
.
" Rania " Dion sempat berseru dan berlari cepat kembali kearah Rania dan cepat menangkap serta menahan tubuh Rania yang limbung ingin pingsan itu,beberapa orang yang berada disitu pun yang mengetahui kejadian itu bergegas mendekat ingin membantu....suasana jadi hiruk-pikuk oleh keramaian.....orang-orang jadi berdatangan,untungnya Rania tidak sampai pingsan tapi dia merasakan kesakitan karena nyeri yang menjalar di bagian kepala belakang dan tengkuknya yang tadi dihantam jatuhnya dua kaleng biskuit kearahnya.
" pak Dion.... pria itu " bahkan diantara wajahnya yang meringis, Rania ketika berada direngkuhan Dion bukannya memperdulikan keadaannya,malahan mengedarkan mata kesekeliling pada kerumunan orang-orang yang merubunginya.....tapi pandangannya terhalang oleh keberadaan kerumunan itu,dia ingin mencari pria tadi yang sempat dilihatnya menggoyang rak tempat Dion berdiri dan akhirnya justru apa yang ada dirak yang berjatuhan dan dua diantaranya menimpa dirinya.
" pria apa Rania?" tanya Dion tidak ingin memikirkan hal itu sekarang,dia justru panik dan mengkhawatirkan keadaan Rania.
" kita harus ke dokter sekarang " dia mengangkat tubuh Rania dan menggendongnya...mengabaikan beberapa pandangan orang yang ada disekitar situ....dua orang pelayan pria supermarket itu pun datang mendekati mereka.
" bawa istrinya kedokter di lantai 6 tuan....ada yang bisa dibantu " salah satunya berkata dengan wajah penuh simpati.
" tidak ada " Dion memandang mereka masih dengan Rania dalam gendongannya.
" memangnya yang di lantai ini tidak ada ? " tanya Dion lagi menunggu jawaban mereka.
" sedang cuti tuan,dilantai 6 dokternya berjaga 24 jam " saran si pelayan lagi,dan Dion mengangguk bergegas pergi keluar membawa Rania dari tempat musibah tadi.
########
" turunkan aku pak Dion " kata Rania lirih ketika mereka berada di dalam.lift yang menurun ke lantai 6.
" aku tidak papa kok....masih bisa jalan juga " tambahnya meyakinkan dengan settingan efek wajah yang mencoba membuat Dion tidak meragukan apa yang dia katakan.
" Diam Rania....kamu bahkan tidak sedikit pun tahu betapa berbahayanya keadaan tadi " sahut Dion tegas yang membuat Rania tidak lagi bernyali untuk membantahnya, memilih diam dalam gendongan pria itu.
" sebenarnya kejadian tadi harusnya tidak menimpa kamu kan ? tetapi aku ? kamu refleks saja ingin mendorongku...." Dion bergumam lirih menatap ke mata Rania lebih dalam.
__ADS_1
" kenapa kamu menyelamatkan aku Rania? ...kamu tidak harus bertindak seperti tadi,terlalu berbahaya untukmu . ..."
" aku tidak ingin pak Dion kenapa-napa " sahut Rania tanpa ragu,memandang Dion sungguh - sungguh dengan raut wajah yang sama memprihatinkan dan mengkhawatirkannya.
" memang apa yang menimpa kamu ini tidak kenapa-napa ? " kata Dion antara kesal,takut tapi.juga sangat merasa ada yang begitu tidak ingin kehilangan dia dan dia sejenak terbuai perasaan berharga.
" aku justru lebih sakit kalau sesuatu terjadi padamu"
" pak Dion takut kehilangan aku ya ? " disituasi itu masih sempat Rania menyelipkan candaan dari perkataannya dan Dion merasa gemas tak tertahankan sekali.
" kalau iya kenapa ? " meski wajah Dion sesaat memerah oleh pengakuannya itu,tapi dia pintar menyembunyikannya.
" kan kamu milik aku ? aku tidak mau kamu terluka atau terjadi hal yang tidak diinginkan padamu " mata Rania memancar terang,dia tersenyum cerah meski wajahnya sangat merona oleh pengakuan jujur itu.
" kalau begitu deal " Rania masih mengedipkan mata bercandanya.
" kita impas....aku juga tidak ingin kehilangan pak Dion,berhubung aku yang melihat lebih dulu,sesuatu yang buruk akan menimpa kamu, jadi aku yang pertama mengambil tindakan,kurasa jika itu menimpaku....pak Dion pun akan berlaku sama padaku " mereka saling pandang dan Dion menghempaskan nafasnya....
" aku melihat seorang pria bermasker yang berdiri dipojok tak jauh darimu dan sedang menggoyang rak itu" mata Dion seketika menggelap mendengar penjelasan Rania itu.
" mungkin benar apa yang dikatakan pak Dion....seseorang sedang mengincarmu lagi untuk melukaimu,sayangnya rak itu mungkin sedikit kuat dan tidak roboh jadi hanya bagian isinya yang berjatuhan karena posisinya yang oleng,aku hanya menduga sesuatu yang buruk akan terjadi " tapi belum sempat Rania menyelesaikan ucapannya,Dion membungkam bibirnya yang bicara itu dengan ciuman kuatnya.
" lain kali Rania " Dion berkata setelah sekian detik dia mengunci bibir Rania dengan bibirnya itu.
" tolong jangan menjebak dirimu dalam keadaan maut seperti tadi....kau tahu.....aku lebih ngeri memikirkan apa yang akan menimpamu ketimbang itu terjadi padaku,jadi jangan melindungiku dengan nyawamu " Rania setengah takjub mendengar ucapan Dion itu,tanpa sadar dia merasa sangat terharu,mengunci tangannya lebih kuat melingkar pada leher Dion itu...merasakan dengan perasaan bahagia terutama karena Dion begitu peduli pada dirinya.
#########
__ADS_1
( Pada dua orang berbeda di tempat yang sama )
Anindita nama wanita yang sengaja menabrakkan dirinya pada kereta Dorong yang dipegang Rania,sengaja mengalihkan perhatian gadis itu dan ketika musibah yang menimpa Dion terjadi,orang-orang akan sibuk berkerumun.mengitari pria itu...dan sesuai dengan konsep yang sudah tersusun rapi antara dia dan Charlie kekasihnya tidak akan ada yang peduli ketika Rania sudah dekat dengannya dan dia akan membius Rania,lalu bersama Charlie akan menyeret dan membawa Rania pergi tanpa kentara dan bisa ditebak siapapun sama sekali,sayangnya hal itu gagal total,nihil sama sekali.....Rania melihat sesuai naluri ....sesuatu akan terjadi pada Dion dan memilih mengabaikan Ditha....sebutan panggilan akrab untuk wanita itu.
ketika semua terjadi.....dia merasa jengkel sekali, bergegas mendekati charlie dan bersama mereka menjauh secara perlahan dari kerumunan itu sebelum Rania tersadar tentang kejanggalan itu tentunya mereka berdua sudah menghilang dari tempat itu.
" kita akan menyusun rencana baru " kata Charlie tak bisa menutupi rasa kesal yang luar biasa karena untuk tahap pertama ini mereka gagal untuk mendapatkan Rania.
" tapi kurasa mereka akan jauh lebih berhati-hati,terutama gadis yang bernama Rania itu " sedikit nada penghiburan tapi juga seperti peringatan,Ditha menoleh dan melihat pada kekasihnya itu.
" kamu pikir Dion Anggara akan diam saja setelah ini ? "
" aku tidak peduli " Charlie menggeleng kuat ....dia sudah melangkah sampai sejauh ini....melibatkan Ditha untuk membantunya....hanya untuk mendapatkan Rania sebagai senjata untuk diserahkan pada Abian dan dengan begitu dia bisa terbebas dan lepas dari kejaran Abian yang menginginkan nyawanya,setidaknya Abian pun memiliki tameng untuk menghancurkan Dion dari dunia persaingan bisnis yang menjadi permasalahan mereka.
__ADS_1
Dia terpikir hal itu ketika Dion bergumul dengannya dijalan di malam pinggiran kota itu,dia berbalik arah tidak jadi untuk kabur dan bersembunyi di sebuah jalan sunyi yang kemungkinan akan dilalui Dion,merasa bertaruh dan mengambil jalur untung-untungan,kebetulan mobil Ditha lah yang lewat disitu,gadis itu baru pulang dari luar kota,dia ikut mobil gadis itu dan bercerita singkat apa yang terjadi dan menimpanya,dia meminta Ditha membantunya bahkan sepeda motor pun dia tinggalkan disitu,demi mengikuti mobil Dion.....dan ketika mereka kembali ketempat kejadian ketika Dion memukul tubuhnya pertama kali dugaannya tepat,Dion belum pergi tapi sudah ingin masuk kemobil melanjutkan perjalanan.....mulai saat itulah penguntitan itu dimulai....dan puncaknya adalah gagalnya penculikan terhadap Rania di supermarket ini bahkan berada dekat dengan keberadaan Dion Anggara sendiri.