
Hari Jum'at dini hari, seperti biasa pukul tiga lebih lima belas menit aku bersiap ke kamar mandi untuk mandi pagi.
Perut ku tidak seperti biasanya, sakit perih seperti pertanda akan datang bulan. Nyeri-nyeri nikmat pokoknya. Setelah ku cek di kamar mandi ternyata benar.
Mandi kilat saja pagi ini karena tidak perlu keramas. Setelah itu kembali ke kamar sambil menunggu waktu sebelum subuh aku tiduran.
Sebelum subuh harus meminta stempel yang di tempel di lengan atau di mana pun sesuka hati. di stempel ada tanggal dan jam kapan kita datang bulan. Ini semua untuk mencegah kebohongan bagi santri yang malas berjamaah.
Hanya mereka yang datang bulan yang memiliki stempel ini.
"Jam berapa Ra?" Tanya Mbak pengurus.
"Jam tiga-an Mbak."
"Sepagi itu?"
"Iya, kan ngeceknya jam segitu."
Setelah mendapat stempel aku kembali ke kamar untuk apa lagi selain tidur. Subuh juga kurang lima belas menit lagi.
Aku menempati tempat tidur Rani, dia mendapat tempat tidur di dalam kamar tidak seperti ku yang tidur di halaman.
"Ra bangun, jama'ah" kata Rani.
Aku tidak menjawab namun hanya menunjukkan stempel ku pada Rani. Setelah melihat stempel di lengan kanan ku Rani pergi begitu saja tanpa mengucapkan apa pun lagi.
"Ra bangun, kamu tidak ikut ziarah kah? Lumayan refreshing sedikit" Ida membangunkan ku yang ke sekian kalinya.
"Perut ku melilit Da, aku tidur sajalah di asrama lagian aku juga masih ingin tidur."
"Tidur terus sih, apa tidak capai. Kamu yakin tidak ikut ziarah?" Kata Ida lagi.
"Tidak, apa kamu mau menemani ku di sini?"
"Bolehlah, lagian aku juga malas jalan sebenarnya. Lagi malas gerak saja."
"Dasar kamu ya, pakai basa-basi mengajak ziarah segala kalau kamu sendiri malas."
"Aku juga tidak tahu kenapa hari ini aku diare, hehee" Ida terkekeh.
"Ya sudah lah, aku ingin tidur lagi."
"Tidur terus loh Ra."
"Kalau bangun aku ingin ngemil terus."
"Kamu kan ada jajan banyak."
"Tidak ada jajan, belum beli lagi. Kantin juga bukanya masih nanti kalau sudah selesai bersih-bersih."
Para santri sudah berangkat ziarah semua. Ada dua pengurus yang berkeliling memeriksa setiap kamar.
"Ida, Nera, kamu kenapa diam di kamar tidak pergi ziarah?" Rinda sudah kembali dengan suara lantangnya.
"Datang bulan Mbak, sakit banget perut ku. Ingin makan jajan yang banyak" rengek ku.
"Nanti menunggu kantin buka saja" sahut Rinda. "Kamu kenapa Da?"
"Diare Mbak."
"Ya sudah, istirahat saja. Hari ini kalian free kan tidak ada piket Jum'at?"
__ADS_1
"Tidak Mbak" sahut ku dan Ida bersamaan.
Kemudian Rinda pergi. Aku melanjutkan tidur ku dan Ida hanya membaca novel di samping ku tidur.
...***...
Pov Dhani
"Riz, kamu ingin keluar asrama tidak?"
"Malas Dhan, tapi kalau kamu ingin keluar aku siap dua puluh empat jam menemani mu."
"Kamu ada piket hari ini?"
"Piket hasduk saja, jatah makan malam."
"Nanti jam setengah sembilan temani aku membeli pentol bakar ya, aku ingin membelikan Nera."
"Nera doang, aku tidak di belikan."
"Beli dong, kita makan di warung saja. Aku juga sudah lama tidak minum kopi di sana."
"Siap bos."
Sambil menunggu Rizky menyelesaikan tugasnya, aku menghafal lagi tugas hafalan ku. Aku berharap cepat lulus dari salafiyah. Supaya aku bisa menggapai apa yang menjadi cita-cinta ku.
Jam delapan lebih dua puluh tiga menit Rizky menghampiri ku memberi kabar jika tugasnya sudah selesai.
"Ya ayo ke koperasi dulu" ajak ku.
"Mandi dulu lah, aku mendapat bagian kamar mandi nih. Tidak enak di pandang kalau tidak mandi."
"Jangan lama-lama keburu siang."
"Iya iya."
Sepuluh menit setelahnya Rizky sudah siap dengan pakaian santai ala santri. Kaos oblong yang kebesaran di padukan dengan sarung, serta alas kaki berupa sandal jepit. Sandal murahan penuh perjuangan, lupa di tinggal di luar pasti akan merasa kehilangan karena hilang beneran.
Aku dan Rizky langsung menuju warung yang biasa menjadi langganan minum kopi jika benar-benar suntuk. Semenjak di Pondok aku lebih suka minum kopi dari pada susu yang biasa aku minum setiap pagi.
"Kopi dua sama pentol bakar di makan sini di bungkus lima ribuan ya Mbok, yang di bungkus sepuluh ribu."
"Ini Le, pesanannya" kata Mbok Iyah.
"Terimakasih Mbok."
Aku dan Rizky menikmati pentol dan kopi hitam panas sambil menunggu pesanan yang di bungkus untuk Nera.
Tak berselang lama pesanan yang di bungkus selesai dan aku segera menghabiskan kopi ku.
Sesampainya di depan kantor pusat aku langsung menemui santri yang mendapat piket jaga gerbang.
"Mbak, ini ada kiriman untuk Tenera Alivia" kata ku.
"Iya Kang."
"Tapi jangan di panggil pakai mikrofon ya, tolong di antarkan ke Nera langsung."
"Iya Kang."
"Ini tips untuk mu."
__ADS_1
"Terimakasih Kang."
Aku langsung kembali ke asrama dan melanjutkan aktivitas seperti biasanya. Ada banyak sekali tugas yang harus ku selesaikan, baik tugas sekolah, tugas Pondok, tugas salaf, atau tugas pribadi yang harus mencapai target.
Rasanya ingin pecah kepala ku jika tidak ada penyemangat hati yang ada di sini walau terbatas oleh gerbang besi yang tidak semua orang bisa melewati.
Penjara suci ini benar-benar menyiksa hati jika tidak melihat Nera lebih dari sebulan sekali. Meski pun begitu aku harus sabar untuk semua ini. Aku yakin akan ada hikmah yang sangat bermanfaat untuk hari tua nanti.
...***...
"Ida, Nera di mana."
"Ada di kamar, ada apa?"
"Ada kiriman."
Aku yang sedang duduk di depan kamar melihat piket jaga gerbang jalan berjajar dengan Ida. Kebetulan Ida baru saja mengisi air minum.
"Ra, ini ada kiriman."
"Dari siapa?" Tanya ku.
"Dari orang ganteng."
"Siapa?"
"Kang Dhani."
"Oh, bawa ke sini saja."
Setelah ku buka ternyata pentol bakar. Sungguh bahagia hati ini, masih hangat berarti baru saja di pesan.
"Kamu mau ini?" Tanya ku pada Maya, si piket jaga gerbang.
"Tidak usah lah, aku sudah di kasih tips, lima puluh ribu di bagi sama teman ku."
"Terimakasih kalau begitu."
"Iya Ra, sama-sama."
"Ada apa sih Ra?" Rani yang dari tadi diam di kamar akhirnya keluar juga.
"Mendapat kiriman dari yang terkasih" bukannya aku yang menjawab malah sudah di jawab oleh Ida.
"Aku tidak pernah mendengar mu memanggil Dhani, Si Bocah Tengil" timpal Rani.
Aku hanya nyengir kuda mendengarkan ucapan Rani.
Jadi kangen dengan wajah itu, apa masih tengil atau sudah benar-benar berubah menjadi dingin seperti sebelumnya. Seingat ku dia mulai acuh ketika menjadi Ketua OSIS, sudah tidak lagi suka tebar pesona.
"Hey, jangan melamun" Ida membuyarkan lamunan ku.
"Makan yuk, aku jadi lapar" sahut ku sekenanya.
"Memang sejak kapan kamu bangun dari kasur, perasaan dari tadi tidak ada gairah untuk bangun" kata Ida lagi.
"Sejak mendapat firasat jika akan mendapat kiriman" timpal Rani.
"Oh, jadi mendapat suntikan amunisi nih" Ida menggandeng lengan ku menuju ruang makan.
"Aku ke kamar mandi dulu" aku baru teringat aku bangun hanya untuk ke kamar mandi. "Ini di bawa dulu" ku sodorkan kiriman istimewa dari yang terkasih pada Ida dan Rani, sementara aku menuntaskan hajat ku.
__ADS_1