
semenjak hari arin mengatakan untuk bercerai dari suaminya setelah satu tahun penikahan nya arin sudah tidak perduli lagi dengan arya, baginya menjalani kehidupan rumah tangga sama saja seperti ketika arin belum menikah,, arin berencana ingin kembali ke pesantren setelah bercerai nanti..
''arya menatap istrinya, dengan pandangan lain, wanita yang dia abaikan selama ini justru dia yang menyelamatkan perusaha'an nya,
''aku lapar ucap arya masih dingin, tanpa menjawab arin bergegas melayani arya, dengan perlahan arin menyendok kan nasi untuk arya,
''mau pakai lauk apa, tanya arin datar,,
''terserah,, ucap arya pelan,,
''dari mana kamu belajar menggambar, tanya arya tiba tiba,
''kenapa anda ingin tau'' bukan kah anda juga sudah tau aku lulusan pesantren,, ucap arin dingin,,
''maksudku apa kamu belajar kusus mendisain sesuatu,
'tidak perlu belajar khusus, asal ada kemauan, dan tekat niat dari hati, semua bisa di kerjakan, terang arin lagi,,
''arya terdiam teringat ucapan bima jangan pandang remeh lulusan pesantren meraka punya potensi dan bakat tersembunyi,,
''kamu tidak makan, tanya arya
''anda makan lah dulu saya nanti saja,, ucap arin masih datar,
''kamu tau aku punya kekasih, tanya arya tiba tiba,,
''saya tidak perduli, itu hak anda tidak perlu katakan itu pada saya, jika anda perduli, anda tidak akan memanggil sayang terhadap wanita lain di rumah ini meski anda tidak mengagap saya istri, tapi saya punya hak disini, jangankan rumah ini, saya juga berhak atas diri anda, tapi hak saya anda sudah berikan pada orang lain,, terang arin
''hak mu yang mana yang aku berikan pada orang lain aku bahkan tidak pernah menyentuh kekasih ku hubunganku dengan nya masih di batas sewajarnya,, ucap arya,,
''kasih sayang anda cinta anda, waktu anda, bahkan anda tidak punya waktu untuk istri anda, itu semua hak saya yang anda berikan untuk orang lain,, taukah anda...?
anda adalah suami yang zholim,, ucap arin lagi,,
"lalu apa maumu apa kamu meng ingin kan nafkah batin itu, tanya arya,,
__ADS_1
"saya tidak meng ingin kan apa apa dari anda nafkah lahir dan batin saya meskipun itu adalah hak saya, jika anda masih berhubungan dengan wanita lain, biarkan seperti ini sampai hari perpisahan kita tiba,, ucap arin lagi,,
"kenapa dia jadi banyak bicara biasanya pendiam,
"ma'af aku tidak bisa meninggal kan nya dia sedang sakit,, ucap arya pelan,,
''kenapa menerima perjodohan ini jika sudah punya kekasih, apa anda tidak memikirkan perasa'an orang tua anda, kekasih anda, ucap arin lagi,
''kamu sendiri kenapa menerima perjodohan ini, apa kamu juga mencintai orang lain,,
''saya menikah dengan anda karna ibadah, jawab arin cepat,, tanpa arin dan arya sadari kedua orang tua arya mendengar perdebatan mereka,,
''ar tolong papamu ar, teriak mama nya arya dari luar, arya terlonjak kaget,, segera berlari menuju sumber suara,,
''papa, teriak arya,
''angkat papamu kedalam mobil ar,, bawa kerumah sakit segera,
dengan cepat arya membawa papa nya ke dalam mobil, arin sudah siap di belakang kemudi dan segera melajukan mobil arya menuju rumah sakit,, arya sedikit tertegun, melihat istrinya itu seperti sudah terbiasa membawa mobil, apa lagi mobil mewah seperti mobil arya,,
''kenapa masih bertanya. ini semua gara gara kamu,, ucap mama widya, sambil terisak merutuki kebodohan putranya,
''ma'af kan arya ma' ucap rya pelan,
mobil yang arin kemudikan sudah sampai di rumah sakit arya segera turun dan meletakkan papa nya ke ranjang dorong rumah sakit, beberapa petugas medis membawa papa arya ke ruang UGD di ikutiarya dan mama nya yang masih terisak,,
arya dan mama nya menunggu di depan ruangan, tak berapa lama arin datang
''ma' ucap arin sambil menghampiri mama mertuanya lalu memeluk nya,,
''kita berdoa saja ma' semoga tidak terjadi apa apa sama papa, ucap arin lembut berusaha menenangkan mama mertuanya,
''rin ma'af kan putra mama' ucap mama widya dalam isak nya, lalu menatap putranya tak percaya, tega melakukan itu semua pada istrinya.
''tega, kamu ar' mama sama papa kecewa sama kamu,, ucap mama widya masih berderai air mata,,
__ADS_1
''ma' arya minta ma'af'' ucap arya lemah merutuki kebodohan nya sendiri,, hampir satu jam papa arya berada di ruang UGD beberapa petugas medis mendorong ranjang papa arya ke ruang rawat inap rumah sakit,,
''pa'' tangis mama widaya masih belum reda,
''bangun pa' jika papa mau memukul putraku mama iklas, ucap mama widya di sela sela tangis nya,
''mama kok gitu sih, gumam arya palan , masih bisa di dengar arin dan mama nya,,
''ini semua gara gara kamu, yang tidak pernah nurut sama mama, ucap mama widya lagi,, arya mengusap wajah nya kasar,
''tidak mungkin aku meninggal kan renata dalam keada'an nya seperti itu, dia sedang sakit, dan sebatang kara dia hanya punya aku di dunia ini,, batin arya di lema,,
''ma' beristirahat lah, papa biar arin yang jaga,, ucap arin lembut,, mama widya mengaguk pelan,
''dengar ar' mama tidak ingin meng ganti menantu mama dengan siapa siapa, jika sampai itu terjadi lebih baik mama mengganti putra mama dengan seorang putri,, arya terprangah mendengar ucapan mama nya,, seakan tidak ada lagi lampu hijau untuk renata, begitu juga arin,
''jodoh maut rizki semua rahasia alloh ma' tidak seorang pun yang tau, begitu juga jodoh arin dan mas arya,, karna jodoh
ketika hati kita jatuh dan ingin memiliki, sekuat apa pun kita berusaha jika alloh tidak menghendaki nya, berarti dia bukan jodoh kita,, yakin lah dengan pilihan alloh karna alloh sudah menyiap ka seseorang yang jauh lebih baik untuk kita,, ucapan arin mampu membuat arya berfikir,
''apa alloh sudah memberinya seseorang yang lebih baik dari renata, nyatanya selama lima tahun hubungan nya dengan renata arya masih tidak bisa membawa renata ke jenjang pernikahan, yang justru menikah dengan arin,,
''wanita ini sungguh berbeda pembawa'an nya yang tenang dan lembut, mampu membuat siapa pun merasa nyaman berada di sampingnya,, tak terkecuali arya, namun arya enggan untuk mengakui nya,,
''ma beristirahat lah biar arya yang jaga papa, ucap arya pelan,
''mas arya benar ma' hari semakin malam, mama harus beristirahan, arin tidak mau mama juga sakit, ucap arin lembut,,
''bagaimana dengan mu nak, tanya mama widya,,
''arin tidak apa apa ma, jangan kuatir,,
''terimakasih nak' ucap mama widya,,
bersambung
__ADS_1