
Pukul 06 : 12 menit.
Dion terbangun karena alarm jam dimeja samping tempat tidur yang berbunyi,meraba kesamping tapi tak ada Rania,melihat kesekeliling kamar,dan seluruh jendela serta tirai sudah dibuka gadis itu,pintu menuju balkon pun sudah terbuka.
Dia bergegas turun dari tempat tidur mencari Rania keluar kamar karena di kamar mandi dia tidak mendengar gemericik air.
Tapi ketika seluruh ruangan dia periksa tetap tidak ada Rania,dan itu seketika membuatnya khawatir,kembali masuk kekamar dan mencari hape Rania serta hapenya sendiri,keduanya ada diatas meja samping tempat tidur.
Mulai gelisah karena tidak ada tujuan kemana harus menghubungi Rania,Dion kembali keluar kamar dan ingin keluar apartemen siapa tahu Rania berniat mencari udara segar dipagi hari,dan pintu terbuka dari luar disertai munculnya Rania dengan menenteng dua kantong belanjaan.
" Ya ampun Rania.....aku begitu mencemaskan mu " Dion bergegas menyampiri Rania dan memeluk tubuh gadis itu.
" kamu dari mana saja ? " dia beralih menatap kantong belanjaan dari supermarket di apartemen ini.
" sepagi ini kamu belanja ? memang supermarket nya buka 24 jam? "
" iya....awalnya aku juga hanya nebak saja,kupikir aku harus membeli sesuatu untuk dimasak pagi ini " Rania berjalan ke dapur di ikuti Dion yang merebut kantong belanjaan itu darinya.
" tapi kamu tidak harus memasak sayang....aku bisa tinggal Mesan,atau kita bisa mencari sarapan diluar " kata Dion yang mengeluarkan belanjaan itu dari kantong pembungkusnya......beberapa adalah bumbu masak dalam kemasan tapi juga ada bahan mentah yang masih segar seperti sayuran dan ayam,dan daging segar.
" kamu lupa kata dokter tadi malam,minimal dua hari tidak boleh beraktifitas fisik " Dion sembari mengingatkan Rania,yang tetap hanya menanggapi dengan anggukan kepala santai.
" iya tahu.....tapi aku hanya memasak pak Dion,bukan ngerjain hal-hal aneh ataupun jenis kegiatan yang berat,masa tidak boleh ? " bicara seperti itu tangan Rania sambil bekerja dengan cekatan,menakar beras kemasan ukuran satu kilogram yang tadi dibelinya dan menuangnya ke rice cooker,dia mencuci beras itu dibawah keran air.
" aku tidak terbiasa duduk diam saja " dia memberikan alasan tepatnya dan kali ini sepenuhnya mengarahkan tatapan pada Dion.
" aku bukan simbol putri cinderella....yang nasibnya langsung berubah seperti seseorang yang harus serba dilayani,aku terbiasa mengerjakan segala sesuatu untuk kebutuhan ku sendiri,dan aku ingin bertanya apa itu salah ? pak Dion tidak setuju ? " mata Dion tanpa sadar memancar penuh haru,itu maksud jawaban dari ucapan yang ditegaskan ayahnya kemaren di kantor,dan ternyata Rania cerminan sosok yang diharapkan Yanuar Anggara itu.....Rania telah memiliki karakter kuat itu,tanpa harus dibentuk.....dia sudah menjiwa didalam dirinya dan meskipun Rania tidak ingin diperlakukan seperti seorang putri tetaplah itu tidak bisa menenggelamkan Kharisma seorang putri pada dirinya,sebab sebuah berlian tetaplah akan berkilau sekalipun dia terbenam di kubangan lumpur.
" Rania " refleks Dion meraih gadis itu kedalam pelukannya,menenggelamkan wajah di puncak kepala Rania,dan mencium rambutnya.
" aku hanya tidak mau kalau itu menyusahkan dirimu ,aku ingin kamu menikmati saja posisimu sebagai pendamping hidupku dan hanya fokos melayaniku "
__ADS_1
" bukannya memasak juga sebentuk pelayanan untuk kebutuhan makanmu,pak Dion ? "
" tapi itu kan bisa dikerjakan orang lain,pembantu atau pelayan ? "
" terus bagaimana kalau pelayan itu sakit atau terjadi hal - hal tak diinginkan ? cari penggantinya ? memang bisa dapat yang instan ? "
" kan bisa mesan atau makan diluar dulu ? "
" masa tiap kali ingin makan sesuatu atau butuh sesuatu untuk dimakan harus keluar rumah dulu? atau Mesan dulu ?,atau untuk hal yang paling ringan saja....misal,ingin masak mi instan ....haruskah memanggil pembantu dulu ? " setiap alasan yang dilontarkan Rania penuh dengan penekanan ketegasan yang membuat Dion mau tidak mau jadi membenarkan.....dia diam dan sekali lagi membandingkan dengan ucapan yang ditekankan ayahnya kemaren.....persis sama dengan yang dibahas Rania hari ini.....seorang wanita meskipun nanti dia menerima takdirnya memiliki seorang pria kaya yang mampu memberinya puluhan orang pembantu sekalipun untuk melayani rumah tangganya,tetap dia tidak bisa mengabaikan kodratnya sebagai perempuan yang sudah bersuami dan jadi pengatur urusan rumah tangga suaminya.
" kalau begitu apa gunanya uangku untuk menggaji pembantu ? " tanya Dion lugas.
" pembantu.....itu yang kumaksud ? mereka tugasnya membantu,hal yang berat menjadi ringan.....setidaknya konsepnya menurutku begitu....tapi tidak semua harus mereka yang mengerjakan....dan kita cukup duduk diam,rasanya aku tidak bisa menerapkan hal itu,aku sungguh tidak bisa ....." Dion memegang kedua pipi Rania yang tampak begitu serius itu mengemukakan alasannya.
" i love You Rania " cetus Dion dengan satu kalimat itu,dan Rania terpana.
" aku mengagumi cara berpikir kamu "
" aku tidak menolak kamu mempekerjakan pembantu untuk mengurus kebersihan rumah yang terlalu besar itu,dan mustahil kukerjakan sendiri,terkecuali untuk urusan dapur ini,entah kenapa rasanya ada yang berbeda kalau aku menikmati olahan masakan orang lain ....aku tidak terbiasa dengan lidahku.....jadi biarkan ini jadi bagianku .....bukan berarti aku mengenyampingkan peran pembantu itu sendiri,tapi rasanya senang saja mengerjakan hal ini "
" yah ....." Dion mengangkat bahu,mulai setuju.
" ini bukan bermaksud memuji Lo....dan kamu jangan ge er dulu....menurutku dan Darren, masakanmu patut diacungi jempol " senyum Rania sontak mengembang mendengar pujian yang blak-blakan itu.
" sayangnya aku sudah ge er pak Dion " Rania berseloroh sambil tersenyum simpul dan tahu kan setelah itu dia mendapat akibat apa ?....jawabannya tentu dengan ciuman bertubi-tubi dari Dion pada seluruh wajahnya.
#########
Dipukul setengah delapan pintu apartemen diketuk disaat Rania sudah selesai menghidangkan sarapan diatas meja dan hanya tinggal memanggil Dion yang tadi sesaat membantunya di dapur lalu masuk kekamar berencana untuk mandi.
" hai Nyonya ? " sapa Emira lebih dulu dengan wajah cerianya dan Rania langsung menyambutnya kedalam.pelukan senangnya.....Darren yang berdiri disamping Emira hanya bisa geleng-geleng kepala,menurutnya kalau dua wanita sudah bertemu mereka seperti memiliki kehebohan tersendiri,dan dia melangkah masuk lebih dulu untuk duduk diruang tamu,tapi bau harum masakan yang masuk melalui indera penciumannya membuatnya mengendusnya dengan sepenuh perasaan dan melupakan niatnya untuk duduk itu.
__ADS_1
" mendadak.aku merasa lapar " Dion yang keluar kamar tersenyum mendengar ocehan kecil Darren itu.
" apa kamu membuatkan sarapan untuk kita Rania ?" dia beralih pada Rania yang setengah tertawa.
" tentu saja Darren.....bahkan Rania membuatkan spesial untukmu,dia bela-belain bangun pagi untuk berbelanja dan memasak sesuatu " kata Dion sekenanya ,dia yang menjawab pertanyaan sang asisten yang tertuju pada Rania itu.
" lagipula Darren .....apa kamu pergi kemari di perjalanan tidak mampir dulu untuk sarapan ? memangnya bibi pembantu tidak membuatkan sarapan pagi untukmu "
" BI Yati mungkin berpikir toh Nyonya Rania tidak ada,jadi dia tidak akan memasak sepagi itu " yang menjawab adalah Emira memberikan alasan untuk Darren.
" pas makan tadi malam.....aku lupa untuk memberitahu bibi agar bangun lebih pagi dan membuatkan sarapan untuk kami " Darren beranjak ke dapur lebih dulu bahkan mendahului si tuan rumah sendiri.
" memangnya kamu tidak bawa uang untuk mampir di rumah makan pinggir jalan ? " tanya Dion dengan keheranannya mengikuti Darren dibelakangnya,Rania dan Emira menyusul setelahnya.
" sayangnya masih belum pada buka tadi sepagi ini,ada warung tepi jalan yang buka tapi sudah mendekati akhir,tinggal dua kilo dari apartemen ini,menurutku tanggung,biar aku sekalian sampai sini dulu,dan ingin makan bareng kalian saja " Dia berjongkok dan membaui seluruh masakan yang terhidang dimeja,duduk lebih dulu dan dengan gaya mempersilahkan pada semua yang ada disitu.
" aku lebih merasa itu cuman modusmu yang ingin makan gratisan" Darren hanya mencibir kecil disindir seperti itu.
" dan kenapa aku lebih melihatmu seperti orang yang tidak bertemu makanan seminggu " Dion menatap Darren seperti aneh,dan Darren hanya menyeringai,menarik kursi disebelahnya agar Dion duduki.
" duduklah dulu tuan muda " Darren bergaya seperti menghormati atasannya itu,seperti ingin melayani Dion dengan bermaksud menuangkan nasi ke piring pria itu,tangannya sudah meraih sendok nasi tapi didahului oleh Rania yang justru menyendokkan nasi terlebih dulu pada piringnya dan berkata pada Dion.
" sayang....aku mengatur piring Darren dulu ya ? kasian dia....seperti tidak sabar lagi untuk menghabiskan semua makanan ini " dan Dion hanya terkekeh mendengar nada sindiran Rania kepada Darren itu.
" ya Rania " Darren hanya tersenyum receh menanggapi,tanpa merasa tersinggung sedikitpun,sangat merasa tersanjung dilayani oleh Rania seperti itu,bahkan Rania juga yang menyendokkan lauk diatas nasi pria itu.
" kapan lagi menikmati makanan buatan seorang nyonya ? " katanya menambahkan dan mulai menikmati suapannya.
" kamu tenang saja Darren " sahut Dion membiarkan Rania yang mengatur piring makannya.
" karena ketika Rania sudah berada dirumah utama,dia sendiri yang akan memasak untuk kita,dan itu sudah jadi kesepakatan bersama khususnya aku dengan Rania
__ADS_1