KEKUATAN CINTA RANIA

KEKUATAN CINTA RANIA
BAB 46 : SAAT MODE ON


__ADS_3

Dion menghempaskan pantatnya di sofa setelah melepaskan jasnya dan melemparkannya begitu saja di meja,menggulung lengan bajunya dengan raut wajah kesal yang tak bisa dia tutupi,dan ketika Rania duduk diujung sofa yang sama dengannya,Dion langsung mengalihkan kepalanya yang awalnya direbahkan disandaran kursi ke atas pangkuan Rania.....dia juga melonggarkan dasinya.


" Siapa wanita tadi pak Dion ? " tanya Rania mengusap rambut pria itu.


" Jenita " Dion hanya menjawab singkat sambil memejamkan mata.


" sepertinya dia dekat sama pak Dion ? " cetus Rania lagi mengajukan pertanyaan yang berforos pada Jenita saja.


" dulu " Dion kembali membuka mata,dan menatap Rania lama,mengulurkan tangan untuk mengelus pipi gadis itu.


" dia mantan kekasih aku "


" ooohh" bibir Rania dan matanya sontak membulat.


" pantas dia seperti tidak sungkan pada pak Dion "


" ya " lagi-lagi seperti sebuah jawaban yang enggan untuk dilontarkan,Dion bangkit dari rebahan nya dan duduk....meraup kedua pipi Rania yang tadi diusap olehnya dan mendekatkan bibirnya,dia mencomot satu ciuman yang sedikit panas tapi singkat.


" bisakah kita tidak usah membahas soal dia,karena itu sangat merusak kebersamaan kita "


" aku tidak membahasnya,hanya sekedar bertanya....tidak boleh ? pak Dion tidak senang membicarakan dia ? "


" ini soal sensitif Rania,bagiku dan juga bagimu "


" aku hanya heran kenapa pak Dion menolak dia yang ingin melamar kerja disini,padahal dia seperti nya sangat membutuhkan pekerjaan itu "

__ADS_1


" Rania sayang " Dion mencoba menjelaskan dan memahamkan Rania dengan sabar.


" kan aku sudah jelaskan kalau perusahaan ini sedang lagi tidak membutuhkan tambahan karyawan...lagipula .....kalaupun ada, apa cocok dengan kualifikasi yang dia miliki ? "


" yah .....aku tidak mengerti soal ini,aku hanya sedikit merasa kasihan pada dirinya tadi,berpikir mungkin kondisinya sedang mengalami penurunan pemasukan,dan tadi sempat kutangkap dari percakapan denganmu dia seorang model yah ? "


" Hem "


" tentu itu tidak mudah baginya "


" lalu apa maksudmu aku harus mengurusinya juga ? Rania....dia bukan tanggung jawabku,dia bukan siapa-siapa aku lagi " Dion hanya tidak ingin mengatakan kalau apa yang menjadi tujuan Jenita tadi hanyalah suatu modus untuk mendekati dirinya lagi,memang itu hanya suatu insting kecil dia tentang dugaannya pada Jenita,tapi dia yakin sekali kalau dugaannya itu benar adanya.


" iya....aku tahu,siapa juga yang kepengen kamu mengurusi wanita itu " sahut Rania dengan ekspresi yang anteng sekali.....dan Dion mengulum senyum merasa lucu dengan sikap Rania itu,tak bisa menahan hati untuk mengulum bibir merah yang ditekuk itu.....dan dia melakukannya dengan cepat sekali.....kali ini lebih lama,permainan lidah dan bibir itu terjadi,pertautan keduanya tentulah menghadirkan rasa panas yang semakin tak terkendali,


" Nah....itu pemikiran yang benar " Dion bergumam lirih diantara hembusan nafasnya dan ciumannya yang menggebu....entah kenapa kalau sudah berada didekat dengan Rania,dia jadi kesulitan mengendalikan keinginan nya yang selalu menuntut lebih.


" tidak tahu....mungkin sebentar lagi " mata Dion sudah berkabut dan pancarannya seperti ingin menenggelamkan Rania dalam penguasaan nya saat ini.


Dia bergegas turun dari sofa dan dengan gerakan mantap meraih Rania kedalam gendongan.


" hei....pak Dion....kamu mau apa ? " cegah Rania yang setengah memberontak agar bisa turun dari gendongan,dia tahu tujuan pria ini menggendongnya ....dan untuk itu dia harus mencegahnya,tapi bukan Dion namanya jika keinginannya bisa dihalangi begitu saja,pria itu tetap kokoh tak bergeming bak banteng dan melangkah menuju pintu khusus diruang kerjanya itu.....dan ketika pintu dia dorong dan dibuka dengan kakinya,Rania begitu terkejut melihat pemandangan didalamnya. ...dimana yang ada adalah hanya seperangkat tempat tidur kingsize seperti di kamar biasa pada umumnya.


" pak Dion....kamu tidak senekat ini....hei ...lepaskan aku " Rania berseru dengan sangat panik,alarm pemikirannya seperti peringatan kalau itu tidak akan mereka lakukan,tapi sekali lagi.....Dion adalah Dion.....sekali dia berkata A maka tidak mungkin berubah jadi B.....dengan cepat dan dalam kelihaian tangannya semua terlucuti tanpa ada sedikit saja memberi waktu jeda pada Rania untuk bisa berkutik lagi.


Mereka sedang berada di suasana kenyamanan level tinggi dan beberapa kali terhempas pada kepuasan yang tak tertandingi,dan ini periode terakhir dilevel ingin meraih puncak kenikmatan,saat Dion menggerakkan tubuhnya pada gerakan slow motion dan sesekali menghentak untuk menekan masuk ketubuh Rania yang hanya kian terkapar dalam kelemahan .....namun semua rasa nikmat itu seperti tiada akhir....bahkan Dion mengabaikan beberapa kali deringan hape walaupun Rania sudah mengingatkannya.

__ADS_1


#########


Baru membuka hape setelah ketegangan itu mereda dan Dion serta Rania melihat siapa sipemanggil itu,dari ayahnya.....Dion bergegas turun dari tempat tidur untuk kekamar mandi,dengan satu tangan memegang hape dan menelpon balik ayahnya itu.


" ayah.....kenapa menelpon saja ? ayah tidak jadi kekantor ? "


" Dion .....suruh seseorang menjemput ayah....entah itu ojek online atau apapun,ini ayah terjebak macet....tidak bisa keluar....ada kecelakaan antara truk dengan mobil pengangkut barang,dan masalahnya belum ada oknom untuk pemulihan jalan ini "


" iya ayah....tunggu ya....aku telpon kan orang untuk menjemput ayah,sekarang lokasi ayah ada dimana ? " dan pak Yanuar menyebutkan jalan dimana saat itu dia berada dan tidak bisa terlepas dari kemacetan itu mungkin untuk beberapa jam kedepan.


Setelah menelpon beberapa orang yang bersangkutan agar bisa menjemput ayahnya tanpa menggunakan mobil karena itu sangat mustahil,Dion bergegas mandi dan berpakaian dengan gerakan cepatnya,dia sedikit melupakan keberadaan Rania yang juga bergegas kekamar mandi mengikuti jejaknya terutama saat ada ketukan dipintu luar ruangan kerjanya.


" Pak Dion lagi ngapain ? kok lama banget bukanya....biasanya juga suara doang yang bilang....masuk... gitu ! " Darren yang muncul ketika pintu dibuka Dion,dan langsung terpana ketika tatapannya terarah pada rambut basah bosnya itu.


" kamu habis mandi ? apa suasana nya gerah sekali ? AC nya tidak terlalu dingin ? Lo....Rania mana ?" pandangan Darren terarah pada pintu khusus kamar istirahat Dion dan mengangguk - angguk paham


" masih sempat-sempatnya " sindir Darren dengan wajah masam.


" untung tidak ada siapa - siapa yang mencarimu "


" diam untuk ocehannya dan berhentilah berisik kalau sudah paham " tegur Dion datar dan Darren mengangkat bahu,meletakkan tumpukan berkas yang menggunung.


" Ini beberapa proposal yang belum dieksekusi oleh partner bisnis di meeting tadi,pak Dion analisa sekali lagi sebelum menyetujui dan menandatangani " Dion menatap tumpukan berkas yang setinggi dua garis telapak tangan yang direntangkan


" oke....aku akan pelajari sambil menunggu ayah datang " Dion bersiap duduk dikursi kerjanya dan mulai berkutat membuka map berkas itu satu persatu.

__ADS_1


" Tuan akan datang ? OhYa....mungkin ada yang harus beliau evaluasi "


" iya.....sekalian aku ingin memperkenalkan Rania sebagai persiapan pernikahan kami " Dion menyahut tanpa mengangkat wajah dari berkas yang dia hadapi,saat ini dia sudah berada di mode on serius tingkat konsentrasi tinggi,dan sekali dia begitu sulit bagi siapapun untuk mengalihkan kesibukannya lagi....dia juga sudah tidak menghiraukan Darren yang tidak keluar dari ruangannya dan sedang duduk berselonjor kaki di sofa dan asyik berkutat untuk memperhatikannya.


__ADS_2