
Ferdinan sudah siap dengan mikrofonnya. Ia berdiri tegak menghadap ke semua santri SMK yang sedang menyimak di depan bagian bawah panggung.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh" salam Ferdinan.
"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarrokatuh."
"Pertama-pertama marilah kita panjatkan puji ke pada Allah SWT, karena telah memberi karunia kesehatan sehingga dapat berkumpul di tempat ini. Tak lupa sholawat serta salam selalu tercurah kepada junjungan Nabi Agung Muhammad Saw semoga di beri syafaat hingga yaumul qiyamah nantinya.
Langsung saja, di sini saya akan menyampaikan visi dan misi saya jikalau nantinya saya terpilih menjadi Ketua OSIS periode ini."
Tepuk tangan meriah dari santri yang menyaksikan.
"Visi saya menjadikan OSIS sebagai organisasi mandiri, cekatan, terampil, dan bertakwa yang berlandaskan kepada nilai-nilai Pancasila."
Misi saya untuk mencapai visi yang telah saya sebutkan, pertama menumbuhkan jiwa kuat kewirausahaan siswa.
Yang kedua, meningkatkan prestasi siswa bidang mata pelajaran umum dengan ekstrakulikuler.
Yang terakhir, menyelenggarakan pelatihan berdasarkan nilai-nilai Pancasila.
Sekian, visi dan misi saya. Mohon dukungannya.
Terimakasih atas waktu dan tempanya, apa bila ada kekurangan saya mohon maaf, dan kelebihan hanya milik Allah SWT.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh" sahut santri putra beserta tepuk tangan yang meriah.
Setelah Ferdinan turun dari panggung, MC memanggil kandidat kedua tanpa menaiki panggung.
"Selanjutnya, kandidat nomor dua. Kita sambut, Dhaninur dari kelas X TKJ1" kata MC, di ikuti tepuk tangan yang meriah.
Dengan gagah, Dhani naik ke atas panggung.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh."
"Selamat pagi menjelang siang, selamat sejahtera bagi kami. Allah telah memberi karunia berupa kesehatan sehingga bisa melanjutkan acara hari ini.
Sholawat beriring salam selalu tercurah kepada baginda Nabi SAW yang selalu kita nantikan syafaatnya.
Saya, sebagai calon Ketua OSIS memiliki visi misi yang harus di capai ketika saya terpilih menjadi Ketua OSIS periode ini."
Tidak ada suara apa pun, semua menyimak kata-kata Dhani yang tidak bertele-tele dan to the poin.
"Visi saya, menjadikan setiap santri menjadi manusia yang adil dan bijaksana, serta berbudi luhur. Tahu benar dan salah.
Untuk mencapai visinya, ada beberapa misi yang harus di terapkan.
Pertama, setiap santri terutama yang memiliki jabatan di atas yang lainnya harus berlaku adil, serta selalu bijaksana dalam menangani suatu masalah.
Bagi santri yang berada di bawah bimbingan, atau keanggotaan harus menerima setiap konsekuensi yang telah di perbuat.
Yang kedua, setiap santri harus menghormati siapa pun yang lebih tua, dan menyayangi yang lebih muda. Tanpa harus menggunakan embel-embel jabatan.
Yang terakhir, setiap santri yang salah harus mengakui kesalahannya sebelum di kenakan ta'ziran, dan bagi yang benar jangan takut dengan yang salah."
Setiap santri masih terdiam menatap wajah Dhani yang datar dan tegas. Terlihat wibawaanya yang selalu tertutupi wajah humornya.
"Saya harap setiap santri mengerti apa yang saya katakan, jika setuju dukunglah saya, jika tidak jangan sesekali memilih saya, karena setiap ucapan yang saya ucapkan memiliki tanggung jawab hingga akhirat. Pemimpin itu berat.
__ADS_1
Sekian, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh" tepuk tangan bersahutan mengiringi Dhani turun dari panggung.
"Keren kamu Dhan! Bagaimana kamu bisa seperti itu" Rizky sangat antusias dengan kerabatnya ini.
"Biasa saja Riz, memang begitu adanya" sahut ku sekenanya.
Anggota OSIS lama memberikan selembar kertas kepada setiap santri untuk persiapan voting.
"Dhan, kenapa kamu memilih Ferdian, tidak memilih diri mu sendiri?" Rizki sengaja mengintip kertas voting milik Dhani.
"Aku juga ingin mendukung orang lain" sahut ku sekenanya.
Rizki hanya manggut-manggut. "Kamu berubah cuek."
Dhani hanya melirik sekilas.
...***...
SMK putri melakukan hal yang sama, sekarang sedang sesi perhitungan hasil. Sudah dua kotak yang dihitung dan hasilnya masih selisih dua poin. Sekarang akan menghitung kotak terakhir, yang akan menentukan siapa di antara Marissa dan Mira yang akan menjadi Ketua OSIS SMK putri. Hasilnya masih seimbang.
Marissa dan Mira saling berpegang tangan. Meski salah satu kandidat yang mendapat poin terbanyak akan menjadi Ketua OSIS, kandidat lainnya akan menjadi Wakilnya.
"Kandidat yang terpilih adalah Marissa dan Mira akan menjadi Wakilnya" tukas MC putri.
"Kalian akan memanggul beban yang sama nantinya."
Suara tepuk tangan terdengar sangat meriah, hingga menggema di setiap sudut gedung SMK putri.
Setelah memberikan sambutan kepada semuanya, santri putri di kembalikan ke asrama. Hari ini tidak ada jam pelajaran.
"Kira-kira siapa yang jadi Ketua OSIS putra ya?" Ida mengeluarkan dompet untuk mengambil uang. Aku, Ida, Rani, dan sebagian besar santri sedang mengantri di kantin.
"Semoga yang terbaik dah."
Seusai memilih jajanan sesuka hati, aku, Ida, dan Rani tidak langsung kembali ke asrama. Kami duduk di kursi panjang di dekat kantin.
"Santri putra udah selesai voting. Tadi kami bertanya pada santri putra yang kebetulan bertemu di koperasi" beberapa senior putri terlihat sangat antusias. Aku juga ikut memasang telinga, meski sok acuh.
"Siapa yang jadi Ketua OSIS?"
"Si Dhani."
"Wah, manis ku."
"Keren, ganteng jadi Ketos lagi."
"Beneran Adiknya Angga tuh, bukan kaleng-kaleng."
uhuuk...uhuk....
Kenapa aku yang tersedak, apa Dhani berubah menjadi kaleng, hahaha.
"Katanya ketika menyampaikan visi misi wajahnya berubah berwibawa."
"Pasti sangat keren."
Seketika santri putri membicarakan hal serupa. Semacam virus yang mudah menyebar.
Aku hanya mampu mengulum senyum mendengar kabar jika Dhani menerima kepemimpinan ini.
__ADS_1
"Selamat ya Ra, pacar mu menjadi Ketua OSIS" Ida sangat semangat.
"Ya" hanya itu jawaban ku.
Aku sedih jika mereka menganggap bahwa memang Dhani pacar ku. Aku rindu Fian, apakah dia masih menjaga hati untuk ku, atau memiliki penyemangat baru selain aku.
Aku juga gelisah, jika Dhani di miliki orang lain. Apakah aku termasuk orang yang serakah ya Allah. Jauhkanlah aku dari sifat tamak. Sejatinya seorang wanita hanya boleh memiliki seorang Suami, bukan dua orang Suami atau lebih.
Maafkan aku ya Allah, jika aku harus menjaga keduanya untuk membandingkan mana yang sanggup menyayangi ku karena Mu ya Allah.
...***...
Pov Marissa
Keesokan harinya, Marissa dan Mira di bantu oleh OSIS lama untuk menyunting siapa saja yang layak menjadi keanggotaan OSIS periode baru. Semua itu di lihat dari nilai raport dan ijazah dari sekolah sebelumnya.
Di situlah inti OSIS lama dan dua orang ketua OSIS baru beserta wakilnya bertemu.
Hati Marissa mencelos ketika menatap wajah Dhani yang rupawan. Jantungnya berdegup sangat kencang.
"Apakah dia seorang pria tulen atau malaikat. Dia mampu menggetarkan hati ku" batin ku.
Dalam seleksi pemilihan anggota ini Marissa kurang konsentrasi karena gugup berhadapan langsung dengan Dhani.
"Okey, sudah clear semuanya. Rapat kali ini bisa di tutup. Setelah ini kalian harus mengumpulkan santri yang bersangkutan" Dhani menutup rapat perdana ini.
"Aku makin cinta deh" batin ku sembari tersenyum kepada Dhani tanpa ada balasan.
"Keren, Dhani sangat berwibawa ya Sa" Mira tak kalah mengaguminya.
"Iya, aku sampai terpesona."
"Kejarlah dia, kalian memiliki jabatan yang sama pasti akan sangat mudah mendekatinya" saran Mira. "Jangan patah semangat Dhani ternyata orangnya dingin."
Benar juga apa yang di katakan oleh Mira, mudah saja menyingkirkan seorang Nera yang sok cantik itu. Toh Dhani orangnya acuh. Dia juga pasti akan sama jika berhadapan dengan Nera, sama dinginnya.
Lihat saja nanti, siapa yang akan menjadi kekasihnya.
...***...
Pov Angga
"Keren kamu Dhan, aku salut sama kamu. Ternyata aku tidak salah memilih pria ceroboh seperti mu" aku menepuk bahu Dhani beberapa kali.
"Sudahlah, aku sekarang pemimpin mu. Sopanlah sedikit" Dhani memicingkan alis kananya.
"Okey, tapi jangan lupa dengan misi mu, jangan memakai embel-embel jabatan. Ingatlah, aku lebih tua dari mu."
"Tetap saja kamu Adik ku. Ayah mu Adik Ibu ku" Dhani tak mau kalah.
"Sama saja aku lebih tua dari mu."
"Seeek, orang tua bikin ribut" tukas Dhani, kemudian berlari.
"Sialan!" Umpat ku, serasa tidak ada kesempatan untuk menonyor jidat Kakak kecil ku yang laknat.
Aku menyusul Dhani sembari berlari kecil, mengimbangi langkahnya yang lebar.
Ternya Dhani sudah merubah dirinya menjadi sangat berwibawa meski identik dengan tatapan dinginnya.
"Benarkah ini Kakak ku? Wajahnya berubah menjadi... ."
__ADS_1
"Menjadi Ultraman" kata-kata ku di potong oleh Dhani sambil mengikuti gaya Ultraman ketika akan menyerang musuhnya. "Sudahlah lupakan" lanjut Dhani, wajahnya berubah acuh lagi.
"Tak apa, aku suka gaya mu."