Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )

Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )
Kak Syifa


__ADS_3

" Assalamualaikum, " ucap kami setelah masuk ke dalam rumah.


" Waalaikumussalam, " sahut seseorang dari balik kursi ruang tamu.


" Khanza! " Idris terkejut saat tahu ternyata sosok istrinya yang menjawab salam.


Za menghampiri Idris ia cium punggung tangan sang suami lalu tersenyum seraya menganggukan kepala pada Rayan.


" Udah pagi, loh, kok, kamu belum tidur? "


" Nungguin Mas. "


" kan mas udah kirim pesan mau pulang telat. "


" Yasih, tapi tetep aja kefikiran terus. "


" Heh, yasudah kita ke kamar istirahat. " Za mengangguk.


" Tapi, kok, mas bareng kak Rayan? tumben! " matanya mengisyaratkan tanya, menatapku lalau menatap kak Rayan.


" Oh, itu mobil mas masuk bengkel, jadi mas tinggal di bengkel pas pulang pake taksi online taksi online malah nurunin mas di jalan Deket kantor Kak Rayan ya, sekalian aja mas samperin kak Rayan siapa tau kak Rayan belum pulang, ternyata bener belum pulang, jadilah kita pulang bareng. " aku mengahiri cerita dengan tersenyum.


" Kalian dah baikan, " bisik Za. Aku mengangguk.


Kak Rayan hanya terdiam mendengarkan ceritaku, kami pun pergi meninggalkannya yang tengah duduk di ruang tamu.


Rayan menatap pada dua sejoli itu, melihat adik iparnya itu membuat ia selalu menguak kembali kenangan saat bersama Syifa.


***


" Mas, kok, pulangnya telat sih, seharusnya kalau punya istri tuh waktunya di atur Jan mau di ajak meeting sampe larut gini, mas kan pemimpinnya berhak dong ambil keputusan, " oceh Syifa kala itu.


" Ya, tapi mas gak enak kelien kita kan dari luar negri dia juga sibuk sempetnya cuma di jam segitu, ya mau gak mau harus mas turutin dong. "


" Mas, sih gak enakan orangnnya, kalau mau nolak meeteng jam segitu, ya, tolak aja Jan di paksaain bisa! " Rajuk Syifa sembari memanyunkan bibirnya.


Ku jawil dagunya yang runcing, tapi ia semakin kesal. " mas apaan sih. "


" Kamu kangen yah? " sembari menarik turunkan alis.


Tapi, bukannya balik di respon ia malah merebahkan diri di atas pembaringan seraya menutupi dirinya dengan selimut.


Aku tahu saat rindupun traumanya masih enggan berlalu, ia memilih menghindar dari pada meredam gejolaknya dengan cinta.


Perhatian khanza pada Idris ketulusannya membuatku selalu teringat akan Syifa.


Aku tahu dimana ia saat ini, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa walau sekedar untuk menemuinya.

__ADS_1


Kembali kekamar aku merebahkan diri, mata ini menyelidik pada setiap sudut kamar, dan seolah Syifa berada pada setiap sudutnya, hayalku saat aku mulai merindukannya, bayangannya akan memenuhi sudut ruang dan hanya akan hilang mana kala mata ini lelah terpejam.


***


" Minggu depan mas ada cuti, kita jalan yuk! kami mau kemana! " tanyaku pada Za yang tengah menyiapkan baju.


" Eee, nanti deh, Za fikurin. Eh, tapi ada tempat yang ingin Za kunjungi, kalu mas mengizinkan, sih! "


" Tempat apa? di mana? "


" Panti asuhan kasih Bunda, dulu sekali Za pernah ke sana bareng Nene. Padahal udah pernah janji sama anak-anak panti mau kesanah lagi, tapi karena Nene sering sakit-sakitan jadi gak pernah ke sana lagi, apa lagi sekarang Nene sudah gak ada. "


Ku hampiri Za menggenggam jemarinya. " Minggu depan kita kesanah, yah, " ucapku. Za mengangguk senang.


Di meja makan Za tengah membiarkanku kopi, ia datang sembari membawa kopi.


Rayan duduk matanya meneliksik pada meja makan mencari sesuatu. " Kopinya mana bi? "


" Saya lupa mas, bentar, yah. " Namun Bi Tini masih sibuk menyiapkan sarapan.


Za melihat Bi Tini yang kerepotan lantas menawarkan diri pada Rayan untuk membuatkannya secangkir kopi.


" Mau saya buatkan kak? " tawar Za.


Rayan menatap pada adik iparnya lalau pada adiknya yang tengah menikmati kopi.


" Saya males ribut, nunggu Bi Tini saja, " jawabnya cuek.


" Ndak cemburu lagi toh mas Idris? " celoteh Bi Tini.


" Lah, orang buat Kak sendiri kenapa harus cemburu! " jawab Idris tegas.


Bi Tini menahan senyumnya begitupun Za sedang Mama Maryam yang tengah menyantap sarapannya menatap tak biasa pada Idris, dan yang di tatap dengan santai menyeruput kopi. Sekilas senyum pun merekah dari bibir Rayan.


***


Hari yang di tunggu Za akhirnya tiba, Idris mengajak Za berkunjung ke panti asuhan, sebelum berkunjung mereka membeli beberapa mainan dan makanan untuk di bawa ke panti.


" Sudah? " tanya Idris saat Za menutup pintu mobil.


" Sudah, " jawab Za sembari tersenyum.


" Ada yang mau di beli lagi, gak? "


Za menggelengkan kepalanya. " Udah cukup. "


Kamipun melaju menembus jalanan yang ramai.

__ADS_1


Sinar matahari mulai memancarkan diri memberi sengat yang dapat membakar tubuh.


Pada saat itu kami sampai di sebuah bangunan yang cukup luas dengan halaman yang luas pula.


Bangunan bercat putih dengan banyak jendela yang menempel di dinding nya.


Anak-anak berlari-lari kesana-kemari ada yang tertawa ada yang bermain dengan ayunan dan beberapa permainan lainnya.


Kami keluar dari mobil membuka bagasi untuk mengeluarkan beberapa barang bawaan kami.


Mas Idris melambaikan tangan pada mereka menyuruh mereka menghampirinya, sontak anak-anak pun antusias mereka menghampiri kami dan bahkan berebut mainan yang kami bawa.


" Eh, anak-anak gak, boleh gitu yang teratur ayo, jangan berebut! " Ucap seorang wanita yang tiba-tiba menghampiri kami.


" Maaf, yah, anak-anak emang suka gitu kalau dapat mainan baru! " Nampak ia tak enak hati.


Wanita yang terlihat masih muda itu menatap kami. " Mas dan Mbak nya baru pertama kali ke sini, yah? "


" Yah, " ucapku sembari mengangk-anggukan kepala.


" Tapi, istri saya pernah kesini beberapa tahun yang lalu. "


Wanita itu menatap Za. " Mungkin pada saat Bu Sarah masih ada, yah, mbak? Kalau saat itu saya belum di sini, saya baru di sini. " Tanyanya.


" Yah, setahu saya nama pengurusnya Bu Sarah. Beliau kemana memangnya? "


" Beliau sudah meninggal setahun yang lalu. "


" Inalillahi wa Ina ilaihi Raji'un. "


" Kalau sekarang pengasuhnya bernama Bu Syifa, beliau juga sosok yang penyayang sama seperti Bu Sarah. "


' Syifa, nama yang tak asing, tapi tak mungkin orang itu. ' batin Idris.


Wanita yang memperkenalkan dirinya dengan nama Namira itu mengajak kami masuk. " Sini Mbak biar saya bantu bawa. " Namira mengambil beberapa belanjaan dari tangan Za.


Mereka duduk di kursi ruang tamu, tak lama seorang gadis remaja menghampiri mereka.


" kak Khanza! " seraya memeluk Khanza. Ia lepas pelukannya pada Khanza. " kak, kok, baru ke sini lagi sih? aku udah lama loh nungguin kakak! " ucap gadis remaja itu.


Za tersenyum menatap sang gadis. " Lusi! ya, kan? " gadis itu mengangguk.


" Kangen banget, loh, Kak. " mereka kembali berpelukan.


" Ini Bu Syifa tamunya! " ucap Namira pada seorang wanita yang terlihat dewasa nan cantik.


Mata kami membulat saat saling bertatapan. " Kak, Syifa! " ucapku.

__ADS_1


Next....


Jangan lupa Like, Komen dan Vote. Terima kasih 🙏


__ADS_2