
" jadi kamu sebenarnya bekerja di perusahaan pak Dion ? " tanya Rania ketika dia dan Emira berbincang lama dan pada akhirnya gadis didepannya mengungkap siapa dirinya.
" lalu kamu disuruh pak Dion menemaniku disini ? " masih pertanyaan seputar diri Emira,dan sekali lagi Emira mengangguk mengiyakan.....pembicaraan itu sama sekali tanpa diselimuti kekakuan,dan mereka
berdua dengan gampangnya mengakrabkan diri.....tapi dia merasa aneh dan terasa janggal dengan sebutan dari Rania untuk bos besarnya itu,haruskah Rania tidak menyebut suaminya dengan sebutan yang lebih spesial seperti beb atau sayang misalnya. ....kenapa sangat terkesan formal sekali seperti antara sebutan bawahan terhadap atasan atau untuk seseorang yang lebih tua dan sangat dihormati.
" eng....nyonya " Emira bingung harus berbicara apa terhadap perasaan sedikit anehnya itu.
" aku bingung ....." Emira menggigit bibir bawahnya,kesulitan harus bicara bagaimana agar tidak menyinggung Rania.
" kamu masih menyebutku Nyonya...." Rania pura-pura mendelik tidak suka,merasa gemas pada tingkah Emira....dia mendekatkan telinga kepada gadis asistennya itu,dan berbisik lirih....seolah-olah orang yang sedang akan dia bicarakan berada disitu.
" bahkan hidung pak Darren tidak tertinggal disini " sontak mendengar pengucapan polos Rania itu membuat keduanya terpingkal geli....dan mereka sama-sama melirik seakan ingin menertawakan CCTV diatas sudut ruangan itu
" Jadi stop bersikap seformal itu....aku tidak ingin temanku menyebutku Nyonya atau nona....."
" baiklah....tapi aku khawatir ini akan jadi kebiasaan dan terbawa ke tempat umum " Emira membantah,dengan menyembunyikan senyum.
" nanti aku akan dianggap asisten yang tidak tahu diri,menyebut kamu seperti bukan antara majikan dengan bawahan....dan aku ngeri membayangkan pak Darren akan mengeluarkan matanya dari tempatnya karena memelototiku " dan Rania tergelak lagi,bahkan dia tak tahan untuk tidak menanggapi ekspresi lucu Emira yang menirukan gaya Darren bersuara tadi.
" Biarkan saja begitu.....toh kamu bukan bawahan ku....kita berteman kan ? hanya saja disaat kita berdua kita saling sebut nama.....dan di tempat yang ada pak Darren dan pak Dion kamu harus terbiasa menyebutku sesuai perintah dan peraturan bos kita .....paham ?" Rania seperti memberi wejangan yang disengajakan dan Emira menganggguk-angguk patuh dengan wajah merasa lucu....dan mereka saling tertawa lagi.
__ADS_1
" Bos .....? kita ? " Emira mengeja kata itu ,mengulangi kalimat yang diucapkan Rania padanya....tertahan beberapa waktu disela tawa renyah mereka,sedikit mencerna sebelum melanjutkan ucapannya.
" Maksudnya kamu terbiasa memanggil suamimu dengan sebutan bos? atau pak ? bapak....? " Rania yang awalnya masih tertawa dengan mengeluarkan sedikit air mata senangnya dan dia cepat-cepat menghapusnya dengan satu lembar tisue yang dia ambil di meja seketika tertahan oleh sikap bungkam pada pertanyaan jeli Emira yang sulit dia alihkan.
" Bukannya biasanya orang akan memanggil dengan sebutan spesial terutama pada pasangan hidupnya,seperti sayang.... Beby ...atau apalah hal sebutan lainnya " dan pernyataan lanjutan itu terasa menohok Rania,wajahnya seketika merona merah oleh salah tingkah,dia seketika gelagapan....gugup dan tak tahu harus menjawab apa dan beruntungnya sikapnya itu tidak terlanjur parah karena terselamatkan oleh panggilan video call dari Dion di hape terbarunya dengan kartu nomor berbeda dari nomor Rania yang sebenarnya di hape miliknya sendiri,rupanya Darren sudah memprogram hape itu dan mensave nomor pak Dion dilayar hape itu dengan tulisan suamiku.....melihat itu Rania terkejut setengah mati....dia memang sejak membuka hape itu dari kotak hapenya tadi tidak berniat mengutak-atik atau mengetahui nya lebih lanjut,seluruh perhatiannya dan keinginannya semenjak Darren pergi tadi hanya untuk berakrab ria dengan Emira,sehingga mengabaikan keberadaan hp itu yang hanya sempat dia keluarkan dari pembungkusnya....dan hanya dia lihat sepintas lalu saja.
" hai sayang " Rania semakin tidak bisa menutupi rona merah wajahnya yang tersipu ketika menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan dari Dion itu,Emira yang berada duduk tak jauh darinya seperti sudah mendapat jawaban yang tepat dari bahan pertanyaannya tadi.
" apa kamu menyukai hapenya ? atau kamu tidak suka pada fitur-fiturnya ? kalau iya....aku bisa menyuruh Darren untuk menggantinya " Rania gelagapan diberondong dengan pertanyaan seperti itu....dia melihat Dion duduk seperti disebuah sofa.....begitu santai dengan kaki menyilang nya dan punggung yang disandarkan,pembawaannya itu persis ketika dia berada dirumah Rania tadi malam.
" ka....kamu....kenapa menyebutku ....." Rania terhenti,menahan ucapannya,menyadari bahwa dia tidak sendiri,ada Emira juga disitu.....dan dia tidak ingin mengubah image Dion yang menganggapnya sebagai nyonya Anggara dan atau sebagai pasangan hidup palsunya.....tentu ini akan membentuk satu pertanyaan tambahan lainnya dari gadis itu....jadi Rania memilih berkompromi dengan kemauan pria itu....terlihat Dion mengedipkan matanya yang dipahami Rania bahwa mereka harus bersandiwara.
" iya ....sayang " sekali lagi wajah Rania bersemu,tapi dia memaksakan senyum nya dan itu dibaca Dion....sebagai ketidaksetujuan gadis itu.
" yah....aku senang kamu ternyata begitu menyukainya....OhYa....sekarang aku masih dikantorku ....apa kamu ingin melihatnya sayang,nanti kapan -kapan kamu harus masuk kesini dan mengetahui dimana suamimu bekerja ini " Dion berkata dengan polesan suara yang merdu dan sangat khas serta seperti menantang Rania untuk tergoda lebih jauh....tapi gadis itu juga membalasnya dengan sama renyah dan hangatnya,toh....dia mencoba tidak akan terbawa suasana,ini hanya sebentuk sandiwara didepan Emira.
" iya sayang....coba perlihatkan padaku " sesungguhnya Rania juga memang merasakan rasa penasaran bagaimana tahta kerajaan Anggara global Corf itu....dan Dion memamerkannya,mengarahkan kamera pada suasana ruangan kantornya yang begitu luas dan megah itu,melebihi tempat rumah sewa Rania untuk ukuran besarnya itu....dan dia terpana takjub.
" kenapa ? terlalu besar ? " tanya Dion dengan senyuman merasa lucu oleh sikap terpesona Rania.....
" hum....sangat " Rania mengangguk setuju dan hal itu membuat ekor kuda dari rambutnya yang diikat itu jadi bergerak dengan begitu menggemaskan dan Dion tak bisa untuk tidak menahan hasrat gregetannya....untuk....menyelesaikan gadis itu dalam sekejap mata.
__ADS_1
" kurasa aku tidak cocok berada disitu " gumam Rania lagi dengan suara tertahan.
" kata siapa sayang....oke....kamu memang tidak cocok berada disini,ini bagian ku " Dion meralat dengan senyuman gemasnya.
" kamu cukup menikmati dirumah saja dan melayaniku ,kamu paham.kan ? " Dan lagi-lagi ucapan penuh makna itu membuat Rania merona tersipu....menutup kamera hape dengan perasaan malu,dia menoleh pada Emira yang begitu takjub dan terpesona ditempat mendengar semua percakapan penuh cinta itu,sekalian menutup perasaan ingin tahunya yang terasa janggal tadi.
"Bisakah kamu tidak membicarakan ini ? " Rania seperti memperingati Dion .....setengah merendahkan suara dan berbisik....mengerjapkan mata dan itu sanggup membuat Dion seperti ingin terbang langsung ketempat itu....merasa tidak tahan pada gaya polos Rania yang sangat meluluhlantakkan dirinya.
" terutama karena aku tidak sendiri "
" iya....sayang aku tahu kok....tapi tidak apa kan....Emira bukannya sudah seperti temanmu ? seharusnya kamu tidak canggung lagi dengan posisi pasutri baru seperti kita .....yang masih dalam suasana hangat-hangatnya "
" pak Di....." Rania menutup mulutnya,membungkam ucapannya yang lagi-lagi ingin menyebut Dion dengan tambahan nama depan bapak....dan dia meringis melihat pada Emira yang tercengang.....lalu mengatur suaranya kembali,bersikap senetral mungkin.
" sayang...maaf.....sulit sekali bagiku mengubah panggilan lajang kita,aku sering melupakan kalau kamu suamiku "
" lain kali biasakan ya ? " Dion sekali lagi tersenyum,tapi kali ini dengan suara penuh penekanan dan sarat ketegasan.
" iya....aku coba ya "
" Hem....baiklah sayang....bersenang-senanglah dengan Emira dan jangan lupakan aku "
__ADS_1
" siap bos .....jangan cemaskan hal itu " Rania tersenyum.miring dengan gaya hormat yang dilebih-lebihkan dan Dion tertawa,memberikan ciuman jarak jauh sebagai salam perpisahan sebelum panggilan video call itu dimatikan,dan Rania hanya bisa menghembuskan nafas dalam kelegaan sekaligus rasa senang.....untuk hal ini dia mengakui dia kesulitan untuk tidak terbawa suasana hati pada sandiwara manis ini....memang hanya sebentuk sandiwara bagi Dion,tapi bagi Rania dia begitu menyukai perannya dan amat sangat menikmati seperti dia adalah istri Dion Anggara sesungguhnya !!!