
Belum lama sepeninggal Bi Yati,Rania memutuskan turun kelantai bawah rumah mewah itu,melihat sekelilingnya......dan ingin duduk disofa ruang tengah.... tapi dia melihat sekelebat bayangan Bi Yati yang bekerja didapur dan memutuskan mendekati wanita itu.
" Tidak usah memasak berlebihan bibi....cukup untuk kita saja,dan aku akan mencek berapa orang security yang ada disini,biar kita bisa menikmati makannya bersama " tapi wanita tua itu menoleh....mendadak wajahnya berubah seperti takut mendengar Rania bicara seperti itu dengan posisinya sebagai Nyonya.
" Bibi...kenapa menatapku seperti itu ? " Rania merasa bingung melihat ekspresi wanita itu.....dia mengambil satu pisau dari tempatnya yang digantung didinding dan berdiri di samping Bi Yati,membantunya memotong bahan yang akan dimasak....tapi Bi Yati cepat-cepat merebut pisau itu dari tangannya.
" Nyonya....rumah ini ada CCTV nya,nanti saya dimarahi Tuan kalau melibatkan Nyonya Didapur ini ,karena keseluruhan kejadian disini akan terekam" Rania menarik nafas tenang,tersenyum perlahan seperti menenangkan wanita itu.
" Bibi....kata bi Yati tadi bibi akan patuh pada perintahku kan ? " Bi Yati menyorot kian heran,dan dia terperangah melihat Rania mengambil pisau baru diluar dari yang direbutnya tadi,dan dengan gaya sederhana serta begitu luwesnya kembali mengerjakan pekerjaan yang harusnya menjadi tugasnya.
" Nyonya....jangan....Nyonya....tolong....nanti saya akan....."
" Bibi tidak akan dipecat,kalau aku tidak setuju bibi dipecat....pak Dion tidak akan sembarangan memecat orang kalau aku menyukai orang itu,jadi bibi tidak perlu mencemaskan itu " jelas Rania tersenyum tawar.
" Sekarang biarkan aku membantu bibi....dan jangan memikirkan hal-hal sepele begini,kalau bibi dimarahi oleh pak Darren atau pak Dion....aku yang akan bertanggung jawab ....." Rania mengusap pundak wanita itu....tersenyum hangat.
" jadi bekerjalah dengan tenang....karena sekarang bibi bekerja pada ku....dan aku akan melakukan apapun yang aku suka " Bi Yati hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saat menerima kekeras kepalaan Rania terhadapnya....tapi jauh tersembunyi didalam hati kecilnya dia begitu mengagumi sosok gadis cantik ini,bayangkan....kedudukan nya sebagai nyonya terhormat dirumah ini....dia seorang majikan....tapi dia malah seperti senang membantu ART nya mengerjakan tugasnya....bukannya ini jadi sesuatu yang langka ? dan sulit menemukan.ada Nyonya seperti ini ?
" Baiklah Nyonya ....saya hanya tidak mau nyonya menyusahkan diri " akhirnya pembantu tua itu menyerah....kembali mengerjakan tugas memasaknya itu dengan perasaan yang campur aduk tidak menentu....dan Rania hanya meliriknya dengan sesekali tersenyum
" Kita akan masak apa Bi ? " dia bertanya basa-basi disela percakapan santai mereka itu,lebih seperti percakapan antar sesama teman dan bukan dari seorang majikan pada pembantu....karena Rania juga merasa dia bukan nyonya dirumah itu.
" Nyonya mau dibuatkan apa ? " karena itu bahan makanan dalam bentuk daging pilihan....Rania berpikir sementara waktu.
" Bibi bisa buat semur ? kalau tidak....biar aku yang membuatnya....bibi cukup membantu "
" bisa nyonya ....bahkan sangat bisa "
__ADS_1
" bagus sekali bi " senyum Rania terkembang dan pujian nya itu menimbulkan kesan tersendiri lagi di hati pembantu itu.
" Bagus sekali apa ? " kemunculan Darren yang tiba-tiba di dapur itu sangat mengejutkan Rania....dan dia tersenyum cerah sekali,akhirnya dia tidak menelpon pria ini untuk sebentuk pertanyaan tersimpannya tadi,tapi hal itu berbeda dengan tanggapan wajah Bi Yati yang kelihatan amat sangat gugup....dia mengkhawatirkan reaksi Darren melihat si nyonya rumah yang sekarang memasak didapur,dia menunduk....dan tak berani sedikitpun mengangkat kepala,bersiap pasrah kalau Darren akan memarahinya....tapi justru berbeda....Darren hanya tersenyum sekilas pada tingkah kaku dan tegang pembantu itu lalu melihat pada Rania dengan duduk di pantry dapur... mengamati gadis itu dengan segala pesona yang dia pamerkan.
" ini pak Darren....kami akan makan malam....dan menu utamanya sepertinya daging....dan aku menyukai karena bibi ternyata sangat bisa membuatkan daging semur yang kuinginkan " Rania menjelaskan,hanya melihat Darren sesaat....lalu kembali menyiapkan segala kebutuhan yang diperlukan untuk memasak itu.
" wah...benarkah ? sayang sekali.sih.....aku mungkin tidak sempat menikmatinya,karena akan langsung balik ke kota,walaupun sangat ingin " sahut Darren dengan suara antusiasnya....dan itu merupakan kejutan berharga juga buat bi Yati....wajah wanita itu tidak terlihat seperti tadi,sepertinya bi Yati begitu lega mendengar suara-suara hangat Darren itu yang mengobrol dengan Rania....ternyata benar apa yang dikatakan si nyonya....kecemasan dia tidak ada artinya....begitu menurut alam pikiran si Bibi.....
"kenapa terburu-buru sekali ? " sahut Rania juga dengan wajah menyayangkannya.
" bukannya menurut aku setelah masak daging ini....kita nikmati saja,tanpa perlu harus menunggu malam hari,dan kurasa tidak akan lama "
" bisa jadi " sahut Darren tanpa kepastian,dia ingin sekali memenuhi perkataan Rania,tapi dia khawatir Dion lebih membutuhkannya lagi setelah ini....dia melihat jam tangannya.....kalau dia mengemudi super cepat dan tepat pukul lima sore setelah setengah jam berbicara dengan Rania dia akan tiba di kota.....dan bersiap untuk tugas selanjutnya.
" kita lihat keadaan dulu "
" tidak Nona "
" Lalu ? "
" aku hanya tidak mau ketika dia membutuhkanku aku tidak ada tepat waktu "
" ouuhh" sahut Rania sedikit membeo....mengangguk beberapa kali.
" nanti aku yang akan menelpon pak Dion sebagai perijinan untukmu "
" tidak usah dan terima kasih Nona " cegah Darren cepat,dia tidak mau Rania melakukan itu....meskipun kemungkinan Dion tidak akan mempermasalahkan hal itu,tapi itu juga dirasa akan sangat berlebihan terutama nanti dia tidak ingin sang bos salah tanggapan pada nya dengan Rania.
__ADS_1
" sekarang bisakah nona meninggalkan pekerjaan itu,biar Bi Yati yang mengerjakannya....aku ingin bicara dengan nona sebentar " dia berkata seperti sebuah permintaan yang disuarakan begitu sopan tapi juga lebih sebuah perintah yang tidak bisa diabaikan.
" oke....tunggu sebentar,aku mencuci tangan dulu " Rania berjalan kewastafel cuci piring dan sambil bicara dengan Bi Yati dengan menolehkan kepalanya.
" tolong bantu selesaikan ya Bi....aku mau bicara sama pak Darren " ucapan itu terasa menghangat di hati wanita itu......dia buru-buru mengangguk .
" memang sudah jadi tugas saya Nyonya " dan Darren yang mendengar sebutan Nyonya pada Rania itu tak urung tersenyum sedikit dari pancaran wajahnya,tapi Rania sempat melihat nya dan itu terasa sangat menggelikan sekaligus menggemaskannya padahal dalam hati dia ingin melabrak Darren saat ini....tapi dia masih mencoba menahan diri,dia ingin tahu lebih lanjut alasan Darren yang meminta pembantu itu menyebutnya dengan sebutan memukau itu....Nyonya....satu istilah terhormat dari seorang pembantu kepada majikan nya....dan itu sangat meresahkannya.
" ayo Darren ....kamu ingin bicara apa padaku ? " Rania beranjak meninggalkan Darren lebih dulu keluar dari area dapur luas itu.
" pertama....aku membawakanmu hand phone terbaru atas perintah pak Dion membelikannya untuk kamu " Rania sesaat terhenti....dan mengangguk tapi tidak memberikan tanggapan lebih lanjut.
" lalu apalagi ? " mereka sudah sampai keruang tengah dan berhenti.....Rania memutuskan ingin bicara disitu saja.
" aku membawakan seorang gadis sebagai temanmu " Rania sekarang berubah.....penasaran sekaligus senang.
" OhYa ......sekarang dimana dia ? "
" masih diluar "
" aku ingin menemuinya "
" tidak ....biar aku bawakan kemari kehadapan nona "
" baiklah.....tapi sebelum itu....jawab dulu satu pertanyaan dariku " Rania berucap datar pada Darren yang bersiap menanti ucapan dia selanjutnya.
" ya ....apa ? "
__ADS_1
" kenapa kamu menyebutku Nyonya Anggara pada bi Yati tadi ? "