KEKUATAN CINTA RANIA

KEKUATAN CINTA RANIA
BAB 37 : MAKE OVER


__ADS_3

Rania setelah berganti gaun malam yang sangat indah menurut jangkauan sebagian orang....ya...karena hanya sebagian wanita tertentu yang bisa memakai dan memiliki gaun edisi terbatas dan dengan model rancangan terbaru itu....rambutnya juga sudah ditata secantik dan seanggun mungkin...bahkan para kapster salon juga yang habis menyanggul rambutnya dan menperlihatkan leher mulusnya yang jenjang itu begitu terpesona pada lukisan maha karya sang pencipta untuk gadis itu....


Beberapa anak rambut bagian depan dibiarkan jatuh disamping sisi wajah dan digulung ikal,sedangkan rambut lurusnya disasak keatas,....di padankan dengan warna gaun hitam panjang berlengan sedikit menampilkan kerutan mengembang....dan memperlihatkan lekkukan setengah lingkaran dibagian kedua bahu,sehingga ketika memakai gaun itu....perancang busana harus memposisikan modelnya untuk mengenakan pakaian dalam atas yang tanpa tali....bagian bawah gaun yang memanjang sampai kemata kaki itu memiliki belahan sampai kelutut....dan para penata busana di butik itu juga memilihkan satu sandal tali dengan hak tinggi dan hanya sedikit meruncing dibagian bawahnya.....!


Darren yang melihat Rania berdiri dihadapannya sampai harus menelan ludahnya dengan susah payah dan mencoba mengalihkan perhatiannya dari Rania....tapi dia kesulitan melepaskan tatapan itu kalau dia harus bicara dengan Rania tanpa perasaan terpesonanya.


" bagaimana pak Darren " Rania menatap Darren dan kelihatan sangsi dengan penampilannya saat ini,dan dia meminta pendapat pada pria itu.


" Nona " Darren hanya sekilas berani menatap Rania lalu menatap kearah lain.


" kamu cantik....bahkan terlampau cantik " dia bicara dengan suara nyaris tercekik dan Darren memberi isyarat pada Rania agar mendahuluinya keluar dari ruangan salon itu.


" silahkan Nona " Rania tersenyum dan melangkah perlahan tanpa terburu-buru,dia khawatir kakinya yang tidak terlalu terbiasa menggunakan sandal yang walaupun tidak terlalu tinggi itu akan terjatuh nantinya... ...dan Darren mengerti keadaan nya itu,karena sebab itu lah dia menyuruh Rania berjalan didepannya supaya kalau Rania ada apa-apa dia bisa dengan cepat menolongnya.


" pak Darren...." Rania menolehkan kepala untuk bertanya pada Darren yang menyetir disampingnya.


" aku ingin tahu apa yang menjadi alasan pak Dion menyuruhku berdandan serepot ini ? tahukah dia kalau aku kesulitan sekali "


" maaf nona ....mungkin pak Dion hanya tidak ingin orang akan menilai nona berpenampilan asal-asalan di makan malam ini....karena mungkin akan ada banyak mata yang melihat keberadaan kalian dan juga mungkin beberapa kamera media " Darren menjelaskan tanpa menoleh kearahnya.


" dan ....kalau dia ingin memperlihatkan ku pada publik itu artinya ....." Rania tercenung lama,tidak berani meneruskan pemikirannya....khawatir ini hanya satu impian semunya.


" itu artinya.....pak Dion ingin serius dengan nona...." sahut Darren memberikan satu jawaban penuh keyakinan.


" Dan Nona bukan hanya akan terikat dengan pak Dion setelah ini,tapi itu juga sebentuk rencana kearah pernikahan .....jadi mulai sekarang nona harus mempersiapkan diri " Rania tercekat.....merasa luar biasa senang pada dugaannya yang ternyata merujuk pada kebenaran itu.


" aku seperti tidak percaya kenapa begitu cepat sekali .....bahkan kami baru saling mengenal dari kemaren "


," yah....itu tidak bisa kujawab dengan mudah nona,mungkin nanti nona bisa bertanya pada pak Dion "


"baiklah....pak Darren....jadi itu berarti aku akan keluar dan terbebas dari rumah itu secepatnya ? "

__ADS_1


" Hem " Darren mengangguk,kali ini dia benar-benar menolehkan kepalanya,sedikit menahan senyumnya,mungkin didalam hati kecilnya dia tahu Rania sedikit tertekan tinggal dirumah pinggiran kota itu.


" malam ini juga nona tidak dipulangkan kerumah itu ,mungkin tinggal diapartemen untuk satu malam,karena itu sangat melelahkan terutama bagiku,nona.....seharusnya pak Dion yang menjemputmu untuk ini kan ? tapi dia tidak ingin,dia mengkhawatirkan kemungkinan ada yang menguntit dirinya ketika menjemputmu itu....dan mengetahui keberadaan nona dirumah itu....itu untuk yang berencana berniat tidak baik pada nona,seperti orang-orang yang mengikuti nona malam kemaren ....." Rania mulai mengerti penjelasan Darren itu,dia tadi juga ingin sekali bertanya hal itu.....pada kenyataannya Darren menjelaskan tanpa diminta olehnya.


" ya....aku mengerti alasan itu pak...."



" nona....sebaiknya dilain waktu nona tidak usah lagi menyebutku pak ....cukup panggil Darren saja,lagipula....aku yang bekerja untuk pak Dion....dan nona tidak bekerja untuk aku " Rania menampilkan satu senyum tipis ,sikap keberatan yang dilontarkan Darren itu membuatnya memiringkan kepala,tidak menolak tapi juga tidak menerima.



" dan kamu pak Darren.....kenapa juga menyebutku nona.....aku cukup dipanggil dengan sebutan Rania saja,cukup itu....karena kamu tidak bekerja padaku,kamu hanya bekerja pada pak Dion .....dan kamu bukan bawahan ku " dia mencontek sebait kata yang diucapkan Darren....merasa sangat masuk akal Darren mengangguk membenarkan.



" baiklah....non....." Darren mengulum senyum saat Rania menahan tangan diudara seperti isyarat peringatan kalau barusan tadi dia ingin menyebut Rania dengan sebutan nona.



" itu baru siiip Darren " dan mereka saling bertukar senyum


########


Ternyata Rania dibawa oleh mobil yang dikemudikan Darren itu pada sebuah gedung perhotelan berbintang yang ditengarai itu adalah sentra cabang jalur bisnis Candra Corf itu sendiri,ketika Rania dan Darren melangkah kelobbby beberapa penjaga dan staff hotel setengah membungkuk hormat pada Darren sebagai orang penting kedua diperusahaan.



Dan mereka melangkah masuk menuju lift ekslusif yang meluncur membawa mereka ke lantai tertinggi yaitu lantai 15 dan berhenti di sebuah ballroom luas tempat pihak hotel bisa mengadakan sejenis event atau acara terbesar.


__ADS_1


Langkah itu sedikit dilanjutkan dan berhenti di sebuah restoran mewah hotel yang kapasitasnya hanya cukup untuk menampung 30 meja langganan VIP,dan saat itu hanya terisi setengah persen meja yang dipenuhi oleh pengunjung, Darren kembali seperti mengarahkan Rania menuju sebuah balkon luas terbuka dan disanalah satu meja tertata khusus untuk sambutan Dion pada Rania.



" Selamat datang dan selamat malam.....Rania " Dion sesaat lupa untuk merentangkan tangan dengan gaya khasnya untuk mempersilahkan dan menyambut Rania karena begitu terpukau pada kecantikannya....dan itu membuatnya kesulitan untuk berkata apapun selama beberapa jeda waktu kalau bukan Darren yang memecah kebisuan itu.



" pak Dion.....apa Rania tidak dipersilahkan duduk ? " mendengar itu Dion ingin memelintir mulut Darren yang memang seperti menertawakan kelakuannya serta ketidaknormalannya itu.



" yah .....setidaknya Darren....kalau aku yang melupakannya karena sedikit pangling pada kecantikan Rania,kamu yang mempersilahkan duduknya " kata Dion setengah kesal,lalu tersenyum pada Rania dan menarik kursi untuk diduduki gadis itu.



" hei....bukan aku kan yang mengundangnya " protes Darren tanpa sungkan,saat seperti ini mereka lebih terlihat seperti adik dengan kakaknya saja,dan itu terasa lucu bagi Rania yang baru melihat kedekatan mereka itu dihadapannya.


" seharusnya bersyukur sajalah kamu pak Dion,karena aku sudah membawakan Rania selamat sampai ketempat ini "



" Hem....kamu ingin mendapat hadiah apa dariku Darren ? " senyum Dion pada wajah bersungut Darren.


" bukannya tidak penting bagimu kan ? "



" memang tidak ada.....karena aku sudah terlampau kaya " Darren menggeleng setengah menggerutu dan melangkah berlalu dari situ.


" ya sudah....selamat makan malamnya,semoga menyenangkan " dan dia melambai juga pada Rania yang dibalas gadis itu dengan senyuman tertahan.

__ADS_1


__ADS_2