Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )

Jodoh Pilihan Nenek ( Mas Dokter )
Kondisi yang aneh


__ADS_3

" Hah, seharusnya tadi gak nawarin diri kalau ujung-ujungnya harus nyuci sekarang juga. " keluh Idris.


" Lagian kenapa juga, sih, Za, gak biasanya sikap dia aneh gini. "


" Udah mas. " Za menghampiriku.


" Loh, kok, kesini, Mas kan udah suruh kamu tidur, " ucapku pada wanita yang kini berjalan mendekatiku.


" Za bantu, ya, Mas, kan cape baru pulang praktek, " ucapnya sembari mengeluarkan kerudung yang baru di cuci dari mesin cuci.


" Hoe, hoe, " tiba-tiba Za seperti akan muntah.


" Kamu kenapa? " Ku sentuh pundaknya.


Ia menjauh dari mesin cucu sembari menutup hidungnya. " Mas, pakai pelembut pakaian yang itu, yah, " ucapnya sembari menunjuk pelembut pakaian berwarna biru.


Aku melihat pada benda yang ia tunjuk. " Iya. " lalu kembali memperhatikannya.


" Za gak suka baunnya, bikin eneg, cuci lagi deh mas, " ucapnya sembari berlalu.


Yah, lembur dong malam ini.


" Nih, mas. " Za kembali menghampiriku dengan masih menutup hidungnya sembari membawa pelembut pakaian yang lain.


" Pakai yang ini, Mas, yang ini harumnya gak bikin eneg. " Lalu ia kembali masuk kedalam kamar.


Kalau tau yang ini gak bikin eneg, kenapa gak bantuin, coba. Ah, nasib-nasib. Lembur dadakan.


Selesai dengan pekerjaaan dadakan, Sekitar dini hari aku segera masuk kekamar berniat merebahkan diri diatas ranjang.


Namun, kembali di buat tercengang kala melihat kamar kami terlihat ada yang berubah.


Hampir semua isi kamar di dominan berwarna putih, mulai dari gordeng, seprai, selimut, bahkan keset untuk kakipun berwarna putih hanya saja di beri motif bunga-bunga hingga warna putihnya tak terlalu mencolok.


Kenapa tiba-tiba Za mengubah semuanya jadi warna putih. Aneh.


Melihat istriku tertidur pulas diatas ranjang dan dengan mengenakan daster berwarna putih. ia terlihat lebih cantik.


Apa ia mengubah semua berwarna putih karena ingin terlihat lebih cantik dihadapan ku. Ah, entahlah.


Ku tarik selimut tuk menutupi tubuhnya. Dan ikut merebahkan diri di samping Za. Lama ku tatap Za yang tertidur pulas, wajahnya yang manis sering membuatku rindu untuk segera pulang.


Tapi teringat saran Sam untuk mempertemukan Za dan Mama kembali membuatku merasa risau, pasalnya aku tak mau salah satu di antara mereka tersakiti, atau bahkan sampai aku harus memilih salah satu dari mereka. Aku gak bisa, aku menyayangi keduanya.


Bukan hanya malam tadi, pagi ini Za juga bersikap aneh. Bahkan ia sering kekamar madi entah apa yang ia lakukan di sana yang jelas setiap kali ia keluar dari kamar mandi ia mengelap mulutnya dengan tisu.


" Kamu kenapa, Za? "


" Gak papa, " selalu seperti itu jawabannya setiap kali ku tanya kenapa.


Ku genggam tangannya menyuruh Za menatap pada ku." Liat mas, Za. " Ia angtat wajahnya menatap ke arahku.


" Mas ini suami kamu, kan? " ia mengangguk.

__ADS_1


" Kalau kamu anggap mas ini suami kamu, kenapa kamu gak mau cerita. katakan sama mas, kamu kenapa? "


" Masalahnya Za juga gak tahu kenapa, " Ucapnya sembari memanyunkan bibir.


Tuh, kan, aneh lagi gak biasanya dia kaya gini.


" Yasudah kita sarapan dulu, tapi, ngomong-ngomong kamu udah masakan? "


ia menggeleng. Tumben juga Za belum masak.


" Tumben jam segini belum masak. "


" Tadi sih niatnya mau masak nasi goreng, tapi pas cium aroma nasinya bikin eneg apalagi aroma bumbunya sampe Za muntah tadi.


Deg, eneg, muntah-muntah. Jangan-jangan Za.


" Kamu kapan terahir datang bulan? " Ia nampak berfikir.


" Bulan lalu deh kayaknya. "


" Trus bulan ini, " ucapku menatap penuh selidik, sedang yang di tatap memicingkan matanya.


" Kok, gitu sih ekspresi nya? "


" Lagi mikir mas, " ucapnya yang membuatku terbahak.


" Ih, mas malah ketwa lagi, " ia merajuk.


" Ya, deh, nggak. kapan terahir kali datang bulan? "


" Bulan ini kenapa? " Tanyaku penasaran melihat ekspresi nya.


Ia menatapku dan membuka mulutnya. " Aku lupa. " Za menggaruk tengkuknya seraya tersenyum lebar.


Dihh, menyebalkan, untung cinta.


"Atau jangan-jangan aku telat mas, " sambungnya dengan menatapku.


" Kalau gitu, biar jelas kita priksa aja, yah! " ajak ku pada Za.


" Di tes gitu mas. "


" Langsung aja ke dokter, sekalian temenin mas. "


" Gak, ah. "


" Loh, kenapa? "


" Nanti di liatin para suster di sana, trus di gibahin deh. "


" Biarin aja, orang yang sering gibahin kita itu pertanda. "


" Pertanda apa? " mengernyit alisnya.

__ADS_1


" Pertanda kalau ia iri sama kehidupan kita. " aku menarik turunkan alis.


" Dihh, bener juga, hayulah! kita bikin orang-orang di rumah sakit iri. " Ia bergegas hendak beranjak dari duduk.


" Gak, sarapan dulu gitu? "Tanyaku yang membuatnya berhenti bergerak.


" Udah gak mood masak, makan di luar enak kali yah. "


" Yaudah, cepat siap-siap biar mas gak telat. "


" Ok! "


Lucu sih dengan sikap Za yang seperti ini. Ini sifat aslinya atau karena memang ada sesuatu yang hidup di rahimnnya.


Biarlah apapun itu, toh, aku memang sudah jatuh cinta padanya.


" Banyak amat, pesannya. yakin habis semua? " tanyaku pada Za yang tengah memandangi beberapa makanan yang ia pesan.


" Yakin, " Ucapnya sembari mencomot ayam goreng.


" Jangan makan sambal banyak-banyak. " Ku geser sambal agak menjauh darinya.


" Sambalnya enak mas " Ia menarik kembali mangkuk berisi sambal ke dekatnya.


" Kalau beneran di perut kamu ada sesuatunya, itukan gak baik buat dia. " aku melirik perutnya yang masih rata.


Begitupun Za, dengan mulut menganga ia mengikuti arah mataku. dan urung memasukan ayam goreng yang telah ia beri sambal. Lantas ia letakan di piringku.


" Iya, juga sih, yaudah, makan sambalnya dikit aja, mas aja yang abisin. mubazir mas kalau gak di abisin. " Ia menaruh mangkuk sambal di dekat piringku.


Lah, kenapa aku juga yang harus abisin. Lupa apa suaminya gak suka pedes.


Benar tebakan Za, di rumah sakit kami jadi pusat perhatian, banyak yang menggoda kami sebagai pengantin baru. Namun, tak sedikit pula yang menatap Za dengan tatapan tak suka.


Ku genggam tangan Za semakin erat, seolah memberinya kekuatan agar tak terpengaruh dengan tatapan orang-orang yang nampak tak suka. segera membawa Za memasuki ruanganku. Dan memeriksakondisi Za setelah Zuhur nanti.


Bada Zuhur kami memeriksakan kondisi Za pada dokter kandungan.


" Gimana Bu Ika, istri saya beneran hamil? " setelah memeriksa Za, langsung saja wanita paruh baya yang ku panggil Bu Ika itu ku tanyai.


" Huh, mengecewakan, " ucapnnya yang membuat aku dan Za tampak kecewa.


Namun, wanita yang mengenakan jas putih itu kembali bersuara." Mengecewakan para idolamu, Dris, karena bentar lagi kamu jadi ayah. "


Aku tak bisa lagi menutupi kebahagiaan ini, lantas segera memeluk Za seraya menghujaninya beberapa kecupan, yang membuat Dokter Ika, berdehem.


" Ehem, ehem, mentang-mentang pengantin baru bikin jiwa jomblo memberontak, aja, " Ucap Dokter wanita itu yang belum lama ini menyandang setatus janda.


" Makanya buruan nikah lagi Bu dokter, " ucapku lalu kami terbahak.


" Ish, menyebalkan, " ejek Bu Ika.


Next.....

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen dan Vote. Terima kasih 🙏


__ADS_2