Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
BAB 38 KSD_Lomba Mencintai Mu


__ADS_3

"Hay Nera, apa kabar kamu? Peserta lomba yang menang sebelum bertanding. Itu tandanya kamu tidak cocok, tidak pantas ikut lomba" Marissa berkata panjang lebar ketika sengaja mempercepat langkahnya mengikuti ku berjalan.


"Iya" sahut ku singkat.


"Itu sadar, mendingan bulan depan tidak usah berangkat saja."


"Terus?"


"Terserah mu, nanti jam setengah delapan rapat OSIS. Inti OSIS putra dan putri."


"Iya."


"Kamu mau ke Kabupaten atau ke comberan terserah saja, asalkan satu hal Dhani hanya untuk ku."


"Okey, asalkan Dhani mau sama kamu."


"Ya jelas mau lah, secara Marissa itu tajir melintir" timpal Mira.


"Kalau Dhani hanya mau dengan ku, bagaimana?"


"Ya tidak bisalah, Dhani hanya boleh menjadi suami ku."


"Semoga saja Dhani menjadi jodoh mu Sa" ucap ku. "Dhani yang lain, bukan Dhaninur milik ku" lanjut ku, ku putar bola mata ku jengah.


"Apa kamu bilang!" Marissa melotot ketika aku berbalik menatapnya.


Tanpa merespon aku langsung berlalu menuju halaman sekolah.


"Gila!" Maki Mira.


"Situ yang gila kali, tinggal bilang saja rapat OSIS jam setengah delapan, pakai acara ribut segala!" Rani tiba-tiba muncul dari arah belakang sambil berlari-lari kecil.


Hari ini hari Kamis dan tidak ada pembelajaran berlangsung, karena akan di isi dengan acara tata ruang persiapan ujian semester ganjil.


Bagi inti OSIS putra dan putri akan rapat, kemungkinan besar akan membahas perlombaan setelah ujian berakhir dan pastinya akan membuat proposal.


Sebelum rapat di mulai aku menuju kelas sembari membantu menata ruang dari pada harus berdiam diri di halaman bersama dengan komplotan Marissa hanya akan membuat kepala ku sakit.


"Ra, sudah setengah delapan kurang tujuh menit, turun yuk" Rani mengingatkan ku.


"Okey, Eh Ida. Kami turun dulu ya."


"Iya hati-hati" sahut Ida sambil mengangkat kursi"


"Hati-hati Ra, jaga Dhani milik kita" ucap Qila teman sekelas ku.


"Siap deh" sahut ku sekenanya.


"Tapi kan Dhani hanya mau sama kita" ucap yang lain lagi.


"Iya, Marissa saja yang lebay."


"Memang tuh anak, kurang kerjaan saja apa pun di bikin ribut jika menyangkut Dhani."


"Iya Ra, bukan dengan mu saja dengan yang lain juga ngajak ribut."


"Untung saja yang lain tidak berani, karena ingin namanya bersih setelah lulus."


"Iya, Nera mah terlalu berani."


"Tapi kalau tidak keterlaluan kan Nera selalu menghindar dari keributan."


"Iya, pokoknya aku Nera lovers deh."


"Iya, Dhani lovers juga."


"Mereka tuh cocok tahu, cantik dan ganteng."

__ADS_1


"Yang di ghibah dengar loh" kata ku.


"Hehee, lagian kamunya santai banget punya pacar ganteng."


"Kan dianya milih aku, hahaha" aku jadi gila kalau mendadak kepedean. "Kalian ini ada saja, Gusti Allah yang menentukan. Siapa yang tahu tentang masa depan?" aku kemudian berlalu bersama Rani.


...***...


"Haduh, ada saja mereka ya Ran."


"Tapi benar Ra, kamu terlalu santai memiliki pacar ganteng."


"Semoga saja Allah memberi ku jodoh yang terbaik. Sekarang intinya tuh belajar dulu, masih sekolah juga mikir jodoh segala."


"Iya deh, iya."


Aku dan Rani turun menuju lab Tata Boga. Kali ini kami rapat di laboratorium TB. Sebenarnya ruang OSIS sesungguhnya terletak di sebelah Galeri SMK, belakang SMK putra. Entah apa alasannya juga aku tidak tahu mengapa jika rapat tidak pernah ke sana. Selalu saja santri putra yang berkunjung ke area putri.


"Awas kamu jika memandang Dhani terus" ancam Marissa, untuk siapa lagi jika bukan untuk ku.


"Kalau Dhani menatap ku bagaimana? Ku naik-turunkan alis ku yang sebelah kanan membuat Marissa tersungut-sungut.


"Kamu cuek lah."


"Lihat saja nanti, aku bisa cuek apa tidak, toh Dhani pacar ku."


Marissa semakin sinis dengan keberadaan ku yang duduk di sampingnya.


Tak berselang lama OSIS putra datang dan langsung di tujukan ke lab TB oleh Marissa. Biasanya rapat berlangsung di lab BB tapi kali ini di adakan di lab TB atas usulan Ketos putri, si Marissa.


"Kenapa kita rapat di sini Sa?" Tanya Dhani acuh.


"Aku memiliki sesuatu untuk mu yang tidak bisa di taruh lab BB."


"Apaan?"


"Nanti saja setelah rapat."


"Okey."


"Asik, lombanya di adakan di gedung SMK putra" seru Marissa.


"Biasa saja kali" sahut Rani.


"Jarang tahu, kita tuh tidak pernah ke SMK putra selain upacara" timpal Mira.


"Lebay banget sih."


"Sudah deh, lagian santri putra lombanya di gedung Mts" Rizky menenangkan.


"So sweet banget kamu Riz memperhatikan aku segitunya. Kamu rindu aku ya?" Rani melirik ku sekilas.


"Banget Ran, apa lagi aku sangat membutuhkan perhatian mu di saat-saat seperti ini" sahut Rizky.


"Tidak usah pada lebay, lomba apa yang di usulkan dari pihak putri?" Dhani menatap datar kepada semua OSIS yang ada.


Aku hanya tersenyum melihat Rani cemberut.


"Ah Dhani, kamu tidak paham aku kangen sama Rizky. Kamu sih tidak pernah memendam rindu" Rani bukannya sewot malah cengengesan setelah berucap.


Selanjutnya hening setelah Dhani tersedak.


"Eheeem, lalu sekarang lomba apa yang akan kamu usulkan" Dhani menatap Rani.


"Lomba apa Riz?" Rani malah bertanya pada Rizky.


"Apa saja lah terserah kamu"Sahut Rizky.

__ADS_1


"Bagaimana kalau lomba mencintai mu saja."


"Tidak usah lomba kalau tentang cinta, aku akan tetap mencintai mu" sahut Rizky sekenanya.


"Asik kalau begitu, yey" Rani tampak gembira, namun sesekali melirik ku sambil menaik-turunkan alis kanannya. "Tuh Ra, tidak usah lomba mencintai" lanjutnya.


Setelah menentukan lomba kami bersiap kembali ke asrama. Hari ini tata ruang dan bersih-bersih saja.


"Jangan kembali dulu, Marissa memiliki sesuatu untuk kita" ucap Dhani.


"Eh Dhani, hanya untuk mu" timpal Marissa terburu.


"Oh ya?" Dhani menatap OSIS lain. "Maaf aku kira untuk kami semua, kalian boleh keluar."


Semua keluar ruangan termasuk aku, yang masih tertinggal hanya Dhani, Marissa, dan Mira.


"Ra, kamu tidak memiliki sesuatu gitu untuk Dhani. Pasti Dhani akan memilih milik mu" kata Rizky.


"Tidak perlu berlomba dan terlalu memaksa untuk memilih. Ibarat cinta jika selalu di genggam erat akan melepaskan diri melalui sela genggaman kita, namun jika cinta di genggam sewajarnya sesekali di beri ruang untuk bernafas dia tidak akan mencari jalan keluar. Sejatinya sebuah cinta akan pergi mencari sesuatu hal yang indah dan akan di bawa kembali ke rumahnya. Jika tidak pulang berarti sudah memiliki rumah baru. Berarti kita sebagai rumah lama akan mendapat tuan baru, hahaha"


"Hahaha" Rani dan Rizky malah mengikuti ku tertawa.


"Kenapa kalian ikut tertawa?" Tanya ku.


"Lagian, kita dengerinnya serius malah ngajak ketawa" kata Rani.


"Aku yang akan membeli rumah itu" sahut Rizky.


"Eh" Dhani menendang pelan bokong Rizky. "Aku tidak jual rumah!" Kata Dhani.


"Dengar ya, hehehe" Rizky nyengir.


"Kamu kira!" Dhani memegang sebuah bungkusan entah apa isinya.


"Ra, katanya kamu mau membeli es krim untuk ku" Kata Rizky mengedipkan satu matanya.


"Kata sia...."


"Iya Ra, sok lupa lagi tadi kamu bilang" Rani menimpali.


"Oh iya, tunggu" aku langsung menuju kantin yang sedang buka, untung saja sepi.


Aku hanya membeli satu buah es krim. Aku juga tak tahu apa maksud mereka aku nurut saja.


"Ini spesial untuk mu" ku sodorkan es krim untuk Rizky.


"Terimakasih Nera sayang."


"Sama-sama, semoga kamu suka ya Riz."


"Suka dong, apa lagi di beri oleh ayang Nera."


"Ada saja kamu mah."


"Kamu mau tidak Ra, es buah dari Marissa" kata Dhani yang sedari tadi ku diamkan.


Bukannya marah atau bagaimana tapi memang tidak ada yang ingin di bicarakan. Sebenarnya rindu tapi setelah menatap semua terobati tanpa harus berkata banyak.


"Nanti aku di keroyok lagi sama komplotan Marissa, itu kan khusus untuk mu."


"Ada dua."


"Untuk Rizky saja."


"Sini, untuk ku saja. Panas begini memang enaknya minum es, es buah lagi" Rani mengambil sebuah es dari Dhani. "Terimakasih Dhani."


"Sama-sama."

__ADS_1


"Ayo balik Dhan, aku ingin rebahan."


"Okey."


__ADS_2