
"Nera, sepertinya kamu kurang semangat?" Anissa duduk di samping ku.
"Tidak, aku baik-baik saja" elak ku.
"Jangan diam begitu dong, ayo keluarkan ponsel mu. Kamu tidak ingin membaca novel online?"
"Ha, novel online yang mana?" Aku mulai sedikit semangat, ingin sekali mengecek akun ku.
"Di noveltoon. Aku sedang suka membaca karya ini" Anissa menyodorkan ponselnya. "Karyanya bikin semangat hidup."
"Iya Mbak, kapan-kapan lah aku baca" Ternyata Anissa sedang membaca karya ku. Alhamdulillah semakin banyak saja pembacanya. Aku langsung melihat akun ku dengan rasa bahagia.
"Novel apa Mbak, biar aku tidak seperti patung di sini" celetuk Marissa.
"Ini, kamu tinggal download saja aplikasinya" Anissa dan Marissa masuk ke dunianya masing-masing. Marissa juga membaca novel karya ku.
Aku hanya diam sambil menikmati lagu Alan Walker yang tak pernah membosankan menurut ku.
Dhani juga hanya diam sambil memainkan gamenya tanpa menoleh ku. Aku sih tidak masalah karena memang dia seperti itu, cuek tapi memperhatikan dari jauh.
Aku membayangkan bagaimana sepi ku tanpa Dhani. Dia tidak terlihat beberapa minggu saja aku kesepian, apalagi bertahun-tahun tanpa dia. Aku akan benar-benar sendiri di sini nantinya.
"Mbak, aku tidur ya" pamit ku pada Anissa.
"Astaghfirullah Nera, ini masih pagi nanti saja ya tidurnya" Dhani menyahut dari kursinya.
"Iya loh, kamu tidak ingin membaca novel ini. Asik tahu."
"Tidak Mbak, aku lagi ingin tidur."
Aku menaikkan volume lagu yang sedang ku dengarkan.
"Kamu ingin sakit telinga? Suara musik mu saja aku bisa mendengar" Dhani mencabut headset ku.
"Iya deh, bawel"
"Ini anak Bapak Abdul di nasehatin malah ngatain."
"Maaf deh anaknya ... siapa nama Ayah mu?"
"Tidak lucu Tenera Alivia" Dhani menggeram.
"Iya deh, si paling lucu. Udah ah, aku mau tidur."
Hening, karena tidak ada lagi perdebatan ku dengan Dhani. Yang lain mah biasa saja, tidak menghiraukan ku.
Setelah sekian lama tertidur aku di bangunkan oleh Anissa. Kami di turun di sebuah penginapan sederhana. Kamar kami dengan pembimbing di bedakan. Yang jelas aku sekamar dengan Anissa dan Marissa.
Dhani ada di kamar sebelah bersama dengan pembimbing karena jumlah pria hanya dua orang. Sedangkan Kang Jefri langsung pulang ke Pondok dan akan kembali lagi ketika penjemputan kami.
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang hari dan waktu Dzuhur sudah tiba. Kami sholat berjamaah dan di lanjut makan.
"Kalian akan makan di mana?" Tanya Pak Sohib pembimbing Marissa.
"Ngikut saja Pak, di mana enaknya" Bu Maya mewakili kami.
"Di kafe depan saja bagaimana?"
__ADS_1
"Baiklah."
"Dhani, ayo cepat" Pak Sohib meneriaki Dhani.
"Iya Pak sudah" Dhani keluar menggunakan celana bahan berwarna coklat susu di padukan dengan kaos putih membuat kulitnya semakin bersinar. Siapa saja akan terpesona olehnya.
Marissa tak hentinya menatap keindahan itu. Aku berusaha biasa saja, namun tetap terganggu. Bagaimana kalau dia sudah lulus terus banyak perempuan yang menyukai. Apa dia mampu menolak dan mempertahankan ku. Apa dia akan berpaling begitu saja.
Aku juga heran, mengapa aku sangat bergantung dengan Dhani sejak dulu. Padahal aku takut hubungan ini terjadi, dan aku tidak sanggup di tinggalkan.
Apa aku saja yang memiliki perasaan, apa hanya sepihak saja aku mencintainya sangat dalam. Semoga saja dia juga merasa apa yang aku rasakan.
Dhani memperhatikan sekeliling, kemudian berjalan di samping ku.
"Apa aku terlihat membosankan membuat mu menekuk wajah, hmm?" Dhani menaik turunkan alis kanannya membuat ku jengah.
"Apa kamu sengaja, hah? Sengaja tebar pesona?" Bisik ku.
"Aku apa adanya Nera, Apa aku harus memakai kaos robek-robek supaya lebih menjadi perhatian. Supaya aku di sangka gembel berjalan dengan bidadari, kita bisa viral."
"Sudah lah, aku bosan kamu selalu saja terlihat sempurna."
"Apa kamu juga tidak merasa, aku juga bosan kamu di pandang oleh peserta lain, makanya aku mendekati mu."
"Biarlah, aku juga tidak tahu."
"Sama, aku juga tidak tahu. Aku tidak tahu jika berpenampilan begini saja bisa membuat wanita terpesona."
"Dasar ya!" Ku cubit perutnya yang ternyata tidak ada lemak yang bisa ku tarik.
"Ini perut anti lemak jadi lebih baik kamu memukul ku saja."
"Dunia serasa milik berdua, kalian ingin memesan apa?" Ujar Bu Maya. Ternyata sudah sampai di kafe.
"Bakso jumbo saja Bu" sahut ku.
"Oke, minumnya apa?"
"Es teh saja."
"Nera, kamu minum es nanti perut mu berlemak loh" celetuk Dhani.
"Dhani makan apa?"
"Bebek bakar saja Bu, sama es teh."
"Kamu ya, ngatain aku tapi kamu juga nge-es."
"Hehee."
Setelah acara makan kami hanya duduk-duduk di taman sambil memperhatikan sekeliling. Sebelum setelah ashar nanti kami akan mengulang sedikit materi kami juga refreshing dulu supaya pikiran sedikit tenang setelah terkurung di penjara suci.
Dhani hanya memainkan gamenya saja tanpa menikmati udara di luar.
"Jangan kebanyakan main game, nanti nge-blank otaknya" Pak Sohib duduk di samping Dhani, tepat di belakang ku.
"Nge-blank kalau belajar terus Pak."
__ADS_1
"Iya juga sih, ya. Kamu itu selalu seperti itu."
"Iya Pak."
"Ngomong-ngomong kamu itu dekat sekali dengan Nera."
"Iya Pak kan dia pacar saya" Dhani terkekeh setelah mengucapkan kalimat tersebut.
"Kamu itu, masih pacaran apa udah lebih serius?"
Aku malu rasanya, menjadi bahan gosip tapi bisa mendengarkan gosip itu. Aku memilih memasuki kamar saja. Sepertinya tidur akan membuat ku lebih nyaman.
...***...
Pov Dhani
"Sejauh mana hubungan mu dengan Nera?" Tanya Pak Sohib lagi.
"Ini" aku menunjukan cincin di jari manis ku.
"Aku sudah melamarnya. Tapi dia masih belum tahu. Ini perjodohan Pak."
"Semoga kalian berjodoh ya."
"Iya Pak, doakan saja. Semoga cepat di beri anak juga."
"Dasar ya, bocah mesum" Pak Sohib hanya menggelengkan kepalanya setelah berucap.
"Hehee, tidak mesum tidak memiliki anak Pak."
Kenapa aku seperti tidak memiliki sopan santun dengan Pak Sohib, jawabannya satu beliau masih lajang dan usianya masih dua puluh dua tahun beliau mengabdi di Pondok sambil mengambil study S2. Aku mendapat informasi sekolah praktis juga dari beliau.
Aku mengenal beliau karena setiap pagi beliau sudah bersih-bersih halaman ndalem. Kadang mengobrol dulu sebelum kembali dari ngaos Abah. Itu alasan sudah seperti kerabat sendiri. Aku mendapat banyak informasi dari beliau.
Beliau dari Pendidikan Mi sudah menempuh pendidikan di sini, jadi jangan di tanya lagi seperti apa dekatnya dengan ndalem, karena sedari Mts sudah mengabdi di ndalem.
Suasana mendung membuat rasa kantuk ku datang. Ingin rasanya aku tidur siang. Masih ada waktu sekitar dua jam lebih.
"Istirahat di kamar dulu yuk" ajak Pak Sohib, rupanya beliau juga mengantuk.
"Ayo Pak."
Aku berjalan satu langkah di belakang Pak Sohib.Sesampainya di kamar kami langsung tidur.
Lima belas menit sudah aku rebahan tapi tidak bisa tidur juga. Rasa jenuh mulai menghampiri. Akhirnya aku keluar kamar mencari udara segar lagi.
Namun begitu membuka pintu ada pemandangan yang membuat ku tak pernah berfikir sebelumnya. Marissa dan Nera duduk bersantai di kursi depan kamar meski sibuk dengan ponselnya masing-masing. Tak berselang lama Anissa juga menghampiri.
Aku bingung, ingin menghampiri atau tidak, setelah ku pikir beberapa detik akhirnya aku masuk kamar lagi.
Kali ini aku berusaha untuk tidur saja meski sampe jam dua belum juga tertidur. Aku mendengarkan musik kesukaan ku supaya bisa terlelap.
...***...
"Ra, sepertinya kamu tidak akan pernah bisa di pisah dengan Dhani ya?" Ujar Marissa.
"Semoga saja" sahut ku sekenanya.
__ADS_1
Aku bingung, mengapa dua Minggu ini Marissa hanya diam dan tak mengusili ku. Puncaknya ada pada saat ini, dia tiba-tiba duduk di kursi yang sama dengan ku. Aku juga hanya mendiamkannya sambil bermain ponsel.
Aku sadar jika Dhani menatap ku dari pintu kamarnya sembari tersenyum tapi aku acuh saja, apa yang akan dia lakukan juga aku mencoba tidak penasaran. Aku masih sedih memikirkan Dhani akan pergi secepat itu.