
"Mas Dhani sedang apa di sini?" Sapa salah satu karyawan Ayah.
"Eh Mang Cecep, lagi ngadem saja Mang" Ku cium punggung tangan kanan Mang Cecep, bagaimana pun Mang Cecep tetap sebagai orang tua yang harus di hormati. "Sini duduk dulu Mang" lanjut ku.
"Iya Mas, ini mau setor ke pabrik. Mau sekalian pulang tidak?"
"Bolehlah, nebeng sampai rumah bisa tidak Mang, hehehe."
"Bisa banget Mas, ini kan mobil sampean."
"Ini mobil Ayah, selagi sampean yang bawa berarti punya sampean Mang. Sampean kan sopirnya."
"Ada saja Mas Dhani ini, merendah terus."
"Heheee" aku bingung harus jawab apa lagi.
"Ini mau pulang ke rumah dulu apa ikut ke pabrik Mas?"
"Ke pabrik saja dulu Mang, biar tidak bolak-balik."
"Okelah."
Aku menaiki truk muatan yang di kendarai Mang Cecep. Sebelum sampai ke rumah aku di tinggal di pos timbangan sedangkan Mang Cecep masuk untuk bongkar muatan.
Setelah bongkar aku baru di antar sampai ke rumah.
"Inilah Dhani dengan segala kesederhanaannya meski dia bisa saja memanggil sopir atau siapa saja untuk menjemputnya dengan mobil mewah, namun dia lebih memilih numpang truk muatan yang berdebu. Dia tidak gengsi dengan apa pun keadaannya. Dia sadar untuk mencari seribu rupiah pun sulit" ujar author.
"Mang, ini ada sisa cemilan di jalan bisa di makan sambil ambil muatan lagi" ku berikan beberapa bungkus makanan ringan yang masih tersisa setengah ransel lebih karena Nera tidak memakan banyak.
"Wah, terimakasih Mas. Rejeki mah jangan di tolak" Mang Cecep berbinar.
Aku langsung turun dari truk, di luar pagar menunggu Mang Cecep melaju aku baru masuk.
"Loh, Mas Dhani pulang?" Tanya Pak satpam yang membukakan gerbang untuk ku.
"Iya Mbah" sahut ku singkat sambil mencium punggung tangan kanannya.
Aku memanggilnya Mbah karena memang sudah sepuh namun masih energik kalau hanya sekedar menarik gerbang.
"Tambah ganteng saja Mas Dhani."
"Ganteng dong Mbah, kan kegantengan sampean ku tarik terus."
"Ada saja Mas ini."
"Ini Mbah ada cemilan kesukaan sampean."
"Makasih banyak ya Mas."
"Iya Mbah, saya masuk dulu."
"Siap deh."
Alhamdulillah aku selalu di kelilingi oleh orang-orang baik. Itulah pentingnya akhlak dari pada ilmu.
__ADS_1
Di mana orang meninggikan akhlak maka akan di segani meski sudah tidak bersama lagi, tapi jika meninggikan ilmu tanpa adanya akhlak orang-orang akan pergi begitu kita berbalik.
Pintar-pintarlah memilih jalan kehidupan yang keras ini.
...***...
Pov Fian
"Sudah dong Yang, jangan nangis lagi. Aku janji akan berangkat ke reuni akbar" aku memeluk Risa, sebenarnya ini hanya kata penenang saja untuk Risa, untuk masalah datang atau tidak bisa alasan nantinya.
"Aku akan berada di samping mu terus" ucap ku lagi.
Sebenarnya mudah saja membuat hati Risa luluh, dengan di rayu saja sudah lupa dengan apa yang baru saja terjadi. Semoga saja Nera sama dengan Risa.
"Dari tadi kenapa bilang seperti itu, sukanya bikin nangis terus" Risa membalas pelukan ku.
"Kalau nangis kamu terlihat cantik, tapi lebih cantik lagi kalau tersenyum begini. Makin sayang deh" ku kecup sekilas bibir Risa.
Semoga saja Nera tidak akan datang di acara reuni akbar tahun ini, dia pernah bilang jika hanya pulang setahun sekali itu pun kalau ada biaya. Ibunya saja hanya memiliki warung, Ayahnya hanya petani dan ternak beberapa ikan. Pasti akan sulit untuk mendapatkan uang tiket.
Nera memang Ibu idaman bagi anak-anak tapi dia tidak bisa di ajak bersenang-senang seperti Risa. Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan Nera.
[Cantik, apa kabar kamu?]
Aku mengirim pesan WA kepada Nera, sebenarnya aku hanya ingin menanyakan dia akan pulang atau tidak. Bisa berabe jika aku ketahuan selingkuh.
Tanpa menunggu lama langsung centang dua biru.
[Alhamdulillah baik]
[Insyaallah jika aku pulang akan menemui mu]
"Tuh kan benar" batin ku bahagia.
Aku bisa jalan bebas dengan Risa di reuni akbar nantinya tanpa harus berhati-hati jika saja Nera muncul. Lagian tidak ada yang tahu, bahkan Risa saja tidak tahu jika pacar ku adalah temannya sendiri.
"Besok reuni akbar aku yang akan menjemput mu."
"Aku akan menunggu mu di rumah" sahut Risa sangat bahagia.
"Okey."
Aku pulang dengan hati sangat bahagia. Bagaimana tidak, meski LDR aku tidak merasa kesepian karena memiliki Risa yang selalu ada untuk ku.
...***...
"Anak Ayah sekarang sudah punya pacar nih."
"Belum Yah, belum ada yang cocok" sahut ku, tidak mungkin kan aku memperkenalkan Fian yang belum jelas melamar ku.
"Teman mu yang tadi, terlihat cocok dengan mu."
"Ayah ini ada saja, jika Ayah memiliki mantu seperti Dhani yang ada Ayah kena mental tidak tahan dengan kelakuannya."
"Jadi Dhani namanya."
__ADS_1
"Masa Ayah tidak sadar, ketika ayah di panggil wali kelas ketika lulusan kan aku bersama Dhani."
"Dhani ganteng ya" Ayah masih saja menggoda ku.
Seusai makan siang aku menuju taman kota siapa tahu Dhani masih ada di sana.
Tepat ketika aku ingin menyapa ada seseorang yang datang dan berbincang dengannya, tapi bukan Ayahnya. Dhani memanggil dengan sebutan Mang Cecep, bukan memanggilnya Ayah.
Akhirnya aku duduk di mana tempat Dhani duduk setelah ia pergi. Tak berselang lama ketika aku sudah duduk ada pesan WA masuk dari Fian. Dia bertanya kabar dan kepulangan ku.
Aku akan memberi kejutan di reuni akbar nantinya sekalian akan mengembalikan cincin dari Dhani, aku tidak pantas menerima hadiah semahal itu. Dari harganya saja aku tidak sanggup membaca.
Semoga saja Fian akan datang di acara reuni nanti.
Sorenya aku pulang ke rumah, karena di taman tidak bertemu dengan siapa pun.
Sesampainya di rumah aku berjalan ke halaman belakang rumah untuk memetik sayur yang akan di masak untuk makan malam.
Ingin sekali merebus sayur untuk lalap nya aku ingin memetik petai, membuat sambal terasi dan goreng patin. Membayangkannya saja air liur ku langsung penuh di mulut.
Setelah memetik sedikit dedaunan seperti daun ubi kayu, katuk, kelor, bayam, dan memetik tomat karena cabai masih ada di dapur aku menuju kolam kebetulan Ayah sedang memberi umpan pada ikan.
"Ada apa Nduk?"
"Tangkap patin Yah, ingin goreng patin."
"Aduh, Ayah sudah bersihin nila, tinggal di goreng saja sudah di ungkep juga."
"Oh, ya sudah kalau begitu."
"Kalau ingin patin biar Ayah tangkap lagi untuk mu."
"Sudah lah Yah, nanti lagi saja."
"Beneran?"
"Iya Yah, metik petai saja ya" pinta ku.
"Masih muda, nanti ayah belikan di pasar saja petainya."
"Iya deh Ayah, aku ikut ya?"
"Tidak usah, besok saja ikut ke bandara jemput Kakak mu."
"Iya deh, Nera nurut."
Aku ke rumah melalui pintu dapur, sampai hampir Maghrib aku masih memakai sarung seragam Pondok, suka saja dengan sarungnya. Aku sampai di Jepara juga karena jatuh cinta pandang pertama dengan sarung ini.
Makan malam ini sungguh nikmat, sudah lama aku tidak memakan sayuran di belakang rumah, segar rasanya jika melihat hijau-hijauan apa lagi hasil tanam sendiri, rasanya lebih semangat untuk memasak dan makan.
Ada sensasi tersendiri jika panen di kebun sendiri.
Aku jadi kangen Kakak, besok aku akan ikut Ayah menjemput Kakak di bandara, sudah rindu dengan kelakuannya yang konyol.
Sepertinya tidak ada orang yang hobinya memberi kentut pada Adiknya selain Kakak ku.
__ADS_1
Jadi tidak sabar ingin mancing bareng. Hanya Kakak ku yang mancing ikan patin umpannya ayam goreng, dan anehnya ikan patinnya mau saja makan umpan itu.