
Berita tentang Nera dan Dhani sudah menyebar ke setiap penjuru asrama, hingga Abah mendengar semua kejadian itu.
Pov Dhani
"Kamu gila ya Dhan, siap-siap saja ta'ziran menunggu mu" Angga menonyor ku yang kesekian kalinya.
"Lagian kamu tidak bicara jika hanya candaan. Ku kira mengejar cintanya Nera."
"Mana ada, aku juga tidak menyangka kamu akan melakukan hal bodoh."
"Sudahlah, ta'ziran ku akan ku lakukan dengan senang hati, hehehe."
Aku sangat bahagia dengan kejadian tadi, semoga saja Nera tidak main-main dengan cinta ku.
"Panggilan kepada Dhaninur di harap ke ndalem sekarang" suara speaker ndalem terdengar di seluruh asrama.
"Mati kau!!" Rizki, kawan baru Dhani merasa Dhani terlalu bar-bar. "Ta'ziran semalam baru kelar, ta'ziran berikutnya datang."
"Ya, semoga saja dia menjadi jodoh ku."
"Aamiin ya Allah" suara Rizki lantang.
"Amiin."
"Amiin."
Santri lain juga ikut mengaminkan meski tak tahu doa apa yang di panjatkan.
"Ya Allah, bukakanlah pintu hati Nera berikanlah Rahmat dan hidayah-Mu dan jadikan dia sebagai Istri solehah ku kelak, amiin ya Allah" doa ku di dalam hati sambil menuju ndalem siap mendengarkan hukuman apa yang akan ku terima.
Sesampainya di teras ndalem, sudah di tunggu Abah.
"Le, apa kamu ingin menjadi Suaminya?" Abah sepertinya memiliki ilmu penerawangan.
Aku hanya tertunduk. "Ingin sekali Bah" jawab ku dalam hati.
"Jika ingin sekali maka kamu harus menuntut ilmu yang benar. Supaya bisa mendidik nantinya."
Benar, Abah memiliki ilmu itu. Nyatanya bisa mendengar suara hati ku.
"Satu hal lagi, kamu harus sabar dan berdoa, Allah yang menentukannya."
"Nggeh Bah" aku masih tertunduk. Tak berani menatap Abah meski hanya kakinya. Aku merasa sungkan jika berhadapan dengan Abah.
"Mulai besok adzan subuh ya."
"Nggeh Bah."
...***...
"Aduh...duh .... santri baru, belagu lagi. Sok akrab banget sama Adiknya Angga" Iza mencibir ku tepat di samping tandon (profil tank) berisi air minum.
"Kenapa?" Aku masih sabar.
"Ya kali, santri baru. Siap-siap saja di grebek sama penggemar santri semanis Dhani."
Sejak kejadian di kantin, fans Angga jadi mengetahui nama Dhani.
"Ambil saja sana jika kalian ingin. Aku sih biasa saja" Aku berlalu pergi.
"Kamu nantang ya, di ajak bicara main pergi saja."
"Mbak Senior, dari tadi yang nantangin tuh siapa? Mbaknya saja yang lebay" ku putar bola mata ku. Malas.
"Kenapa sih, Ra?" Ida menyenggol ku.
"Biasa Mak Lampir."
__ADS_1
"Kamu bilang apa!" Iza makin meradang.
"Mbak tuh kalau cemburu bilang, orang Dhani nya nembak aku malah Mbak yang sewot. Kalau Mbak ingin menjadi pacarnya ya ambil saja sana, ya kalau si Dhani mau sama Mbak" suara ku sengaja lantang, ingin tahu apa yang akan di lakukan oleh Iza pada ku.
Seketika jadi pusat perhatian.
"Iza, sudah lah. Nera juga pantes jadi pacar Dhani. Cantik dan ganteng."
"Iya Za, lagian kan kamu hanya nge-fans."
"Ra, tidak usah di ladeni ah" Ida menatap ku dalam.
"Ra, kenapa kamu selalu berurusan dengannya" Dahlia baru datang.
Aku hanya melirik sekilas Dahlia.
"Hajar saja Za, santri baru belagu."
"Iya Za, biasanya kamu kan jago. Masa sama anak kecil takut."
"Iya Za, lagian kan pacar belum tentu jodoh."
Santri lain sepertinya ingin mengibarkan bendera perang antara aku dan Iza.
"Sudah Ra, kamu ke kamar saja, jangan berurusan terus dengan Iza. Dia keponakan Abah" Dahlia berbisik pada ku.
"Oh, jadi itu alasan tidak ada yang berani melawannya" aku manggut-manggut, sengaja suara ku lantangkan supaya Iza semakin emosi.
"Jangan Ra" Dahlia memperingati ku yang kesekian kali.
"Jangan diam saja deh" Iza melipat tangannya di dada.
"Berjuang terus Za, dapatkan Dhani" Entah itu penyemangat atau perangkap. Kata Dahlia belum ada yang berani berurusan dengannya selama di sini.
Iza sudah menyingsingkan lengan bajunya, juga memendekkan sarungnya hingga batas lutut. Mungkin sudah siap bergulat dengan ku. Tubuhnya memang gemoy, tapi aku tidak tahu dia bisa pencak silat atau tidak.
"Maka dari itu kita bergulat, jika kamu menang aku siap mencucikan baju mu selama satu bulan."
"Jangan satu bulan, terlalu lama bagi mu. Satu minggu saja, asalkan baju Ida dan Dahlia juga di cuci."
"Kalau kamu kalah lepaskan Dhani untuk ku."
"Ok...awww" belum apa-apa aku sudah kena jambak.
"Dasar, ponakan Abah" maki ku keras.
"Kenapa, ayo lawan" Iza semakin menarik rambut ku.
Tidak ada yang berani melerai, jika tidak akan berurusan dengan Iza.
Ku lempar sarung ku ke arah Dahlia, ini fungsinya memakai celana pendek, jika keadaan darurat lebih aman.
"Sudah, segitu doang?" ku lempar senyum untuknya. Kemudian Iza mendorong ku hingga aku oleng.
Tak berhenti di situ, badan gemoy nya menindih perut ku, kemudian menarik rambut ku lagi. Dengan susah payah ku gulingkan Iza hingga terjungkal ke samping. Tujuan ku hanya menghindar, aku tidak boleh gegabah melawan dengan ilmu pencak silat ku. Pasti ta'ziran akan menghadang ku.
"Ayo lawan" Bentak Iza.
Aku teringat, aku ingin Iza mencuci baju ku selama seminggu. Ku layangkan tonjokan ringan ke bibir kanannya, seketika darah mengalir.
Di waktu yang bersamaan Rinda datang. "Astaghfirullah, Nera! Kamu apakan Iza?"
"Ku tonjok Mbak" jawab ku santai.
"Kenapa kamu menonjok-nya?!!"
"Aku ingin Iza mencuci baju ku selama seminggu."
__ADS_1
Terlihat Rinda menahan tawanya. "Sudah sana, di tunggu Pak Lurah Pondok di kantor."
"Okey."
"Sarung mu mana?"
"Oh, iya. Hehehe."
"Kamu juga Za."
"Iya Mbak" Iza terlihat memegangi bibirnya yang sobek serta merapikan pakaiannya.
Sepulang dari kantor pusat Iza terlihat pucat, padahal ta'ziran ya hanya membuang sampah selama tiga hari bersama ku. Ta'ziran tambahan untuk ku karena berbicara dengan santri putra aku diminta masak besok pagi.
...***...
Pov Dhani
"Di beri apa kamu ke ndalem" Angga duduk sejajar dengan ku.
"Di beri tugas adzan subuh."
"Sampai kapan?"
"Sampai di suruh berhenti."
"Baguslah. Ingat besok kamu harus datang tepat waktu untuk pencalonan OSIS."
"Secepat itu?"
"Ya, karena aku sudah harus fokus belajar."
"Selama ini kemana saja kok baru fokus?"
"Dasar!" Angga menonyor ku lagi.
"Oh ya, kamu ikut ekskul apa kok tadi tidak berangkat?"
"Minggu depan saja, tadi aku terlalu capai. Mentang-mentang kamu pengurus kebersihan aku di suruh buang sampah."
"Itu konsekuensinya."
Ku tarik nafas dalam, kemudian ku hempaskan ke Angga.
...***...
Malamnya di asrama SLTA putri.
Rinda membunyikan bel asrama.
"Panggilan kepada Rani Renita Sari jatah masak pagi sudah di tunggu di depan gerbang" Rinda melirik ku sekilas. "Ta'ziran masak, Tenera Alivia sudah di tunggu di depan gerbang" kemudian Rinda kembali ke kamar.
"Siap-siap Ra, sudah di tunggu" Rinda menatap jengah, melihat ku santai dengan Ida.
"Iya Mbak" sebenarnya tinggal menunggu Rani, kebetulan teman sekelas ku.
Malam-malam kami mengungsi ke asrama belakang ndalem (BM). Asrama itu di tempati santri Mi dan Mts putri. Karena mulai masaknya pukul tiga dini hari, kami harus tidur di asrama BM.
"Loh, Kamu masak Ra?"
"Iya Mbak, kok sampean yang masak?"
"Iya."
Kami berjalan melewati kantin, kemudian koperasi, asrama Mi putra, baru sampailah di ndalem. Kemudian lurus ke belakang melalui lorong samping kanan ndalem menuju asrama BM.
kurang lebih tujuh ratus santri yang berada di sana.
__ADS_1