
" Biar kubawa kan " Darren yang melihat Rania sedikit keberatan mengangkat koper ketika menaiki tangga setelah mereka makan malam itu,bergegas mendekat pada Rania dan merebut tas koper yang ada ditangan gadis itu,tapi sikap nya itu dilihat Dion yang ada dimuka pintu,pria itu baru saja datang dari luar setelah berbicara banyak kepada para security tentang arahan tugas-tugas baru untuk mereka.
Dan Dion merasa kecut melihat tawaran kebaikan dari assistennya itu kepada Rania....campuran dari rasa kesal sekaligus cemburu karena sudah kedahuluan Darren yang berbuat hal itu pada gadis itu....dia hanya diam mematung memperhatikan mereka dari lantai bawah.
" hapemu aku pinjam dulu ya....pak Dion menyuruh ku untuk menyalin dan nanti dibuat menjadi file berbentuk memory kartu,nanti kalau sudah selesai aku serahkan ke kamu " kata Darren ketika tiba dimuka pintu kamar yang kata Dion Rania harus tidur disitu.
" iya.....tidak masalah,tapi...." Rania menyandarkan koper itu kedaun pintu,dan menatap Darren.
" memang kamu juga bermalam disini untuk malam ini ? " tanyanya menambahkan.....sepenuh harapan bagaimanapun dia sungguh seperti seseorang yang terbuang....
" iya....besok pagi kami baru kembali kekota ? kenapa ? "
" apa aku akan disini sendirian ? "
" tidak ....pak Dion memintaku mencari seseorang yang bisa membuatmu mempunyai teman " Rania merasa senang dan lega sekali mendengar penjelasan Darren itu,setidaknya Darren dan pak Dion memiliki karakter yang friendly....mereka begitu memahami dan begitu open berbicara kepada orang disekitar mereka.
" Mungkin besok siang baru akan datang seorang pembantu kemari,tadi aku sudah menelpon agen tenaga kerja....tidak masalah kan kalau selama menunggu kamu memasak sendiri ? "
" heiii....bahkan seperti tadi aku kan bukan orang kaya pak Darren ,setidaknya kalau untuk urusan memasak meski bukan lah ahlinya aku juga bisa seperti perempuan pada umumnya "
" OhYa.....kami sudah membuktikannya " Darren tersenyum ramah.
" Masakanmu lumayan juga....kelihatan sekali pak Dion juga menyukainya ......" dia setengah memuji pada Rania,dan gadis itu tersenyum ceria.
" dan bukan hanya aku,tampaknya Darren juga begitu menikmati makannya,bahkan begitu lahap sekali" Dion tiba-tiba muncul dan menyela percakapan itu....dan keduanya menoleh.
" Bukan begitu Darren ? " Dion menyandarkan tubuh pada pegangan sofa dan melipat kedua tangan didepan dada.
" yah.....pak Dion....itu memang benar kok " senyum Darren santai,lalu mengangguk permisi pada Rania.
" pak Dion....aku kekamarku dulu....mengerjakan rekaman di hape Nona Rania tadi " dia berkata pada Dion sesaat dan menunggu Dion mengangguk,lalu menuruni tangga,punggungnya beberapa lama dipandangi oleh bosnya itu sampai hilang dilengkungan tangga yang meliuk.
" kamu belum ingin tidur ? " Dion beranjak mendekati Rania sambil melihat jam tangannya ,hari sudah menunjukkan pukul satu malam,frekuensi memasak dan makan malam bersama tadi rupanya sudah memakan waktu satu jam lebih.
" iya....ini sudah mau masuk kamar....tapi " Rania ragu berbicara tentang pendapat yang akan diutarakannya.
" kamar ini terlalu besar....harusnya ini kamar pak Dion kan ? aku bisa tidur dikamar lain yang lebih kecil....bisa dibawah atau di salah satu kamar diatas ini"
__ADS_1
" tidak....kamu tidur saja dikamar ini " jarak antara mereka hanya tertinggal satu langkah dan itu mampu membuat Rania merasa jantungnya begitu berdebar....
" aku tidur dikamar sebelah " Dion tersenyum menambahkan.
" lagipula aku hanya disini malam ini saja....besok kami akan balik ke kota" Rania mendongak....dan melihat pada pancaran mata Dion yang begitu sulit diartikan....entah kenapa dia kesulitan membendung perasaannya.....mulai besok berarti dia akan sendirian....dan mungkin hanya ditemani seorang pembantu dan seorang assisten seumuran dia yang dipekerjakan Dion untuk menemaninya....entahlah...kenapa dia merasa akan berat merasakan kalau pria ini akan pergi darinya.
" pak Dion .....tidak....akan....kembali kesini lagi ? setelah malam ini ? " Rania tak bisa menahan untuk menanyakan hal yang menjadi ganjalan itu meski dengan suara tersendatnya....dia sungguh tidak berani menatap pria matang didepannya ini.....dan juga tidak peduli apa anggapan Dion setelah dengan begitu beraninya dia menyuarakannya....hanya saja dia merasa seperti tidak rela pria yang baru dekat dengannya ini meninggalkannya secepat ini.
" kenapa kalau aku harus kembali,dan apa alasan aku untuk tetap disini ? " pertanyaan Dion terdengar biasa saja ditelinga....tapi begitu sangat berpengaruh baginya....Rania mendongak .....memberanikan diri melihat ke mata Dion yang tetap tersenyum....tapi kali ini pandangan itu terasa ada yang berbeda....seperti kalau dia berharap tidak salah menduga.....pria itu juga begitu berat untuk meninggalkannya.
" tidak ada " sahut Rania dengan suara gugupnya....sedapat mungkin dia menghalau perasaan berkecamuk yang sulit dipahaminya.
" hanya sedikit berharap pak Dion akan lebih lama disini " dia menunduk lagi,dan tangan Dion tanpa bisa dicegah terulur lalu mengangkat dagunya agar Rania membalas tatapannya.
" aku juga ingin begitu Rania " Rania menatap pada mata pria itu.....kejujuran itu terlihat begitu berlumur oleh kerinduan seperti yang dia rasakan.
" tapi aku harus kembali walau ini akan sangat berat...karena jujur...." Dion berhenti,menarik nafasnya....
" aku menyukaimu " Rania tidak tahan untuk tidak tersenyum menanggapi ucapan apa adanya dari Dion itu.
" aku pasti akan merindukanmu....kelinci kecil yang imut " Dion tidak dapat menahan dirinya untuk mengacak mesra rambut Rania yang tergerai cantik dan begitu menggemaskan sekali....sungguh....dia sudah dari pandangan pertama di toilet tadi sangat tertarik pada gadis yang tentunya begitu jauh berbeda usia dengannya.
" Cantik juga....terlalu cantik malah....tapi kamu juga masih sangat imut....dan perlu didewasakan dulu "
" aku sudah 24 pak Dion "
" itulah....kamu sepuluh tahun di bawahku "
" memang kenapa kalau aku semuda itu ? "
" Rania....aku jadi seperti om-om untuk berondong sepertimu "
" karena itu pak Dion akan meninggalkanku besok ?"Rania mendesak pria itu dengan pertanyaannya.....dan Dion bukannya kelimpungan dituntut untuk menjawab pertanyaan seorang gadis cantik dia hanya tersenyum lebar dalam ketenangan.....memegang kedua belah pipi Rania....merasa gemas sekali pada bibir merah ranum nya yang sangat menantang itu....dan dia ingin memagutnya....tapi dia menyadarkan diri terlebih dahulu,dia menyukai gadis ini.....berterima kasih banyak hal padanya....ingin memilikinya....tapi bukan untuk merusaknya.
" aku balik kekota karena perusahaan dan tanggung jawabku didalamnya....dan aku juga harus mencari tahu serta menyelidiki bukti baru seperti yang kukatakan tadi...."
" dan kapan kembali ? "
__ADS_1
" mungkin satu Minggu...."
" tidak " Rania menggeleng....begitu kesal dengan jawaban itu....dia bergegas menarik kopernya dan ingin masuk serta menutup pintu,tapi Dion bisa membaca cepat pergolakan yang dia rasakan....ketika Rania ingin menutup pintu pria itu menahannya dengan kakinya....akibatnya pintu tidak bisa ditutup oleh Rania....dan Gadis itu akhirnya memilih menyerah....masuk kekamar tapj Dion ikut masuk kamar ,menutup pintu dan menguncinya....mendengar suara pintu dikunci Rania sontak berbalik terkejut dan lebih terkejut saat Dion bergerak perlahan menuju kearahnya dengan langkah kaki yang bisa di hitung iramanya,
" tidak apa ? tidak ingin aku baru kembali kesini setelah satu Minggu ? " Dion menantang Rania dengan pertanyaan baliknya....dan gadis itu tidak merasa gentar untuk menjawabnya.
" aku hanya tidak suka....berada disini tanpa kamu....walaupun nanti akan ada seseorang yang menemaniku....aku kesal setelah meninggalkanku disini....pak Dion pergi selama seminggu dan itu sulit kuterima " Rania berkata panjang lebar dengan suara gusarnya dan dia juga begitu terkejut pada kejujurannya itu.....bahkan Dion sendiri juga sangat dibuat terpana mendengar keterusterangannya itu.
" seluruh karyawan Anggara Global Corf bergantung pada keputusanku Rania dan ini bukan hal yang main-main....aku tidak mungkin dan tidak akan tetap tinggal disini meskipun aku ingin "
" Dan oleh karena itu....pergi saja " Rania berkata....dengan perasaan sesaknya....dia tidak bisa lagi membendungnya .....bisa-bisanya dia merasakan cinta dan ketertarikan yang begitu cepat pada seseorang.
" aku kan hanya mengatakan perasaan ku....artinya aku tidak pernah melarangmu....aku tahu siapa dirimu....kamu pettinggi perusahaanmu.....aku menyatakan kalau aku kesal karena mungkin kamu masih lama baru kembali kesini.....dan aku....aku.....pasti...." mata Rania sudah berlinang air mata .....memalukan sekali.....dia menangis didepan pria ini.....secepatnya dia berbalik dan memunggungi Dion .....dia merasa sakit tapi juga sangat malu.....seluruh perasaannya terkuak tanpa ada yang ditutupi dan itu membuatnya sedih.....dia sungguh tidak bisa menampilkan secuil saja harga diri....kenapa dia bisa sejujur ini ?
Dion sudah berdiri dibelakangnya.....memegang kedua bahunya yang tergoncang oleh karena isakan....sungguh dia merasa takjub sekaligus bangga bisa mengetahui perasaan Rania yang sejujur dan seterbuka ini padanya.....tapi....apa perasaan ini tidak terlalu cepat datangnya ? bisa jadi perasaan Rania hanyalah sebuah rasa simpati sesaat saja ....karena Dion yang melindunginya....dan pernah menolongnya ?
" kamu pasti merindukanku " Dion membalikkan badan Rania lembut,lalu menghapus kedua belah pipi gadis itu yang membasah oleh bekas airmata.
" itu kan kelanjutannya ? apa perasaanmu padaku Rania ? kita bahkan baru kenal malam ini ? " tanya Dion mengajuk hati gadis itu lebih jauh.
" aku....." Rania merasa tercekat....suaranya tidak bisa keluar....dia juga tidak tahu perasaan jenis apa yang melandanya sekarang....dia hanya merasa tidak rela kehilangan pria ini.....dia tidak sanggup Dion meninggalkannya secepat ini.....walau baru besok pagi....tetap dia kesulitan sekali.
" aku tidak tahu pak Dion " cetusnya nyaris tak terdengar.
" baiklah....anggap kita belum mengerti perasaan kita masing -masing.....jadi biarkan dulu perasaan itu tumbuh sampai kamu merasa yakin.....saat tidak bisa lagi tertahankan....dan belum sampai seminggu aku pergi....kamu bisa menelponku....dan katakan kamu merindukanku....maka aku akan datang...."
" kenapa harus aku yang menghubungimu lebih dulu....kenapa bukan kamu yang ingin datang kemari ? "
" supaya aku merasa yakin bahwa kamu sangat mengharapkan aku ada disini....dan kamu yakin.dengan perasaanmu bukanlah perasaan sepintas lalu....padaku "
" itu artinya....hanya karena aku memiliki perasaan padamu kamu baru kembali ? "
" aku akan tetap datang....karena aku tetap merasa harus mengetahui keberadaanmu disini .....apakah baik....tenang....aman....bahagia....sejahtera....dan setelah yakin itu aku balik lagi kekota....hanya untuk mencek situasi itu....."
" ya...." angguk Rania mengerti dan entah kenapa dia merasa kecewa dan itu tampak terlihat menurut pandangan Dion.
" pak Dion bertanggung jawab untuk melindungiku....karena aku memiliki rekaman itu....sebagai ungkapan terima kasih....." Rania memandang Dion dengan berani.
__ADS_1
" aku sudah tahu kebenarannya.....dan sudah mendengar jawaban pak.Dion....terima kasih untuk waktunya....sekarang pak Dion bisa keluar....aku sudah ingin tidur " ekspresi nya yang berubah secepat itu sangatlah mengherankan bagi Dion....dan dia tidak ingin mendesak lebih jauh....dia ingin memberi kelonggaran waktu bagi Rania untuk berpikir dan merenungkan semua yang dia rasakan.....
" oke...Rania...aku juga mau tidur....tidurlah yang nyenyak ya ? kalau ada apa-apa... kamu bisa mengetuk kamar disebelah...." Dion berkata lembut,sangat menghormati kerumitan yang dirasakan gadis didepannya ini.....mendekatkan bibir untuk mencium kening Rania lembut tapi gadis itu tidak bereaksi....seperti menutup diri !!!