depan dada.
" Terserah apapun yang tuan fikirkan tentang saya, saya hanya minta tolong hal tadi pada tuan, " ucapnya kemudian.
" Tunggu di kamar, " titahku padanya.
Ia pun menurut dan kembali ke kamar.
ku buka pintu kamar yang tak terkunci, tak ada wanita itu di dalam. kemana dia? jangan-jangan dia kabur. batinku.
Ku letakan mukena yang ia inginkan di atas ranjang, selang beberapa detik terdengar suara pintu dari kamar mandi terlihat wanita itu keluar dari sana.
ia mengulung rambutnya dan menyingsing lengan bajunya hingga ke siku, wajah dan tangannya nampak basah. membuat ia terlihat ... Cantik.
ku palingkan wajah darinya, merutuki diri yang tengah memuji wanita liar itu.
__ADS_1
" Terima kasih tuan," ucapnya dengan senyuman yang ... manis.
ah, si*l lagi-lagi aku memujinya.
ku jawab dengan anggukan dan segera melangkah meninggalkan kamar.
Sedang wanita itu dengan senyum yang masih mengembang ia kenkan mukena yang ku bawa dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Aku tidak benar-benar pergi, ku lihat wanita itu dengan husyu melaksanakan sholat. Jika dia setaat itu kenapa ia ada di tempat laknat itu.
Tak terasa ku pandangi ia cukup lama hingga ia melakukan Tasyahud akhir. Buru-buru ku tutup pintu dan segera kembali ke kamar.
Dalam kamar kembali ku merebahkan diri diatas ranjang, merasai detak jantungku yang tak beraturan.
Ah, kenapa pula tak beraturan bukankah aku menuju kamar tidak dengan berlari. Ada apa sebenarnya dengan diriku.
Setelah memandangi wanita itu persaanku jadi aneh, entah perasaan apa ini namanya, yang jelas ini tak nyaman, tapi ada rasa senang merasainya.
Ah, terserah. ku pejamkan mata berusaha tertidur.
Sinar matahari membangunkan ku dari tidur, semalam entah aku tidur di jam berapa.
Pagi ini setelah bersarapan aku akan membawa wanita itu pergi.
" Rumah kamu di mana? " Tanyaku seraya menyuap makanan ke mulut.
kini kami tengah sarapan di restoran.
" Rumah saya di kampung. Tapi ... saya sudah tak punya rumah, rumah saya sudah di jual ayah tiri saya, " Ucapnya lalu menunduk.
" Trus kamu di sini tinggal sama siapa? "
Ia berhenti mengunyah menundukkan pandanganya lebih dalam lagi.
" Ayah tiri saya juga menjual saya. "
Miris ... pantas ia memberontak ternyata ia di paksa berada disana.
" Lalu ibu kamu? " Tanyaku lagi penasaran.
" Belum lama ini beliau meninggal, bahkan sebelum 7 hari meninggal ibu, ayah sudah menjual rumah beserta ... Aku," ucapnya.
Entah apa sebenarnya yang merasuki diriku, kenapa aku merasa sesak mendengar kisahnya. Ada apa dengan ku.
" Punya saudara, teman, atau siapa disini. "Ia menggeleng.
" Ok. Trus setelah ini kamu mau kemana? "
Ia menggeleng lagi. Ya ampun, trus mau ku kemanakan dia.
" Kalau Tuan tidak keberatan, saya mau kerja sama tuan, jadi asisten rumah tangga juga gak apa-apa, " ia berucap mengangkat pandanganya sembari menatapku penuh harap.
" Saya gak butuh asisten rumah tangga, lagian saya juga belum berumah tangga, Kecuali .... "
" Kecuali apa? " Tanyanya antusias.
" Kecuali kalau kamu mau jadi istri saya. "
Bola matanya membulat sempurna, nampak ia terkejut mendengar ucapanku.
bersambung...
__ADS_1
Kisah Rayan mungkin agak sedikit panjang. Mudah-mudahan tetap pada suka. Terima kasih 😘
Jangan lupa Like Komen dan Vote.