Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
BAB 31 KSD_Dayat Pulang


__ADS_3

Pov Dayat


Hari semakin siang panitia kurban sangat terampil dalam menangani hewan kurbannya. Pukul delapan lebih lima belas menit sudah siap di bagikan kepada masyarakat desa. Tak lupa di sisakan untuk santri yang tidak pulang.


Dini hari kami sudah menyiapkan tempat membakar sate. Ketika para panitia berbagi tugas, ada yang sedang membagi potongan daging, ada sebagian panitia yang sedang membakar arang.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, bagi santri yang tidak pulang di harapkan ke ndalem sekarang" suara dari ndalem.


"Sekali lagi, bagi santri yang tidak pulang di harapkan ke ndalem sekarang. Sekian, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh."


Daging kurban sudah di bagikan oleh sebagian panitia kepada setiap warga yang menerima. Sebagian panitia lagi membersihkan tempat pembagian daging dari sisa-sisa darahnya. Aku sendiri menjaga daging yang sudah di bungkus menggunakan plastik kiloan yang akan di bagikan kepada setiap santri yang tidak pulang, termasuk panitia.


Bagian setiap santri mendapatkan sebungkus plastik kecil khusus untuk nyate. Tadi aku juga ikut membantu membungkus. Panitia menyimpan lima kilo daging dan tiga kilo belulangnya untuk di masak esok.


"Kamu dari mana Dhan?" Tanya ku.


"Hehee, dari asrama putri Kang" sahut Dhani cengengesan.


"Jangan pacaran terus, aku tidak menerima menantu pemalas."


"Adik ipar kali, bukan menantu Kang."


"Di sini aku walinya, Ayah ku tidak di sini."


"Iya- iya Kang, nurut saja aku mah."


"Belajar yang benar, supaya bisa mendidik Nera yang kepala batu menjadi feminim."


"Siap Kang" Dhani memperagakan hormat di depan ku.


"Kamu harus pintar cari uang, Nera kalau makan banyak" kata ku lagi.


"Aib di sebar, dosa loh Kak!" Nera tiba-tiba datang.


"Kan Kakak memberi tahu calon imam mu, supaya tidak terkejut ketika tahu kamu tukang menghabiskan makanan."


"Dasar, Kakak tidak tahu diri" sahut Nera. Dia memang terbiasa berucap sekenanya.


"Semoga saja berjodoh, amiin" timpal ku.


Aku merasa bahagia jika menggoda Adik ku yang kepala batu. Asik saja jika melihatnya cemberut. Aku tidak tahu bagaimana nanti jika aku memiliki Istri, apa aku masih bisa berbagi dengan Nera atau Istri ku yang tidak cocok dengannya.


Semoga saja aku cocok dengan Suami Nera kelak. Aku tidak perduli siapa Jodoh Nera apakah Dhani atau bukan. Semoga saja yang terbaik untuk Nera. Amiin ya Allah.


...***...


"Sayang, kamu mau nyate sendiri atau duduk diam saja di asrama?" Tanya Dhani pada ku.


"Gila apa, di asrama aku sendirian. Di sini kan banyak temannya" aku masih memotong-motong daging, sedangkan Iza membuat bumbu oles ketika membakar dagingnya.

__ADS_1


"Siapa tahu, kamu mau duduk manis saja nanti biar aku yang membakar untuk kalian."


"Tidak usah, ini akan menjadi momen ketika liburan berakhir" sahut Iza.


"Okey lah kalau begitu."


Rinda sudah fokus dengan Shofa dan pengurus putri lainnya. Dayat juga bergabung dengan santri lain. Aku di sini bersama Iza, Dhani, dan Rizky. Kami benar-benar menikmati momen ini meski cuaca semakin terik.


Di bawah matahari yang mulai menyengat aku memperhatikan bakaran ku. Ini bukan yang pertama aku nyate, tapi ini pertama kali aku nyate di bawah terik matahari. Rasanya sangat aduhai gerahnya, sehingga keringat ku semakin banyak membasahi baju yang ku pakai. Untung saja pakaian yang ku pakai berbahan yang menyerap keringat.


"Alhamdulillah" ucap ku bersamaan dengan Iza.


Akhirnya sate kami sudah matang. Aku langsung mengambil posisi di bawah pohon mangga bersama Iza. sudah ada yang matang lebih awal, ada juga yang sedang panas-panasan berjuang mematangkan daging.


Ada yang makan di tempat, ada yang kembali ke asrama, bahkan ada yang sudah selesai makan.


Aku dan Iza akan kembali ke asrama, supaya lebih nyaman makan sate sambil menonton televisi, ada kipas angin juga.


Setelah mengambil nasi secukupnya, dan bahan membuat sambalnya aku dan Iza kembali ke asrama.


"Mbak, mampir koperasi dulu ya" pinta ku.


"Aku tidak membawa uang Ra."


"Ku traktir deh, mumpung belum habis liburan. Kalau sudah masuk sekolah seperti biasa sepertinya aku belum tentu bisa traktir banyak, hehe."


"Beneran nih, di traktir lagi?"


"Okey, makin sayang deh sama kamu" Iza tak henti-hentinya memeluk ku, aku sendiri sudah pengap di peluk seperti ini.


"Sayang aku apa sayang pacar ku, hayo" aku tertawa mengucapkan kata-kata yang keluar begitu saja dari mulut ku.


"Sayang kamu saja lah, pacar mu kan sayangnya sama kamu doang."


"Alhamdulillah, berkurang satu saingan ku."


"Ada saja kamu Ra."


Aku dan Iza kembali ke asrama.


...***...


Sesampainya di asrama hanya ada satu kata yang cocok untuk keadaan saat ini, sepi.


Besok akan mulai ramai lagi. Santri putri akan kembali ke Pondok, untuk santri putra hari esoknya.


Aku dan Iza menikmati sate hasil bakaran tadi sambil menonton televisi, tak lupa menyalakan kipas angin juga. Untuk minumnya sudah membeli soft drink di koperasi.


Selesai makan, kami tiduran sambil menghabiskan waktu. Hari ini adalah hari terakhir liburan berdua, esok sudah mulai ramai, dan esoknya lagi sudah kembali aktivitas seperti biasa.

__ADS_1


"Tak terasa besok sudah ramai lagi ya Ra."


"Iya Mbak, besok kalau antri mandi aku di kasih antrian ya Mbak."


"Berapa teman mu?"


"Empat dengan Mbak Dahlia."


"Masuk saja ke antrian ku. Aku hanya berlima."


"Nanti teman-teman sampean merasa aneh aku masuk antrian sampean."


"Aneh pasti iya, tapi mereka semua suka dengan sifat mu yang unik."


"Unik apa aneh, ngejek nih?"


"Unik, beneran deh aku tidak bohong. Bahkan mereka memaksa aku untuk baikan sama kamu dari awal."


"Nyatanya sudah baikan kan, dari hati sendiri."


"Iya, benar kata teman-teman ku kalau kamu orang baik."


Tak terasa sudah Dhuhur. Tidak berselang lama dari setelah Dhuhur, Dayat datang membawa ransel yang sama ketika datang.


"Ra, Kakak pulang dulu ya. Kamu hati-hati di sini jangan kelahi terus kasihan pengurusnya hanya mengurus kamu padahal urusan Pondok jauh lebih banyak."


"Iya Kak."


"Nanti kalau butuh apa pun bilang saja sama Rinda."


"Iya."


"Mana kerjaan untuk Kakak dan tim?"


"Oh iya, sebentar" aku mengambil tiga buah buku gelatik besar dengan ketebalan empat ratus lembar, kemudian ku berikan kepada Dayat.


"Ini untuk uang saku" Dayat memberikan ku uang ratusan tiga lembar.


Setelah ku cium punggung tangan kanannya, Dayat berlalu di antar oleh Jefri sampai ke tempat ojek. Dari sana Dayat akan naik ojek hingga ke pasar dan naik mini bus hingga ke stasiun bus.


"Kakak mu pulang ke mana Ra?" Kata Iza.


"Ke Wonosobo Mbak, mondok lagi."


"Oalah, iya deh ku kira ke kalimantan, kapan ke Kalimantan-nya?"


"Kurang tahu juga Mbak, Kakak ku juga ngabdi di sana."


"Iya Ra. Aku mandi dulu ya, gerah rasanya."

__ADS_1


"Okey."


Aku melanjutkan menonton televisi sambil ngemil makanan ringan dari koperasi barusan.


__ADS_2