
"Dari mana kamu mendapatkannya, apa kamu sudah sangat merindukanku atau wanita itu sudah tak ada di sampingmu". Ucapanku sangat kacau begitu mendengar suaranya. Bahkan aku tidak mengontrol ucapanku. Semua terjadi begitu saja tanpa ada rencana.
"Wanita yang mana?". Sahutan dari seberang sana.
"Siapa tahu kamu butuh hiburan dan ada wanita yang menghiburmu selama ini". Aku mencoba mencari jawaban yang tepat.
Ucapanku menyindir diriku sendiri. Aku sadar, jika aku memiliki orang lain disini. Tapi aku juga harus meyakinkan diri jika Fian setia atau tidak. Kalau hati sudah kesepian pasti ada kesempatan untuk yang lain.
Aku jadi tidak yakin, apakah aku sayang Fian selama ini, atau hanya memberi kekosongan di hati. Nyatanya setelah jadian langsung LDR an.
"Tidak ada, aku hanya milikmu seorang. Aku masih menjaga hatiku untukmu. Kamu sendiri apa kabar, apa sudah memiliki yang lain?".
Deg!
Tuh kan, Fian saja bisa setia. Aku malah memberi ruang untuk orang ketiga.
"Tidak ada, tapi jika kamu selingkuh aku pasti akan memiliki juga". Sahutku sekenanya.
Tidak mungkin kan jika aku berbicara jujur sudah memiliki yang lain, akan terguncang dunia persilatan.
"Aku tidak selingkuh sayangku".
"Kok bisa sih, mendapat akses ke sini".
"Aku meminta ijin orang tua mu".
"Benarkah?".
Obrolan hari ini hanya membicarakan hal tidak penting, namun menghabiskan waktu lima belas menit. Karena aku yang meminta mengakhiri. Kalau tidak bisa berjam-jam hanya untuk melepas rindu.
...***...
Pov Fian
"Mbul, aku jadi kangen sama Nera". Tiba-tiba aku berucap pada temanku.
"Yakin, kamu tidak konsisten banget sih. Terus si Erisa mau di apakan. Sekarang kamu harus tegas mau pilih yang mana jangan anggap Nera tidak akan tahu. Feeling wanita itu kuat".
"Aku juga tidak yakin dengan Nera, di pondok pasti banyak santri yang menyukainya. Dia cantik dan pintar".
"Itulah ujian sebuah hubungan. Maka dari itu pilihlah. Kasihan jika suatu hari Nera tahu bahwa kamu sudah memiliki yang lain".
Selalu saja, si Gembul menasehatiku. Padahal dia sendiri masih jomblo. Aku memang sudah jadian dengan Erisa, tapi hatiku masih ingin tahu tentang Nera.
Dengan memberanikan diri pada hari Minggu aku mengunjungi orang tua Nera untuk mendapatkan akses sekolahnya.
"Assalamualaikum, Bu". Aku singgah di warung milik ibunya Nera.
"Wa'alaikumsalam, mau membeli apa nak". Itu pasti ibunya Nera. Cantik dan ramah.
"Mau membeli bensin Bu dua liter". Ibunya Nera sangat cekatan dalam hal melayani pembeli. "Berapa harganya Bu?". Tanya ku.
"Dua puluh ribu nak".
Aku sudah membayar namun belum beranjak dari warung.
"Ada apa nak?". Ibunya Nera mengalihkan lamunanku.
"Begini Bu, saya salah satu penggemarnya Nera dan sekarang dia lagi mondok. Dia banyak memberi ilmu padaku. Apa boleh aku meminta nomor telepon yang bisa dihubungi. Banyak anak-anak lain juga merindukannya". Jelas saja aku berbohong. Aku tidak berani jika memberi tahu aku adalah kekasih Nera.
"Oh, boleh le. Ini nomor telepon nya". Ibunya Nera memberi beberapa nomor, yang jelas bukan nomor hp. Hanya beberapa digit.
"Terimakasih Bu".
__ADS_1
"Hubungi hari Jum'at saja, karena libur sekolah hari Jum'at. Nera juga sangat sibuk kadang ada kadang tidak".
"Oh, iya Bu. Terimakasih infonya".
"Iya nak, sama-sama".
"Kalau begitu saya permisi".
"Iya nak, hati-hati".
Flashback Off
...***...
Setelah mendapat telepon dari Fian aku jadi bimbang. Pilih Dhani atau dia.
"Sabar Nera, kamu tidak tahu kenyataannya. Maka tetaplah seperti ini". Aku mensugesti diri sendiri supaya tidak ceroboh mengambil keputusan.
"Perasaan ibumu sudah menelpon tadi pagi". Rani duduk membawa ember sabun selepas mandi.
"Iya, dia Fian. Dapat akses pondok dari orang tua ku".
"Oh ya, berarti sudah ketemu dong sama orang tuamu".
"Ya".
"Pasti bakal lampu hijau nih". Rani terlihat sangat antusias.
"Jangan bahagia dulu, LDR an itu tidak segampang itu, kamu harus benar-benar teliti Nera". Sepertinya Ida lebih mendukungku dengan Dhani.
"Okey, aku akan tetap seperti ini untuk membuktikan sebuah masa depan yang tulus. Kalau tulus semua bagaimana dong".
"Lihat saja nanti". Ida seperti tahu saja masa depan seseorang.
"Kaya peramal saja deh, Ida nih". Keluhku.
"Iya deh, iya".
"Udah gih, mandi dulu. Kamar mandi nomor 2 nanti keburu di serobot orang". Rani mengingatkan atas kegalauanku.
Tanpa menjawab aku langsung berdiri mengambil alat mandiku, kemudian menuju kamar mandi.
Pintu tertutup.
"Mbak, siapa di dalam?". Ucapku lantang sambil mengetuk pintu.
Tak terduga, pintu terbuka. "Mau apa kamu!!". Marisa nyolot.
"Mau mandi lah, situ ngapain tidak pergi-pergi?". Sahutku tenang.
"Setelahku teman-temanku".
"Sebelummu teman-temanku". Sahutku masih tenang.
"Antrianmu sudah lewat". Dia menyenggol lenganku hingga aku oleng karena tak siap. Dengan sigap aku menarik bajunya hingga sedikit sobek.
"Eh, maaf". Aku sudah seimbang dan melepas pegangan ku.
"Maaf katamu! Kemarilah, ku ajari kata maaf yang sebenarnya!!". Marissa sudah meluap-luap emosinya di ubun-ubun.
"Apa sih ribut-ribut". Rani datang bersama Ida.
"Ini loh temanmu, merobek bajuku". Marissa menunjukkan bajunya yang sudah robek, hanya 2 cm saja kurang.
__ADS_1
"Situ main senggol saja, aku oleng dong".
"Situ antrian udah lewat nyolot".
"Memangnya kamu punya antrian? Masih untung ku selakan. Setelah antrianku itu bukan teman-temanmu, tapi teman-temannya Dahlia". Kata Ida sarkas.
Marissa pergi begitu saja.
"Kamu tidak bicara jika ada Marissa di dalamnya". Kulirik Rani sekilas.
"Hehee, maaf". Rani nyengir dan kembali ke asrama bersama Ida.
"Akhirnya mandi juga". Gumamku.
...***...
"Tidak terasa ujian mid semester akan berlangsung 2 Minggu lagi". Cetusku.
"Iya Ra, liburan kamu mau kemana, kan idul Adha pulang". Sahut Rani.
"Aku di asrama saja".
"Semua orang pulang loh Ra". Timpal Ida.
"Biar aku jadi penghuni asrama ini".
"Tidak masalah, nanti aku bisa mengambil hp ku di kantor. Kan tetap saja bisa main hp".
"Liburan depan kalau ingin pulang aku siap jemput deh. Nanti biar ayahku bawa mobil". Usul Rani.
"Terimakasih, lihat besok. Bagaimana rasanya liburan di pondok".
Hari makin memasuki senja, dan aktifitas santri tidak ada yang berubah.
Setelah mendapatkan telepon dari Fian, aku jadi bimbang. Yang jelas aku semakin galau memikirkan apa aku masih di nomor satukan atau sudah di geser oleh wanita lain. Ucapan Ida mempengaruhiku.
Memang benar, setelah jadian langsung LDR an tanpa adanya komunikasi. Jika ke lab komputer juga aku tidak pernah sekedar membuka FB, karena aku mengecek novel yang ku pertanggungjawabkan semua naskah kepada kakakku, Dayat.
Karena jauh hari aku sudah menulis melalui buku supaya tidak absen ketika aku mondok. Jumlah penghasilannya sudah lumayan banyak. Untuk memulai dari awal lagi itu sulit bagiku.
"Aku jadi rindu Dayat, apakah dia juga merindukan adiknya ini". Batinku. Jadi makin sedih suasana hatiku.
"Jangan melamun di waktu senja, banyak setan lewat". Ida menggaet lenganku supaya lebih cepat menuju aula untuk jama'ah Maghrib.
"Eh iya, iya". Aku langsung mengikuti langkah Ida.
"Kenapa wajahmu di lipat?".
"Aku rindu kakakku". Ku pandang foto Dayat dibalik sampul kitab kecil yang selalu kubawa kemana pun.
"Kakakmu apa Fian. Sudahlah, lupakan saja masalahmu. Mending pikirin si Dhani saja yang jelas di depan mata".
"Iya deh, Dhani kesayangan pokoknya".
"Gitu dong, bila perlu kamu lupakan saja si Fian. Aku memiliki firasat jika dia menyimpan wanita lain".
"Aku ragu dengan ungkapanmu".
"Terserah, tapi jangan menyesal jika itu terjadi. Kamu disini tiga tahun loh, paling ketemu hanya lebaran idul Fitri saja jika dia ingin. Kalau ada wanita lain mungkin dia lebih memilih yang selalu ada".
"Maksudmu aku tidak ada?".
"Secara kamu itu jauh, dan tanpa kabar. Sudahlah, tenangkan saja fikiranmu, Berdoa saja kepada Allah, mohon yang terbaik".
__ADS_1
"Okey, Da. Aku akan mencoba berharap kepada Allah untuk semua hal".
"Harus dong, kamu kan orang baik, pasti dapat yang baik juga".