Kekuatan Sebuah Doa

Kekuatan Sebuah Doa
Go Kecamatan


__ADS_3

Tak berselang lama Nera datang dan langsung duduk di kursinya dengan senyum merekah. Heran juga kenapa aneh sekali wanita satu ini. Suka sekali mengerjai Kepsek.


"Kenapa Ra?" Mahen orang pertama yang bertanya kepada Nera.


"Kamu kenapa sih, telat segala" Ami juga melontarkan unek-uneknya.


"Sengaja sih, biar Kepsek tidak ceroboh. Siapa suruh mengambil jam tangan ku, kan aku tidak tahu waktu" sahut Nera dengan entengnya.


Aku hanya mampu menggelengkan kepala, tidak menyangka dia sekonyol ini.


"Astaghfirullah" lirih ku.


"Kenapa Dhan?" Nera membalikkan badan menghadap ku.


"Kamu itu ada saja sih tingkahnya, apa tidak takut mendapat nilai C akhlak mu?"


"Makanya jadilah imam ku, bimbing aku toh Dhan."


"It's okey, will you marry me?" ucap ku tenang, Nera hanya diam.


"Kok diam?" Mahen menunggu jawaban Nera juga rupanya.


"Orang pendiam itu nafsuan loh!" Celetuk ku.


"Mana bisa begitu, aku kan diam bukan pendiam. Tapi, kamu seneng kan kalau punya istri nafsuan, bergairah! Tidak yang letoy!" Nera mulai nyolot.


"Astaghfirullah, Nera! Mulutnya!" Ami melotot sama dengan Mahen. Aku sendiri tidak menyangka dengan jawaban asal itu. Tapi aku masih bisa melihat pipinya yang bersemu.


Jangan tanya bagaimana reaksi kelas, kami sudah menjadi pusat pandangan sebagian dari yang lain.


"Okey, buktikan saja!" Tantang ku.


"Buktikan gundul mu! Halalin dong bang!"


"Hahaha" aku tertawa supaya menutupi bahagia ku. Dengan candaan receh dan sifat bar-bar Nera ini aku sangat suka.


"Dhan!" Nera menatap ku, aku jadi penasaran apa yang akan dia katakan.


"Hmm" aku hanya berdehem supaya tidak terlihat sekali penasaran.


"Kamu kok bisa menyimpulkan kalau orang pendiam itu nafsuan. Dapat ilmu dari mana?"


"Astaghfirullah, Nera! Kamu masih nanya juga!" Mahen menyahuti.


"Lagian Dhani aneh!"


"Yang aneh itu kamu!" Sahut Dhani.


"Kalian itu aneh, saling cinta tidak jadian" Ucapan Mahen mampu mendiamkan aku dan Nera. "Hayo loh, pendiam nafsuan! Hahaha" Mahen tertawa lepas.


"Anjir!" Nera mengumpat.


Setelah mengumpat dia mengeluarkan buku dari dalam tasnya tak lupa beserta pena nya. Setelah itu dia fokus dan tak bersuara lagi.


Flashback Off


"Ada saja tingkahnya, aku tidak menyangka wanita seanggun Nera lawannya Kepsek. Marissa mah lewat" komentar Rizky pada secuil kisah konyol Nera.


"Begitulah dia, tapi aku suka. Kalau di kelas tidak ada Nera rasanya hampa. Dia juga pernah tiga hari tidak sekolah setelah di marah habis-habisan karena cincin."


"Kenapa sih, dia suka banget memakai cincin?"

__ADS_1


"Karena cincin itu hasil jerih payah menggapai prestasi."


"Maksudnya?"


"Banyak ajang yang dia ikuti sejak SD, meraih banyak piala yang di sumbangkan ke sekolah. Kemudian dia mendapat sertifikat dan banyak sekali hadiah, bahkan menerima banyak amplop dari para guru. Nah, uang itu dia belikan emas supaya ada kenangannya."


"Oalah, cerdas juga ya."


"Nera itu jenius tapi malas."


"Oh, ya?"


"Begitulah, dia malas berfikir setiap ada ujian selalu menyalin milik ku membuat teman sebangku ku marah-marah. Tapi di suruh nyalin tidak mau. Mereka selalu berebut peringkat dua dan tiga" tak bosannya aku mengenang tingkah Nera.


"Peringkat satu siapa?"


"Bang Dhani dong!" Sahut ku bangga.


"Kamu ya, so proud of your self?"


"Iya dong!"


"Dasar kemaki!"


"Hehee."


Tak terasa waktu belajar sudah habis, dan waktunya hanya ku gunakan untuk mengingat Nera.


Aku kembali ke kamar persiapan tidur. Aku sengaja tidak belajar supaya esok bisa fresh, dan langsung tidur. Aku juga tidak biasa begadang karena hanya membuat sakit kepala di pagi hari.


...***...


Hari yang sudah di tunggu-tunggu oleh ku, ingin bertemu dengan Nera. Entah apa reaksinya besok setelah sekian lama tidak bertemu.


"Makasih semangatnya, tapi kamu terlalu lebay. Setelah lulus juga aku ambil politeknik di sini."


"Iya sih, tapi kan bukan santri SMK lagi."


Setelah sarapan santri yang lain persiapan berangkat sekolah.


Aku sendiri sudah siap dengan koper ku menuju ke depan madrasah. Sesuai informasi dari yang piket jaga gerbang mini bus yang akan mengantarkan kami sudah standby di sana.


Di depan koperasi ada Nera bersama Anissa dan Marissa yang sedang membeli sesuatu. Setelah mendapatkan satu kresek besar mereka berjalan ke arah ku, ke mini bus tepatnya.


"Hay Dhani" sapa Marissa, aku hanya tersenyum sekilas.


"Pendampingnya belum ada yang datang ya?" Gumam Anissa.


"Sebentar lagi mungkin" sahut Marissa.


Tak berselang lama para guru pendamping datang. Tanpa membuang banyak waktu lagi kami langsung sowan Abah ke ndalem.


"Ayo Kang, di pimpin" ujar Bu Maya.


"Nggeh Bu" sahut Kang Jefry yang akan mengantar kami.


Sesampainya di halaman ndalem kami langsung di sambut oleh Abah yang sedang bersantai di sofa teras.


"Assalamualaikum" salam kami.


"Wa'alaikumsalam Warrohmatullahi wabarokatuh" Abah menjawab salam kami "Semene tok" lanjut Abah.

__ADS_1


"Nggeh Bah" sahut Kang Jefry mewakili.


"Besar harapan kami kalian Go kabupaten semoga kalian semua bisa lolos."


"Aamiiin" sahut kami serempak.


"Kowe kudu biso membanggakan Pondok Dhan, sebelum koe lulus" ujar Abah, membuat Nera melirik ku sekilas menggunakan ekor matanya.


"Insyaallah Bah."


"Yo wes, ati-ati ndang mangkat ben pesertane biso istirahat kanggo kesok."


Para pria mencium tangan Abah sebelum beranjak, dan para wanita hanya menangkupkan kedua tangannya di dada sembari meminta doa restu dan berpamitan.


...***...


Sesampainya di mini bus Dhani hanya diam. Aku sendiri masih penasaran dengan ucapan Abah tadi. Perasaan Dhani baru akan memasuki kelas sebelas tapi kenapa Abah bilang kalau sebelum lulus. Apakah dia akan sekolah kilat atau apalah itu aku juga tidak paham.


"Ra, apa kabar kamu?" Ucap Dhani membuyarkan lamunan ku.


"Kamu mau ke mana kok Abah bilang sebelum lulus?" Itulah yang menjadi beban pikiran ku saat ini.


"Oh, aku... aku ingin sekolah paket."


"Jadi langsung ke kelas tiga, begitu?"


"Iya, aku memiliki alasan."


"Oh" aku hanya ber-oh ria.


"Kamu juga mau, Ra?"


"Tidak, aku ingin menikmati masa putih abu-abu dulu" sahut ku lirih. "Apa alasan mu?"


Kali ini hanya ada aku dan Dhani yang lain sedang mempersiapkan diri selama perjalanan. Ada yang ke koperasi ada juga yang ke toilet.


"Perusahaan Ayah butuh aku. Aku harus ambil management bisnis aku juga ingin mengambil administrasi bisnis internasional jadi menurut ku lebih cepat lebih baik. Aku yakin dengan kemampuan ku. Jadi setelah aku lulus S1 langsung bisa menikahi mu andai kamu tidak kuliah juga aku siap jika setelah lulus langsung menikahi mu."


"Apa kamu tidak ingin menikmati masa SMK dahulu?" Aku mulai berkaca-kaca.


"Aku ingin cepat hidup dengan mu, dengan anak-anak kita nantinya."


"Aku ingin bekerja dulu setelah lulus SMK. Aku ingin menikmati hobi ku dahulu."


"Baiklah, tapi tunggu aku ya."


"Insyaallah, aku takut karena Allah bisa kapan saja membalikkan hati. Aku takut kamu tergoda dengan wanita di luaran sana."


"Berdoalah, semoga kami berjodoh. Istiqomah lah dalam meraih cita-cinta mu, karena Allah tidak akan mengkhianati setiap manusia yang mengingatnya. Manusia yang tidak menyembah saja bisa kaya raya, apalagi hamba Allah yang meminta kepadanya. Berdoa saja semoga kita berjodoh ya, sayang" Dhani mengelus pucuk kepala ku yang berlapis hijab.


"Kamu jangan tebar pesona ya, aku trauma. Aku di khianati sahabat ku sendiri."


"Astaghfirullah, Nera!"


"Hehee."


"Kamu ya, aku memang sahabat mu tapi aku bukan si brengsek Fian!" Dhani menggelengkan kepalanya.


"Iya deh, maaf."


"Makin gemes deh, aku di samakan dengan aki-aki."

__ADS_1


"Elaah, si paling bocil."


Obrolan ku dengan Dhani sudah berakhir, namun hati ku masih berkecamuk. Aku akan benar-benar sendiri di sini.


__ADS_2