KEKUATAN CINTA RANIA

KEKUATAN CINTA RANIA
BAB 50 : PERTANYAAN PENTING


__ADS_3

" silahkan diminum ayah " Rania membawa dua buah cangkir dengan minuman yang berbeda di nampan yang dia suguhkan didepan Yanuar dan Dion Anggara....satu minuman kopi untuk Yanuar dan satu lagi susu coklat hangat untuk Dion dan ini sangatlah mengejutkan terutama bagi Dion karena dia heran darimana Rania tahu minuman yang dia sukai,dan meski tadi dia tidak minta dibuatkan oleh Rania,gadis itu begitu bijaksana dengan membuatkan dua minuman dan terkhusus satu untuknya juga.


" kok kamu tahu minuman aku sayang ? " tanya Dion menatap Rania yang menata cangkir itu diatas meja,satu didepan ayahnya,dan satu lagi didepan dirinya.


" kan gampang....aku tinggal tanya Friska....cukup bertanya biasa dia buatin pak Dion minuman apa " sahut Rania lirih melirik pada sang calon ayah mertua yang masih memperhatikannya sebegitu mendetail nya.


" Bukan berarti kamu minta dibuatkan Friska ? " tanya Yanuar menatap sangat intens dan itu disahut oleh Rania dengan gelengan kepala.


" tidak....ayah bisa bertanya pada dia " Rania menyahut dalam senyum dan suara ketegasannya.


" baguslah " Yanuar meraih cangkir kopi itu....mengendus harum baunya....lalu mencicipinya sedikit,pas sekali....sesuai dengan seleranya.


" bagaimana ayah ? ayah suka kopi buatan calon istriku ? " tanya Dion dengan nada ingin tahu dan sedikit menyelidik.


" lumayan " Yanuar menyimpan pujiannya tanpa mengumbarnya....dia meminum lagi kopinya beberapa tegukan....kopi ini Rania meraciknya dengan air hangat yang pas dan tidak terlalu panas,jadi dia bisa langsung meminumnya tanpa harus mendinginkannya sebentar.


" kamu pintar juga membuat minuman ? kamu dapat keahlian dari mana ? " tidak tahu apa hanya sekedar bertanya saja atau memang dasar ingin tahu,pertanyaan itu tertuju untuk Rania saja, Rania menjawab pun dengan ringan dan sederhana saja tanpa bermaksud mengada-ngada.


" biasa buatin ayah aku,tapi ayah tidak suka yang pahit .....ayah selalu ingin kopi dengan tiga sendok teh gula " Yanuar mengangguk-angguk.


" sekarang ayah kamu dimana ? bersama kamu kan ? "


" tidak.....ayah tinggal diluar kota " Rania menyebutkan kota tempat dia berasal dan dilahirkan ....sebenarnya itu hanya sebentuk pertanyaan biasa yang Yanuar sendiri sudah mengantongi jawabannya,dia hanya ingin mendengar jawaban kejujuran dari Rania dan itu yang dia perlukan.

__ADS_1


" berhubung saya bekerja disini....jadi saya mengkos untuk mencari jarak dekat dengan pekerjaan "


" OhYa " Yanuar kali ini semakin gencar bertanya layaknya seorang wartawan.


" memang kamu kerja apa ? " pertanyaan itu terasa semakin mempersulit dan menyudutkan Rania,Dion tahu ayahnya tidak mungkin tidak menyelidiki soal gadis ini,ayahnya hanya ingin membuat Rania bersikap jujur tentang pengakuan siapa dirinya.


" ayah....kurasa itu tidak penting ayah tanyakan bukan ? toh tidak ada hubungannya dengan urusan pernikahan " Dion mencoba mendahului untuk menjawab kegundahan Rania....tapi tetap Rania tidak menunduk dan menjawab untuk menyambungi ucapan sekaligus pembelaan Dion itu.


" aku bekerja di dapur kantin perusahaan Arrayan Gruf dan sorenya bekerja di supermarket pak Herman ayahnya Leonel " sangat jelas....dan tak bermaksud menutupi suara Rania terdengar begitu gamblang dan berani


" ooohhh ....." Yanuar membentuk huruf o dari bibirnya yang tidak terlalu terkejut,justru Dion yang sangat salut pada keberanian Rania itu tanpa merasa malu sedikitpun mengungkapkan identitas dirinya.


" seperti bumi dengan langit " komentar itu membuat keduanya mendadak terasa perih....tapi Dion yang lebih dulu mengabaikannya.


" hanya ada satu pertanyaan untuk Rania dan aku sebagai ayah mertua tidak membutuhkan jawaban itu sekarang.....anggap satu pekerjaan rumah kecil yang harus Rania pikirkan " Yanuar berucap tegas dan sangat berwibawa,tapi kali ini dia menyunggingkan senyum yang tidak terbantahkan,sengaja dia memutus ucapan Dion itu....Rania yang semula menundukkan kepala,mau tidak mau kali ini mengangkat kepalanya lagi .....menatap dengan keberanian yang sama,meskipun dia agak sedikit gentar juga.


" apa yang membuatmu tertarik untuk menikah dengan putraku ? bukan karena statusnya saja ? kekayaannya ? atau ada sesuatu yang kamu lihat dari dalam dirinya yang membuat kamu dan dia nantinya bisa tetap berlayar mengarungi biduk rumah tangga.....tolong beri ayah jawaban itu....dan ...." Yanuar Anggara berdiri,mendekat pada Dion yang juga bangkit dari duduknya,menepuk bahu Dion sesaat dalam kehangatan.....dan sekali lagi mengalihkan pandangan pada Rania yang masih terkesan syok dengan satu point' pertanyaan penting itu.


" jawaban mu itu adalah jawaban yang akan menentukan masa depan kalian....karena Rania....aku ...menilai seseorang bukan dari mana dia berasal dan siapa dia saat ini....tapi dari kepribadian dia .....kita bertemu lagi besok malam dirumah utama ....dan kamu Dion.....tolong bawa Rania besok kerumah kita,untuk makan malam....tapi kalau bisa Rania yang membuat menunya untuk kita semua,kamu bersedia kan Rania ? " Yanuar memberikan satu pertanyaan lagi yang kali ini tidak bisa untuk tidak diindahkan oleh Rania.


" tentu ayah " jawaban yang berkesan tidak keberatan dan Yanuar sangat terkesan pada jawaban lugas dari Rania itu.


" Hem....,ayah suka dengan jawabanmu itu " mungkin disituasi itu hanya Dion yang tampak terlihat begitu tegang sekaligus sangat lega bersamaan dan dia berada diposisi penengah dimana keduanya terasa tidak ada yang bisa dia kedepankan.....keduanya begitu penting sekarang ....dan itu membuatnya tidak bisa memilih yang mana yang harus dia lebih utamakan,tapi satu hal yang tidak dia abaikan begitu saja....ayahnya tentu memiliki maksud yang baik untuknya dan juga Rania,karena dia tahu siapa ayahnya !

__ADS_1


########


" kamu okey ? " Dion yang masuk kembali keruangannya setelah mengantarkan ayahnya sampai kelobby muka perusahaan,duduk disamping Rania yang masih duduk diam di sofa yang sama.....terlihat antara galau dan tertekan.....dia tahu perasaan Rania dan itu sangat dimengerti nya.


" ayah memberi kamu pertanyaan itu bukan berarti ayah tidak menyukaimu.....ayah hanya ingin lebih mengenal kamu " Dion mengusap bahu Rania yang dalam rangkulannya.....seperti sebuah penghiburan dan sebentuk dukungan.


" dan satu hal yang pasti.....kamu cukup menggunakan seluruh kekuatan perasaan kamu untuk bisa menjawab dengan benar pertanyaan dari ayahku itu ...jadi kamu tidak akan berkecil hati....kalaupun nanti jawabanmu tidak berkenan bagi ayahku ....bukan berarti aku tidak akan melanjutkan niatku untuk menikah denganmu " Rania menoleh.....menatap Dion sungguh-sungguh dengan segala sinar mata yang Dion bisa mengartikannya tapi dia tidak berani menebaknya sebelum Rania sendiri nanti yang mengatakannya.


" memang pak Dion.....yakin tetap akan menikahiku sekalipun nanti jawaban ku tidak sesuai dengan keinginan ayah dan harapan pak Dion sendiri ? " Rania memandang Dion intens


" atau karena pak Dion menikahiku karena tidak tega sudah terlanjur mendapatkan aku ? dan berpikir tidak mungkin meninggalkanku ? " Dion hanya tersenyum samar.....tetap merangkul bahu Rania.


" kamu akan dapat jawabannya ketika kamu juga memberikan jawaban dimalam yang sama atas pertanyaan dari ayahku " Dion mendekatkan bibir untuk mencium kening Rania lama.


" dan aku yakinkan kamu.....jawabanku mungkin tidak akan mengecewakan kamu " dia berdiri dari duduknya setelah sekali lagi memeluk Rania,melihat pada jam tangannya,sudah mendekati jadwal berakhirnya para karyawan dari pekerjaan mereka.


" kamu tunggu aku sebentar disini ya sayang " seperti ragu untuk meninggalkan Rania sendirian lagi.


" aku ada yang ingin dibicarakan dengan Darren....kamu mau nunggu sebentar kan ? "


" pergilah......aku juga ingin merenung dulu " senyum Rania yang di angguki Dion dengan senang hati.


" biasalah....santai aja .....tidak usah berpikir terlalu keras....karena jawaban itu simpel kok...." hibur Dion ketika berjalan kepintu.

__ADS_1


" aku tahu....aku memang betul- betul hanya ingin bersantai pak Dion " dan kali ini Rania benar-benar sedang mengerjapkan mata dengan gaya sederhananya yang membuat Dion terbuai oleh perasaannya.


__ADS_2