
Darren lelah setelah sepuluh menit duduk disofa dan dia beralih duduk didepan meja Dion,sambil memutar -mutar kursi,berpikir untuk mengajak Dion bicara tentang telpon nya tadi pagi....dia sengaja berdehem beberapa kali untuk mengalihkan perhatian Dion ini meski sekilas saja.
" kalau tenggorokanmu bermasalah sebaiknya kamu minum obat Darren,atau periksa ke dokter Mira " Dion menanggapi suara - suara yang dibuat Darren itu dengan tanpa mengangkat kepala,dan Darren kesal karena untuk mengurusi suara batuknya Dion bisa,masa untuk mengangkat kepala saja dia sangat malas sekali,jadi dia membuat situasi yang sedikit berisik lain,mengambil polpen tinta Dion diatas meja,lalu mengetuk meja dengan bunyi yang sedikit keras dalam ritme ketukan
" kamu kalau mau maen piano sebaiknya pulang kerumah dan tidak usah duduk di depanku kini,kamu cari saja kesibukan lain,kalau pekerjaanmu sudah rampung "
" ya sudah .....aku to the point aja" ucap Darren dengan wajah kesalnya.....dan seketika Dion mengangkat kepalanya
" kamu ini mau ngomong saja tumben sampai begini,biasanya gak sesopan ini...." Dion senyum tipis sendiri.
" kamu tadi pagi menyuruhku keapartemen untuk apa sih ? " kata Darren akhirnya membuka pembicaraan dicelah Dion yang ternyata tidak terganggu dengan kehadirannya.
" oh...iya " Dion memundurkan kursi terkejut ketika mengingat ini,dia menepuk jidatnya lalu bicara perlahan dengan tubuh dicondongkan kedepan.
" tolong selidiki CCTV yang ada dilorong kamar tempat aku menginap tadi malam " Darren melirik pada pintu kamar yang tertutup rapat disamping meja kerja Dion berada,berpikir mungkin Rania tidak akan mendengar pembicaraan mereka.
" memangnya kenapa ? "
" ada seseorang yang mengirimiku suatu pesan peringatan bahwa hidupku tidak bisa tenang lagi dan pasangan ku akan dibawah kendali seseorang " Dion menyandarkan tubuhnya,hanya sesaat untuk fokos bicara pada Darren lalu mulai menyibukkan diri lagi.
" aku pikir orang itu mungkin kah ada hubungannya dengan Abian Delvano ? atau bisa juga dari antek nya yang lain,masalahnya sepagi tadi ketika aku dan Rania akan berangkat kekantor kami bertemu dengan Richo disana "
" memang kamu mendapatkan pesan itu kapan dan seperti apa emangnya ? " Darren sangat serius pada cerita ini,dan dia ingin tahu lebih terperinci.
" tadi malam sekitar pukul dua belas....pintu kamarku diketok seseorang....."
" dan yang pasti orang itu sudah mengganggu kesibukanmu dikamar hingga kamu sekesal itu...aku benar kan ? " potong Darren setengah bersiul setengah sedikit bernada sindiran yang diiyakan Dion dengan tampang adem ....seperti tidak terkecoh atau keberatan
" sayangnya aku sudah selesai Darren dan tentu otak kotormu itu yang gantian kesal karena tidak jadi untuk menertawakan ku "
" masa.....kupikir sedang difase yang keenakan sekali "
" itu tidak harus kuumbar didepanmu,heh ? "
" aku jadi kepo sepertinya karena scene yang tadi malam terpotong oleh bunyi bell pintu,sehingga karena tanggung,kamu memilih melakukannya lagi disini ....sekarang "
" tebakanmu salah lagi teman.....ini bukan pengulangan ketidakpuasan,tapi pengulangan karena kecanduan"
" keterlaluan sekali kau " Darren bersungut gemas,tanpa sadar polpen ditangannya melayang dan terarah lurus untuk mengenai jidat Dion,tapi sayangnya keburu cepat di tangkis pria itu,dan polpen itu tidak jadi menimpa dahi Dion.
" tidak menyangka kamu seporno ini "
" senang saja memuaskan rasa ingin tahumu "
" OhYa .....? aku kok tidak merasa tersanjung "
" terserah kamu....aku tidak akan pusing memikirkan hal itu,tapi lebih dipusingkan ketika aku keluar dari pintu untuk mengetahui siapa orang yang melakukan itu ,ternyata tidak ada siapapun disitu "
__ADS_1
" semoga bukan hantu yah ? " Darren setengah berseloroh untuk menimpali ujaran Dion itu.
" lalu apa yang terjadi....kamu mendapat ancaman itu ? seperti pesan dikertas ? "
" ya....ditulis dikertas dan di plester di dinding "
" jadi menurutmu aku harus mendatangi penjaga CCTV ? "
" kurang lebih nya begitu.....tolong cari tahu apa ada juga Abian Delvano menginap dihotel yang sama "
" apa kamu berpikir dia yang melakukannya ? " Darren mengusap - usap dagunya,berpikir sungguh-sungguh.
" kurasa ini bukan gaya dia "
" iya juga sih.....tapi tidak ada salahnya mencari tahu,siapa di sangka kita bisa menemukan titik terangnya "
" wokey ....." Darren beranjak dari duduknya.
" ada lagi yang bisa kulakukan ? "
" kurasa....cukup itu dulu,supaya kamu ada kerjaan daripada bengong memelototi aku " Dion mengedipkan mata sengaja mempermainkan asistennya itu.
########
" ya ampun....pantesan gak keluar dari tadi " gumam Dion seorang diri,ketika membuka pintu ruangan khusus itu dan melihat Rania yang tertidur nyenyak dengan posisi miring dengan hand phone yang masih menyala,dia berjalan kedekat Rania dan duduk disamping gadis itu,mengusap rambutnya sesaat lalu menepuk-nepuk pelan pipinya untuk bermaksud membangunkan.
" maaf pak Dion....tadi aku merasa jenuh berada dikamar dan akhirnya ketiduran " Rania meringis kecil,mengusap wajahnya.
" sudah jam berapa ? aku tidurnya lama banget ya ? ayah pak Dion belum datang ? " cerocosnya beruntun
" ini sudah pukul 2, ayah sudah datang tapi masih ada evaluasi kebeberapa devisi tim eksekutif " Dion meletakkan dan menyusun bantal dikepala tempat tidur....menyandarkan diri disitu
" lagian kenapa kamu tidak keluar dari sini sejak tadi ? " tanya Dion setengah heran....sepanjang Darren sudah pergi mungkin sekitar satu setengah jam lebih Dion mempelajari semua berkas itu dia nyaris melupakan Rania yang tidak sedikitpun keluar dari kamar ini.
" kan ada Darren...." Rania menjawab dengan sedikit keluhan dalam nada suaranya.
" aku tidak enak dia melihatku dengan rambut basah tadi,ini kan kerjaan pak Dion juga sih...." Rania bersungut dengan wajah polos yang disetel cemberut.
" coba tadi ayah pak Dion ada "
__ADS_1
" biar aja ayah tahu rambut basah kamu,kan biar cepat dapat restu kawinnya." sahut Dion ringan saja,dan itu membuat Rania gemas dengan jawaban entengnya itu tanpa memperdulikan betapa malunya dia.....Rania mencubiti pinggang Dion yang tertawa.
" kok aku disalahin seh ? salahin juga kamu ....kenapa mau aja diservis Mulu "
" lah kok....tadi sudah berontak gitu pengen dilepasin....pak Dion yang keras kepala " saking menahan gregetan Rania terus-terusan menerjang Dion tanpa ampun....dan Dion sekuat tenaga menangkis serangannya ,dan memegang kedua lengan Rania agar tidak lagi mencubitinya.
" iya ....iya deh ...ngaku salah .....aku yang mulai tadi kan " Dion memgusap-usap rambut Rania yang sudah agak kering.....
" habis kamu sih.....kelewat cantik....dan bikin nagih " Dion berbisik ditelinga Rania,dan Rania tersipu dengan wajah kemerahannya.
" harusnya tadi kamu ingetin aku bukan dengan kekerasan,cukup bilang gini.....bang....bentar lagi ayah datang....kan malu " Dion melagukan ucapan yang dia keluarkan,setengah memberi Rania sedikit pelajaran bagaimana cara menghentikan dirinya kalau sudah ada keinginan.
" ya sudah " Dion merapikan anak yang rambut Rania yang meriap kesamping telinga.....dia beranjak turun dari ranjang dan mengulurkan tangan pada Rania agar menyambutnya.
" kita ke kantin bawah perusahaan atau makan diluar didekat perusahaan sini ? kita sudah melewatkan makan siang Lo ? " ajaknya pada Rania yang sudah turun sambil memegang genggaman tangannya.
" pak Dion....nih aku kasih tahu rahasia perut lapar ya " sahut Rania dengan ocehannya yang berkesan manja.
" kalau perut sudah nyanyi-nyanyi mau makan apa kek selama itu jenis makanan yang mengenyangkan ya....tidak masalah lah....intinya...."
"ya makan.....gampang kan ? " Dion terkekeh mengacak rambut Rania lucu.
" aku kan mau nawarin seleramu aja Sukanya yang mana "
" gak ada batasan...." Rania menggoncang tangan Dion agar menghentikan langkahnya.
" kalo kita pergi makan terus ayah kamu datang gimana ? "
" tinggal titip pesan pada Friska .....buat apa juga punya sekretaris "
" kalau Darren ? "
__ADS_1
" dia itu asisten yang tugasnya banyak banget " dan Rania ber oh panjang dengan jawaban jelas Dion itu.