KEKUATAN CINTA RANIA

KEKUATAN CINTA RANIA
BAB 49 : TES KECIL


__ADS_3

" Dion nya ada didalam ? " tanya Yanuar Anggara pada Friska dimuka ruangan Dion.


" tidak tuan ....pak Dion keluar sebentar sama Nona Rania " sahut Friska setelah membungkuk hormat.


" Rania ? yang calon Dion itu ? " Yanuar tersenyum sesaat sebelum masuk keruangan Dion.


Ketika Dion dan Rania sampai dilift hape Dion berdering dan Darren yang menelpon....dan Dion tidak menyalakan loudspeaker karena ada Rania disebelahnya.


" aku sudah mendapatkan rekaman CCTV itu....kapan kita membahasnya ? " Dion melirik pada Rania yang memandang padanya.


" nanti setelah jam kerja bubar,aku yang keruanganmu,kamu bisa balik sekarang ke kantor "


" oke " pembicaraan ditutup dan Rania yang merasa kalau Dion dan Darren seperti terlibat percakapan rahasia sedikit bertanya ringan.


" tampaknya serius sekali,soal apa ? " Dion sesaat tidak tahu apa harus menggeleng atau mengangguk tapi dia memutuskan mengangguk saja tapi tidak menambahkan kalimat lebih lanjut,dan dia hanya merangkul bahu Rania tanpa berucap apapun,Rania pun tidak ingin mendesaknya.


" tuan ada didalam pak Dion " Friska memberitahu pada Dion dan Rania yang ingin membuka pintu dan Dion mengangguk sambil menggamit lengan Rania yang sedikit merasa mulai gelisah,terutama saat sudah saling berdiri berhadapan dan Yanuar Anggara mengerutkan kening.


" Seperti pernah melihat kamu ....tapi dimana ? " sebenarnya Yanuar lebih berpikir keras kalau ternyata ketika hanya berpakaian simpel dan casual seperti ini Rania terlalu jauh lebih muda untuk putranya.


" OhYa .....kalau gak salah kamu hadir di pesta Dion kemaren ? " dia menambahkan sambil mengamati Rania dari atas kebawah dengan pandangan menilai yang membuat Rania dan juga Dion merasa tidak nyaman oleh pandangan itu.


" iya om .....saya temannya leonel Adithama,anak dari Herman Adhitama " Rania lebih merasa insecure,tapi dia mencoba semaksimal mungkin bersikap wajar seakan orang yang ada didepannya ini bukanlah seorang tuan besar,dan lebih lagi mengabaikan kalau dia ayah dari kemungkinan calon tunangannya,Dion Anggara.....bukan apa - apa,ketika dulu di dipesta,tuan Yanuar terlihat ramah terhadap Leo....tapi entah kenapa disini.....diruangan kantor Dion ini.....Rania seperti mendapat tatapan ketidaksetujuan dari Yanuar sendiri.....seperti seorang ayah yang tidak begitu ingin putranya bertunangan dengan Rania....ataupun kemungkinan yang lebih ekstrem ....menjadi istri dari anaknya.

__ADS_1


" duduklah dulu Rania " kata Dion menuntun tangan Rania agar duduk di sofa yang berseberangan dengan ayahnya.


" ayah.....apa ayah ingin minum sesuatu dulu? biar aku suruh Friska untuk membuatkannya " Yanuar menggeleng dan tapi berkata hal yang sungguh mengejutkan.


" aku ingin minum, tapi aku tidak mau dibuatkan oleh Friska,melainkan oleh calon istrimu "


" ayah " terkejut oleh ucapan ayahnya itu,Dion sontak berdiri dengan wajah merah,tidak menyangka ayahnya akan mengatakan kata-kata itu walaupun dia tidak memahami apa tujuan ayahnya berkata begitu.


" Rania calon istriku,bisa-bisanya ayah menyuruh dia melakukan hal itu....." tapi belum sampai Dion selesai bicara kekesalan hatinya yang diluar nalar itu,Rania memegang tangannya dan sedikit menggoncang nya agar dia duduk kembali,pandangan mata Rania yang begitu melembut membuat Dion menjadi seorang yang penurut....seakan dia memahami isyarat dari mata Rania yang tidak akan membantah apa yang akan dikatakan orang tua.


" ayah tidak menyuruh dia Dion.....melainkan meminta....anggap permintaan seorang mertua pada menantunya,apa ada yang salah?....bukannya dia akan kamu jadikan seorang istri?....haruskah dia tidak bisa melakukan apapun nanti dirumah tangga kalian sendiri ? ada saat dimana seorang suami ingin apa -apa yang ada dirumah adalah kerjaan tangan istrinya,bukan berpangku pada pembantu,meskipun kamu bisa menggaji pembantu berapa orang pun....tapi kamu tidak bisa terus mengandalkan itu " Yanuar berucap sangat diplomatis dan tanpa mengalihkan tatapan dari Rania dan Dion sedikitpun.....Dion membalas pandangan wajah ayahnya .....diam.....tidak bisa menolak kalau ucapan ayahnya adalah hal yang bisa dibenarkan.....tapi dia masih sulit menerima karena dia begitu tidak ingin Rania terluka atau salah tanggapan terhadap ayahnya itu,tapi diluar dugaan Rania hanya tersenyum....melihat pada ayahnya,dan melihat pada Dion....menepuk telapak tangan atas Dion lembut,seperti sebuah ketenangan.....dan itu begitu sangat membuat bukan hanya Dion yang takjub melainkan juga Yanuar Anggara.....terutama....karena sikap Rania yang tampak tenang dan berbesar hati menerima ucapannya.


" kalau boleh aku memanggilmu ayah dulu " Rania tersenyum halus lagi,mengangguk pada ayah Dion itu.


" ayah ingin minum apa ? biar aku buatkan " sebenarnya Yanuar juga begitu terkejut dengan tanggapan ringan dan tenang Rania.....sungguh saat ini....kepribadian Rania terlihat lebih dewasa dibanding dari usia dan penampilannya.....dia berpikir Rania akan bersikap manja dan kekanakan seperti yang ada dipikiran dan tebakannya,ternyata sangat diluar dugaan....


" terima kasih Rania.....buatkan ayah kopi hitam dengan sedikit gula saja,dan jangan kemanisan,kamu tahu letak kantinnya dilantai ini ? " tidak ingin terlihat terlalu terkesan,Yanuar berucap tanpa gerak atau aura wajah yang menunjukkan simpati,sekalipun di pertemuan kedua ini selain dari dipesta dia merasa tertarik pada gadis cantik ini....tapi ....dia harus menguji orang yang akan menjadi calon hidup anaknya itu.


" jangan cemas ayah .....aku akan bertanya pada Friska " tersenyum tipis lagi,mengangguk pada Dion untuk permisi dan entah kenapa dia mendapati sirat simpati yang begitu menghargai pada mata Dion itu....


" aku tinggal dulu pak Dion " Dion mengangguk dan ikut berdiri,mengantarkan Rania sampai kepintu....dan berbisik kecil.


" jangan marah dan takut pada ayahku ....beliau tidak bermaksud jahat padamu "

__ADS_1


" aku tahu,tidak apa pak Dion....." Rania mengucapkan kata sahutan yang sama mengandung begitu banyak penghiburan.....saling melempar pandangan penuh perasaan dan saling tersenyum.


" ujian pertama yang cukup manis " Yanuar berucap lirih ketika Dion kembali duduk disofa disebelahnya....memandang putranya yang menatap padanya dengan senyuman tawar.


" aku tidak terlalu berharap ayah terkesan pada Rania .....pembawaan dia memang sudah seperti itu " Dion berucap datar dan itu dianggukkan oleh ayahnya .


" hanya saja jika itu ujian sebagai calon istriku kurasa itu terlalu berlebihan.....yang akan menikah itu adalah aku,dan kurasa hanya kami yang akan menjalaninya "


" dia akan tinggal dirumah utama keluarga kita....Dion....kamu berpikir akan memisah dan tinggal dirumah yang berbeda dengan ayahmu ? "


" bukan begitu .....tapi ayah seperti keterlaluan memperlakukan Rania begitu....percayalah.....dia itu gadis yang baik...."


" ayah tidak pernah membantah itu " Yanuar menyilangkan kakinya,menyandarkan punggungnya.


" kamu berpendapat begitu,oke....ayah terima.....tapi pernikahan bukan hanya menyatukan dua kepala....tapi juga dua keluarga.....Rania harus bisa membaur dengan kita....dan harus bisa beradaptasi,dia tidak bisa ketika menikah dengan seorang CEO sepertimu,berpikir dunia sudah mengubahnya menjadi Cinderella,dia harus tahu kalau hidup tidak sesimpel "


" itu tidak sulit ayah " kata Dion masih dengan suara datarnya,sedikit tidak tenang menanggapi apapun pendapat ayahnya itu.


" Rania memiliki attitude yang baik....."


" kita lihat saja nanti.....kebersamaan dan waktu kalian akan membuktikan itu " Yanuar mengedikkan bahu,tidak membantah tapi juga tidak menerima anggapan anaknya itu.


" tapi ayah tidak ingin mengakui kalau ujian dari ayah pertama ini Rania lolos dengan hasil yang meresahkan bukan ? " Yanuar tidak menanggapi dengan komentar nya lagi,tapi dia menarik satu sudut bibir sedikit membentuk senyuman kecil.

__ADS_1


__ADS_2