KEKUATAN CINTA RANIA

KEKUATAN CINTA RANIA
BAB 38 : DION VS RANIA !!!


__ADS_3

" bagaimana perjalanan tadi ? ,maaf....harusnya aku yang menjemput kamu ,tapi aku khawatir nanti akan ada yang tahu dimana aku menyembunyikan kamu " Dion sebelum duduk ketempatnya,terlebih dulu menghamparkan saputangan makan dipangkuan Rania,dan menarik kursi tapi dengan jarak begitu dekat dengan kursi Rania,bukan dengan duduk diseberang meja atau berhadapan dengannya.


" tidak ada masalah....hanya saja ....." Rania tersenyum kecil,tertegun ketika mendapati Dion menarik tangannya yang terlipat dipangkuan,lalu menggenggam nya lembut....seperti sebuah isyarat kepemilikan.


" kenapa ? kamu tidak suka berdandan begini ? " Dion mengulum senyumnya....mengetahui apa yang ingin dikatakan Rania....dan gadis itu sedikit terkesima karena Dion bisa tahu yang tersirat pada pemikirannya.


" he...eh....aku kan tidak terbiasa seperti ini " Rania mengungkapkan apa yang dia rasakan dan berharap Dion memahami kecanggungan yang menerpanya saat ini.


" maaf deh...." Dion sekilas mengecup tangannya.


" ini kan makan malam diluar....ya ....sedikit berbeda kalau kita makan dirumah saja,orang - orang akan melihat kamu... dan bukannya aku lebih mengutamakan pandangan publik tentangmu,aku hanya ingin kamu menyeimbangkan dirimu kedepannya saat bersamaku diluar dan di dalam rumah....kalau di dalam rumah aku tidak akan mempermasalahkan ini....tapi kalau diluar....kamu harus membiasakan diri.....karena sayang....kamu setelah ini....bukan seorang yang sendirian lagi,.....kamu itu pasangan hidup aku....kamu itu nanti jadi bagian dari hidupku....istriku....segala tindak-tanduk kamu akan menjadi penilaian dan perhatian orang lain....baik buruknya kamu berpengaruh juga buatku...." Rania yang mendengar penuturan panjang Dion itu begitu tersentuh ....pada cara penjelasan lembutnya serta pengakuannya bahwa dia secara jelas akan dijadikan pasangan hidup pria itu kedepannya.


" pak Dion....sungguh,aku kesulitan harus bicara apa menanggapi ini " mereka hanya sesaat berpandangan dan membiarkan tiga orang pelayan menghidangkan makanan diatas meja


" OhYa. . .mungkin kamu berpikir ini terlalu cepat? "


Rania mengangguk,dia menerima saat Dion menyodorkan satu gelas tinggi dengan minuman berwarna merah dan mengajaknya bersulang....ketika meminum minuman itu dalam dua tegukan dan merasakan kesegaran juga kehangatan ditenggorokan dengan sensasi rasa yang sangat enak....dan masih menating gelas itu lalu ingin meletakkannya kembali kemeja didepannya pandanganya terpaku pada dua buah cincin didasar isi gelas yang diminumnya tadi....terperangah,bingung ....kenapa tadi dia tidak memperhatikannya.....menatap pada Dion yang memiringkan kepala duduk disampingnya itu,dan sedang memperhatikannya dengan meletakkan dagu ditelapak tangan yang di topang oleh siku diatas meja.

__ADS_1


" cincin ini ? " Rania merasa tercekik perasaan takjub dan luar biasa terkejut,ternyata benar apa yang dikatakan Darren tadi,pak Dion menyiapkan sesuatu yang sangat istimewa baginya dimalam ini,sebuah moment indah yang penuh kejutan.


" Coba aku ambilkan " Dion meraih satu sendok yang tertelungkup disamping piring beralaskan tisue,lalu memasukkan sendok itu kedalam gelas Rania dan mengeluarkan dua cincin itu dari dalam sana,dan meletakkannya ditisue,lalu melap kedua cincin itu untuk mengeringkannya,lalu memperlihatkan nya pada Rania.....cincin itu adalah perpaduan emas putih terbaik.....polos dan tanpa hiasan karena cincin itu memang dibuat berpasangan dan ada tulisan inisial kedua nama mereka disana dengan ukiran yang tercetak begitu rapi dan sangat menawan, D&R.


Dengan hati-hati Dion mendekatkan cincin itu pada telapak tangan Rania yang masih di genggaman dan memasukkannya secara perlahan Ke jari gadis itu,tepat dan pas sekali untuk ukurannya dan kedua nya berpandangan dengan perasaan tak bisa menutupi rasa takjub....bagaimana tidak ? padahal Dion memesan itu tanpa harus mencetak atau mengukur besar kecilnya jari Rania,melainkan hanya dengan insting me Reka biasa,ternyata bukan hanya sangat tepat....tapi juga karena mungkin Rania sudah ditakdirkan menjadi jodohnya.


" sekarang.....coba kamu pasang cincin satunya pada ku " Rania meraih satu cincin yang ukurannya sedikit lebih besar dari punya dia,lalu memegang jemari Dion lembut,dia tersenyum dengan pandangan yang sama lembutnya dan memasangkan cincin itu di jari Dion yang juga begitu pas melingkar disana....


" sekarang aku ingin bilang ....Rania....kamu mau kan menikah denganku " Rania begitu tak bisa menyembunyikan perasaan nya yang terharu itu....hatinya begitu meleleh menerima semua perlakuan itu serta apa yang dia dapatkan tanpa pernah sedikitpun dia impikan.


" pak Dion yakin ? " tanya Rania sedikit meragukan kesungguhan pria disampingnya tanpa jarak darinya itu.


" sama dengan yakinnya ketika kamu memberikan satu-satunya yang paling berharga didirimu " sahut Dion dengan tatapan lembutnya yang melumerkan setiap perasaan lawan jenisnya.


" Saat itu aku tersadar dan sangat tersentuh....kupikir untuk menikahi seseorang dan menjadikannya pasangan hidup kita seutuhnya tidak perlu harus menjalin hubungan dengan frekuensi waktu yang lama,ketika kita mendapatkan kesungguhan dari seseorang,cukup hanya dengan melihat......seberapa besar pertaruhan dia untuk memberi dengan ketulusan tanpa berharap apa -apa .....darimu aku belajar Rania.....bahwa saat memberi itu kamu tidak mengharapkan balasan dari orang yang kamu beri dengan hatimu yang begitu utuh,pancaran kebaikan mu mengubah sudut pandang ku dalam sekejap dan begitu cepat,hingga....saat ini....disinilah aku,kamu.....kita....! "


" Bahkan aku tidak mengenalmu dan kamu juga belum begitu mengenalku ,apa kamu yakin.....setelah mengucapkan ini ,kamu tetap akan bersamaku dan menjadikanku pasangan hidupmu ? " Rania sebenarnya ingin bicara banyak dan lebih dari ini disertai anggukan setuju tapi dia terlebih dulu ingin tahu beberapa hal.yang akan menjadi ganjalan mereka kedepannya.

__ADS_1


" apa yang membuatku tidak yakin padamu ? " Dion lagi-lagi hanya tersenyum penuh arti,seperti menyimpan banyak misteri.


" toh tidak ada yang kamu sembunyikan dariku....nyaris keseluruhan darimu.....siapa kamu,dan...." Dion mendekatkan bibir kedekat telinga Rania,membisikkan sesuatu yang membuat Rania terperangah dengan wajah merah.


" tubuh kamu dan tubuhku juga sudah kamu kenal kan.?...sampai semuanya tak ada yang tersisa....."


" maksudku bukan kejadian tadi malam pak Dion ? " ralat Rania menyatakan isi hatinya meski dengan sikap tersipu yang tidak bisa ditutupinya.


" lalu soal apa ? siapa kamu dan latar belakangmu ?" Rania mengangguk dalam keraguan.


" aku sudah tahu Rania " Dion menjawab seakan itu hanya hal biasa saja,dan tidak penting baginya.


" tahu apa ? " suara Rania sedikit bergetar mengatakan itu,mendadak dia diliputi rasa cemas.....tapi baginya jika pun Dion tidak tahu dia akan memberitahu pria itu siapa dia.....biar jika Dion berniat serius pada nya diantara mereka sudah terdapat gambaran yang jelas....bahkan sangat jelas.


" tahu kalau kamu karyawan di supermarket milik Herman Adithama....tahu juga kalau kamu staf dapur bagian catering untuk makan siang karyawan diperusahaan Arrayan Grup,itu sebabnya kamu bisa mendapatkan rekaman itu karena ketika aku dan Darren mencek percakapan mereka , itu adalah bagian gudang dan terletak disudut belakang perusahaan itu,dan yang lebih aku tahu....." wajah Rania yang sudah diliputi ketegangan semakin berada dalam hal yang menegangkan,Dion seperti menunggu reaksinya sebelum dia melanjutkan ucapannya lagi.


" kamu juga menjalin hubungan dengan Zericho Delvano,dan statusnya pernah kukatakan padamu kan,siapa dia....dan apa kaitannya dia dengan Rayyan dan Abian Delvano,sampai sini.....apa ada yang menurutmu masih kurang sayang ? " Dion menyentuh perlahan bibir kemerahan Rania yang dikasih pewarna lipstik senada dengan blush-on di pipinya itu,mengusapnya dengan gerakan jemari lembutnya.

__ADS_1


" lalu apa yang jadi masalah denganmu ? apa kamu pikir kita akan membatalkan pernikahan hanya karena latar belakangmu yang begitu berbeda denganku,tidak bukan ? " Rania terdiam dalam luapan kata seribu bahasanya.....ada seribu kelegaan ,ada seribu rasa senang.....dan ada seribu keyakinan.....ketika Dion melamarnya ini,bukanlah sebuah keputusan yang dilakukan tanpa pertimbangan,melainkan karena semua sudah memenuhi seleksi pemikiran yang matang.


__ADS_2