
" besok aku akan membawamu pada ayahku,jadi itu sebabnya aku tidak akan membawa mu pulang kembali kerumah pinggiran kota itu,kamu tidak papa kan ?" kata Dion memeluk bahu Rania dari belakang,saat itu mereka berada di balkon salah satu kamar yang ada di hotel itu.
" kayaknya pak Dion tidak akan berpikir ulang untuk menunda rencanamu ini ? " mendengar akan dibawa kehadapan ayahnya Dion,Rania merasa sekelebatan hatinya yang mendadak menciut.
" bahkan entah bagaimana tanggapan ayah ku saat mendengar semua ini "
" setelah kita datang menemui ayahku,baru kita kerumah ayahmu,untuk meminta restunya.....aku bahkan berniat lebih ekstrem jika kemungkinan ayahmu tidak setuju kamu denganku,aku bersikeras untuk tetap menculik dirimu,hee...." satu senyuman dengan cengiran tidak serius muncul diwajah Dion kali ini.
" tapi kurasa hanya ada satu didalam sejarah dimana korban yang diculik merasa senang telah diculik,dan itu kamu Rania " Wajah Rania seketika mengerucut lucu,memiringkan kepala sedikit menoleh untuk dan melihat wajah Dion yang bertengger dibahunya.
" tampak sekali disini.....ada orang yang sangat begitu percaya diri menjadi seorang penculik.....sepertimu "
" ya....itu .....aku dan kamu .....yang satu senang menjadi penculik dan satu senang karena telah diculik "
" bagaimana kalau itu hanya pendapatmu saja,bagaimana kalau ayah pak Dion sendiri yang merasa dirugikan bertemu denganku ? "
" lalu itu tetap jadi permasalahan ?memangnya yang menikah itu aku atau ayahku ? "
" kuharap pak.Dion jangan naif deh.....yang namanya orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya "
" Dan yang namanya seorang pria jika dia sudah memiliki wanita yang pas sebagai teman hidupnya,maka tidak ada jalan didepan yang bisa menghalanginya " setelah mencium bahu Rania yang terbuka,Dion membalikkan tubuh gadis itu .....menatapnya dengan penuh kharisma.
__ADS_1
" percaya deh.....aku yakin ayahku tidak akan menolakmu,dan kalaupun ayahmu yang menolak aku,aku akan mengerahkan seluruh kemampuan terbaikku untuk bisa meraih hatinya " Rania menggeleng,merasa lidah nya terasa kelu.
" apa justru sebaliknya ya ? aku yang ditolak keluarga Anggara "
" kita lihat saja besok ya sayang.....karena....kita akan terlalu sibuk untuk memikirkan itu sekarang " Dion membungkuk dan refleks meraih kedua kaki Rania untuk menggendong tubuh gadis itu dan dibawa masuk kedalam kamar,dalam tempo kurang dari 5 menit cahaya lampu di kamar itu berubah jadi meredup yang berasal dari sinar lampu meja saja.
########
Setelah baru lima belas menit percintaan itu berakhir dan nafas kelelahan yang sedikit mereda,Rania masih dalam rengkuhan erat Dion dan dia menggunakan salah satu selimut dari bahan yang tipis dan lembut diujung tempat tidur untuk melap keringat yang masih membanjir ditubuh pria itu.....dan Dion melakukan hal yang sama,mengeringkan keringat ditubuh Rania dengan selimut yang sama.
Namun saat kesibukan itu hampir selesai,bunyi bell pintu berdentang beberapa kali,dan hal itu membuat Dion mengerutkan alisnya,heran....siapa ada orang selarut malam ini berani mengetuk pintu kamarnya ? apalagi dimana semua staff dihotel tahu kalau dia adalah pemegang saham terbesar di seluruh dewan pemilik saham untuk hotel berbintang ini.
" biar aku cek dulu " Dion turun dari tempat tidur,mengenakan mantel Piyama sejenis kimono tidur yang terlipat di meja samping tempat tidur juga,memang semua jenis perlengkapan terlengkap seperti hal itu disediakan oleh pihak hotel bagi yang menginap dengan bayaran termahal dikelas VIP itu.
Penasaran Dion memutuskan membuka pintu tapi tidak melepaskan rantai pengaman,melongokkan kepala keluar dari pintu sedikit,dan memang tidak ada siapa-siapa,apa hanya dia saja yang salah menduga kalau bell itu berasal dari pintu ini ? karena tidak tahan oleh rasa ingin tahu yang kental,Dion membuka pintu lebar,dan keluar dari pintu .....melihat - lihat kesegala arah....tapi tidak ada siapapun dilorong itu,berbalik dan terkejut saat melihat tulisan didinding samping pintu kamar,tulisan yang ditulis pada selembar karton tebal putih berukuran 50 × 40 Cm itu dan menggunakan spidol warna hitam,ditempelkan dengan perekat warna hitam itu.....HIDUPMU TIDAK AKAN TENANG LAGI & PASANGANMU AKAN BERADA DIBAWAH KENDALI KU !!!
Dion mengeraskan rahangnya dan meremas kertas itu setelah menariknya kuat dari dinding....bergegas masuk kekamar dan menutup pintunya,sesaat merasa kacau dan sedikit di Liputi gundah,berpikir keras....siapa orang yang berani sekali mengancamnya dikamarnya sendiri,ini sudah keterlaluan ......tapi dia teringat kalau lorong diseputar lantai ini menggunakan CCTV,jadi dia akan menyelidiki ini besok pagi.
Rania yang juga keluar dari kamar dan melihat Dion duduk disofa ruang tamu,bergegas mendekati pria itu,duduk disampingnya.
" siapa orang yang mengetuk pintu tadi pak Dion ? " tanya Rania mengusap lembut bahu pria itu.
__ADS_1
" tidak tahu juga " Dion menggeleng,melemparkan kertas tadi kebawah kolong meja,tanpa sepengetahuan Rania,dia tidak ingin membuat gadis itu juga ikut mencemaskan hal ini,nanti dia akan menchat Darren agar pagi-pagi sekali kemari untuk membahas masalah ini.
" tidak ada siapa - siapa diluar " Dion mengalihkan perhatian Rania dengan merangkul bahu gadis itu,lalu menyibakkan rambut terurainya yang terjulur kemuka bahu nya kebelakang punggungnya.
" mungkin tadi kita salah dengar,barangkali datang dari kamar sebelah " tentu saja itu sangat mustahil dan tidak benar,dia hanya mengarang alasan itu untuk menenangkan Rania.
" emang bisa ? " tukas Rania tidak percaya,memastikan itu dengan mengamati seluruh tekstur wajah Dion seperti mencari jawaban disana.
" ini hotel pak Dion....tidak mungkin bell pintu dikamar sebelah kedengaran sampai sini,pak Dion tidak sedang bercanda kan ? " tidak menghiraukan perkataan Rania.... Dion menarik pinggang gadis itu bermaksud menghentikan celotehannya dengan ciuman,tapi Rania mengerti maksudnya,menahan wajah pria itu,bergegas berdiri,dan ingin pergi dari sofa itu dengan mengulum senyum geli,sayangnya Dion lebih cepat tahu tujuannya,menghalangi langkah kaki Rania sehingga gadis itu ingin terjungkal kedepan karena kehilangan keseimbangan,tapi Dion lekas menarik tangan dan tubuhnya dan Rania jatuh dipangkuan pria itu,ingin memberontak dan melepaskan diri Dion membawa dan menggendongnya kembali kekamar,tidak memperdulikan Rania yang bergerak-gerak aktif dipelukannya.
" kamu kenapa sih tidak bisa diam gini " cetus Dion sedikit menggerutu....baru berada dimuka pintu kamar Rania memelas memohon minta diturunkan
" pak Dion ...aku mau pipis....kamu mau aku pipis di tubuhmu ini " Rania berucap iseng hanya untuk mengerjai Dion.
" ya sudah....sini aku bawa ketoilet " Dion berbalik tujuan,melangkah menuju kamar mandi dan baru menurunkan Rania ketika sampai di kloset,lalu berdiri di hadapan Rania tanpa pergi dari tempat itu,wajah Rania memerah,bukannya ingin pipis dia justru diserang rasa malu.... mendorong tubuh Dion agar keluar dari tempat itu.
" kenapa sih pak Dion ini,mau nonton orang pipis ? iya ? yang ada malah gak jadi kebeletnya "
" kalau orang kebelet itu ya langsung pipis aja " bantah Dion keras kepala,memasang tampang polos dan gaya seperti tidak mengertinya..... bersandar didaun pintu,bersidekap dan seperti menertawakan Rania.
" Dahlah.....nyerah...." Rania memilih menyerah,mengakhiri kebohongan jahilnya,beranjak ringan ingin melewati Dion yang masih berdiri didaun pintu,seakan tidak terjadi apa-apa,tapi Dion malahan dengan temangnya menutup daun pintu kamar mandi dibelakangnya,lalu menarik Rania kebawah shower air.
__ADS_1
" mumpung kita sudah dikamar mandi,jadi sekalian aja mandi barengnya " tentu saja setelah mengatakan itu tangan aktifnya tidak berhenti untuk bekerja dan menarik dalam satu kali sentakan tali mantel Piyama Rania dan miliiknya,lalu menarik Rania kedalam ciuman dan pelukannya dengan guyuran air shower hangat diatas kepala mereka.