
Aku mengambil beberapa mie instan dan sosis siap makan, serta beberapa kebutuhan bulanan seperti sabun, shampoo, pepsodent, sikat gigi, dan masih banyak lagi.
"Kamu sudah?" Nera sudah antri di depan kasir.
"Sudah" sahut ku.
Seusai membayar aku dan Nera langsung kembali ke rumah Rizky untuk mengembalikan motornya. Aku juga tidak sempat mengisikan minyaknya, aku hanya memberi uang kepada Rizky untuk mengisi sendiri karena Nera terlihat sangat lelah.
"Banyak sekali sih, ini mah luber-luber bensinnya."
"Ya sudah, aku ke asrama dulu."
"Tidak ingin di rumah ku semalam, besok baru ke asrama."
"Benarkah?"
"Kalau kamu tidak keberatan" Rizky meyakinkan Dhani.
"Kalau aku mah bahagia" ku lempar tas ku pada Rizky, dia langsung menangkapnya. "Aku mengantar bini dulu kalau gitu" lanjut ku.
"Lanjutkan!"
"Bini kepala mu! Halalin dulu dong" Nera sewot.
"Dari kemarin minta di halalin Mulu."
"Hehehe" Nera hanya terkekeh.
...***...
Perjalanan ini sungguh menguras banyak tenaga. Dhani mengantarkan ku hingga ke kantor pusat sambil membawa belanjaan ku.
"Terimakasih ya Dhan" ucap ku.
"Ini di bawa, aku tidak bisa masuk ke gerbang asrama mu."
"Ini kan milik mu" aku memeriksa belanjaan ini dan ini Dhani yang belanja bukan aku.
"Ini khusus belanjaan buat mu."
"Jangan bercanda mulu, bercanda mu tidak lucu."
"Seriusan ini."
"Kamu tidak butuh belanjaan ini?" Aku menunjuk belanjaan yang Dhani beli.
"Aku belanja kebutuhan mu, kebutuhan ku masih ada di asrama."
"Dasar bekicot, aku minta satu hal lagi Dhan" aku menangkupkan telapak tangannya di depan dada.
"Katakan" sahut Dhani sok cool.
"Pentol bakar, hehehe."
"Tunggu ya, aku belikan dulu."
Sambil menunggu Dhani aku membawa belanjaan ku ke asrama terlebih dahulu.
"Nera!" Arum memanggil ku.
"Iya Mbak" sahut ku.
"Sini ku bantu" tanpa persetujuan ku Arum membawakan kresek besar yang tadinya ada di tangan kiri ku.
"Eh."
"Sudahlah, ayo" Arum mendahului ku berjalan.
Setelah menaruh barang bawaan ku Arum menuju ke kamarnya, sedangkan aku kembali ke teras samping kantor pusat menunggu pesanan ku, pentol bakar.
Sambil menunggu aku mengabari Ayah dan Ibu ku jika sudah sampai di Pondok lagi dengan selamat.
Aku menelpon nomor Ibu yang selalu siaga dengan ponselnya dari pada ke nomor Ayah.
"Assalamualaikum Ibu."
"Wa'alaikumsalam" sahut Ibu di seberang.
__ADS_1
"Bu, Nera sudah sampai di Pondok" kata ku.
"Alhamdulillah, belajar yang rajin ya Nduk."
"Iya Bu, doakan semoga Nera sukses ya Bu."
"Iya Nduk, Ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anak Ibu. Ya sudah kalau sudah sampai cepat istirahat, Ibu masih sibuk di warung."
"Iya Bu, assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam" panggilan berakhir.
Lima belas menit dari panggilan dengan Ibu berakhir Dhani tak kunjung datang.
"Lama banget sih" akhirnya batang hidung Dhani muncul lagi.
"Jangan cemberut dong, namanya juga antri."
"Oh, iya deh."
"Sana masuk, aku mau ke rumah Rizky. Mau nitip apa lagi untuk besok."
"Tidak ada, sudah semua."
"Ya sudah sana masuk" perintah Dhani yang ke dua kalinya.
Akhirnya aku masuk ke asrama sedangkan Dhani ke rumah Rizky.
Sesampainya di asrama aku bingung, Rani dan Ida belum juga datang padahal hampir memasuki waktu ashar. Liburan yang lalu mereka datang sebelum dhuhur, tapi sekarang belum datang.
Ingin menghubungi juga ponsel ku sudah ku titipkan ke kantor pusat setelah menelpon Ibu.
Aku hanya duduk-duduk di teras kamar sambil menunggu mereka datang.
"Nera!" Teriakan histeris dari kamar aula siapa lagi kalau bukan Iza, kemudian dia menghampiri ku.
"Ini aku membawakan makanan sepesial untuk mu" Iza memberikan bungkusan kresek hitam pada ku.
"Apa ini?"
"Buka saja" kata Iza.
"Woah, seriusan untuk ku ini. Banyaknya."
"Iya dong."
"Tau banget kalau aku suka yang beginian" ku ambil satu tusuk sosis bakar ukuran jumbo dari Iza dan ku makan hingga habis. Di kresek masih tersisa empat tusuk lagi.
"Ini mah enak banget, pedasnya mantap" kata ku lagi.
"Iya dong, itu sosis favorit aku juga"jawab Iza.
"Sampean baru datang?"
"Aku datang tadi pagi, Ayah ku keluar kota sore ini."
"Ku kira baru datang."
"Sudah lumutan aku di sini."
"Licin dong."
"Memangnya aku belut, licin."
"Hah! dasar ya."
"Hehehe" Iza terkekeh.
"Bagaimana perjalanan bersama kekasih?" Tanya Iza pada ku.
"Alhamdulillah, aman terkendali. Oh ya, bagaimana perlombaan kemarin."
"Banyak hal, asik pokoknya" Iza antusias. "Tapi tidak ada Dhani banyak yang tidak semangat, tidak ada cuci matanya."
"Lebay, kan masih ada Kak Angga, Ferdinan, Kang Fery, Rizky juga boleh."
"Beda kali, Dhani mah seger."
__ADS_1
"Iya deh" aku pasrah saja, apa lagi jika tahu Dhani potong rambut, bisa nambah pesonanya.
"Ya sudah, aku ke aula dulu ya."
"Iya Mbak."
Memasuki waktu ashar kami jama'ah.
Sebagian santri sudah mengganti seragamnya, ada yang belum mengganti seragamnya, ada yang baru ganti atasannya, bahkan sebagian belum kembali ke Pondok.
Batas waktu kembali sampai jam lima, selebihnya akan mendapatkan ta'ziran. Berlaku bagi seluruh santri, luar pulau sekali pun.
Setelah jama'ah aku duduk kembali di teras kamar. Dari kejauhan aku melihat Ida dan Rani berjalan bersamaan, kemudian menghampiri ku.
"Woah, Nera sudah datang" ucap Ida.
"Iya, ada yang beda nih" kata Rani.
"Apanya? Sama saja, sama dengan Nera yang dulu" sahut ku.
"Sesuatu di jari manis" kata Rani lagi sambil tersenyum.
"Elaah, ini mah cincin, biasa saja kali" ku tunjukkan pada mereka.
"Kirain, di lamar sama Abang Fian."
"Bukannya di lamar, di selingkuhan iya, dasar Bambang!" Ketus ku.
"Bambang Bapak mu!" Timpal Rani.
"Kan apa juga ku bilang, dia di tinggal tidak mungkin setia baru ketemu kamu saja sudah nyosor" jelas Ida.
"Lah Dhani bagaimana? Nera juga selingkuh."
"Selingkuh gundul mu, bahkan aku menyakiti Dhani karena dia tahu aku punya pacar."
"Tapi sekarang?"
"Sekarang aku sudah menerima Dhani seutuhnya dia juga memaafkan ku" jelas ku.
"Gitu dong, ada pria tampan di abaikan."
Rani kemudian masuk bersama Ida, karena mereka belum menaruh bawaannya.
Pukul lima lebih lima menit, semua santri berkumpul di aula, entah itu membaca Al-Qur'an, hafalan, atau membaca kitab lainnya. Ini di lakukan setiap hari, dan setelah ini kegiatan Pondok sudah seperti biasanya. Di lanjut persiapan jama'ah Maghrib.
Penjara suci sudah tertutup kembali.
...***...
Waktu makan malam tidak ada jatah, karena baru saja kembali semua sudah membawa bekal masing-masing. Makan pagi baru ada jatah lagi. Walau pun ada jatah kadang tidak tersentuh. Makanya tidak ada jatah.
Setelah makan kami belajar karena besok sudah mulai pembelajaran. Di mana-mana hari Sabtu hari bahagia karena Minggu akan libur, tapi di sini hari Sabtu ibarat hari Senin, karena Jum'atnya yang libur.
Di halaman, aku bersama Ida dan Rani hanya membuka-buka buku pelajaran saja, ini adalah semester baru meski tidak menggunakan buku baru kami harus memiliki semangat baru.
"Aduh Rani, ini ke coret loh" ucap seseorang di samping Rani.
"Oh, maaf Mbak tidak sengaja" Rani melihat buku milik Mike.
"Tidak sengaja mata mu!"
"Santai dong, tidak usah nyolot" Rani tidak terima, aku dan Ida hanya memperhatikan.
Jika hanya adu mulut kami tidak akan ikut campur, tapi kalau sudah baku hantam pasti pengurus pun ikut campur.
"Makanya mata tuh jangan merem, liat ini penuh coretan."
"Yaelah, segitu doang."
"Segitu, segitu!" Mike langsung menjauh.
"Banyak ya coretannya?" Tanya Ida pada Rani.
"Tidak, beberapa senti saja."
"Kok sampai sebegitu marahnya?"
__ADS_1
"Iya, soalnya seperti surat gitu" kata Rani.
"Oalah" aku manggut-manggut.