
Rania yang keluar dari kamar setelah berganti baju lalu menuju dapur,dan seperti mengabaikan keberadaan Dion dirumahnya agak terkejut juga saat Dion bersuara menegurnya....masalahnya Dion sangat gemas juga pada cara Rania yang menganggapnya tidak ada.
" sejak tadi aku disini tidak sedikitpun mendapat tawaran untuk disuguhi air minum " Rania sontak berbalik,dan Dion memandangnya dengan tatapan nyengirnya....pria itu masih sangat santai dengan posisi duduk disofa dan memang sengaja mengusik pembicaraan antara mereka.
" bingung aku " Rania melongo....berjalan menuju pintu,membuka....lalu melongok keluar melihat nomor rumahnya,manggut-manggut beberapa kali dan Dion memperhatikannya dengan heran.
" beneran kok " wajahnya dipoles begitu lugu...justru berbalik Dion yang jadi salting sendiri.
" 502 "dia bergumam menyebut angka rumahnya itu
" beneran apa ? "
" ya ini nomor rumahku....aku tidak salah masuk rumah orang " sahut Rania simpel sekali dan Dion yang kelimpungan.
" apa hubungannya ? "
" ya jelas ada....kamu perasaan yang masuk rumahku tanpa permisi....dan kalau kamu merasa tidak dipedulikan silakan pergi " Rania melambaikan tangan sepeti isyarat mempersilahkan menuju kepintu.
" aku tidak memintamu datang dan juga tidak mencegahmu pergi " sebenarnya bukan hal tersebut yang ingin disuarakan Rania,dia juga sangat menghargai pertolongan Dion padanya tapi dia merasa tidak nyaman dengan kehadiran pria itu dirumahnya....bagaimanapun mereka adalah dua jenis kelamin yang berbeda....dan itu jadi seperti dua kutub magnet yang saling tarik menarik...biasanya bahkan sama kekasih saja Rania mampu menjaga dirinya agar berhubungan normal bahkan seperti wajar antara orang berteman biasa saja .....tapi pria ini baru dekat pertama,dia sudah seperti didominasi sekaligus dijungkir balikan.
" OhYa... maaf kalau pak Dion merasa tidak kusambut dengan semestinya....aku bukannya tidak menghargaimu dengan sebutan tamu adalah raja....tapi memang aku tidak memiliki sesuatu yang bisa aku suguhkan padamu selain hanya air putih biasa....nah....tentu itu tidak sepadan dengan orang sepenting pak Dion kan ? "
" kamu benar " Dion bukannya marah malah jadi tetap tersenyum saja.....dan itu yang justru makin membuat Rania serba salah.
__ADS_1
" aku jadi tetap disini karena aku menunggumu mengemasi semua pakaianmu....karena aku akan membawamu pergi dari rumahmu ini "
" Hah " Rania melotot campuran rasa bingung dan tidak percaya pada pendengarannya.
" memang kenapa aku mau dibawa pergi ? "
" karena sekarang kamu tidak aman lagi disini .....setelah kejadian tadi "
" aku tidak....aman ? " Rania terhenyak dan meraih pegangan sofa menopang kekuatannya disitu.....Dion benar......dia sekarang tidak bisa tetap disini....terutama untuk beberapa hari kedepan....tapi pergi...mau pergi kemana ? Dion bilang ingin membawanya pergi...dan kenapa pria ini ingin melibatkan diri padanya....ataukah Dion merasa mengenali dia ?
" iya....kamu sadar kan kalau tadi mereka nyaris mencelakakan kamu seperti yang mereka lakukan padaku " tatapan Dion menghujam nya....ayo Rania....tegur Rania dalam hati untuk diri sendiri,kamu tahu kalau Dion ketika ditolong olehnya mengalami satu kecelakaan yang sengaja disabotase seseorang pada rem mobilnya....dan orang itu suruhan dari Abian Delvano.....dan dia diketahui sekaligus dicurigai para bodyguard itu telah mengetahui sesuatu dari percakapan mereka itu,sehingga keberadaan dia menjadi ancaman bagi mereka sama seperti Dion itu.
" tapi.....aku kan tidak merasa layak menjadi incaran...pak Dion jangan terlalu parno dulu " Rania mencoba menyanggah....bagaimanapun ....kalaupun dia merasa saat ini mungkin dirinya menjadi ancaman bagi mereka....itu masalah dia....dan Dion tidak harus terlibat dengannya ,dia bisa pergi setelah ini tapi tidak harus mengikuti arahan atau pergi kemana Dion mengajaknya bukan ?
" kamu sepertinya menyimpan rahasia mereka " Rania terdiam hening.....berpikir panjang....keseluruhan apa yang diucapkan Dion merujuk pada kebenaran dan dia akan memilih percaya pada pria itu.
" Baiklah pak Dion....aku akan mengikuti anjuran mu,dari malam ini aku tidak akan tinggal disini untuk beberapa waktu kedepan....dan pak Dion sudah bisa merasa tenang....dan untuk itu aku berterima kasih atas sarannya ini....jadi pak Dion bisa silahkan pergi " kata Rania cepat, tenang.... dengan suara yang sarat ketegasan.
" tidak" Dion menggeleng kuat
" aku harus memastikan kamu aman baru aku akan pergi,dan untuk itu aku sendiri yang akan membawamu pergi ketempat yang jauh dari sini " dia menjelaskan alasannya secara gamblang.
" terima kasih pa ....tapi kurasa...ini tidak ada hubungannya dengan anda " Rania mengangguk dengan ekspresi sopan.
__ADS_1
" jadi bapak tidak usah repot terlibat denganku "
" maaf Rania " Dion mengeluarkan senjata terakhirnya yang membuat Rania terperangah ditempatnya....Dion mengeluarkan sesuatu dari balik saku jaketnya dan itu adalah hand phone miliknya....yang astaga ? Rania terbelalak....kenapa hpnya ada sama pria itu ?
" hape ku .....kenapa ada ditanganmu ? " Rania bergegas maju,ingin merebut hapenya ditangan Dion itu,tapi Dion mengelak dan berjinjit... meletakkannya dengan tangan teracung tinggi diatas kepala dan Rania tidak bisa menjangkaunya....tinggi dia hanya sebatas leher pria itu.
" hei....kembalikan hape ku pak Dion....kamu mencurinya dari ku ya ? kamu sudah melakukan hal ilegal....berani-beraninya kamu ....." Dion tidak menunggu Rania menyelesaikan ucapannya....meraup kepala gadis itu,lalu membekap mulutnya yang tadi sudah diputar agak kencang dari volume wajar karena meneriaki pria itu tadi.
" ini tengah malam sayang....jangan berteriak....nanti kamu membangunkan orang -orang " Dion berbisik tepat ditelinga nya dan hembusan nafas pria itu menerpa lehernya
" aku hanya ingin bilang kalau tepat seperti dugaanku sejak awal....kamu menyimpan sesuatu di hape kamu....dan itu...." Dion berhenti,melepaskan bekapan tangannya dimulut Rania secara perlahan....lalu memegangi kedua bahu gadis itu yang masih setengah syok menerima perlakuan begitu.
" sayangnya....rekaman dihapemu berkaitan dengan diriku ....jadi mau tidak mau....suka atau tidak suka....setuju atau tidak setuju.....kamu dan aku secara tidak langsung akan terlibat serta berkaitan setelah ini....jadi dari sekarang ....ikuti saranku....kemasi pakaianmu atau kalau menurut pemikiranku....tidak usah saja .....kita secepatnya pergi dari sini....kamu akan kubawa jauh untuk sementara waktu....dan aku tidak bisa menunggumu harus setuju dulu...."
" kapan kamu mencuri hape ku ini ? " kata Rania gugup dalam pertanyaannya itu.
" bukannya tadi yang membuka kunci rumahmu adalah aku ? " Dion balik tanya....dan Rania mengangguk.
" yah aku melihat hapemu....hanya satu tekhnik cepat saja .....ketika kamu tadi kedalam, tas mu tadi setelah mengambil kunci kulemparkan kesofa dan tak jauh dari dudukku....aku baru tersadar untuk kepo terhadap isi didalamnya " wajah Rania mengerucut....antara kesal....marah....tapi juga tidak bisa menyalahkan....toh rekaman itu berhubungan dengan Dion dan seperti yang Dion bilang...hapenya itu jauh lebih baik berada di tangan Dion dibanding ditemukan dan diambil oleh anak buah Abian.....lagipula awalnya bukankah dia ingin memberitahu pria itu .....tapi itu setelah dia lebih memperjelas semuanya.....dan rupanya sekarang dia tidak akan harus merepotkan diri lagi .....pria itu sudah mendapatkan apa yang dia pegang sebagai titik kunci.
" jadi.....kamu sudah melihat rekaman itu ? " Rania bertanya setengah ingin tahu saja walaupun dia sudah tahu jawabannya.
" yap....thanks Rania.....dari rekaman itu aku jadi bisa menemukan bukti keterlibatan mereka untuk kecelakaan ku kemaren ? " pancaran sorot mata Dion terlihat sangat tulus ketika mengatakan itu.
__ADS_1
" itu sebabnya nyawamu sekarang mutlak dibawah perlindunganku.....jadi tolong....ikutlah denganku....dan aku sangat tidak berkenan pada sebuah penolakan "