
"Ra, kamu nekat banget sih ngelawan Iza."
"Sebenarnya aku tidak ingin melawan, tapi bagaimana lagi" ku keluarkan sebuah buku gelatik kecil dengan tebal empat ratus lembar.
Sebenarnya aku merangkum sebuah karangan yang ku pertanggungjawabkan pada Dayat untuk mengetik supaya novel ku tetap up.
"Tapi aku salut sama kamu, kamu berani dan menang."
"Ya, kebetulan saja sih."
"Ran, kamu kan alumni. Kamu pasti tahu banyak tentang Ponpes ini."
"Sedikit sih, kenapa tidak tanya Mbak Dahlia saja. Dia juga hampir enam tahun di sini, aku malah baru mau masuk tahun ke empat."
"Ya, beda cerita lah. Ini kan menurut kamu, bukan Mbak Dahlia. Bagi pengalaman mu."
Malam ini ku habiskan bercerita ria dengan Rani. Dia hanya menceritakan kekasihnya yang tidak sengaja bertemu di ekskul yang mereka ikuti. Rani juga atlit karate semenjak kelas dua Mts.
"Memang ekskul pencak silat apa aja di sini.'
"Semua jenis ada, semua ada atlit-nya."
"Keren, aku jadi ingin ikut."
"Yang atlit-nya belum sampai ke kabupaten hanya PSHT. Disana banyak peluang dari pada yang lainnya. Dan satu hal lagi kursi putri masih kosong. Pelatihnya belum menemukan kandidat putri di PSHT. Soalnya belum ada yang handal."
"Oh ya?"
"katanya sih. Kalau kamu bisa menempati kursi perwakilan bisa berangkat ke kecamatan 5 bulan lagi bersama ku."
"Kamu mewakili lagi?"
"Iya Ra, di sini jarang yang mau mengikuti yang ekstrim."
Akibat rasa kantuk yang menyerang, kami menyusul Dahlia yang sudah tertidur pulas.
Pukul tiga dini hari, aku hanya mencuci muka dan sikat gigi. Jam segini di Ponpes sudah ramai, antri mandi sudah berlangsung sedari pukul dua dini hari. Meski pun setelah mandi ada yang tidur lagi. Demi mandi rela bangun sepagi itu.
Tas berisi perlengkapan tidur ku taruh di atas tumpukan tabung gas depan dapur. Dapur terletak di samping kiri ndalem.
Tugas ku hanya membantu mengupas bawang, kemudian mengiris terong. Kebetulan menu pagi ini terong balado. Kami hanya membantu, dua santri Mts dan dua santri SLTA, kami bertiga karena aku ta'ziran. Yang memasak pokok sudah ada yang bertugas. Tugas itu atas keinginan sendiri bukan paksaan. Kami hanya sekedar membantu. Biasa di sebut Mbak Janggem, entah kosa kata dari mana mendapatkannya.
"Ra, Itu kan Dhani, orang yang nembak kamu kemarin."
"Masa?" Sahut ku cuek. Gara-gara si Dhani aku terkena ta'zir.
"Dia sempat melihat kesini."
"Oh."
"Kamu beneran B aja sih Ra, kamu tidak nge-fans Dhani."
"Aduh Ran, Dhani itu hanya bocah tengil, dia memang bar-bar dari oroknya" sahut ku sekenanya. Sepopuler itu Dhani di lingkungan baru. Selain pengaruh Angga yang populer, Dhani memang imut. Imut-imut tengil.
Suara adzan yang di lantunkan oleh Dhani menggema di seluruh asrama. Memang sejak SMP sering adzan ke masjid kampung, meski sudah ada himbauan di larang keluar gerbang sebelum waktu pulang sekolah. Sholat dhuhur biasa di lakukan berjamaah di ruang serba guna sekolah.
Tapi Dhani selalu lolos dari pandangan pengawas. Termasuk aku. Kami berenam selalu kabur ke masjid melalui belakang kelas tujuh.
"Woy, kesayangan!" Dhani nyengir kuda. "Semangat!!" Dhani berteriak di depan pintu dapur. "Masak yang enak ya, nanti aku makan banyak."
"Gara-gara kamu, aku di ta'zir dasar bocah tengil" maki ku.
Tanpa sepengetahuan mereka, Abah menyaksikan dari jendela yang tembus ke dapur. Abah hanya mampu geleng-geleng kepala menyaksikannya.
Masakan sudah siap. Dari nasi, terong balado, kerupuk, serta kering tempe sisa jatah makan malam yang di panaskan. Sudah siap sesuai asrama, sesuai jumlah santri yang ada.
"Ra, nanti berangkatnya barengan ya."
"Okey."
__ADS_1
...***...
Pagi yang melelahkan. Aku istirahat sejenak sambil menunggu kamar mandi kosong. biasanya setengah enam sudah mulai banyak yang kosong.
"Ra, ayo makan dulu kita."
"Iya Da, aku cuci tangan dulu."
"Ra, kamu tahu tidak, tadi pagi adzan subuh-nya merdu banget, aku penasaran siapa yang adzan."
"Oh."
"Kamu kan masak, pasti lihat siapa yang adzan."
"Iya, dia menyemangati ku."
"Oh,ya!!! Kamu sangat populer, ganteng tidak anaknya."
"Tengil."
"hmmmm...." Ida hanya berdehem. Dia paham siapa anak yang selalu ku sebut tengil. Tidak lain adalah Dhani. Bocah sialan itu.
Seusai makan Ida bersiap berangkat, sedangkan aku sudah menenteng alat mandi siap menuju kamar mandi.
"Woy, Nera! Ayo buang sampah dulu!!"
Aku hanya melirik sekilas kepada sang pemilik suara, tanpa ada jawaban. Hari ini hari pertama aku melakukan ta'ziran membuang sampah selama tiga hari karena berkelahi dengan Iza. Malas sekali jika harus berurusan dengan Iza.
...***...
Pov Fian
Makin hari makin rindu, makin ingin bertemu, makin banyak yang merayu, hati ku sedikit goyah. Aku mengenal seorang wanita yang membuat ku terpesona. Wanita anggun yang mampu membuat ku terhibur.
Nera, apakah kamu masih menjaga hati untuk ku? Apakah kamu tidak memiliki kekasih selain diri ku?
"Yan, kamu kenapa melamun. Masih pagi ini."
"Kan udah ada Risa yang membuat mu semangat."
"Ya tetap saja aku ingin tahu kabarnya."
"Sudahlah, kalau memang dia jodoh mu pasti akan bertemu, nikmati saja dulu hubungan tanpa status mu dengan Risa."
Aku tersenyum, rupanya masih banyak yang ingin mendekati ku.
Kalau memang Nera sudah memiliki pilihan, aku masih memiliki Risa.
...***...
Hari ini hari Selasa, aku sudah menyelesaikan ta'ziran ku membuang sampah selama tiga hari bersama Iza. Aku bebas hari ini.
"Ra, nanti kamu jadi ikut ekskul tidak, tempat latihannya bersebelahan kok" Rani duduk di samping ku selesai ishoma, siap kembali ke sekolah.
"Tapi aku tidak memiliki seragamnya."
"Nanti kita mampir ke koperasi membeli seragamnya, sekalian kamu membeli kitab ngaos Abah" kitab ngaos Abah ini bukan namanya ngaos Abah, tapi kitab yang di ngaji langsung oleh Abah selepas jama'ah subuh. Kebetulan kali ini kitab yang sedang di ngaji adalah kitab Durratun Nashihin, yang di karang oleh Syaikh Utsman bin Hasan bin Ahmad Assyakir Al Khoubawiy.
Ngaos Abah ini di tujukan kepada seluruh santri, dari Mi, Mts, MA, SMK, AKB, Tahfidz, serta salafiyah. Semua wajib mengikuti.
"Okey, kalau begitu aku ngajak Ida ya."
"Boleh banget."
Ida hanya menyimak tanpa bersuara, lebih tepatnya sambil menahan rasa kantuk.
Sebenarnya aku ada baju latihannya, tapi baju untuk pelatih, bukan untuk siswa, tidak mungkin aku memakainya. Bisa-bisa tujuan ku menjadi atlit di sini gagal.
...***...
__ADS_1
Hari ini hari pertama ke ekskul pilihan, pencak silat. Betapa dag dig dug hati ku. Takut saja kalau-kalau ketahuan identitas ku.
Empat orang santri putri yang masih terlihat seperti Mts, dan tujuh santri putra Mts, serta dua santri SLTA.
"Dek, ambil barisan berdoa dulu sebelum latihan" kata seorang pelatih. Aku memakai seragam yang kebesaran semacam orang bego yang masuk Arema. Menjadi pusat perhatian.
"Iya Mbak" pelatihnya cantik dan manis, tapi imut aku sih, hehehe.
"Kamu kenapa gemetar gitu?"
"Maaf nervous, lagian Mbaknya cantik banget."
"Ah, ada saja kamu ini."
"Kak Angga saja suka melihat wanita cantik seperti Mbak" salah satu SLTA nya si Angga. Dia melirik ku tajam karena namanya ku sebut.
"Mbak Riah ini pelatih paling galak loh" timpal mas pelatih, yang memiliki nametag Ferdinan.
"Oh ya?" ku buat wajah terkejut, yang jelas ku buat-buat. Tentu sangat susah menjadi orang bego yang sok penasaran.
"Sudahlah, kapan kita mulainya" Riah bersiap melatih.
Latihan pertama lumayan lelah, karena sudah hampir dua bulan tidak melakukan gerakan ini. Sangat susah jika menjalani hidup orang lain apa lagi harus berpura-pura bodoh.
Jam istirahat sebelum ekskul berakhir.
"Anak baru, sepertinya kamu sangat semangat di latihan pertama mu. Apa yang akan menjadi pencapaian mu di sini?" Riah sangat memperhatikan ku setelah ku puji.
"Aku ingin menjadi atlit Mbak."
"Kamu tahu dari mana jika latihan ini akan mendidik mu sebagai atlit."
"Rani yang memberitahu ku. Dan katanya di sini kekurangan personil, kebetulan aku suka olahraga."
"Baguslah. Hari Jum'at khusus latihan atlit. Dan kalian semua harus bersaing dalam lima bulan ini."
"Iya Mbak."
"Tapi karena kamu anak baru kecil kemungkinan menjadi perwakilan tahun ini. Tapi jika semangat berlatih kemungkinan suatu hal akan merubah kenyataan."
Pukul tiga lebih lima puluh tujuh menit sore hari waktu setempat, jam ekskul akan berakhir. Setelah berdoa pulang, aku menunggu Rani di bawah pohon mangga yang kebetulan ada di sana.
"Hey, Mbak. Sampean itu anak baru jadi jangan belagu dan jangan berharap menjadi atlit karena itu posisi ku" Mia, santri Mts yang terlihat tidak suka ketika melihat ku.
"Kamu itu kenapa?" Sahut ku santai.
"Tidak kenapa, tapi jangan banyak harap. Sampean itu anak baru di sini. Dan jangan berani-berani deketin kak Angga, dia masa depan ku."
"Oh ya?" Kesal sekali aku.
"Hey, Nera, Mia, kalian lagi pada ngapain?" Rani duduk di samping ku.
"Tidak ada apa-apa Mbak, ini Mbak ada minum" Mia tersenyum manis pada Rani.
"Terimakasih."
"Cih!! Jurus apa yang dia berikan pada Rani" Batin ku.
"Mia kami balik ke asrama dulu."
"Iya Mbak, hati-hati."
Aku acuh saja pada Mia. Aneh sekali, sangat kasar pada ku, tapi sangat perhatian pada Rani.
Setelah aku berjalan beberapa langkah, ku tengok Mia masih memperhatikan Rani sambil tersenyum.
"Mia, akhlak itu lebih penting dari pada ilmu. Ingat itu!" Ucap ku lirih tapi ku tekankan setiap katanya. Seketika senyum Mia berubah menjadi tatapan sinis.
"Kenapa Ra?" Rani rupanya mendengar ucapan ku.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa kok Mbak" Mia yang menjawab. Aku langsung berlalu.