
Sepagi ini Dhani sudah datang ke asrama seperti tidak memiliki kerjaan saja.
"Nanti sholat jam berapa Dhan" tanya ku.
"Nanti ada pengumumannya."
"Oh, okey."
Dhani hanya tiduran sambil menonton televisi, dan akhirnya tertidur.
...***...
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, sholat Idul Adha akan di laksanakan lima belas menit lagi dari sekarang di gazebo ndalem" suara dari santri yang sedang takbiran di ndalem.
"Sekali lagi, sholat Idul Adha akan di laksanakan lima belas menit lagi dari sekarang di gazebo ndalem. Sekian, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh" setelah pengumuman yang terdengar takbiran lagi.
"Dhan bangun, sebentar lagi sholat akan di mulai" aku menggoyangkan kakinya.
"Iya, sebentar lagi."
"Bangun, kamu susah banget sih di bangunin."
"Iya, ini mau bangun."
Dengan malas-malasan Dhani bangun dan pergi ke tempat wudhu untuk bersuci. Iza juga sudah siap dengan mukenah yang terpasang.
"Ayo, pada berangkat" seru Iza.
"Iya Mbak."
Kami melangkah beriringan menuju gazebo Abah. Sesampainya di sana, kami langsung mengambil shaf paling belakang. Dhani sendiri sudah bergabung dengan santri putra yang lain, lebih tepatnya Rizky.
Setelah membentangkan sajadah kami mengikuti takbir yang bergema dari suara santri putra.
"Mbak, sampean kapan perginya?" Kata Iza pada Rinda.
"Tadi pagi, jam dua aku sudah ke ndalem" sahut Rinda.
"Pantas saja sisa kami berdua di asrama" timpal ku.
...***...
Pov Rinda
Pukul dua dini hari aku mendapat panggilan via telepon dari ndalem. Semua panitia harus berkumpul untuk menyiapkan acara nyate bareng.
"Rin, santri Kalibeber itu di hubungi. Dia juga ikut membantu di sini, dia termasuk panitia" kata Jefri.
"Iya" aku langsung menghubungi Dayat via telepon. Tak berselang lama dia datang.
"Assalamualaikum" salam dari Dayat.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh" sahut kami bersamaan.
"Kang, langsung bantu-bantu saja apa yang perlu di kerjakan tidak usah menunggu perintah" kata Jefri.
"Siap!" Sahut Dayat mantap.
Kamu menyusun bata merah dan di beri arang antara bata yang tersusun membentuk seperti panggangan kurang lebih sepanjang dua puluh meter. Ini sudah menjadi kegiatan yang biasa di lakukan ketika liburan Idul Adha di Pondok.
"Rin, kamu kok tidak mengajak Nera?" Kata Dayat tiba-tiba di samping ku.
__ADS_1
"Tidak, ini tugas panitia."
"Aku bukan panitia kok di suruh membantu?" Kata Dayat lagi.
"Kamu panitia, itu perintah Abah."
"Baru dengar, ada tamu yang menjadi panitia."
"Aku juga baru tahu waktu di suruh menghubungi mu."
Terjadi obrolan ringan antara aku dan Dayat. setelah menyusun arang selesai, ada santri yang kembali ke kamar, ada yang menanak nasi untuk makan pagi dan persiapan untuk teman makan sate, ada yang memasak sayur ada yang hanya mengobrol, ada yang kembali ke gazebo menyambung takbiran yang tidak terputus dari maghrib, ada banyak lagi aktivitas lainnya.
Aku hanya duduk-duduk di dapur menunggu subuh tiba. Aku tidak kembali ke asrama karena sudah membawa perlengkapan mandi, baju ganti, dan mukena. Aku hanya sibuk memainkan ponsel ku.
Aku juga yakin kalau Nera bisa bangun pagi tanpa di bangunkan. Kesehariannya memang selalu jama'ah subuh, dan sudah siap dengan seragam sekolahnya, berarti dia selalu mandi pagi. Wajah segarnya memperlihatkan jika dia sudah terbiasa dan rutin.
Aku jadi penasaran dengan kehidupan keluarganya di Kalimantan, tapi aku harus sabar menunggu kelulusan. Semoga saja tidak sampai empat tahun study ku selesai.
"Ya Allah semoga saja tidak sampai empat tahun aku bisa di wisuda" batin ku.
"Rin, kamu kok bisa sih kenal sama Kakaknya Nera?" Tanya Shofa.
"Ya, takdir saja aku menerima santri bernama Nera, hahaha" aku tertawa sendiri.
"Beruntung ya, sepertinya Dayat itu santri favorit deh, di sini saja di perhatikan oleh Abah."
"Mungkin saja, tapi aku tidak yakin kalau menjadi jodohnya apa aku bisa hidup di Kalimantan, kabarnya di sana kan hutan."
"Di lihat saja dulu, pasti ada lah kotanya. Kamu bisa melihat-lihat pasti di balik kabar yang katanya hutan ada kota yang indah" Shofa sangat yakin jika di sana indah. Aku sendiri takut membayangkannya jika tidak sesuai harapan ku.
"Sudah lah, ayo mandi mumpung belum subuh" kata Shofa lagi.
...***...
"Serasa di rumah ya Ra, ku kira liburan di Pondok itu tidak bisa keluar asrama hanya sekedar ke koperasi" kata Iza.
"Iya Mbak, aku juga tidak menyangka Kakak ku akan berkunjung" sahut ku tanpa berpaling dari siaran televisi yang ku tonton.
"Selamat pagi kesayangan" Dhani datang dengan kantong keresek penuh di tangan kanan dan kirinya.
"Pagi" sahut Iza antusias.
Aku hanya melirik sekilas kemudian menatap benda persegi panjang di depan ku lagi.
"Di cuekin akunya" Dhani membuka es krim Cornetto kemudian memberikannya pada ku.
"Terimakasih sayang ku" aku memakan es krim sampai habis. "Ada lagi?" Tanya ku pada Dhani setelah es krim ku ludes.
"Banyak" sahutnya, kemudian mengeluarkan tiga buah es krim yang sama.
"Makin sayang deh" sahut ku sekenanya.
"Dunia serasa milik berdua nih" Iza menimpali.
"Bukan milik berdua, situ-nya saja yang dari tadi diam" jawab Dhani.
"Mau es krim tidak Mbak?" Tanya ku.
"Nanti siang mau, kalau sekarang aku tidak kuat menahan dinginnya es krim, hehehe."
"Okey."
__ADS_1
Aku menghabiskan tiga buah es krim dan beberapa bungkus makanan ringan buah tangan dari Dhani.
"Kamu lapar apa doyan?" Kata Dhani.
"Mubazir kalau tidak di makan."
"Sama saja, kamu doyan."
"Ya begitu lah."
"Ra, kamu kok tidak ada jaimnya sih, los gamblang."
"Kamu tidak suka aku apa adanya, nanti kalau aku jaim kamu tertipu dengan ku yang sebenarnya."
"Bukan begitu, aku suka saja dengan mu yang seperti ini, gadis lain terkadang tidak memiliki sikap seperti ini."
"Di bandingkan nih, dengan siapa? Endang atau Eli?"
"Bukan Ra, kamu itu spesial untuk ku."
"Terus aku jadi nomor berapa sekarang, kalau masih nomor tiga ya sama saja tidak spesial."
"Ya, masih nomor tiga."
"Kapan nomor satunya?"
"Kalau sudah sah menjadi nomor satu, di situlah kamu naik pangkat."
"Heleh, lebay kamu mah!"
"Serius aku Ra."
"Okey."
"Okey doang? Kamu serius tidak sih dengan hubungan ini?"
"Aku serius kalau sudah menjadi nomor satu."
"Jangan buru-buru Ra, kita harus sukses dulu."
"Iya."
"Iya doang? Komentar kek, atau apa lah."
"Semoga kamu menjadi jodoh ku, aku takut banyak berharap dengan mu tapi akhirnya bukan bersama mu" aku menunduk sedih.
Aku juga tidak tahu apa rencana Allah, apa aku akan menjadi jodoh Dhani atau menjadi jodoh Fian, atau pun yang lain. Aku takut jika berharap pada Dhani namun akhirnya bukan untuk bersamanya.
"Apa aku sanggup jika kau pergi meninggalkan ku?" Ucap ku lirih.
"Aku tidak tahu apa isi hati mu, tapi jika kita tidak berjodoh pasti Allah memiliki rencana lain. Yakinlah hanya kepada Allah, dan pastikan tidak berharap lebih pada ku. Jika Allah berkehendak kita bisa apa?"
"Benar Dhan, aku hanya berharap semoga kamu tetap menjadi teman ku yang seperti ini jika hal buruk terjadi pada ku."
"Sttt, jangan bicara begitu. ucapan adalah doa. Maka jadilah Nera yang terbaik, jangan bicara tentang sesuatu yang buruk."
"Aku takut Dhan."
"Jangan bicara tentang sesuatu yang buruk Nera, aku berdoa semoga kamu selalu menjadi yang terbaik."
"Amiin ya allah."
__ADS_1
"Begitu dong, kesayangan Dhani" kata Dhani sambil mengelus pucuk kepala ku yang berbalut selimut.