
" kamu tidak papa sayang ?" Dion yang memeluk pinggang Rania dibalik selimut yang menutup tubuh mereka,menyibakkan rambut sepunggung gadis itu kebelakang,dan dia mencium lembut bahu Rania,saat itu tangannya melingkar rapat dari balik tubuh Rania yang memunggunginya,gadis itu merasa lemah,lelah dan sangat mengantuk,membalikkan badannya.....Rania hanya menggeleng,sedikit tersenyum dan meraba luka yang dibalut plester didada Dion itu.
" lukanya tidak bermasalah ? "
" tidak ada " Dion tersenyum dan mencium kening Rania,entah kenapa perasaan sayang itu semakin menyelinap kerelung hatinya
" Ra....Nia ? Ara ? " Dion lagi-lagi tersenyum manis.
" sepertinya kamu cocok dipanggil apapun....karena kamu sangat cantik....tapi aku akan memanggilmu sayang saja " wajah Rania memerah....memalingkan mukanya dan menelungkupkan kebantal,begitu malu....,tapi Dion justru menghujani wajah nya yang tersembunyi sebagian itu dengan ciuman-ciuman kecilnya.
" sayang.....coba liat aku " Rania tak bergeming....dia sangat merasa sulit menampakkan wajah tersipunya itu didepan Dion sedekat ini bahkan tanpa jarak sama sekali,terutama setelah beberapa menit kejadian yang menggetarkan tadi.....karena Rania tidak bereaksi,Dion membalikkan wajah gadis itu lembut agar melihat padanya....mengusap sedikit sisa keringat didahi Rania,lalu menggantinya dengan ciuman bibir sesaat.....dan Rania langsung tersentuh luar biasa oleh kehangatan dan kelembutan yang dia dapatkan....perasaan nya kian menggumpal.dilumuri oleh cinta.
" aku ingin bertanya sesuatu " Dion menyorot Rania dengan sangat dalam ,lembut dan sepenuh perasaan.
" ya .....soal apa ? " Rania tidak tahan untuk tidak memegang kedua pipi Dion dan menyentuh setiap inci wajahnya dengan belaian jemarinya....dia begitu menyukai wajah ini....sejak dia melihat Dion pertama kali ditebing itu,lalu dimulai pada perkenalan mereka ditoilet dan semuanya terpampang begitu manis dalam ingatannya.
" apa tadi masih sakit ? " mata Dion menyorot sedikit cemas....dia berusaha melakukannya dengan lembut....tapi tetap saja....untuk gadis seperti Rania itu adalah pengalaman pertamanya dan tentu efeknya akan sangat membekas bagi dirinya.
" iya " Rania mengakui dengan jujur,dia sudah memberikan satu - satunya kebanggaan wanita pada Dion....tanpa paksaan dan haruskah dia menyesalinya ?
" maaafkan ya sayang " Dion menggesekkan hidung nya kehidung mancung Rania.....berucap setengah berbisik.
" semoga aku tidak menyakitimu "
" hanya itu yang ingin pak Dion tanyakan ? "
" bisakah kamu mengubah panggilan mu itu sayang ? "
__ADS_1
" kenapa ? pak Dion keberatan ? aku senang menyebutmu begitu "
" OhYa....apa karena aku terlalu tua untukmu " alis Dion naik menampakkan wajah pura-pura kesalnya dan bibirnya merengut,tapi Rania justru semakin ingin meledeknya.
" yah....apa kamu mau kupanggil om saja ? "
" Rania sayang " tegur Dion,menarik tengkuk Rania,dan memagut bibirnya kuat,sesaat mereka saling berciuman sebelum saling melepaskan.
" kamu senang sekali ya mengajakku bercanda ?"
" bukannya itu baik agar kita awet muda dan tidak cepat tua " Rania tertawa kecil,dan Dion tidak membalas ucapannya,memilih mengerjainya dalam hal lain....bibir pria itu bermain diseluruh lehernya dan sedikit memberikan gigitan kecilnya,Rania sedikit mengeluarkan era**an tertahannya.
" kurasa sering-sering saja kamu berbuat seperti ini,agar aku juga semakin sering menghukummu " kata Dion parau seperti sebuah peringatan,.....ciumannya mulai merambat turun....dan untuk kali ini tentu tidak tertahan kan lagi,memeluk tubuh Rania yang melengkungkan tubuhnya untuk lebih rapat dan mendekapnya erat.....ciuman itu kian liar dan lebih menyalakan api.....ketegangan itu Semakin kian meninggi.....berubah sekejap seperti voltase lampu berkekuatan maksimal....dan penyatuan itu kembali terjadi.....bahkan kali ini berulang kali.....sampai keduanya kehabisan tenaga.....
Meski sangat lelah dan tak mampu lagi untuk membuka mata,Rania mencoba menyegarkan diri saat Dion menggendongnya kekamar mandi dan mereka berendam diri di bath -up air hangat selama beberapa waktu.....sampai selesai mandi dan Dion menggendongnya sekali lagi ketempat tidur dengan Masing -masing hanya menggunakan kimono mandi dan sama -sama terkapar oleh rasa lelah dan kantuk yang menyerang,tertidur saling berpelukan dan waktu yang sudah menunjukkan pukul satu malam.
########
Hati-hati dia menjauhkan tangan Dion dari atas tubuhnya dan menurunkan kaki ....merasakan nyeri dibagian tertentu,di titik sensitif tubuhnya,berjalan perlahan....mencari-cari arah suara hape yang berbunyi....dan itu ada datangnya dari arah celana panjang Dion yang tergeletak sembarangan dilantai....juga baju tidurnya sendiri dan semua pakaian dalam mereka berserakan kesana kemari dilantai disekitar tempat tidur.....Rania membungkuk dan memunguti semua pakaian itu,lalu mengambil hape Dion yang sudah berhenti berdering....dan enggan untuk membuka dan mengetahui siapa yang menelpon....ketika dia akan meletakkan hape itu di meja rias deringan panggilan itu kembali berkumandang....Rania melihat tulisan yang tertera....Darren !
" ya pak Darren " mau tidak mau Rania tidak mungkin membiarkan hape itu terus berbunyi dan dia memutuskan untuk mengangkatnya.
" Nona " Darren tidak meneruskannya ucapannya....sudah tahu dan menduga apa yang terjadi tadi malam.....tidak mungkin kan Rania mengangkat hape Dion kalau mereka tidur dikamar yang berlainan ?
" ehm...." Rania juga tidak tahu harus bicara apa.
" apa aku bangunkan pak Dion nya dulu ? "
__ADS_1
" dia Masih tidur ? " tanya Darren sedikit tidak enak.
" iya....aku akan bangunkan dia setelah ini ...."
" iya....karena kami ada rapat seluruh staff hari ini .....tolong ya nona.....pak Dion harus menyetir satu jam lebih belum nanti terjebak macet "
" aku tahu....makanya aku sudah ingin membangunkannya "
" baiklah....aku menelpon ini khawatir dia melupakannya dan terlambat bangun "
" tentu Darren...." pembicaraan itu terputus....Rania meletakkan hape Dion di meja rias kembali,dan berjalan kesisi tubuh Dion yang masih terlelap.....lalu menggoncang tubuh pria itu perlahan.
Dion membuka mata dan melihat Rania yang memegangi tubuhnya untuk membangunkannya....mengerjap beberapa kali....dan merasa senang bahwa pagi-pagi begini melihat senyum gadis ini di sampingnya.....bukannya langsung bangun,dia cuman bergerak untuk memindahkan kepala keatas pangkuan Rania,memeluk dan bergelung manja pada perut gadis itu.....dan tangannya melingkar lagi memeluk Rania.
" hei....aku membangunkanmu bukan untuk tidur kembali ,tadi Darren menelpon mu....katanya ada rapat pagi ini " mata Dion seketika terbuka lebar....dan dia mendongak melihat pada wajah Rania yang menunduk dan menekan kedua pipinya untuk menyadarkannya agar secepatnya bereaksi dari sikap bangun tidurnya itu.
" iya....aku tahu " Dion melenguh malas,sekali lagi merapatkan wajah pada perut Rania,menciumnya dan Rania menggeliat karena geli oleh ciuman itu.
" pak Dion.....apa kamu ingin pensiun dari predikat CEO mu " sentuh Rania ringan menyelipkan candaan.
" Hem.....aku ngin sekali membawamu kembali kekota bersamaku,setidaknya aku akan lebih bersemangat menjalani pagi ini " Dion sedikit mengeluh,bangun dari sikap rebahannya tadi....dan mendaratkan satu ciuman sekilas kepipi Rania yang agak terkejut mendapati sikapnya itu,dan Dion mengulum senyum sambil turun dari tempat tidur.
" sayang....tolong ambilkan pakaianku di meja ruang tamu selama aku mandi ya " pesan Dion sebelum tubuhnya menghilang dibalik pintu kamar mandi,tapi belum sempat Rania mengangguk,pria itu memunculkan wajahnya lagi di pintu
" Rania .....sebenarnya ada yang ingin kutanyakan....tapi nanti saja saat kita sarapan " Rania mengerutkan alisnya heran tapi belum sempat memberikan tanggapan Dion kembali menghilang terhalang dinding kamar mandi.
#########*********##########
__ADS_1